Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 65


__ADS_3

" Mbak ... Felicie mau pergi ke mansion Tuan William sebentar. " ujar Felicie pada Tika.


" Ada urusan apa lagi, Felicie ?


Kamu mau pamit ?" tanya Tika heran.


" Hampir seperti itu, mbak ... Felicie hanya mau mengucapkan terima kasih karena sudah


di perlakukan dengan baik selama Felicie jadi menantu Tuan William. Kemarin di perusahaan kan gak sempat,


karena begitu selesai rapat Daddy langsung pergi." jelas Felicie.


" Oh, mau mbak temani ?" tanya


Tika.


" Gak usah, mbak ... biar Felicie


pergi sendiri aja."


" Sendiri ... ? Elbert gak jemput


kamu ?".


" Bukan gak jemput tapi Felicie


yang gak ngasi tahu dia."


" Kenapa kamu gak beritahu Elbert ?" tanya Tika heran.


" El lagi sibuk, mbak ... karena


besok kami mau berangkat .. jadi


hari ini dia membereskan semua urusannya. Jadi Felicie gak mau


ganggu dia." ujar Felicie menjelaskan.


" Oh, mbak kirain ada apa." ucap


Tika tenang.


" Ibu kemana mbak, kog dari tadi


gak kelihatan ?" tanya Felicie.


" Ibu lagi keluar bentar, belanja. Ibu mau buat rendang, sama sambel teri Medan untuk kamu bawa kesana." kata Tika.


" Hah, buat apa, mbak ...nanti Ibu capek. Kog, gak mbak larang sih ... ?" ujar Felicie menggelengkan kepalanya.


" Kamu tahu sendiri, Ibu mana bisa di larang kalau udah ada maunya." jawab Tika sembari menaikkan bahunya.


" Iya, sih ... tapi Felicie kasihan lihat Ibu, buat rendangkan capek."


ucap Felicie lagi.


" Udah, biarin aja ... mungkin dengan membawakan kamu bekal


makanan Ibu lebih tenang. Jadi gak takut kamu kelaparan mesti


cuma untuk beberapa hari ... hahahaha." ujar Tika mentertawakan Ibunya.


" Iya juga sih ... pasti itu yang ada


dalam pikiran Ibu." sahut Felicie


geli.


" Kamu jam berapa perginya


ketempat Tuan William ? ".


" Bentar lagi, mbak ... nungguin


Ibu pulang aja."


" Ya, udah ... kita ke ruang tamu aja sekalian nungguin Ibu."


" Okey, mbak. Oya, mbak Tika ...


besok udah mulai kerja di perusahaan Papa kan ?" tanya Felicie sambil berjalan menuruni tangga.


" Ya, setelah mengantarkan kamu


ke bandara baru mbak pergi


ke perusahaan." jelas Tika.


" Oh, iya deh ... kerja yang bagus, ya Ibu CEO .... hehehe." goda Felicie.


" Siap Bu Boss ... !" sahut Tika.


Mereka berdua tertawa lepas setelah saling menggoda satu sama lain.


Tapi kebahagiaan mereka terpaksa terhenti karena mendengar suara Siska yang datang sembari memanggil nama Felicie.


" Felicie ... di mana kamu ? " ujar Sisca dengan berteriak.


" Ada apa lagi sih, nek lampir itu datang kesini ?" ujar Tika kesal.


" Hehehe ... biarin aja mbak ... kita lihat aja apa maunya sekarang."


sahut Felicie dengan santai.


" Felicie ... " panggil Sisca lagi dengan keras.


" Aduh, ada perlu apa ya, Ibu Sisca


datang kemari ?" tanya Felicie begitu sudah berada di ruang tamu.


" Ayo, kita ke mansion Tuan William. Tante gak di bolehin masuk kesana. Kalau kamu ikut, Tante bisa melihat keadaan Vera. Apa kamu gak kasihan dengan Vera ? Bagaimanapun dia kan sepupu kamu." ujar Sisca dengan gak tahu malu.


" Wah, kalau udah kaya gini baru


ngaku saudara. Kemana aja waktu


Felicie kalian suruh bekerja dan


mengerjakan semuanya sendiri,


bahkan harus rela di nikahin


demi bayar hutang Pak Bagas."

__ADS_1


ujar Tika sinis.


" Diam kamu anak pembantu !


Jangan ikut campur. Ini urusan


keluarga. " bentak Sisca kasar


Mendengar kata - kata kasar Sisca pada Tika membuat Felicie jadi emosi. Padahal tadi ia sudah berusaha lebih mengontrol amarahnya.


" Hei, Bu Sisca ... kalau bertamu


kerumah orang sopan dikit dong.


Mbak Tika adalah saudaraku, begitu juga Ibu Sumi adalah Ibu ku. Bahkan Mama dan Papa sudah menganggap mereka berdua keluarga. Ternyata Ibu Sisca gak berubah sedikitpun, masih tetap sombong. Padahal


udah jelas - jelas Ibu gak di terima


di sini ... masih tetap aja datang.


Benar - benar urat malunya udah


putus kali, ya mbak ... " ujar Felicie dengan wajah dingin.


Sisca bukannya malu mendengar sindiran Felicie malah semakin


menjadi - jadi.


" Kenapa mesti malu, kamu itu ponakan kandung suami saya.


Jadi kami berhak datang kesini.


Vera juga sepupu kandung kamu, jadi kamu harus menolongnya."


ujar Sisca dengan nada memerintah.


" Hmm ... sebelum aku bersikap


gak sopan, sebaiknya Ibu Sisca


keluar dari rumah ini. Saya gak


punya saudara seperti kalian.


Bukankah sudah sejak lama kalian tidak mengakui aku sebagai saudara. Jadi kenapa saya harus


perduli dengan Vera. Bukankah


dia yang sangat menginginkan


jadi isterinya Aaron maka sekarang nikmati saja nasibnya." ucap Felicie dengan wajah memerah menahan marah.


" Hei, Felicie ... kamu jangan terlalu sombong. Sekarang kamu


bukan lagi menantunya Tuan William. Jadi sudah tidak ada yang akan melindungi kamu lagi."


Sisca memandang remeh Felicie.


" Hahahaha ... aku memang bukan


menantu Tuan William lagi tapi


anda dengar sendiri kan kalau


Tuan William. Itu berarti beliau sangat menyayangi aku. Jadi dengan mudah, aku bisa meminta Tuan William untuk menghancurkan kalian semua. Jadi sebelum aku melakukannya, anda segera pergi dari rumah ini." ancam Felicie serius dan sudah tidak bisa bersikap sopan


lagi.


Sisca langsung terdiam mendengar perkataan Felicie.


Ia melupakan kalau kekayaan


Aaron sudah di alihkan kenama


Felicie atas perintah Tuan William


karena Aaron menikahi Vera


diam - diam. Bahkan dia juga


pemilik saham perusahaan Tuan


William. Memikirkan ini, membuat Sisca takut dan iri.


" Brengsek ... anak ini benar - benar sangat kaya sekarang.


Kenapa aku bisa lupa hal sepenting ini. Harusnya aku berpura - pura baik padanya


agar bisa ikut menikmati


kekayaannya seperti dulu." batin Sisca.


" Mbak Tika ... tolong segera kunci


pintu setelah wanita ini keluar.


Felicie mau pergi, gak jadi nungguin Ibu pulang. " ujar Felicie sembari menarik paksa Sisca keluar dari rumahnya.


" Hey, apa - apaan ini. Kamu jangan kasar gini, dong ... sakit tangan saya ! " ujar Sisca protes karena Felicie menariknya dengan


keras.


Tanpa memperdulikan perkataan Sisca, Felicie malah menarik


dengan lebih kuat.


Setelah berhasil membawa Sisca


sampai keluar gerbang rumahnya,


Felicie segera naik ke atas motor


Tika dan mengendarainya meninggalkan Sisca yang memaki Felicie dengan semua kata - kata kasar.


Sisca pun terpaksa masuk ke mobilnya dan berusaha mengendarai dengan kencang agar bisa mengikuti Felicie. Karena ia jadi penasaran, akan tempat yang akan di tuju oleh Felicie.


Tika cuma bisa menggerutu dengan kesal melihat sikap Sisca


yang menyebalkan sembari


menutup pintu rumah.


Felicie yang sadar di ikuti oleh

__ADS_1


Sisca sengaja memperlambat


laju motornya. Ia memang ingin


melihat reaksi Sisca jika tahu ia sedang menuju ke mansion nya


Tuan William.


Setelah menempuh waktu setengah jam lebih, akhirnya Felicie sampai juga di kediaman


Tuan William. Sebelumnya ia sudah memberitahu Tuan William akan kedatangan nya hari ini.


Jadi begitu ia tiba, pintu gerbang


mansion langsung di buka oleh


penjaga.


Sisca melotot kesal setelah tahu,


kalau sekarang mereka sedang


berada di mansion nya Tuan


William.


" S***** gadis tengik itu. Padahal tadi aku sudah mengajaknya kesini tapi ia menolak. Sekarang bagaimana aku bisa


masuk ke dalam melihat Vera jika


gak masuk bersama dia. " umpat Sisca dengan wajah geram.


Tapi karena sifatnya yang keras


kepala dan gak tahu malu, Sisca


pun turun dari dalam mobil lalu


menghampiri penjaga gerbang.


Ia berharap bisa diizinkan masuk


juga seperti Felicie.


" Hei, bukakan pintu juga buat saya. Saya mertuanya Tuan Aaron dan gadis yang baru masuk tadi


itu ponakan saya." ucap Sisca dengan angkuh.


" Maaf Bu ... tidak ada pesan dari


Tuan William untuk membukakan pintu selain buat nona Felicie."


tolak penjaga itu dengan sopan,


walaupun kesal dengan sikap


Sisca yang sombong.


" Eh, kamu jangan kurang ajar, ya


pada saya. Kamu gak tahu kalau


Vera itu anak saya. Jadi jelas bukan kalau Aaron adalah menantu saya. Bukakan gerbangnya sekarang !" perintah


Sisca dengan kasar.


" Saya gak perduli anda itu siapa.


Lagi pula setahu saya yang


di akui Tuan William menantunya


cuma nona Felicie. Sedangkan yang lain tidak. Jadi saya harap


anda pergi dari mansion ini sekarang juga. Karena saya tidak


akan pernah membukakan pintu


buat orang sombong seperti anda. " jawab penjaga itu dengan


kasar membalas sikap Sisca.


" Kamu ... saya mertuanya Tuan


Aaron, mamanya Vera." ujar Sisca


tetap memaksa.


" Oh, jadi anda ibunya wanita yang


selalu terkunci di kamar itu ....


hahaha ... kasihan banget ya,


berharap jadi menantunya Tuan William malah di kurung seperti


tahanan." kata penjaga itu merendahkan Sisca.


" Kamu akan saya laporkan pada


menantu saya biar di pecat." ancam Sisca dengan percaya diri.


" Silahkan ... saya gak takut.


Bahkan Tuan Aaron melihat anak anda seperti j****g. Tuan kami hanya menghampiri kamar anak anda jika ingin menyiksanya saja,


bukan menganggap wanita itu isterinya." ucap penjaga tanpa rasa takut sedikitpun.


Karena ia tahu, Tuan William dan


Tuan Aaron tidak menyukai wanita itu.


" Kamu ... ba****** sama saja dengan Tuan mu !" umpat Sisca kesal lalu kembali masuk ke dalam mobil karena tidak berhasil memaksa masuk.


Sisca terpaksa menghidupkan


kembali mesin mobilnya lalu


bergerak perlahan meninggalkan mansion dengan perasaan marah,


karena belum bisa juga melihat


keadaan anaknya Vera.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2