Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 38


__ADS_3

Elbert yang mencerna kata demi kata yang diucapkan Felicie menangkap ada hal buruk yang


pernah dilakukan Aaron pada


Felicie. Walau sudah menduga


sebelumnya tapi ia gak mau


menyimpulkan sendiri.


Elbert harus mendengar dari mulut Felicie sendiri.


" Feli, apa yang sudah di lakukan b******n itu padamu ?" suara


Elbert terdengar menahan emosi.


Feli menatap kedua mata Elbert


yang penuh dengan amarah karena mendengar perkataannya


tadi.


Sedangkan Tommy dan Zico karena juga ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi antara Felicie dan Aaron ikut mendukung pertanyaan yang dikeluarkan Elbert. Karena saat mereka menanyakan pada Aaron, ia sama


sekali tidak mau menjawabnya.


" El, sebaiknya hal itu aku simpan sendiri aja saat ini. Bukan aku gak percaya sama kamu ... tapi aku


gak mau kamu jadi berbuat hal


yang akan merugikan dirimu sendiri karena emosi pada Aaron.


Yang penting aku baik - baik saja.


Aku masih bisa menjaga diriku


dengan baik. " ujar Felicie serius.


" Tapi, feli ... " Elbert masih belum puas dengan jawaban Feli.


" El, aku gak kenapa - kenapa.


Percaya sama aku, okey ... " Feli


memotong omongan Elbert.


Walau El gak puas dengan jawaban Feli, namun ia mengalah.


Karena ia gak mungkin memaksa


Felicie, jika ia keberatan untuk


menceritakannya.


Tapi Elbert akan menyelidiki hal ini diam - diam tanpa sepengetahuan Feli, agar ia tahu


apa yang sudah menimpa Feli.


" Sekarang kalian berdua boleh


pergi. Jangan lupa beritahukan


pada Aaron untuk memproses


secepatnya perceraian kami." ujar Feli tegas pada Tommy dan Zico.


" Baiklah, akan aku sampaikan pada Aaron. Maafkan, atas perkataan ku yang tadi. Aku tidak


punya niat buruk sedikitpun padamu. " ucap Tommy terlihat


menyesal.


" Gak masalah ... gue tahu elo


melakukannya demi sahabat Lo.


Tapi lihat juga, sahabat seperti apa yang harus Lo bela." ujar Feli dingin.


Tommy benar - benar tersadar atas omongan Felicie. Felicie memang benar, Aaron sendiri


yang membuat kekacauan dalam


hidupnya. Sebagai sahabat, rasanya Tommy sudah merasa


cukup mengingatkan Aaron untuk


tidak menentang keinginan


Tuan William.


" Sekali lagi maafkan atas perkataan ku tadi. "

__ADS_1


ujar Tommy, setelah menatap


Felicie sebentar, ia melangkahkan kaki keluar dari


apartment.


" Aku juga permisi, Feli ... maafkan


jika kedatangan kami menganggu


ketenangan kamu." ucap Zico sebelum melangkah pergi.


" Ya ... gue gak berhak melarang


kalian datang kesini. Karena


apartment ini bukan punya gue,


tapi miliknya sahabat kalian Aaron. " kata Felicie datar.


Sebenarnya Felicie tidak ingin bersikap kasar dengan Tommy maupun Zico. Tapi karena mereka


sahabat dekatnya Aaron, ia harus


tetap menjaga jarak dengan mereka.


" Mbak ... Feli minta maaf.


Tolong jangan bilang sama Ibu, ya ... Felicie gak mau Ibu kepikiran , makanya gak ngomong sama mbak." ucap Feli pelan.


" Mbak gak marah, tapi mbak mohon ... jangan pernah sembunyikan masalah sekecil apapun dari mbak lagi. Kamu


bukan sendirian di dunia ini, masih ada mbak dan Ibu. " ujar Tika lirih mengelus lembut rambut Feli.


Elbert tersentuh melihat kedekatan Feli dengan Tika.


Ternyata selain dirinya, masih ada


yang benar - benar menyayangi Felicie dengan setulus hati.


" Iya, mbak ... " sahut Feli cepat.


" Feli ... kalau dua pria tadi mbak


kenal karena mereka temannya


Aaron. Terus pria ini siapa ?


pada Feli.


Elbert yang mendengar pertanyaan Tika menyangkut dirinya langsung mengulurkan


tangan untuk memperkenalkan


dirinya.


" Saya Elbert, teman masa kecilnya Feli." ujarnya berusaha


bersikap sopan.


" Teman kecil Feli ... Kog bisa ? "


tanya Tika gak percaya.


" Begini cerita sebenarnya mbak ... " ujar Feli lalu menceritakan semua dari awal


perjumpaan dengan Elbert. Lalu


cerita tentang pertemuan kembali


setelah mereka dewasa.


Sementara Elbert terus menatap


wajah Feli yang terlihat imut saat


menceritakan tentang mereka


pada Tika.


" Hah ... benarkah, Feli ? " tanya Tika dengan wajah terkejut.


" Iya, mbak ... memang benar seperti itu kejadiannya. Awalnya


Feli juga gak percaya dengan perkataan Elbert tapi setelah dia


menunjukkan kalung masa kecil Feli yang hilang, akhirnya Feli yakin dengan cerita Elbert." ucap


Feli tersenyum kearah Elbert.


" Wah, benar - benar ajaib. Ternyata memang ada kejadian

__ADS_1


seperti ini di kehidupan nyata." ujar Tika kagum.


Feli dan Elbert saling melempar


senyum ketika mendengar perkataan Tika.


" Apa kamu mencintai adikku ? "


tanya Tika tiba - tiba dengan wajah serius.


Feli terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Tika. Ia gak


menduganya sama sekali.


Sedangkan Elbert justru senang


dengan pertanyaan yang diajukan


Tika. Ini berarti jika Tika setuju


dan merestuinya ... Elbert hanya


tinggal berusaha keras menaklukan hati Felicie agar mau


menerima cintanya.


" Benar, aku mencintai Felicie sejak pertama kali aku bertemu


dengannya saat usia kami masih


kecil hingga sekarang." jawab Elbert tegas.


Jantung Feli tiba - tiba berdetak keras begitu mendengar perkataan Elbert. Ia bingung kenapa bisa seperti ini. Padahal


jelas - jelas Elbert sudah pernah


mengungkapkan perasaannya


waktu itu. Tapi kenapa jantungnya,


tidak berdetak kencang seperti sekarang ? Apa jantungnya bermasalah ? Felicie berusaha menenangkan hatinya.


Tika tersenyum bahagia mendengar jawaban lugas yang keluar dari mulut Elbert. Ia yakin pria ini, bisa menyayangi dan menjaga Felicie dengan sepenuh hati.


" Bagus ... tapi apa kamu bisa berjanji untuk tetap menjaga dan


melindunginya meskipun Felicie


tidak menerima cintamu ? " tanya Tika lagi.


" Tentu saja." jawab Elbert yakin.


Tika terlihat sangat puas mendengar jawaban dari Elbert.


Kini ia sudah merasa yakin, pria di depannya ini memang sangat mencintai Felicie.


" Feli, jika nanti status kamu bukan lagi isterinya Aaron. Tolong pertimbangkan pria ini." kini Tika


berkata pada Felicie.


" Apaan sih, mbak ... " sahut Feli


melototkan matanya untuk menutupi rasa gugup yang melanda dirinya.


Elbert jelas saja senang mendengar omongan Tika. Berarti


sekarang Tika mendukungnya.


" Hehehe ... sekarang temani mbak jalan ke mall ... ada yang mau mbak beli buat Ibu. Kamu juga ikut Elbert, " ujar Tika


setelah tertawa.


" Okey ... " sahut Elbert dengan cepat.


Felicie hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Karena ia


masih belum bisa menetralisir


hati sepenuhnya.


Ia lalu naik kelantai atas untuk mengambil tas kecilnya. Ia juga


ingin membelikan sesuatu untuk


Bik Sumi.


Setelah menutup pintu apartment


mereka bertiga berjalan menaiki


lift menuju basement tempat mobil Elbert di parkirkan.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2