
Sampai di sekolah Kira turun dari motor Fahri. Para siswa lain menatap keduanya dengan heran. Pasalnya Kira diantar oleh pria yang beda dari biasanya. Ada sebagian siswa yang sudah tahu kalau Fahri anak dari Pak Asep si tukang kebun.
" Makasih ya Kak." Ucap Kira memberikan helm kepada Fahri.
" Sama sama." Sahut Fahri turun dari motor setelah membuka helmnya sendiri.
" Lhoh kok turun, emang nggak kerja?" Tanya Kira heran.
" Aku mau bantu Ayah dulu." Ujar Fahri.
" Owh kalau gitu aku bantuin." Ujar Kira.
" Boleh." Sahut Fahri.
Kira dan Fahri berjalan menuju gudang untuk mengambil sapu. Setelah keduanya mendapatkan apa yang mereka butuhkan kini Fahri dan Kira sama sama menyapu halaman sekolah.
" Ih mau maunya Kira berteman dengan anak tukang kebun kaya' nggak ada temen lain aja, mana pakai nyapu segala lagi kan sayang tangannya yang mulus." Ucap siswi yang melintas di depan mereka sambil menatap sinis ke arah Fahri.
" Ganteng si tapi sayang hanya anak tukang kebun." Cibir siswi satunya.
Fahri menatap Kira yang nampak acuh. Ia mendekati Kira lalu mengambil sapu dari tangan Kira.
" Kenapa Kak?" Tanya Kira mengernyitkan dahinya.
" Mereka benar Ki, tanganmu yang halus akan terasa kasar jika kamu membantuku, sekarang masuk kelas saja sana." Ucap Fahri konyol.
" Ha ha ha." Kira tertawa lepas.
" Kok malah ketawa si." Cebik Fahri.
" Lagian kamu ada ada saja, udah lah nggak usah dengerin omongan mereka bikin darting tau nggak, tangan tangan aku kenapa mereka yang rempong sih, aku ke salon juga nggak minta duit mereka kok di tanggapin." Ujar Kira mengambil sapunya lagi.
Fahri menatap Kira dengan kagum. Selain cantik Kira juga baik hati dan terkesan cuek pada sekitar kecuali kalau ada yang mencoba menindas orang lain, Ia tidak akan tinggal diam.
" Tidak salah hati ini memilihmu Ki." Gumam Fahri dalam hati.
" Ngapain bengong?" Tanya Kira menjentikkan jarinya di depan wajah Fahri.
" Aku terpesona sama kamu." Ucap Fahri tanpa sadar.
" Cieeee terpesona nih yeee." Goda Kira menaik turunkan alisnya.
" Eh apa? Terpesona? Siapa yang terpesona?" Tanya Fahri.
" Kakak tadi bilang terpesona sama aku." Sahut Kira.
" Ah kamu salah denger Ki." Kilah Fahri mengedarkan pandangannya ke segala arah, takut ketahuan kalau Ia gugup.
" Masa' sih? Nggak ah jelas jelas kamu bilang terpesona sama aku kok, udah deh ngaku aja." Ucap Kira menatap Fahri membuat Fahri salah tingkah.
" Tau ah." Sahut Fahri melanjutkan kegiatannya.
" Kira." Teriak Ai menghampiri Kira.
" Kenapa Ai? Perasaan lo itu suka banget teriak teriak deh." Ucap Kira.
__ADS_1
" Lo udah tahu belum kalau mak lampir di keluarin dari sekolah ini?" Tanya Ai.
" Ha ha syukurlah kalau mak lampir udah binasa." Sahut Kira.
" Yei di tanya apa jawabnya apa." Ucap Ai membuat Fahri tersenyum.
" Lo bukan tanya dodol tapi lo ngasih tahu gue " Ujar Kira.
" Ah iya ya." Sahut Ai menggaruk kepalanya.
" Udah ah pagi pagi nggak usah ngegosip, mending bantuan gue sama Kak Fahri." Ujar Kira.
" He he gue kan nggak serajin lo kalau soal bersih bersih gini Ki." Sahut Ai sambil nyengir.
" Ya udah Ki, ke kelas gih temanmu udah pada datang." Ujar Fahri.
" Iya deh Kak maaf ya nggak sampai selesai bantuannya." Ucap Kira.
" Nggak pa pa, bentar lagi Ayah datang kok biar di lanjut Ayah aja." Sahut Fahri.
" Ok deh, bye Kak Fahri." Ucap Kira berjalan meninggalkan Fahri sambil menggandeng Ai menuju kelasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zavran duduk di sofa sambil menutup mata dengan lengannya.
" Kenapa? Lagi galau?" Tanya Leo duduk di depan Zavran.
Zavran menatap Leo.
" Ceritalah! Gue akan kasih solusi buat lo." Ucap Leo.
" Makanya cerita biar gue bisa ngerasain apa yang lo rasain." Ujar Leo.
" Hah." Zavran menghembuskan kasar nafasnya.
" Gue sedang dilema sama perasaan gue sendiri, antara bibir dan hati gue bertolak belakang Le, gue bingung harus bagaimana.... Gue berada di bawah tekanan." Ucap Zavran.
" Sebentar... Apa ini soal perasaan lo ke Kiki?" Tanya Leo menatap Zavran.
" Ah bukan, sama orang lain." Ujar Zavran.
" Masa' sih? Emang lo pernah deket gitu sama wanita lain?" Tanya Leo sedikit berpikir.
" Apa sama Amanda? kemarin gue liat lo sama dia jalan ke cafe." Ujar Leo.
" Hmm." Gumam Zavran.
" Kalau lo suka tinggal ungkapin aja, kalau tidak lupakan perasaan lo padanya, kenapa mesthi menyiksa diri sendiri." Tutur Leo.
" Seandainya lo suka sama seseorang tapi tidak di restui sama kakeknya gimana? Apa yang akan lo lakuin?" Tanya Zavran.
" Gue akan tetap memperjuangkan cinta gue, gue nggak butuh restu dari kakeknya yang penting orang tuanya, kan yang mau jadi wali nikah ayahnya bukan kakeknya." Ujar Leo.
Zavran memikirkan perkataan Leo. Bicara memanglah mudah tapi posisinya saat ini sangat sulit. Zavran hanya bisa pasrah pada takdir yang akan membawanya. Zavran tersenyum smirk.
__ADS_1
" Aku mendapatkan satu dukungan Opa, tinggal menanti dukungan lainnya, setelah aku mendapat dukungan semua orang maka aku akan mengungkapkan perasaanku pada Kira." Batin Zavran.
" Ya udah nggak usah di pikirin, sekarang kita mikirin meeting dulu aja, soal itu nanti kita pikirkan lagi." Ucap Leo.
" Meeting jam berapa?" Tanya Zavran.
" Jam dua siang, di cafe KA." Sahut Leo.
" Baiklah masih banyak waktu, gue mau rehat dulu nggak mau mikir apa apa." Sahut Zavran.
" Baiklah met rehat, gue balik dulu ke ruangan gue." Ucap Leo meninggalkan ruangan Zavran.
Setelah kepergian Leo Zavran merenung memikirkan perasaannya yang semakin dalam.
Flashback on
" Aku tahu kalau Kira menyukaimu, tapi aku harap kamu tidak akan pernah membalas perasaannya." Ucap Opa Burhan.
" Kenapa Opa?" Tanya Zavran menatap Opa Burhan.
" Aku tidak mau hubungan kekerabatan dengan keluargamu terus berlanjut, aku memang membiarkan kalian saling berhubungan selama ini tapi aku tidak akan membiarkan hubungan ini menjadi hubungan keluarga, setelah Kira menikah nanti aku harap hubungan kekerabatan akan berhenti sampai saat itu." Ujar Opa Burhan.
" Apa alasan Opa melakukan semua ini?" Tanya Zavran.
" Ibumu." Sahut Opa Burhan.
" Mommy? Kenapa dengan Mommy?" Tanya Zavran.
" Ibumu adalah wanita yang di cintai Aroon, aku tidak mau putriku terluka karna mereka berdua seperti dulu lagi, aku tahu jika selama ini putriku tersiksa jika melihat kedekatan Aroon dengan ibumu." Ucap Opa Burhan.
" Itu masa lalu Opa, Kenapa Opa membawanya di masa sekarang, antara Papa Aroon dan Mommy tidak ada hubungan apapun Opa, Mama Kinan juga tidak mempermasalahkan kedekatan kami selama ini." Ujar Zavran.
" Apapun bisa terjadi setelah ini Zavran, putriku memang tidak mengungkapkannya tapi aku bisa merasakannya, jadi berjanjilah untuk tidak mencintai Kira." Ucap Opa Burhan.
" Kalau aku tidak mau?" Tantang Zavran.
" Aku akan membawa Kira bersamaku dan tidak akan pernah kembali lagi ke sini." Ancam Opa Burhan.
" Apa? Opa akan membawa Kira ke Aust? Kalau Kiku tidak mau?" Tanya Zavran terkejut.
" Aku akan memaksanya, aku akan menjodohkannya dengan anak dari kerabatku di sana." Sahut Opa Burhan.
" Jangan Opa, Kira tidak bisa jauh dari Daddynya, jadi aku mohon jangan lakukan itu." Ucap Zavran.
" Maukah kau berjanji kepadaku?" Tanya Opa Burhan.
" Baiklah Opa." Sahut Zavran.
" Saat ini aku mengalah Opa, tapi jika suatu hari nanti aku mendapatkan dukungan, aku berjanji akan mengingkari janji yang aku buat saat ini." Janji Zavran dalam hatinya.
Flashback off
TBC.....
Hadeuh Opa Burhan gimana sih jalan pikirannya? Aneh nggak? Aneh ya....
__ADS_1
Jangan lupa like da koment di setiap babnya...
Miss U All...