
Elbert telah menghapus semua jejak tentang keberangkatan mereka agar Tuan William tidak mengetahuinya.
Felicie tidak tahu mengenai hal ini. Ia hanya menganggap Elbert
hanyalah anak orang kaya biasa aja. Lagi pula ia tidak pernah
memikirkan masalah itu. Jadi, ia tidak pernah berusaha mencari tahu mengenai Elbert selain yang
diceritakan Elbert padanya.
" Feli ... apa kamu bahagia sekarang ?" tanya Elbert sembari
melihat wajah Felicie.
" Tentu saja ... Ini adalah hal yang
paling aku impikan selama ini, El ... ! " jawab Feli tersenyum.
" Aku ikut bahagia melihat kamu.
Kamu sudah sangat jauh berubah
saat awal kita ketemu. Apa kamu masih ingat, ketika aku maksa
untuk kenalan denganmu ?" tanya
Elbert sembari tersenyum.
" Oh, tentu aja aku ingat. Waktu itu aku sebal banget sama kamu.
Aku sempat mikir, kog ada ya cowok nyebelin kaya kamu
di dunia ini. Mau kenalan pake
acara maksa lagi. ! " ucap Felicie
cemberut saat teringat akan kejadian itu.
" Hahaha ... abisnya kamu cuek banget saat itu. Sedangkan aku
langsung tertarik begitu melihat
kamu. Makanya aku gak perduli
meskipun melihat kamu sedang
duduk bersama dua pria. " ujar
Elbert tertawa lepas.
" Kamu itu memang aneh, ya ...
apa saat itu kamu gak mikir, gimana kalau salah satu dari mereka itu pacar atau suamiku ? "
tanya Felicie penasaran.
" Aku gak perduli ... lagi pula
kalau pacar kan masih bisa putus.
Pasangan suami - isteri aja bisa cerai apalagi baru pacaran.
Sedangkan begitu aku tahu kamu sudah menikah aja, aku bertekad untuk merebut kamu, apalagi kalau hanya sekedar pacar ... "
ujar Elbert menatap mata Felicie dengan pandangan serius sembari mendekat kan wajahnya
ke arah Felicie.
" Kamu memang aneh." ucap Felicie singkat kemudian memalingkan wajahnya, karena ia mendadak merasa gugup karena jarak mereka yang begitu dekat.
" Ya, aku memang aneh. Tapi kamu tahu, mungkin karena dari
awal kita ketemu di hotel itu, hati ku merasa sudah begitu dekat dan
mengenalmu. Ternyata, hatiku benar, kamu adalah gadis kecil yang selama ini aku cari ! " ucap
Elbert sepenuh hati sembari melirik Felicie yang masih
memalingkan wajahnya dari Elbert.
" Hmm ... aku mau tidur bentar.
Gak tahu kenapa, tiba - tiba aku ngantuk banget." Felicie berusaha
mengalihkan pembicaraan agar
bisa menenangkan hatinya yang
semakin berdetak kencang.
" Ya, sudah ... tidurlah. Perjalanan
kita masih panjang. Kamu pasti
lelah. " ujar Elbert mengerti.
" Hmm ... kamu istirahat juga, biar
gak kecapean nanti." ucap Felicie
dengan suara bergetar.
" Nanti aja setelah kita transit biar
ada yang bangunin kamu. " jawab
__ADS_1
Elbert.
" Hmm ... aku tidur bentar, ya ... ".
" Ya, my baby ... selamat istirahat."
Felicie menganggukkan kepala,
sambil menutupi wajahnya yang
berubah merah karena mendengar
panggilan Elbert yang penuh
kelembutan tadi.
Aaron yang sedang bersama Tommy, setelah menanyakan keadaan perusahaan dan Daddy nya, ia juga ingin cerita mengenai
keputusan yang ia ambil tentang pernikahan nya dengan Giselle dan Vera.
" Tom ... ada yang mau gue omongin dengan Lo. " ucap Aaron berubah serius.
" Ada apa ini ? Kenapa muka Lo jadi serius banget kaya gitu, bro ... ?" tanya Tommy heran.
" Hmm ... gue yakin Lo pasti marah jika mendengar apa yang akan gue katakan. "
" Kenapa gue harus marah, ada apa sebenarnya, bro ... ? Penasaran gue ... ! "
" Gue akan memberikan kesempatan buat Giselle. " ujar Aaron setelah menarik nafas dengan berat.
Aaron mulai menceritakan
apa yang terjadi dan keputusan
yang sudah di ambilnya.
" Apa ! Gak usah gila Lo ... !" ujar Tommy gak percaya dengan yang dikatakan Aaron.
" Gue tahu gue gak waras karena mengambil keputusan seperti ini.
Tapi ini semua demi anak - anak
gue. Gue ingin mereka merasakan
cinta dari gue. Jika gue memperlakukan mereka berdua
seperti yang pernah gue bilang
ke elo dan Zico, mungkin anak - anak gue nantinya akan merasa
menjadi anak yang tidak diinginkan. Mereka gak salah
dalam hal ini." ujar Aaron dengan
" Sekarang gue tanya sama Lo ...
elo ngambil keputusan ini karena
elo termakan rayuan Giselle lagi
atau memang murni demi anak -
anak lo ... ! Lo jadi orang jangan
gak jelas kaya gini. Omongan Lo berubah terus. " kata Tommy serius.
" Demi anak - anak gue, Tom ...
tapi juga karena omongan Giselle.
Gue tahu dia banyak melakukan
kesalahan dalam hidupnya tapi
gue juga melakukan hal yang sama, jadi gue pikir gak ada salahnya gue mencoba dari awal
lagi. " jelas Aaron menghela nafas.
" Lalu bagaimana dengan Tuan William ? Apa kamu gak memikirkan perasaan Daddy, Lo ?"
tanya Tommy gak mengerti dengan alasan yang di berikan
Aaron.
" Daddy pasti marah, karena lagi -
lagi aku menentang keinginannya.
Padahal aku sudah berjanji pada Daddy, pernikahan ini terpaksa
di teruskan hanya karena mereka
hamil. "
" Lo tahu kan, kalau bagi Tuan William hanya Felicie yang pantas jadi menantunya bukan yang lain.
Dia masih berharap, suatu saat elo bisa bersama dengan Felicie lagi. "
" Ya, gue tahu ... itu memang harapan Daddy dan gue awalnya.
Tapi setelah gue pikirkan, Felicie gak akan mungkin mau kembali
dengan gue meskipun gue nanti
pisah dengan Giselle dan Vera.
__ADS_1
Bagaimana jika anak yang dikandung mereka memang benar anak gue ? Apa Felicie bisa menerima gue dengan dua orang
anak. Karena itulah, akhirnya gue mengambil jalan ini. Bagaimanapun anak - anak lebih baik bersama dengan kedua orang tuanya. "
" Apa elo yakin bisa melupakan rasa cinta elo pada Felicie ?" .
Aaron terdiam mendengar pertanyaan yang diajukan Tommy.
Ia sepenuhnya tidak yakin. Cintanya begitu besar buat Felicie. Tapi ia sadar, Felicie tidak
pernah mencintainya. Mungkin dengan mengikhlaskan perasaannya, ia bisa jauh lebih tenang dan Felicie bisa bahagia
dengan orang yang ia cintai suatu hari nanti.
" Gue tahu Lo gak yakin bisa melupakan perasaan elo sama
Felicie. Jadi kenapa Lo harus
melakukan ini ? Kalau masalah anak, bukankah lebih baik jika diurus oleh seorang wanita
yang baik, yaitu Felicie dibanding kan kedua wanita 🦊 itu . Aku gak akan pernah bisa percaya kalau Giselle bisa berubah !" .
" Tapi Tom ... elo tahu sendiri Felicie gak mungkin bisa jatuh
cinta dengan gue."
" Kenapa Lo pesimis. Mungkin sekarang belum, tapi apa elo tahu
yang akan terjadi kedepannya.
Malah dengan elo melakukan hal
ini, lo menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan Felicie kembali. Ia justru semakin percaya, bahwa perasaan cinta Lo cuma sebuah kebohongan dengan elo melanjutkan pernikahan bersama mereka berdua. "
" Maaf, Tom ... gue tahu maksud
elo baik. Tapi gue sendiri gak yakin Felicie mau menerima gue
lagi. Jadi, gue harus menerima
kenyataan ini. Mungkin memang
ini hukuman buat gue atas semua kesalahan yang pernah gue lakukan pada Felicie. "
Tommy terdiam mendengar perkataan Aaron. Ia mengerti sekarang kenapa Aaron bisa melakukan hal yang gak masuk
akal seperti ini. Ternyata, Aaron
ingin menghukum atas kesalahan
yang telah ia lakukan terhadap Felicie. Meskipun Tommy sangat gak setuju, tapi ia mencoba memakluminya. Mungkin dengan melakukan hal ini, Aaron bisa
mengurangi rasa bersalahnya karena telah menyia - nyiakan wanita sebaik Felicie.
" Hmm ... Apa Zico sudah berhasil
mendekati Felicie, Tom ... ?" tanya Aaron pelan, karena penasaran.
" Kenapa Lo perduli. Bukankah elo mau melupakan Felicie. Biarkan
Zico mengejarnya." ujar Tommy.
" Ya, maksud gue bukan gitu.
Felicie masih dalam masa Iddah,
jadi dia belum bisa menikah lagi dengan orang lain. " ucap Aaron
mencari alasan yang tepat.
" Itu gak usah elo pikirin. Menikah
memang belum bisa tapi kalau
dekat gak masalah kalau menurut
gue. " ujar Tommy santai.
" Hmm ... lalu bagaimana dengan
Elbert ? Apa Lo tahu tentang siapa dia ... ? Terus apa dia masih
berdekatan dengan Felicie ?" tanya Arron ingin tahu.
" Kenapa sih Lo ! Kalau sudah mau melupakan Felicie, elo gak perlu perduli dia mau dekat sama siapa. Masalah Elbert, gue gak bisa menemukan siapa dia sebenarnya ?" jawab Tommy sembari memandang Aaron dengan mengangkat sudut bibirnya sedikit.
Aaron tidak bisa menanyakan hal mengenai Felicie lagi ketika melihat senyum di bibir Tommy.
Ia tahu, pasti Tommy mentertawakan dirinya.
Ia tidak konsisten dengan apa yang dikatakannya barusan.
Aaron memang berusaha menutupi perasaannya agar terkesan ia ingin melupakan Felicie.
Padahal ia sendiri tahu,
ia gak akan mampu melupakan
cintanya pada Felicie. Tapi ia harus tetap melakukannya demi
kebahagiaan Felicie. Karena itu Aaron harus bersikap seperti ini, baik didepan Tommy maupun nanti di depan kedua isterinya.
Tapi seperti yang pernah ia katakan pada Felicie, Aaron akan terus memantaunya dari kejauhan .
********************************
__ADS_1