Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 53


__ADS_3

Giselle sedang mencari cara agar


bisa datang kembali ke rumah sakit, tanpa di ketahui oleh William dan yang lain. Ia ingin tahu mengenai pernikahan Aaron.


Apakah wanita itu ditempatkan di apartment juga seperti dirinya atau malah di mansion.


Aaron yang kali ini sendirian di rumah sakit, karena Tommy dan Zico harus ke perusahaan. Sejak


Tuan William pulang, mereka tidak bisa seenaknya lagi bebas keluar masuk seperti biasa.


Terlintas di pikirannya untuk menghubungi Felicie. Tapi Aaron


tidak memiliki nomer ponselnya.


Hal ini membuatnya semakin


menyesal. Begitu tidak perduli nya


Aaron dulu pada Felicie. Bahkan nomer telefon isterinya sendiri


dia tidak tahu. Sekarang apa yang harus dia lakukan.


Aaron yang masih terpaku dalam


pikirannya, tidak menyadari kalau


Sisca sudah masuk keruangan nya.


" Aaron, ceraikan Vera sekarang juga. Saya tidak rela jika anak saya kamu kurung seperti itu.


Bahkan saya tidak diijinkan untuk


melihatnya " ujar Sisca dengan kasar.


Ia memang baru saja datang ke mansion saat Tuan William sedang berada di perusahaan. Tapi tetap saja, Sisca tidak dibolehkan untuk melihat Vera. Ia hanya tahu anaknya dikunci dalam sebuah kamar.


Sisca bisa mendengar dengan jelas suara tangisan Vera yang sangat menyedihkan.


Ia meminta tolong pada Sisca untuk segera dikeluarkan. Karena sepanjang hari ia hanya terkunci dikamar yang berukuran kecil.


Bahkan untuk makan pun ia lakukan di kamar. Karena Tuan William tidak mengijinkan, Vera


berkeliaran di mansion. Bukan karena takut kabur, karena itu pasti akan sulit di lakukan sebab


di mansion William sudah ada penjaga dan beberapa orang bodyguard mengawasi mansion nya.


" Aaron ... kamu dengarkan kata saya. Ceraikan Vera sekarang juga ! Kalau tidak saya akan lapor ke P***** dan mengatakan pada mereka bahwa kamu dan ayah kamu telah mengurung dan menyiksa anak saya." ancam Sisca yang sudah kehilangan akal sehatnya.


" Hah, hahaha ... Jangan bermimpi Ibu mertuaku. Dia akan tetap jadi istriku sampai aku puas bermain - main dengannya.


Bukankah Ibu mertuaku yang tersayang sangat ingin aku jadi menantu mu. Jadi kenapa sekarang meminta aku menceraikannya. Kasihan, loh ... masa baru nikah udah jadi janda. Aku gak tega .... hahaha.


Terus tadi Ibu mertua bilang mau melaporkan aku dan Daddy ? Silahkan ... aku tunggu !!!


Tapi jangan salahkan aku, jika Ibu mertua dan anakmu yang j****g


itu akan masuk penjara nanti. Karena aku juga akan melaporkan kalian berdua, mengenai penjebakan yang telah kalian lakukan padaku. " ancam Aaron dengan wajah yang sangat menyeramkan.


Wajah Sisca berubah pucat pasi


mendengarkan omongan Aaron.


Kenapa ia bisa sampai lupa, akan


perbuatan yang telah dilakukannya terhadap Aaron.


Padahal baru saja, Bagas suaminya mengingatkan Sisca sementara ini jangan sampai membuat masalah agar tidak membuat Tuan William bertambah murka.


" Sebaiknya sekarang Ibu mertua


pergi melapor. Aku juga sudah bosan di rumah sakit. " ucap Aaron sinis.


Tanpa bicara sepatah kata, Sisca keluar dari kamar Aaron dengan


langkah kesal. Karena rencananya untuk menakuti Aaron tidak berhasil.


Kamar kembali senyap setelah kepergian Sisca. Aaron menghela nafas dengan berat memikirkan semua hal yang terjadi dalam


hidupnya.


Ternyata benar kata pepatah, "Penyesalan itu selalu datangnya terlambat " jika duluan namanya pendaftaran ... hehehe.


Sementara Felicie baru saja selesai mengurus berkas - berkas


keberangkatannya untuk kuliah


di luar. Ia juga sudah meminta tolong pada sahabatnya di sana


untuk mencarikan tempat tinggal selama ia menetap.


Felicie juga menemui Pengacara


untuk membuat surat kuasa yang akan menjamin keabsahan jabatan yang akan di jalani Tika,


dalam memimpin perusahaan.


Sekarang hanya tinggal menunggu jadwal sidang perceraiannya dengan Aaron.


Lalu ia bisa pergi dengan tenang.


" Kenapa Fel, kamu tidak mau tinggal di apartment ku saja selama kuliah disana ? atau di mansion ku ... ? " tanya Elbert


keberatan karena Felicie menolak tawarannya.


" Hmm ... aku hanya ingin mandiri.


Tidak tergantung pada kamu ataupun pada orang lain. Lagipula aku tidak ingin merepotkan.


Lagi pula apa nanti yang akan difikirkan saudara atau kolega mu jika melihat aku tinggal di apartment atau pun mansion kamu. Mereka akan


menganggap ku ingin memanfaatkan harta kamu saja.


Jangan lupa, aku ini bakal jadi seorang janda yang kaya raya ...

__ADS_1


Jadi aku masih bisa membayar semua fasilitas dan kebutuhan yang aku perlukan. " ujar Felicie


panjang sambil mencoba menjelaskan alasan ia menolak


tawaran Elbert. Ia tahu Elbert kecewa dengan penolakannya.


Felicie juga tidak mau terlalu banyak berhutang budi pada Elbert. Meskipun ia sekarang sudah mulai terasa nyaman berdekatan dengannya. Tapi bukan berarti ia harus tinggal bersama dan menerima dengan


mudah penawaran Elbert.


Ia ingin semuanya berjalan seperti air yang mengalir. Jikapun suatu saat nanti ia bisa menerima cinta Elbert, itu di karenakan hatinya sudah merasa yakin untuk menjalani kehidupan cintanya.


Tapi untuk saat ini, Felicie hanya ingin fokus pada tujuan utamanya,


kuliah dengan baik, kemudian


lulus. Baru setelah itu ia akan


menjalankan perusahaan Papanya dengan serius.


Jadi untuk urusan hati dan cinta,


ia masih menundanya. Tapi ia juga yakin, jika sang pencipta ingin Felicie menerima perasan


Elbert, pasti mereka akan menyatu secepatnya.


" Baiklah, aku menerima alasan yang kamu berikan. Tapi seperti yang pernah aku katakan sama kamu. Tolong izinkan aku untuk selalu menemani hari - harimu.


Hingga suatu hari, kamu bisa menerima kehadiranku dalam hatimu." ujar Elbert dengan menatap manik mata Felicie dengan penuh cinta.


" Tentu, aku mengizinkan.


Kamu jangan khawatir, El ... jika suatu hari aku akan melabuhkan hatiku pada seseorang. Aku pasti akan memberikannya padamu. Saat ini hanya kamu yang paling bisa aku percaya.


Karena aku yakin kamu tulus dan


gak akan mengecewakanku." ucap Felicie dengan serius.


Wajah Elbert langsung berubah bahagia begitu mendengar perkataan Felicie. Ia yakin akan segera memenangkan hati Felicie.


El hanya butuh lebih sedikit bersabar. Ia harus membiarkan


perasaan dan jiwa Felicie lebih tenang dari sekarang.


Karena walau bagaimanapun semua masalah yang di hadapi Felicie termasuk sangat berat untuk ditanggungnya selama ini.


Apalagi ia harus menjadi seorang


j**** di usia yang masih sangat


muda. Tentu saja Elbert tahu, meski Felicie mencoba menutupinya agar selalu terlihat tegar dan kuat, tetap saja dalam


hatinya merasakan sedih.


" Baiklah ... aku akan menunggu


saat itu tiba. Jika memang benar suatu saat kamu sudah siap menata hati dan kehidupanmu lalu akan menerima


perasaanku. Aku adalah orang yang paling merasa bahagia dan beruntung. Aku mencintaimu gadis kecilku." kata Elbert dengan segenap perasaannya.


Elbert. Hatinya jauh lebih tenang sekarang setelah Elbert bisa mengerti alasannya belum bisa


menerima cinta dari Elbert.


" Terima kasih El ... " ucap Felicie dengan lembut.


Elbert tersenyum, ia yakin tidak


akan lama lagi Felicie akan menerima perasaannya. Karena sikap Felicie sudah jauh berubah di bandingkan dengan sifatnya


dulu, yang selalu dingin dan datar.


Begitu juga dengan dirinya, El juga menyadari sikapnya perlahan mulai hangat kembali saat seperti masih ada orang tua dan kakeknya.


Felicie telah membuat hari - harinya jadi terasa sangat menyenangkan. Elbert merasa tidak kesepian lagi.


" Okey, sekarang kita pergi makan.


Terus ke rumah kamu. Bukankah semalam kamu janji dengan Ibu dan Tika, akan datang kesana." ujar Elbert.


" Okey ... " sahut Felicie semangat.


Elbert dan Felicie berjalan berdampingan menuju mobil.


Tanpa mereka berdua sadari, ada Zico disana yang memandang mereka dengan mata merah menahan marah dan cemburu.


Zico kebetulan baru saja tiba di kantor Pengacara yang tadi


di kunjungi Felicie dan Elbert.


Sebagai sesama Pengacara mereka sering menangani kasus


bersama. Hari ini Zico hanya sedang ingin berkunjung dan ngobrol sesama teman. Karena sudah lama juga ia tidak bertemu dengan Zein sejak kasus terakhir yang pernah mereka tangani.


Ia melihat dengan penuh emosi saat mobil Elbert mulai menjauh.


Zico lalu bergegas masuk ke dalam kantor Zein. Ia ingin tahu, ada keperluan apa hingga Felicie datang ke kantor ini.


" Hai, Zein ... apa kabar Lo ? " sapa Zico begitu masuk keruangan Zein, temannya.


" Hei, kabar gue baik. Tumben Lo datang kekantor gue. Udah lama kita gak ketemu sejak kasus terakhir. Iya, kan ... " ujar Zein membalas sapaan Zico.


" Iya, udah lama juga memang.


Sorry, gue lagi sibuk banget


di perusahaan, jadinya kurang ada waktu." kata Zico.


" Hehehe ... maklum gue.


Lo mau minum apa, nih bro ... ? ".


" Terserah yang penting bisa buat

__ADS_1


gue segar."


" Okey, tapi gue lihat sepertinya lagi ada masalah. Masalah apa, bro yang buat wajah ganteng Lo jadi kaya kertas lecek gini ?".


" Hmm ... Sebenarnya gue mau nanya sama Lo. Tadi waktu gue masuk ada seorang wanita dan pria baru aja keluar dari tempat Lo. Kalau boleh gue tau, mereka sedang membicarakan apa ?".


" Oh, wanita muda yang cantik tadi


maksud Lo ? Kenapa, Lo kenal dengan mereka ? ".


" Iya, wanita tadi sedang dalam kasus perceraiannya. Nah, gue yang membantunya."


" Hah ... cewek itu udah menikah ?


Masih muda banget udah mau cerai aja. Wah, masih ada kesempatan buat kita ... hahaha.


Tapi pria yang bersamanya tadi siapa, bro ... ?".


" Pria itu temannya dan dia suka pada wanita tadi. Udah, Lo jangan nanyain yang gak penting.


Gue mau tau, ada urusan apa mereka sehingga butuh jasa dari Lo ? ".


" Oh, itu ... tapi Lo kan tahu, kita gak boleh memberitahukan masalah pribadi klien pada orang lain. So, meski Lo teman gue, gak boleh diceritakan dong ... ".


Zico tahu, apa yang dikatakan Zein itu memang benar. Tapi saat ini ia benar - benar ingin tahu.


" Iya, gue tahu. Tapi masa elo gak bisa bocorin dikit sama gue.


Gue janji gak akan beritahu siapapun."


Zein tahu memang gak mungkin Zico akan membocorkan pada orang lain. Lagi pula yang dibahas wanita cantik tadi


hanya masalah surat kuasa.


Jadi mungkin gak papa kalau ia mengatakannya pada Zico.


" Dia hanya membuat surat kuasa buat saudaranya untuk menjalankan perusahaannya selama dia tidak bisa berada disini." akhirnya Zein mengatakannya.


" Surat kuasa ? Terus dia bilang gak mau pergi kemana ? " tanya Zico antusias.


" Ya, gak lah ... itu urusan pribadinya jadi gue gak bertanya." sahut Zein.


" Lagian Lo kenapa sih pengen tahu banget tentang cewek cantik tadi. Lo suka sama dia ? " tanya


Zein langsung menodong Zico.


" Iya, gue suka sama dia. Bahkan sejak pertama kali gue melihatnya dihari pernikahannya. " jawab Zico jujur.


" Ohh ... gila. Jadi lo udah suka sama dia sejak statusnya istri orang. Benar - benar Gilak Lo, bro ... jadi sekarang Lo lagi nunggu dia janda ceritanya nih ? ".


" Ya, gue emang udah gila. Tapi


Lo tau sendiri kan, selama ini gue belum pernah tertarik sama wanita. Tapi begitu gue lihat Felicie, gak tahu kenapa gue


langsung tertarik."


" Hmm ... benar sih.


Siapa yang gak tertarik melihatnya. Gue aja yang baru pertama kali ketemu sama Felicie, langsung tertarik."


" Jadi gue gak salahkan suka sama dia meskipun dia mantan istri teman gue ? ".


"Tapi saingan Lo berat, bro ... pria yang tadi datang bersamanya itu juga ganteng dan tajir. Belum lagi, sepertinya dia terlihat sangat mencintai Felicie."


" Itu yang buat gue kesal. Bisa - bisanya gue yang ketemu duluan dengan Felicie, dia malah mau nyerobot kesempatan gue."


" Hahahaha ... kurang cepat kali gerakan Lo. Jadi Lo ditikung sama pria tadi."


" Bukan masalah itu. Tapi karena mantan suaminya Felicie itu teman gue, dan dia benci dengan suaminya."


" Loh, kenapa dia bisa benci sama suaminya ?".


" Hmm ... susah diceritakan.


Panjang ceritanya, yang jelas sekarang mereka sedang menunggu sidang perceraian."


" Siapa teman Lo yang jadi suaminya ? Apa gue kenal ... ?".


" Sorry, bro ... kalau masalah ini gue gak bisa ngomong. Karena taruhannya nyawa gue. Suaminya


bukan orang sembarangan. Pernikahan mereka juga selama ini dirahasiakan, begitu juga dengan perceraian mereka."


" Hah .... Wah, jadi makin tertarik gue. Ayo, dong, beritahu gue siapa nama suaminya, bro ... gue janji gak akan ngomong."


" Buat yang ini gue gak bisa, bro ... maaf banget. Gue masih sayang dengan nyawa gue. Daddynya menyeramkan kalau udah marah."


" Gitu ya ... okey, deh.


Biar gue cari tahu sendiri ... hehehe."


" Okey, bro ... kalau gitu gue cabut dulu. Kapan - kapan ada waktu lagi kita janjian ketemu di tempat biasa."


" Baiklah ... gue juga harus ke pengadilan bentar lagi. Ada kasus


yang gue tangani."


" Good ... bye, bro."


" Yo ... see you."


Zico segera melangkah keluar dari ruangan Zein dengan pertanyaan di kepalanya.


Felicie mau pergi kemana dengan


memberikan surat kuasa pada seseorang.


Apakah dia berencana pergi jauh dari Aaron setelah mereka bercerai. Tapi kemana .... ?


Apa pergi bersama Elbert ... ?


Jangan - jangan memang benar, Felicie mau pergi dengan Elbert.


Karena hal ini membuat Zico emosi kembali.

__ADS_1


" S******n ... !!! " Zico memukul stir mobilnya karena kesal membayangkan Elbert akan membawa Felicie pergi darinya.


**********************************


__ADS_2