
" Mbak ... Felicie mau pergi ke mansion Tuan William sebentar. " ujar Felicie pada Tika.
" Ada urusan apa lagi, Felicie ?
Kamu mau pamit ?" tanya Tika heran.
" Hampir seperti itu, mbak ... Felicie hanya mau mengucapkan terima kasih karena sudah
di perlakukan dengan baik selama Felicie jadi menantu Tuan William. Kemarin di perusahaan kan gak sempat,
karena begitu selesai rapat Daddy langsung pergi." jelas Felicie.
" Oh, mau mbak temani ?" tanya
Tika.
" Gak usah, mbak ... biar Felicie
pergi sendiri aja."
" Sendiri ... ? Elbert gak jemput
kamu ?".
" Bukan gak jemput tapi Felicie
yang gak ngasi tahu dia."
" Kenapa kamu gak beritahu Elbert ?" tanya Tika heran.
" El lagi sibuk, mbak ... karena
besok kami mau berangkat .. jadi
hari ini dia membereskan semua urusannya. Jadi Felicie gak mau
ganggu dia." ujar Felicie menjelaskan.
" Oh, mbak kirain ada apa." ucap
Tika tenang.
" Ibu kemana mbak, kog dari tadi
gak kelihatan ?" tanya Felicie.
" Ibu lagi keluar bentar, belanja. Ibu mau buat rendang, sama sambel teri Medan untuk kamu bawa kesana." kata Tika.
" Hah, buat apa, mbak ...nanti Ibu capek. Kog, gak mbak larang sih ... ?" ujar Felicie menggelengkan kepalanya.
" Kamu tahu sendiri, Ibu mana bisa di larang kalau udah ada maunya." jawab Tika sembari menaikkan bahunya.
" Iya, sih ... tapi Felicie kasihan lihat Ibu, buat rendangkan capek."
ucap Felicie lagi.
" Udah, biarin aja ... mungkin dengan membawakan kamu bekal
makanan Ibu lebih tenang. Jadi gak takut kamu kelaparan mesti
cuma untuk beberapa hari ... hahahaha." ujar Tika mentertawakan Ibunya.
" Iya juga sih ... pasti itu yang ada
dalam pikiran Ibu." sahut Felicie
geli.
" Kamu jam berapa perginya
ketempat Tuan William ? ".
" Bentar lagi, mbak ... nungguin
Ibu pulang aja."
" Ya, udah ... kita ke ruang tamu aja sekalian nungguin Ibu."
" Okey, mbak. Oya, mbak Tika ...
besok udah mulai kerja di perusahaan Papa kan ?" tanya Felicie sambil berjalan menuruni tangga.
" Ya, setelah mengantarkan kamu
ke bandara baru mbak pergi
ke perusahaan." jelas Tika.
" Oh, iya deh ... kerja yang bagus, ya Ibu CEO .... hehehe." goda Felicie.
" Siap Bu Boss ... !" sahut Tika.
Mereka berdua tertawa lepas setelah saling menggoda satu sama lain.
Tapi kebahagiaan mereka terpaksa terhenti karena mendengar suara Siska yang datang sembari memanggil nama Felicie.
" Felicie ... di mana kamu ? " ujar Sisca dengan berteriak.
" Ada apa lagi sih, nek lampir itu datang kesini ?" ujar Tika kesal.
" Hehehe ... biarin aja mbak ... kita lihat aja apa maunya sekarang."
sahut Felicie dengan santai.
" Felicie ... " panggil Sisca lagi dengan keras.
" Aduh, ada perlu apa ya, Ibu Sisca
datang kemari ?" tanya Felicie begitu sudah berada di ruang tamu.
" Ayo, kita ke mansion Tuan William. Tante gak di bolehin masuk kesana. Kalau kamu ikut, Tante bisa melihat keadaan Vera. Apa kamu gak kasihan dengan Vera ? Bagaimanapun dia kan sepupu kamu." ujar Sisca dengan gak tahu malu.
" Wah, kalau udah kaya gini baru
ngaku saudara. Kemana aja waktu
Felicie kalian suruh bekerja dan
mengerjakan semuanya sendiri,
bahkan harus rela di nikahin
demi bayar hutang Pak Bagas."
__ADS_1
ujar Tika sinis.
" Diam kamu anak pembantu !
Jangan ikut campur. Ini urusan
keluarga. " bentak Sisca kasar
Mendengar kata - kata kasar Sisca pada Tika membuat Felicie jadi emosi. Padahal tadi ia sudah berusaha lebih mengontrol amarahnya.
" Hei, Bu Sisca ... kalau bertamu
kerumah orang sopan dikit dong.
Mbak Tika adalah saudaraku, begitu juga Ibu Sumi adalah Ibu ku. Bahkan Mama dan Papa sudah menganggap mereka berdua keluarga. Ternyata Ibu Sisca gak berubah sedikitpun, masih tetap sombong. Padahal
udah jelas - jelas Ibu gak di terima
di sini ... masih tetap aja datang.
Benar - benar urat malunya udah
putus kali, ya mbak ... " ujar Felicie dengan wajah dingin.
Sisca bukannya malu mendengar sindiran Felicie malah semakin
menjadi - jadi.
" Kenapa mesti malu, kamu itu ponakan kandung suami saya.
Jadi kami berhak datang kesini.
Vera juga sepupu kandung kamu, jadi kamu harus menolongnya."
ujar Sisca dengan nada memerintah.
" Hmm ... sebelum aku bersikap
gak sopan, sebaiknya Ibu Sisca
keluar dari rumah ini. Saya gak
punya saudara seperti kalian.
Bukankah sudah sejak lama kalian tidak mengakui aku sebagai saudara. Jadi kenapa saya harus
perduli dengan Vera. Bukankah
dia yang sangat menginginkan
jadi isterinya Aaron maka sekarang nikmati saja nasibnya." ucap Felicie dengan wajah memerah menahan marah.
" Hei, Felicie ... kamu jangan terlalu sombong. Sekarang kamu
bukan lagi menantunya Tuan William. Jadi sudah tidak ada yang akan melindungi kamu lagi."
Sisca memandang remeh Felicie.
" Hahahaha ... aku memang bukan
menantu Tuan William lagi tapi
anda dengar sendiri kan kalau
Tuan William. Itu berarti beliau sangat menyayangi aku. Jadi dengan mudah, aku bisa meminta Tuan William untuk menghancurkan kalian semua. Jadi sebelum aku melakukannya, anda segera pergi dari rumah ini." ancam Felicie serius dan sudah tidak bisa bersikap sopan
lagi.
Sisca langsung terdiam mendengar perkataan Felicie.
Ia melupakan kalau kekayaan
Aaron sudah di alihkan kenama
Felicie atas perintah Tuan William
karena Aaron menikahi Vera
diam - diam. Bahkan dia juga
pemilik saham perusahaan Tuan
William. Memikirkan ini, membuat Sisca takut dan iri.
" Brengsek ... anak ini benar - benar sangat kaya sekarang.
Kenapa aku bisa lupa hal sepenting ini. Harusnya aku berpura - pura baik padanya
agar bisa ikut menikmati
kekayaannya seperti dulu." batin Sisca.
" Mbak Tika ... tolong segera kunci
pintu setelah wanita ini keluar.
Felicie mau pergi, gak jadi nungguin Ibu pulang. " ujar Felicie sembari menarik paksa Sisca keluar dari rumahnya.
" Hey, apa - apaan ini. Kamu jangan kasar gini, dong ... sakit tangan saya ! " ujar Sisca protes karena Felicie menariknya dengan
keras.
Tanpa memperdulikan perkataan Sisca, Felicie malah menarik
dengan lebih kuat.
Setelah berhasil membawa Sisca
sampai keluar gerbang rumahnya,
Felicie segera naik ke atas motor
Tika dan mengendarainya meninggalkan Sisca yang memaki Felicie dengan semua kata - kata kasar.
Sisca pun terpaksa masuk ke mobilnya dan berusaha mengendarai dengan kencang agar bisa mengikuti Felicie. Karena ia jadi penasaran, akan tempat yang akan di tuju oleh Felicie.
Tika cuma bisa menggerutu dengan kesal melihat sikap Sisca
yang menyebalkan sembari
menutup pintu rumah.
Felicie yang sadar di ikuti oleh
__ADS_1
Sisca sengaja memperlambat
laju motornya. Ia memang ingin
melihat reaksi Sisca jika tahu ia sedang menuju ke mansion nya
Tuan William.
Setelah menempuh waktu setengah jam lebih, akhirnya Felicie sampai juga di kediaman
Tuan William. Sebelumnya ia sudah memberitahu Tuan William akan kedatangan nya hari ini.
Jadi begitu ia tiba, pintu gerbang
mansion langsung di buka oleh
penjaga.
Sisca melotot kesal setelah tahu,
kalau sekarang mereka sedang
berada di mansion nya Tuan
William.
" S***** gadis tengik itu. Padahal tadi aku sudah mengajaknya kesini tapi ia menolak. Sekarang bagaimana aku bisa
masuk ke dalam melihat Vera jika
gak masuk bersama dia. " umpat Sisca dengan wajah geram.
Tapi karena sifatnya yang keras
kepala dan gak tahu malu, Sisca
pun turun dari dalam mobil lalu
menghampiri penjaga gerbang.
Ia berharap bisa diizinkan masuk
juga seperti Felicie.
" Hei, bukakan pintu juga buat saya. Saya mertuanya Tuan Aaron dan gadis yang baru masuk tadi
itu ponakan saya." ucap Sisca dengan angkuh.
" Maaf Bu ... tidak ada pesan dari
Tuan William untuk membukakan pintu selain buat nona Felicie."
tolak penjaga itu dengan sopan,
walaupun kesal dengan sikap
Sisca yang sombong.
" Eh, kamu jangan kurang ajar, ya
pada saya. Kamu gak tahu kalau
Vera itu anak saya. Jadi jelas bukan kalau Aaron adalah menantu saya. Bukakan gerbangnya sekarang !" perintah
Sisca dengan kasar.
" Saya gak perduli anda itu siapa.
Lagi pula setahu saya yang
di akui Tuan William menantunya
cuma nona Felicie. Sedangkan yang lain tidak. Jadi saya harap
anda pergi dari mansion ini sekarang juga. Karena saya tidak
akan pernah membukakan pintu
buat orang sombong seperti anda. " jawab penjaga itu dengan
kasar membalas sikap Sisca.
" Kamu ... saya mertuanya Tuan
Aaron, mamanya Vera." ujar Sisca
tetap memaksa.
" Oh, jadi anda ibunya wanita yang
selalu terkunci di kamar itu ....
hahaha ... kasihan banget ya,
berharap jadi menantunya Tuan William malah di kurung seperti
tahanan." kata penjaga itu merendahkan Sisca.
" Kamu akan saya laporkan pada
menantu saya biar di pecat." ancam Sisca dengan percaya diri.
" Silahkan ... saya gak takut.
Bahkan Tuan Aaron melihat anak anda seperti j****g. Tuan kami hanya menghampiri kamar anak anda jika ingin menyiksanya saja,
bukan menganggap wanita itu isterinya." ucap penjaga tanpa rasa takut sedikitpun.
Karena ia tahu, Tuan William dan
Tuan Aaron tidak menyukai wanita itu.
" Kamu ... ba****** sama saja dengan Tuan mu !" umpat Sisca kesal lalu kembali masuk ke dalam mobil karena tidak berhasil memaksa masuk.
Sisca terpaksa menghidupkan
kembali mesin mobilnya lalu
bergerak perlahan meninggalkan mansion dengan perasaan marah,
karena belum bisa juga melihat
keadaan anaknya Vera.
__ADS_1
**********************************