Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 100


__ADS_3

" Kenapa kamu tidak bilang, kalau Mark mengundang wartawan sebanyak ini !" ujar Elbert dengan wajah marah saat mereka tiba di acara ini.


" Maaf, Tuan ... saya juga tidak tahu. Tuan Mark mengatakan hanya mengundang beberapa wartawan senior saja. Saya juga bingung, kenapa dia mengundang sebanyak ini ?" ujar John sama kesalnya dengan Elbert.


" Kita pulang saja kalau begitu. Telefon Mark dan katakan padanya kalau aku menyuruhmu untuk membatalkan kedatanganku ke acara ini !" ucap Elbert hendak kembali masuk


ke dalam mobil.


" Baik, Tuan ....!" John setuju karena ia juga tidak terlalu suka berada di tempat yang terlalu ramai.


Apalagi Mark terkesan sengaja berbohong, agar Elbert mau datang.


Tapi baru saja, ketika mereka berjalan belum terlalu jauh, Mark mengejar mereka.


Kebetulan asisten Mark yang baru saja kembali dari toilet, melihat ketika Elbert dan John beranjak pergi dan membatalkan niat mereka untuk masuk ke ballroom tempat acara di adakan.


Mark langsung mengejar mereka begitu asistennya memberitahu


kan padanya.


" Elbert, kenapa tidak jadi masuk ke dalam ?" tanya Mark setelah berhasil menghampiri mereka.


" Apa kau lupa, syarat apa yang aku berikan jika kau ingin aku hadir di acara launching produk ini ! Apa kau tidak merasa kalau sudah melakukan kesalahan !" kata Elbert dan menatap Mark dengan tajam.


" Maaf, El ... ya, aku ingat syarat yang kamu berikan. Pada awalnya aku hanya mengundang wartawan senior saja, seperti yang kamu minta. Tapi karena ini acara besar jadi para wartawan yang tidak mendapatkan undangan dariku mengajukan protes. Selama beberapa hari, sebelum produk yang mau kita luncurkan ini , mereka datang dan membuat keonaran di perusahaan ku. Jadi, karena aku tidak ingin membuat masalah ini semakin besar, dengan sangat terpaksa aku akhirnya mengundang mereka juga. Untuk hal ini aku minta maaf dan mohon pengertian dari mu." ujar Mark panjang lebar dengan wajah menyesal.


John melihat wajah Elbert yang masih terlihat begitu kesal.


" Please, Elbert ... aku sudah mengatakan pada mereka kalau kamu yang akan meluncurkan produk ini !" ujar Mark memohon.


" Tidak ! Kau saja yang melakukannya. Lagi pula ini perusahaan kau. Aku hanya pemilik modal. " ucap Elbert sembari melangkah pergi tidak memperdulikan perkataan Mark.


" Tolong Elbert ... Aku memang salah karena tidak memberitahu pada kamu. Jika kamu pergi, acara ini pasti gagal dan berantakan karena penyebab begitu banyak wartawan yang ingin datang karena nama kamu yang besar." ujar Mark sambil berlutut dengan wajah memelas.


" Apa yang kau lakukan ! Berdiri ! " ucap Elbert kesal, karena apa yang dilakukan Mark telah menarik perhatian beberapa orang yang ada di sana.


" Tidak, aku akan tetap berlutut sebelum kau membatalkan niatmu untuk pulang dan akan tetap hadir di acara ini. " ujar Mark bersikeras.


" Baik, aku akan membatalkan niatku untuk pergi. Puas kamu !" ucap Elbert geram.


Elbert terpaksa mengikuti keinginan Mark karena semakin banyak orang yang berdiri memperhatikan mereka.


" Terima kasih, El ... kau memang sahabat terbaik !" ujar Mark bangkit sembari tersenyum puas karena sudah berhasil membujuk Elbert.


" Tapi ada syaratnya. Jika kau tidak bisa menyanggupi syarat dariku, aku akan tetap pergi dan tidak perduli meskipun kau berniat bunuh diri di depanku !" ucap Elbert dengan wajah dingin.


John tersenyum miring mendengar perkataan Elbert. Pasti El, akan menyuruh Mark melakukan sesuatu yang akan membuat dirinya aman dari kejaran para wartawan.


" Baik, aku akan setuju apapun syarat yang kamu katakan. Asalkan kamu tetap hadir. " ujar Mark dengan wajah meyakinkan Elbert.


" Hmm ... aku mau masuk ke dalam jika kau menyediakan topeng untukku dan untuk semua yang hadir di dalam. Aku tidak mau wajahku diketahui oleh semua orang. " ucap Elbert datar.


Mark terkejut dengan syarat yang diinginkan Elbert. Padahal begitu banyak yang tamu antusias untuk datang menghadiri acara ini karena ingin melihat secara langsung wajah Elbert.


Tapi jika Mark tidak setuju dengan apa yang dikatakan Elbert, pasti Elbert akan segera pergi. Justru ini akan membuat Mark akan mengalami kerugian yang lebih besar.


" Baiklah, aku setuju. Aku akan menghubungi asistenku untuk menyediakan topeng seperti yang kamu inginkan. Sementara menunggu, sebaiknya kamu dan Jhon duduk di ruangan private saja. " akhirnya Mark memilih mengalah dan segera menghubungi asistennya di depan Elbert dan John.


" Hmm ... " sahut Elbert.


Kemudian Mark membawa Elbert dan Jhon ke ruangan private yang ada di hotel ini yang memang khusus ia pesan untuk Elbert selagi menunggu acara belum di mulai.


Mark bergegas pergi untuk mengabarkan perubahan ini pada semua tamu yang sudah hadir.


Tentu saja semua tamu yang mendengar akan hal ini jadi heboh. Karena bagaimana mungkin dalam sebuah acara peluncuran produk, tamu yang hadir harus menggunakan topeng.


Apalagi mereka begitu antusias untuk datang karena ingin melihat Elbert. Jika memakai topeng bagaimana mereka bisa melihat wajahnya.


Meskipun sebenarnya sah - sah saja. Karena acara yang di buat Mark lebih mirip sebuah pesta di bandingkan acara untuk mempromosikan sebuah produk.


Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, topeng yang diinginkan Elbert sudah tersedia.

__ADS_1


Mark kemudian menyuruh setiap tamu untuk memakai topeng yang di bagikan oleh para pegawainya.


Baru setelah ia melihat semuanya sudah mengenakan topeng, Mark pun kembali ke ruangan Elbert dan Jhon dan memberikan topeng buat mereka berdua.


"Semua tamu sudah mengenakan topeng, El ... Apa kita sudah bisa masuk sekarang, Elbert ?" Mark bertanya terlebih dulu, agar Elbert tidak berubah pikiran lagi.


" Hmm ... !" sahut Elbert singkat.


" Terima kasih, bro ... !" ujar Mark senang.


Tidak lama kemudian Elbert masuk ke dalam ball room bersama John dan Mark, tanpa mengalami hambatan.


Tentu saja Elbert tidak jadi pusat perhatian karena topeng yang sudah ia kenakan.


" Silahkan duduk, Elbert, Jhon ...aku akan memulai acaranya." ujar Mark mengantarkan mereka berdua di tempat duduk khusus VVIP.


Mark pun kemudian berjalan ke arah pentas dan mulai membuka acara.


" Selamat malam hadirin sekalian. Terima kasih telah menyempatkan waktu Tuan dan Nona untuk hadir di acara launching produk terbaru kami. Seperti yang sudah kalian ketahui, hari ini sebagai pemilik modal terbesar di proyek ini sudah hadir bersama kita semua. Untuk itu saya tidak akan membuang waktu lebih lama lagi saya persilahkan pada Tuan Elbert untuk segera meresmikan peluncuran dari produk ini. " ujar Mark dengan penuh semangat memanggil Elbert.


Semua tamu yang hadir pada heboh dan mencari sosok yang sudah di tunggu - tunggu sejak tadi.


Terutama kaum wanita, yang sangat ingin berkenalan dan dekat dengan Elbert. Apalagi setelah mereka mengetahui meskipun tidak secara langsung melihat , bahwa pemilik dari perusahaan - perusahaan besar yang ada itu masih muda dan sangat tampan.


Mereka tidak percaya dan tidak perduli dengan berita yang mereka dengar bahwa Elbert sudah bertunangan dengan Claire.


Karena mereka yakin berita itu Claire yang sengaja menyebarkannya agar bisa menikah dengan Elbert.


Buktinya Elbert tetap tidak pernah mau memperlihatkan wajahnya di depan publik, meskipun Claire dengan yakin mengatakan pada media kalau Elbert akan melakukan keinginannya, untuk memperlihatkan wajahnya pada publik.


Elbert dengan topeng yang menutupi wajahnya bersama dengan Jhon, berjalan menuju tempat Mark berdiri untuk segera meresmikan produk ini resmi di luncurkan.


Semua tamu jadi bertambah penasaran dengan sosok di balik topeng itu. Terutama kaum wanita dan para wartawan. Karena rasa penasaran yang besar membuat mereka berdiri dan jalan mendekat ke arah Elbert.


" Wah, pakai topeng aja masih kelihatan gantengnya ! Gimana kalau lihat wajah aslinya, ya ... " celetuk salah seorang tamu wanita yang hadir.


" Iya, kamu benar. Pasti ganteng banget."


" Aduh, sayang banget ya, kita gak bisa lihat langsung wajah aslinya Tuan Elbert."


" Pasti lah ... ! Mana mungkin Tuan Elbert mau tunangan dengan dia.


Meskipun dia juga kaya dan keturunan dari pengusaha besar tapi wajahnya biasa - biasa saja."


" Iya, makanya dia berusaha menjerat Tuan Elbert dengan mengeluarkan berita pertunangan gak benar itu dengan menerobos masuk ke apartment Tuan Elbert !".


" Huh, murahan banget!" .


Semua hinaan mereka keluarkan buat Claire yang menurut mereka sengaja menyebarkan berita bohong agar bisa bersama Elbert.


" S*****n ... ! Dasar wanita j****g ... ! Berani nya mereka menghina ku di belakang. Lihat saja apa yang akan aku lakukan ! Biar kalian semua menangis d***h setelah ini !" umpat seorang wanita bertopeng yang mendengar semua hinaan tadi.


Sementara itu, setelah Elbert secara resmi meluncurkan produk itu, ia pun kembali ke tempat duduknya bersama John.


Beberapa wartawan menghampirinya dan mengambil beberapa fotonya. Mereka tidak perduli meskipun wajahnya tidak terlihat secara keseluruhan.


Bahkan ada yang berusaha untuk mewawancarainya. Tapi dengan tegas, John menolak mereka.


Mark juga terpaksa menghalau mereka semua agar Elbert tidak semakin murka padanya.


" Aku sudah menyelesaikan bagian ku. Aku pulang sekarang !" ucap Elbert pada Mark.


" Tolonglah, El ... sebentar lagi, ya ! Karena kehadiranmu membuat semua wanita yang hadir disini banyak membeli produk kita. Ini juga demi kelancaran usaha kita. Lagi pula masih ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu." pinta Mark.


" Hmm ... Tapi aku di ruangan private saja menunggunya. Mereka juga tidak akan tahu, aku masih disini apa gak ! Toh, wajahku tidak kelihatan. " ucap Elbert .


" Okey, aku setuju. Aku tinggal bentar ya, El ... aku harus menyapa beberapa tamu." ujar Mark setelah berhasil menahan Elbert untuk tetap berada disini.


Elbert tidak menjawab perkataan Mark, dia hanya menatap dengan dingin.


" Tuan Elbert, saya permisi ke - belakang sebentar. Perut saya mendadak sakit !" ujar John pada Elbert setelah Mark meninggalkan mereka.

__ADS_1


" Hmm ... Jangan lama ! Aku tunggu kamu di ruangan private ! " ucap Elbert sembari bangkit dari tempat duduknya.


" Baik, Tuan ...!" jawab John.


Ia pun bergegas pergi ke toilet.


Begitu John pergi, Elbert pun berjalan menuju ruang private. Ia


tersenyum tipis ketika berhasil keluar tanpa ada yang mengenalinya.


Elbert dengan santai duduk di sofa yang ada di ruang private.


Sembari menunggu John dan Mark, Elbert melihat galeri di handphonenya. Ia kembali menatap foto Felicie, wajah gadis kecil yang begitu ia rindukan.


Tapi kesenangannya terganggu karena ada yang mengetuk pintu ruangan ini. Walau kesal, Elbert terpaksa bangkit dan membuka pintu.


" Ada apa ?" tanya Elbert dingin.


" Maaf, Tuan ... Tuan Mark menyuruh saya untuk mengantarkan makanan dan minuman ini buat Tuan. " ujar seorang pelayan pria yang sedang membawa kereta dorong berisi makanan dan minuman.


" Hmm ... letakkan disana ! " ucap Elbert.


" Baik, Tuan ... !" sahut pelayan itu.


Setelah meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya, pelayan itu pun permisi keluar pada Elbert.


" Terima kasih, Tuan ... Permisi !" ujar pelayan itu tersenyum saat Elbert memberikannya tip sebelum keluar dari ruangan ini.


Elbert hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali duduk dan mulai melihat foto Felicie kembali sembari mengambil segelas minuman.


Tapi entah mengapa, kepalanya mendadak pusing dan matanya mulai terasa berat. Elbert pun sadar, kalau pelayan tadi pasti sudah menaruh sesuatu di minuman itu. Elbert berusaha untuk tetap membuka matanya agar tidak tertidur.


Tapi meski ia sudah berusaha dengan sangat keras, perlahan matanya pun mulai tertutup tanpa bisa ia cegah lagi.


Elbert membuka matanya perlahan karena kepalanya yang masih terasa pusing, saat samar - samar ia mendengar suara tangisan seorang wanita di sela - sela kegaduhan dan beberapa sinar atau cahaya yang mengenai wajahnya.


Begitu ia berhasil membuka matanya dengan lebar, alangkah terkejutnya Elbert melihat ia sedang berada di sebuah kamar dan tidak mengenakan pakaian.


Apalagi yang paling membuatnya


tidak percaya dengan penglihatannya, disisinya sudah ada Claire yang juga tidak mengenakan busana sama seperti dirinya. Mereka hanya di tutupi selimut tebal.


Sedangkan pintu kamar sudah di buka secara paksa oleh beberapa wartawan yang sedang mengambil foto mereka berdua.


Meski belum terlalu pulih, tapi Elbert sadar kalau ia masuk ke dalam jebakan yang di lakukan oleh Claire. Rasanya ingin sekali Elbert me**ha**i Claire saat ini juga, karena telah berani menjebaknya.


Bahkan dengan liciknya, ia pura - pura menangis dengan wajah yang terlihat begitu sedih di depan semua wartawan yang mengambil foto mereka.


Sementara John yang tidak menemukan Elbert di ruang private segera mencarinya.


Alangkah terkejutnya Jhon ketika melihat banyak wartawan berkerumun yang sedang mengambil foto dari sebuah kamar yang pintunya terbuka.


Tiba - tiba terlintas pikiran buruk di kepalanya.


" Jangan - jangan .... ?" gumam Jhon sembari bergegas mendekat ke arah kerumunan wartawan itu.


Ternyata benar apa yang ia pikirkan tadi. Jhon melihat Elbert dan Claire berada di tempat tidur yang sama dan tubuh mereka di tutupi selimut tebal.


" Kalian semua keluar sekarang juga !" ujar Jhon membentak mereka semua dengan suara keras.


" Jangan ... kalian jangan pergi !


Tunggu aku mengenakan pakaianku terlebih dahulu, biar aku bisa memberitahu kejadian yang sebenarnya. " ujar Claire tanpa malu sedikitpun.


Setelah selesai mengatakan hal itu, Claire pun bangkit dari tempat tidur dengan mengenakan handuk yang sengaja ia letakkan di dekatnya. Kemudian ia menuju kamar mandi dan segera memakai kembali pakaiannya.


Ia pun keluar setelah selesai berpakaian, lalu menemui wartawan yang ingin mendengar klarifikasinya atas kejadian ini.


Elbert yang sudah tidak bisa menahan kemarahannya, bergegas bangkit menggunakan selimut yang menutupi tubuhnya dan mengambil pakaiannya yang sudah berserakan di lantai, lalu mengenakannya di kamar mandi.


Setelah berpakaian, Elbert pun keluar dan menghampiri Claire yang sedang bicara dengan serius pada wartawan di depan pintu kamar ini. Elbert pun menampar pipi Claire dengan keras, hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.

__ADS_1


Tentu saja kejadian ini membuat wartawan segera mengabadikannya.


**********************************


__ADS_2