Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Dekat di Mata Lebih Dekat di Hati


__ADS_3

Pagi ini Mila selesai mandi, Ia juga sudah menyiapkan air hangat untuk Imran mandi. Mila sedikit deg deggan karna setelah ini Ia akan membantu Imran mandi. Bagaimana jika Ia melihat area terlarangnya? Pikiran Mila traveling kemana mana dan semakin kotor saja.


" Sayang." Panggil Imran.


Mila segera keluar dari kamar mandi. Ia menghampiri Imran yang sedang duduk di atas ranjang.


" Iya Mas, Sekarang mandi aku udah siapin airnya, Ayo." Ujar Mila.


" Kuat nggak nopang tubuh Mas, Entar jatuh lagi." Goda Imran.


" Ya kalau jatuh tinggal bangun ribet amat." Sahut Mila.


" Baiklah sayang, Siap ya." Ucap Imran.


Mila meletakkan tangan Imran di pundaknya, Tangannya merangkul pinggang Imran. Jarak keduanya kini begitu dekat. Imran menatap wajah cantik Mila. Mila menoleh ke arah Imran hingga hidungnya hampir menempel pada hidung Imran. Keduanya saling menatap dengan perasaan yang entahlah hanya mereka sendiri yang tahu. Imran memajukan wajahnya hingga hidungnya menempel pada pipi Mila. Tubuh Mila membeku, Matanya membola. Imran menciumnya? Ada sesuatu yang berdesir di hati Mila.


" Morning kiss sayang untuk semangat pagi." Ucap Imran.


" Ah ayo mulai jalan, Bisa kan Mas." Ujar Mila menutupi kegugupannya.


" Bisa lah cuma satu yang sakit." Sahut Imran.


Imran mulai melangkah menuju kamar mandi dengan di papah Mila. Sesampainya di kamar mandi Mila mendudukkan Imran di atas closet.


" Mas bisa kan buka baju sendiri?" Tanya Mila.


" Tangan dan kakiku sakit Yank." Sahut Imran mengingatkan Mila.


Mila menghela nafasnya.


" Baiklah aku bantu." Ujar Mila. Ia menyentuh kancing baju Imran. Tapi Ia ragu untuk membukanya.


" Buka saja sayang, Jangan takut karna aku tidak bisa menerkammu saat ini." Ucap Imran.


" Kamu memang tidak bisa menerkamku tapi mataku akan ternoda Mas karena melihat tubuhmu." Sahut Mila.


" Tubuh ini halal sayang, Tidak hanya di lihat bahkan kamu menyentuhnya pun tidak berdosa." Kekeh Imran.


" Mau di bantu nggak nih? Jangan ngledekin mulu." Ujar Mila.


" Iya donk, Pelan pelan ya Yank." Sahut Imran.


Mila mulai membuka kancing pertama, Kedua, Ia memejamkan mata karna sebagian dada Imran sudah terbuka. Imran mengamati wajah Mila yang baginya lucu. Gadis bawel, jutek, Keras kepala bisa punya malu juga.


Imran menutupi kancing ke tiga dengan tangannya yang tidak sakit. Mila meraba raba hingga menyentuh dada Imran. Imran memejamkan matanya menikmati sentuhan istrinya. Hatinya berdesir, Darahnya serasa mendidih dan sesuatu di bawah sana bisa tegak hanya dengan sentuhan Mila.


Merasa tidak juga mendapati kancing berikutnya, Mila membuka matanya. Ia menatap Imran yang sedang memejamkan matanya.


Fiuh....


Mila meniup wajah Imran membuat Imran membuka matanya.


" Kenapa di tutupi kancingnya? Kan aku jadi susah nyarinya Mas, Kamu sengaja ngerjain aku ya... Modus pengin di sentuh sentuh." Cebik Mila.


" Lha kamunya meraba raba dada Mas ya Mas nikmati saja, Kan mubazir kalau di diemin aja." Sahut Imran membuat pipi Mila memerah menahan malu.


" Kenapa pipinya merah gitu? Malu ya?" Goda Imran sambil tersenyum manissss banget.


" Ngledekin lagi aku keluar nih, Sana mandi sendiri." Ancam Mila.


" Baiklah sayang, Sekarang buruan lanjutkan keburu airnya dingin." Ujar Imran.


Mila membuang rasa malu dan sungkannya jauh jauh. Ia harus melawan kedua rasa itu bukan? Untuk bisa merawat Imran dengan maksimal.


Mila melanjutkan membuka kancing baju Imran tanpa rasa malu. Ia bahkan membuka bawahan Imran walau dengan memejamkan matanya hingga menampilkan tubuh polos Imran.

__ADS_1


" Kamu nggak mau melihatnya sayang? Itu milikmu lhoh." Ucap Imran.


" Nggak mau, Udah diem aja deh biar cepet selesai, Rasanya sesak dadaku kalau harus lama lama di sini." Sahut Mila.


" Sama... Bahkan milik Mas selalu tegang setiap mendapat sentuhanmu, Padahal kamu nyentuhnya di bagian lain, Apalagi kalau di bagian itunya ya." Seloroh Imran.


Plak...


" Awh sakit banget Yank." Pekik Imran karena Mila memukul tangannya yang sakit.


" Maaf maaf aku nggak bermaksud." Ucap Mila cemas.


Mila mengelus tangan Imran yang baru saja Ia pukul. Imran tersenyum bahagia melihat perhatian Mila kepadanya. Ia semakin yakin jika Mila juga mencintainya.


" Udah nggak sakit Yank, Buruan entar Mas masuk angin." Ucap Imran.


" Iya Mas." Sahut Mila.


Pada umumnya mandi hanya membutuhkan waktu lima belas menit tapi kali ini Imran mandi hampir satu jam lamanya. Tentunya karena kebanyakan drama di dalamnya.


" Dah ganteng." Ucap Mila tanpa sadar setelah selesai menyisir rambut Imran.


" Mas ganteng dari dulu sayang, Kamunya aja yang nggak nyadar." Ujar Imran.


" Eh????" Mila bingung dengan ucapan Imran.


" Tadi kamu mengakui kalau aku ganteng." Ucap Imran.


" Iya kah? Sepertinya kamu salah dengar Mas, Aku lagi memuji idolaku... P*nnaw*sh Mas." Kilah Mila.


" Masa' sih? Mas sama dia gantengan mana?" Tanya Imran.


" Ya gantengan dia kemana mana lah Mas, Kamu mah nggak ada apa apanya di banding dia." Ejek Mila.


" Jelek tahu Mas muka kamu kaya' gitu." Ujar Mila.


" Biarin." Ketus mran.


" Ngambek nih ceritanya?" Tanya Mila.


" Bodo'" Sahut Imran.


" Baiklah suamiku... Kau memang pria tertampan yang pernah aku miliki, Puas?" Ucap Mila membungkuk sambil menangkup wajah Imran dengan kedua tangannya.


Tiba tiba Imran menahan tengkuk Mila lalu mengecup bibirnya. Imran menjatuhkan tubuh Mila ke atas ranjang dengan posisi Ia di atas Mila. Mata Mila membulat dengan mulut sedikit terbuka, Ia terkejut dengan gerakan Imran yang begitu kilat menurutnya. Imran tidak menyianyiakan kesempatan itu. Imran menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Mila. Ia mencecap bibir manis istrinya. Imran mengekspos setiap inchinya. Mila terbuai dengan kelembutan yang Imran berikan. Ia menikmati sensasi ciuman dari suaminya. Setelah keduanya kehabisan nafas, Imran melepas pagutannya.


" Nafas Yank." Ucap Imran mengusap lembut bibir Mila dengan jempolnya. Ia duduk kembali di tepi ranjang.


Pipi Mila merah semerah tomat matang, Ia benar benar menahan malu karena menikmati ciuman dari suaminya. Ia beranjak ingin pergi tapi Imran mencekal tangannya membuat langkahnya terhenti. Imran menuntun Mila untuk duduk di sampingnya. Mila hanya menurut saja


" Tidak perlu malu, Dan biasakan dirimu dengan hal semacam ini karna mulai hari ini aku akan melakukannya supaya kita bisa lebih dekat dan tidak ada kerenggangan di dalam hubungan kita." Ujar Imran. Mila menghela nafasnya.


" Iya Mas." Sahut Mila.


Cup...


Imran mencium kening Mila. Ia sangat bahagia melihat Mila seperti kelinci imut yang menurut pada pemiliknya.


" Makasih sayang." Ucap Imran.


" Hmm... Aku siapkan sarapannya dulu setelah itu Mas Des minum obatnya." Ujar Mila.


" Baiklah sayang, Aku yakin jika aku di rawat olehmu tanpa minum obat pun aku pasti akan sembuh." Ujar Imran.


Mila mengambil piring makanan Imran. Ia duduk di kursi depan ranjang Imran.

__ADS_1


" Sekarang makan dulu Mas." Ucap Mila menyodorkan sesendok makanan ke depan mulut Imran. Imran menerima suapan itu dengan hati berbunga bunga.


" Kamu makan juga donk Yank." Ujar Imran.


" Nanti aja Mas, Yang penting kamu dulu." Sahut Mila.


" Kalau tangan Mas tidak sakit, Mas akan memyuapimu juga." Ujar Imran.


" Nggak pa pa Mas." Sahut Mila.


Selesai menghabiskan makanannya Imran segera meminum obatnya. Tak lama Dokter tiba untuk memeriksa kondisi Imran.


" Pagi Tuan Nona." Sapa Dokter yang menurut Mila dokter tertampan yang pernah Ia temui. Dokter itu terlihat masih seusia Imran.


" Pagi Dok." Sahut Mila sambil tersenyum.


" Saya periksa dulu ya." Ujar Dokter.


" Silahkan Dok." Sahut Mila.


Dokter mulai memeriksa tangan dan kaki Imran.


" Perkembangannya bagus, Tuan Imran su.." Dokter menjeda ucapannya karena mendapat kode dari Imran. Dokter sangat paham karna ternyata Dokter itu memang sahabat Imran.


" Kenapa Dok? Apa ada sesuatu yang serius?" Tanya Mila cemas.


" Ah tidak Nona, Sepertinya kesembuhan Tuan Imran sedikit membutuhkan waktu lebih lama." Sahut Dokter.


" Tapi suami saya bisa kembali normal seperti dulu kan Dok?" Tanya Mila.


" Jangan khawatir Nona, Jika saatnya tiba Tuan Imran akan normal kembali seperti dulu, Cidera ini tidak meninggalkan cacat Nona." Ujar Dokter.


" Kecuali jika anda meninggalkannya Nona." Sambung Dokter.


" Apa?" Tanya Mila menatap Dokter.


" Ah tidak apa Nona, Kalau begitu saya permisi, Rawatlah suami Nona dengan penuh cinta jika ingin segera sembuh." Ucap Dokter.


" Baiklah Dok, Terima kasih atas bantuannya." Ucap Mila.


Dokter mendekati Imran sambil membisikkan sesuatu.


" Cantik banget Brooo." Bisik Dokter Alan.


Mata Imran melotot menatap Dokter Alan. Dokter Alan melenggang tanpa menghiraukan Imran.


" Dokter membisikkan apa padamu Mas?" Tanya Mila setelah kepergian Dokter Alan.


" Suruh banyak istirahat." Sahut Imran.


" Owh." Gumam Mila.


TBC....


Jangan lupa like dan koment di setiap babnya..


Jika berkenan beri vote dan hadiah pada karya author


Terima kasih untuk para readers yang telah mendoakan dan mendukung author.. Siapa lah author tanpa kalian pembaca semuanya...


Tetap jaga kesehatan dan mematuhi prokes ya... Semoga kita selalu dalam lindungannya.


Miss U All...


Udah double up hari ini... Besok author libur dulu ya... Author mau piknik cari inspirasi dulu ha ha ha

__ADS_1


__ADS_2