
" Mommy." Teriak Zavran masuk ke dalam rumah.
" Ada apa sayang kok teriak teriak?" Tanya Mila memeluk Zavran.
" Apan sudah menemukan Mama buat Papa, namanya Kak Kinan, dia cantik banget Mi." Ucap Zavran dengan mata berbinar.
" Benarkah?" Tanya Mila memastikan.
" Iya Mommy." Sahut Zavran.
Mila memangku Zavran duduk di sofa, Ia menatap Aroon yang duduk di sofa sebrang.
" Apa yang di katakan Zavran benar Kak?" Tanya Mila menatap Aroon.
" Dia ketemu gadis muda lalu memintanya untuk menjadi Mamanya, Zavran pandai berbicara, dia juga membuat janji kepada gadis itu jika sampai ketemu lagi, gadis itu harus mau menjadi Mamanya." Terang Aroon.
" Apa dia cantik?" Tanya Mila.
" Sangat cantik." Sahut Aroon keceplosan.
Mila tersenyum mendengar ucapan Aroon.
" Eh maksudku biasa aja." Kilah Aroon menyadari kesalahannya.
" Nggak usah salting gitu Kak." Ucap Mila.
" Lalu apakah Zavran juga membuatmu berjanji?" Sambung Mila.
" Iya." Sahut Aroon menghela nafasnya.
" Lalu bagaimana jika kau bertemu lagi dengannya Kak?" Tanya Mila.
" Aku berharap tidak bertemu lagi dengannya, dengan begitu aku tidak perlu menepati janjiku pada Zavran." Ujar Aroon.
" Apan akan berdoa supaya kita bisa bertemu lagi sama Kak Kinan Pa." Sahut Zavran.
Aroon dan Mila saling melempar tatapan.
" Ada apa ini? Sepertinya sangat serius sekali?" Tanya Imran yang baru bergabung.
" Kak Aroon berjanji akan menikahi gadis yang tadi di temui Zavran bila mereka bertemu lagi." Sahut Mila.
" Benar begitu Zavran?" Tanya Imran.
" Iya Dad." Sahut Zavran.
" Lalu bagaimana jika kalian bertemunya tiga atau lima tahun lagi? Mungkin gadis itu sudah mempunyai suami." Ujar Imran.
" Itu lebih baik." Sahut Aroon.
"Tidak... Apan rasa besok kita akan bertemu dengannya Pa." Ucap Zavran.
" Ya semoga saja sayang doamu cepat terkabul." Sahut Mila.
" Ya udah aku pulang dulu, Zavran Papa pulang ya, Papa akan ke sini lagi hari senin untuk mengantar Zavran ke sekolah." Ujar Aroon.
" Iya Pa, hati hati." Sahut Zavran.
" Hmm." Gumam Aroon.
__ADS_1
" Aku pulang Mil, Ran." Pamit Aroon.
" Hati hati Kak, terima kasih untuk hari ini." Sahut Mila.
" Its Okay." Sahut Aroon.
Aroon berjalan keluar menuju mobilnya. Ia melajukan mobilnya menuju rumahnya denan kecepatan sedang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari senin telah tiba, Aroon pergi ke rumah Mila untuk menjemput Zavran dan mengantarnya pergi ke play group. Hari ini hari pertama Zavran masuk play group setelah satu minggu yang lalu mendaftar. Jadwal play group Zavran hanya dua kali dalam seminggu dan tiba di hari senin dan kamis. Yang kebetulan itu adalah hari jatah Aroon bermain dengan Zavran.
Tin tin
Aroon membunyikan klakson di depan rumah Mila, tak lama Zavran keluar sambil menggendong tas di punggungnya.
" Pagi Pa." Sapa Zavran masuk ke mobil.
" Pagi sayang, pakai dulu sabuk pengamannya." Ucap Aroon memakaikan sabuk pengamanan kepada Zavran.
" Sudah, sekarang siap untuk berangkat?" Tanya Aroon.
" Siap Pa.... Apan senang karna Apan akan bermain bersama teman teman Apan." Sahut Zavran penuh dengan semangat.
" Baiklah sayang bermainlah sambil belajar di sana, Papa akan menjemputmu jam dua belas saat makan siang." Sahut Aroon.
" Iya Pa." Sahut Zavran.
Aroon melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju play group yang berada di dekat kantornya. Sesampainya di sana, Aroon menggandeng tangan Zavran menuju kelasnya.
" Mama." Panggil Zavran pada gadis yang sedang berdiri di depan pintu bersama kepala sekolah.
" Mama." Ucap Zavran memeluk kaki Kinan. Kinan menunduk menatap Zavran.
" Alamak anak ini lagi.... Kenapa cepat sekali kami bertemu Tuhan, bagaimana jika dia menagih janjinya padaku? Apa yang akan aku lakukan..." Batin Kinan.
" Bu Kinanti, Mamanya Zavran?" Tanya Bu Ike, kepala sekolah.
" Ehhhh." Kinan bingung untuk menjawabnya.
" Zavran Maulana murid baru di sekolah kita Bu, tapi saya tidak menyangka jika Zavran putra anda." Ucap Bu Ike.
" Sepertinya ada kesalahpahaman di sini Bu." Sahut Kinan.
" Eh adik maaf, kamu siapa?" Tanya Kinan berjongkok di depan Zavran. Pura pura lupa dia biar Zavran tidak menagih janjinya.
Tiba tiba wajah Zavran berubah sendu seperti akan menangis. Aroon yang melihatnya tidak terima pasalnya gadis ini pura pura lupa. Ia menarik tangan Kinan hingga berdiri di depannya.
" Apa kau lupa dengan putramu sendiri? Beginikah sikapmu setelah sekian lama meninggalkan kami? Kau membuatnya hampir menangis sayang... Apa kau tidak kasihan melihat putra kita sedih? Dia sangat merindukanmu sayang." Ucap Aroon tiba tiba.
Mata Kinan membulat sempurna menatap Aroon. Aroon mengerlingkan sebelah matanya, sepertinya Ia sedang membalas kejahilan Kinan waktu itu.
" Ya ampun Bu Kinan, tidak perlu malu masih muda sudah punya seorang putra yang tampan seperti Zavran, sudah tidak usah pura pura tidak mengenal putranya, saya maklum Bu, memang dalam rumah tangga pasti ada aja masalah yang datang, tapi ingat jangan lupakan anaknya... Kasihan Zavran Bu, dia terlihat sangat merindukanmu." Ujar Bu Ike.
" Ah iya Bu maaf." Sahut Kinan akhirnya.
" Ya sudah saya mau ke kantor dulu, selamat mengajar Bu Kinanti." Ucap Bu Ike.
" Terima kasih Bu." Ucap Kinan.
__ADS_1
Bu Ike meninggalkan mereka bertiga. Kinan menatap tajam ke arah Aroon.
" Apa maksudmu ngomong seperti itu Om?" Tanya Kinan.
" Kenapa? Itu hukuman karna kau sudah membuat putraku sedih, lihat wajahnya! Zavran terlihat sangat sedih saat kau menolaknya." Ucap Aroon menunjuk Zavran dengan lirikan matanya.
Kinan menatap ke arah Zavran yang sedang menunduk menahan air matanya. Kinan berjongkok di depannya.
" Sayang." Ucap Kinan menangkup wajah Zavran.
" Maafin Kak Kinan ya, Kakak pikir kamu tidak akan mengenali Kakak jika Kakak pura pura tidak mengenalmu." Ujar Kinan.
" Apan maafkan Kak, Kak Kinan sudah berjanji padaku jika kita bertemu lagi maka Kak Kinan mau menjadi Mamaku, jadi sekarang Apan panggil Kakak dengan Mama." Ujar Zavran.
" Sayang maafkan Kak Kinan, waktu itu Kak Kinan hanya bercanda saja, jadi jangan panggil Mama ya, panggil Kak Kinan bu guru saja gimana?" Ucap Kinan hati hati.
" Kata Mommy kalau janji harus di tepati, kalau tidak di tepati dosa." Ujar Zavran.
Kinan menghela nafasnya, Ia tidak tahu harus berbuat apa. Aroon tidak membantunya sama sekali.
" Om bantuin kek jangan diam aja." Ucap Kinan menatap Aroon.
" Bodo' kamu yang janji ngapain aku yang harus repot." Sahut Aroon.
Kinan berdiri di depan Aroon.
" Aku tahu kau pasti sedang mencari keuntungan dalam kerugianku." Ujar Kinan.
" Apa maksudmu?" Tanya Aroon.
" Om sengaja kan menyuruh putra Om untuk mengikatku, mau banget ya punya istri jauh lebih muda sepertiku." Cebik Kinan.
" Mana ada? justru aku yang rugi kalau menikahi bocil sepertimu." Ucap Aroon.
" Ya sudah beri pengertian pada putramu untuk tidak memanggilku Mama." Ucap Kinan.
" Kamu aja sendiri." Sahut Aroon.
" Kamu...
" Papa Mama stop jangan bertengkar, Apan mau bermain sama teman teman aja dari pada lihat Papa sama Mama bertengkar terus setiap ketemu." Ujar Zavran masuk ke dalam kelasnya.
" Kau lihat? Putramu sangat pintar sekali." Ucap Aroon.
" Mana ada? Putramu kali Om." Sahut Kinan.
" Sudahlah Mamanya Zavran... Kita tidak perlu berdebat di sini, sekarang masuklah! Ajarlah putra kita dengan baik biar menjadi orang besar seperti Papanya." Ucap Aroon mengerlingkan matanya menggoda Kinan. Entah mengapa rasanya senang bisa menggoda gadis kecil seperti Kinan.
" Ih.." Gumam Kinan bergidik ngeri.
Kinan masuk ke dalam kelasnya. Tiba tiba Aroon berteriak dari luar kelas.
" Mama semangat ya..." Teriak Aroon membuat Kinan mengepalkan erat tangannya. Ingin rasanya Ia menonjok pria setengah tua itu yang sayangnya masih terlihat sangat tampan.
Aroon meninggalkan sekolah Zavran dengan senyum mengembang di bibirnya. Ia tidak menyadari jika hatinya selalu berdesir saat bertemu Kinan. Apakah hatinya sudah mulai terbuka kembali? Apakah akan ada benih benih cinta di dalam hatinya? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
TBC.....
*Jangan lupa like dan komentnya ya..
__ADS_1
Miss U All*...