
Elbert yang mencerna kata demi kata yang diucapkan Felicie menangkap ada hal buruk yang
pernah dilakukan Aaron pada
Felicie. Walau sudah menduga
sebelumnya tapi ia gak mau
menyimpulkan sendiri.
Elbert harus mendengar dari mulut Felicie sendiri.
" Feli, apa yang sudah di lakukan b******n itu padamu ?" suara
Elbert terdengar menahan emosi.
Feli menatap kedua mata Elbert
yang penuh dengan amarah karena mendengar perkataannya
tadi.
Sedangkan Tommy dan Zico karena juga ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi antara Felicie dan Aaron ikut mendukung pertanyaan yang dikeluarkan Elbert. Karena saat mereka menanyakan pada Aaron, ia sama
sekali tidak mau menjawabnya.
" El, sebaiknya hal itu aku simpan sendiri aja saat ini. Bukan aku gak percaya sama kamu ... tapi aku
gak mau kamu jadi berbuat hal
yang akan merugikan dirimu sendiri karena emosi pada Aaron.
Yang penting aku baik - baik saja.
Aku masih bisa menjaga diriku
dengan baik. " ujar Felicie serius.
" Tapi, feli ... " Elbert masih belum puas dengan jawaban Feli.
" El, aku gak kenapa - kenapa.
Percaya sama aku, okey ... " Feli
memotong omongan Elbert.
Walau El gak puas dengan jawaban Feli, namun ia mengalah.
Karena ia gak mungkin memaksa
Felicie, jika ia keberatan untuk
menceritakannya.
Tapi Elbert akan menyelidiki hal ini diam - diam tanpa sepengetahuan Feli, agar ia tahu
apa yang sudah menimpa Feli.
" Sekarang kalian berdua boleh
pergi. Jangan lupa beritahukan
pada Aaron untuk memproses
secepatnya perceraian kami." ujar Feli tegas pada Tommy dan Zico.
" Baiklah, akan aku sampaikan pada Aaron. Maafkan, atas perkataan ku yang tadi. Aku tidak
punya niat buruk sedikitpun padamu. " ucap Tommy terlihat
menyesal.
" Gak masalah ... gue tahu elo
melakukannya demi sahabat Lo.
Tapi lihat juga, sahabat seperti apa yang harus Lo bela." ujar Feli dingin.
Tommy benar - benar tersadar atas omongan Felicie. Felicie memang benar, Aaron sendiri
yang membuat kekacauan dalam
hidupnya. Sebagai sahabat, rasanya Tommy sudah merasa
cukup mengingatkan Aaron untuk
tidak menentang keinginan
Tuan William.
" Sekali lagi maafkan atas perkataan ku tadi. "
__ADS_1
ujar Tommy, setelah menatap
Felicie sebentar, ia melangkahkan kaki keluar dari
apartment.
" Aku juga permisi, Feli ... maafkan
jika kedatangan kami menganggu
ketenangan kamu." ucap Zico sebelum melangkah pergi.
" Ya ... gue gak berhak melarang
kalian datang kesini. Karena
apartment ini bukan punya gue,
tapi miliknya sahabat kalian Aaron. " kata Felicie datar.
Sebenarnya Felicie tidak ingin bersikap kasar dengan Tommy maupun Zico. Tapi karena mereka
sahabat dekatnya Aaron, ia harus
tetap menjaga jarak dengan mereka.
" Mbak ... Feli minta maaf.
Tolong jangan bilang sama Ibu, ya ... Felicie gak mau Ibu kepikiran , makanya gak ngomong sama mbak." ucap Feli pelan.
" Mbak gak marah, tapi mbak mohon ... jangan pernah sembunyikan masalah sekecil apapun dari mbak lagi. Kamu
bukan sendirian di dunia ini, masih ada mbak dan Ibu. " ujar Tika lirih mengelus lembut rambut Feli.
Elbert tersentuh melihat kedekatan Feli dengan Tika.
Ternyata selain dirinya, masih ada
yang benar - benar menyayangi Felicie dengan setulus hati.
" Iya, mbak ... " sahut Feli cepat.
" Feli ... kalau dua pria tadi mbak
kenal karena mereka temannya
Aaron. Terus pria ini siapa ?
pada Feli.
Elbert yang mendengar pertanyaan Tika menyangkut dirinya langsung mengulurkan
tangan untuk memperkenalkan
dirinya.
" Saya Elbert, teman masa kecilnya Feli." ujarnya berusaha
bersikap sopan.
" Teman kecil Feli ... Kog bisa ? "
tanya Tika gak percaya.
" Begini cerita sebenarnya mbak ... " ujar Feli lalu menceritakan semua dari awal
perjumpaan dengan Elbert. Lalu
cerita tentang pertemuan kembali
setelah mereka dewasa.
Sementara Elbert terus menatap
wajah Feli yang terlihat imut saat
menceritakan tentang mereka
pada Tika.
" Hah ... benarkah, Feli ? " tanya Tika dengan wajah terkejut.
" Iya, mbak ... memang benar seperti itu kejadiannya. Awalnya
Feli juga gak percaya dengan perkataan Elbert tapi setelah dia
menunjukkan kalung masa kecil Feli yang hilang, akhirnya Feli yakin dengan cerita Elbert." ucap
Feli tersenyum kearah Elbert.
" Wah, benar - benar ajaib. Ternyata memang ada kejadian
__ADS_1
seperti ini di kehidupan nyata." ujar Tika kagum.
Feli dan Elbert saling melempar
senyum ketika mendengar perkataan Tika.
" Apa kamu mencintai adikku ? "
tanya Tika tiba - tiba dengan wajah serius.
Feli terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Tika. Ia gak
menduganya sama sekali.
Sedangkan Elbert justru senang
dengan pertanyaan yang diajukan
Tika. Ini berarti jika Tika setuju
dan merestuinya ... Elbert hanya
tinggal berusaha keras menaklukan hati Felicie agar mau
menerima cintanya.
" Benar, aku mencintai Felicie sejak pertama kali aku bertemu
dengannya saat usia kami masih
kecil hingga sekarang." jawab Elbert tegas.
Jantung Feli tiba - tiba berdetak keras begitu mendengar perkataan Elbert. Ia bingung kenapa bisa seperti ini. Padahal
jelas - jelas Elbert sudah pernah
mengungkapkan perasaannya
waktu itu. Tapi kenapa jantungnya,
tidak berdetak kencang seperti sekarang ? Apa jantungnya bermasalah ? Felicie berusaha menenangkan hatinya.
Tika tersenyum bahagia mendengar jawaban lugas yang keluar dari mulut Elbert. Ia yakin pria ini, bisa menyayangi dan menjaga Felicie dengan sepenuh hati.
" Bagus ... tapi apa kamu bisa berjanji untuk tetap menjaga dan
melindunginya meskipun Felicie
tidak menerima cintamu ? " tanya Tika lagi.
" Tentu saja." jawab Elbert yakin.
Tika terlihat sangat puas mendengar jawaban dari Elbert.
Kini ia sudah merasa yakin, pria di depannya ini memang sangat mencintai Felicie.
" Feli, jika nanti status kamu bukan lagi isterinya Aaron. Tolong pertimbangkan pria ini." kini Tika
berkata pada Felicie.
" Apaan sih, mbak ... " sahut Feli
melototkan matanya untuk menutupi rasa gugup yang melanda dirinya.
Elbert jelas saja senang mendengar omongan Tika. Berarti
sekarang Tika mendukungnya.
" Hehehe ... sekarang temani mbak jalan ke mall ... ada yang mau mbak beli buat Ibu. Kamu juga ikut Elbert, " ujar Tika
setelah tertawa.
" Okey ... " sahut Elbert dengan cepat.
Felicie hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Karena ia
masih belum bisa menetralisir
hati sepenuhnya.
Ia lalu naik kelantai atas untuk mengambil tas kecilnya. Ia juga
ingin membelikan sesuatu untuk
Bik Sumi.
Setelah menutup pintu apartment
mereka bertiga berjalan menaiki
lift menuju basement tempat mobil Elbert di parkirkan.
__ADS_1
**********************************