Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 52


__ADS_3

" Nak ... sebenarnya apa yang terjadi ? Kenapa Bagas dan keluarganya bisa pergi dari rumah ini ? " tanya bik Sumi begitu melihat Bagas sudah pergi.


" Begini loh buk ... ceritanya." Felicie lalu menceritakan kejadian yang ia alami dan apa yang telah di lakukan Sisca dan Vera terhadap Aaron hingga ia mengajukan syarat pada Tuan William untuk mengembalikan rumah dan perusahaan padanya,


atas kompensasi perceraiannya dengan Aaron.


" Astaga, Vera dan Sisca sampai


melakukan hal serendah itu demi mendapatkan suamimu, nak ? " tanya bik Sumi terkejut. Begitu juga dengan dua pelayan lainnya.


" iya, buk ... tapi hal ini malah bagus. Kalau tidak karena rencana mereka, mungkin Felicie masih lama baru bisa mengambil kembali rumah dan perusahaan."


" Iya, kamu benar nak. Semua ini pasti karena bantuan Allah."


" Mbak Tika kemana sih, kog lama banget pulangnya ? ada yang mau Felicie bicarakan dengan mbak Tika."


Elbert hanya diam dan memperhatikan pembicaraan Felicie dan Bik Sumi.


" Oh, Tika keluar buat mengambil pesanannya. Mungkin bentar lagi nyampe. Terus kalau Ibu boleh tahu, pria yang bersama kamu ini siapa ya, nak ?".


" Dia Elbert buk, teman masa kecilnya Felicie."


" Oalah, yang benar nak ?


Bagaimana bisa tahu kalau nak Elbert ini teman kecilnya kamu ? ".


" Maaf, buk saya Elbert ... kalau ibu tidak keberatan saya akan menceritakannya." ucap Elbert lembut dan sopan.


Kalau saja semua karyawan bisa melihat sikap Elbert yang lembut seperti ini, mungkin mereka akan jatuh pingsan. Karena wajah dan sikao Elbert biasanya selalu datar dan dingin. Hanya dengan Felicie ia bisa bersikap lebih santai.


Karena


Elbert pun mulai menceritakan tentang bagaimana kisah perjumpaan ia dan Felicie.


Sumi dan yang lain mendengarkan


perkataan Elbert dengan serius.


Sesekali terlihat mereka begitu


terkejut. Mereka gak menyangka,


kisah Elbert dan Felicie sangat


begitu menggemaskan.


Elbert kecil ternyata selalu mencari gadis kecil yang menghiburnya. Setelah dewasa mereka bertemu kembali, tapi awalnya malah bertengkar.


" Wah, kaya cerita di sinetron, ya


Sum ... " komentar salah satu pelayan.


" Hahaha ... " suara tawa mengisi


ruangan itu. Suasana rumah semakin menyenangkan setelah


para pelayan saling melemparkan


candaan. Kini mereka bisa bebas tertawa, tanpa harus mendengar


omelan dari Sisca yang biasanya


selalu marah jika melihat mereka


bahagia.


" Nak Elbert, Ibu boleh bicara berdua dengan kamu ? " tanya bik Sumi tiba - tiba.


" Tentu saja boleh, Bu ... " jawab Elbert.


" Kita bicara di luar saja. Felicie, kamu tunggu disini.


Ibu mau ngobrol dengan nak Elbert, sebentar.


Felicie hanya menganggukkan kepalanya karena heran dengan


sikap Ibunya yang terlihat serius.


Felicie bingung melihat ini. Apa yang mau dibicarakan Ibu nya dengan Elbert, sampai Felicie gak boleh ikut mendengar.


" Nak Elbert, Ibu mau tanya sama kamu. Tolong jawab dengan jujur." kata Sumi setelah mereka duduk di bangku taman.


" Baik, Bu .. " ujar Elbert berubah serius


" Hmm ... kamu sungguh - sungguh mencintai Felicie ? " tanya Sumi.


Elbert tidak terkejut mendengar pertanyaan yang diajukan Sumi, karena ia sudah menduganya.


" Tentu saja, Bu .. saya sangat mencintai Felicie." jawab dengan Elbert tegas.


" Apa kamu yakin bisa menjaganya dengan sepenuh hati dan tidak akan pernah menyakiti Felicie ? Karena jika kamu belum yakin, sebaiknya kamu jangan mendekatinya lagi !"


ucap Sumi dengan wajah serius.


Elbert tertegun mendengar perkataan Sumi. Ia tidak menyangka ternyata dibalik wajahnya yang lembut, bik Sumi bisa bersikap tegas seperti ini.


" Tentu saja saya sangat yakin, Bu ... Seumur hidup saya akan menjaga dan tidak akan pernah menyakiti Felicie. Saya berjanji pada Ibu. " ucap Elbert.


" Tidak usah berjanji pada saya,


saya hanya manusia. Berjanjilah kepada Allah, agar kamu selalu ingat dosa jika suatu saat kamu


berniat menyakiti hati Felicie."


" Baik, Bu ... Ibu percaya pada saya. Saya sudah begitu lama mencintai Felicie. Bagaimana mungkin saya akan tega menyakitinya."


" Hmm ... manusia terkadang bisa berubah, nak ... contohnya Felicie, awalnya dia seorang anak kecil yang selalu ceria. Tapi sejak kehilangan kedua orang tuanya ditambah lagi dikhianati oleh keluarganya sendiri, membuat ia berubah menjadi dingin. Ia jarang tersenyum, apalagi tertawa. Karena penderitaan dan kehidupan yang tidak adil padanya membuat Ia terlalu bersikap keras pada dirinya sendiri.


Selama ini, Felicie selalu mengatasi setiap masalahnya tanpa pernah meminta bantuan


dari orang lain bahkan kepada kami. Ia terbiasa tidak ingin bergantung dan merepotkan orang lain. Jadi Ibu minta, jika kamu memang mencintainya dengan tulus, tolong ubahlah dia kembali seperti dulu. Jadikan dirimu sebagai tempat ia berbagi semuanya, baik itu kesedihan mau pun kebahagiaan." ujar Sumi


panjang.


" Saya mengerti, maksud Ibu ... saya akan berusaha lebih keras


agar Felicie bisa kembali seperti dulu."


" Hmm ... baiklah. Sekarang sebagai pengganti kedua orangtuanya, Ibu merestui mu


untuk terus bisa bersama Felicie.


" Terima kasih atas restu yang Ibu berikan. Percayalah, saya akan memegang kata - kata saya."


" Ya, sudah sebaiknya kita masuk kembali. Pasti anak itu sedang penasaran dengan apa yang kita bicarakan."


Elbert menganggukkan kepalanya


karena setuju dengan omongan


bik Sumi.


Leher Felicie sakit, karena sebentar - sebentar menoleh keluar melihat keberadaan bik Sumi dan Elbert. Benar, seperti yang di katakan bik Sumi, Felicie


sangat penasaran dengan pembicaraan mereka.

__ADS_1


Begitu melihat keduanya kembali, Felicie menarik nafas lega.


Elbert langsung duduk di samping Felicie tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Sementara Sumi dan yang lain pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam buat mereka.


Sebenarnya Felicie ingin sekali bertanya pada Elbert tapi gengsi. Jadi ia hanya bisa melirik Elbert.


Elbert menahan senyum melihat sikap Felicie yang penasaran.


Ia sengaja memasang wajah serius agar rasa penasaran Felicie semakin besar.


Tika yang baru saja pulang, terkejut melihat kehadiran Felicie yang datang bersama Elbert.


Tika khawatir Sisca akan membuat onar, jika ia sampai tahu


Felicie datang ke rumah ini.


Karena Tika belum mengetahui mengenai kepergian Bagas dan


keluarganya.


" Kalian sudah lama, Felicie ? " sapa Tika dengan suara pelan karena gak mau sampai terdengar oleh Sisca, sambil duduk di depan mereka.


" Lumayan mbak, tapi kenapa ngomongnya pelan banget ? " tanya Felicie heran.


" Nanti kedengaran sama Nek Lampir. " kata Tika.


" Oh, Felicie lupa, mbak ... " kata Felicie sengaja menggoda Tika.


Elbert tertawa dalam hati melihat keisengan Felicie.


" Kamu mau bicara apa, Felicie ? " tanya Tika.


" Ayo, kalian makan. Eh, kamu baru pulang, nak ?" kata bik Sumi.


" Bu, pelan dikit bicaranya ... nanti nek lampir bangun." Tika menegur


Ibunya.


" Hah ... hahaha." Sumi tertawa mendengar perkataan anaknya.


" Loh, Ibu malah ketawa ... ? " tanya Tika heran.


Felicie dan Elbert hanya tersenyum melihat sikap Sisca


yang kebingungan.


" Nak, kamu belum cerita sama mbak kamu, ya ....?" tanya bik Sumi pada Felicie.


" Iya, belum buk ... Feli sengaja. " ujar Felicie tersenyum.


" Oalah ... pantes." bik Sumi kembali tertawa melihat keisengan Felicie.


" Ini, ada apa sih sebenarnya ?" tanya Tika penasaran.


" Maaf, mbak ... Tante Sisca dan keluarganya sudah gak tinggal disini. Mereka sudah pergi, mbak ... " ujar Felicie.


" Ha ... yang benar Felicie, jangan becanda deh ... !".


" Benar, mbak ... Felicie gak bercanda."


" Kog bisa ... ? ".


Felicie lalu menjelaskan kejadiannya pada Tika sehingga akhirnya Bagas dan keluarganya bisa pergi dari rumah ini.


" Wah, keren banget kamu, Felicie ... jadi sekarang semua sudah kembali jadi milik kamu lagi."


" Iya, mbak ... tapi yang keren itu


Tuan William. Dia yang membuat


" Iya, Tuan William memang keren."


" Jadi sekarang Vera tinggal di mansion Tuan William ?" tanya Tika lagi.


" Iya, mbak ... dia kan isterinya Aaron sekarang. Jadi selama Aaron masih dirumah sakit, dia tinggal disana." jawab Felicie santai.


" Dasar m*****n ! Rasain sekarang dia pasti lagi ketakutan menunggu kepulangan Aaron. " umpat Tika emosi.


" Huss, gak baik ngomong begitu nak ... " tegur bik Sumi.


" Biarin aja buk, Vera memang pantas mendapatkan ganjaran.


Gatel sih ... hahaha." ujar Tika gak perduli.


" Sudah ... sudah, kalian makan dulu. Kasihan nak Elbert, dari tadi cuma diam ngeliatin kalian ngomong." ujar bik Sumi menghentikan obrolan mereka.


" Baik, bu ... " Mereka pun bangkit


menuju ruang makan.


" Oh, ya mbak ... selesai makan kita ke kamar bentar ya, Felicie mau ngomong hal penting sama mbak Tika."


" Okey ... ". sahut Tika cepat.


Felicie mengajak pelayan lain untuk makan bersama mereka.


Awalnya mereka menolak, tapi Felicie tetap memaksa. Hingga akhirnya merekapun menerima tawaran Felicie.


" Gimana nak Elbert makanannya?" tanya Sumi


" Lezat buk ... " jawab Elbert jujur karena memang sangat enak.


" Syukurlah, kalau nak Elbert suka masakan Ibu. Nanti kalau lagi ingin makan sesuatu, bilang saja biar Ibu masakin." ujar Sumi.


" Baik, Bu ... " jawab Elbert senang.


Felicie tersenyum melihat interaksi Elbert dan bik Sumi. Sejak mereka berdua bicara diluar tadi, Elbert dan bik Sumi terlihat semakin akrab.


" El, aku tinggal sebentar ya. Aku mau ngobrol sama mbak Tika." kata Felicie setelah mereka


selesai makan.


" Baiklah." jawab Elbert yang sedang serius menatap ponselnya.


" Yuk, mbak ... " ajak Felicie lalu mereka naik ke lantai atas


menuju kamar Felicie yang dulu di kuasai oleh Vera.


" Kamu mau ngomong, Feli ... ? "


tanya Tika begitu mereka tiba di kamar.


" Mbak, sementara aku belum bisa tinggal dirumah ini, hingga nanti jatuhnya putusan perceraian kami. karena saat ini statusku masih isterinya Aaron. Setelah aku resmi


berpisah dengan Aaron, aku akan


kembali melanjutkan kuliah.


Jadi, mbak dan Ibu yang berhak atas rumah ini selama aku pergi.


Jangan biarkan Sisca untuk masuk kerumah ini lagi. "


" Tentu, aku tidak akan pernah

__ADS_1


mengizinkan nek lampir itu untuk menginjakkan kakinya lagi kerumah ini."


" Terus, aku minta tolong sama mbak, buat memimpin perusahaan Papa selama aku pergi."


Tika kaget dengan perkataan Felicie. Bagaimana mungkin dia bisa memimpin perusahaan, sedangkan ia belum pernah bekerja di kantoran.


" Mbak gak bisa, Felicie ... takutnya kalau mbak yang mengelola perusahaan Papa kamu malah hancur. Kamu tahu sendiri kan , mbak gak pernah kerja di perusahaan manapun sejak mbak selesai kuliah."


" Felicie yakin mbak bisa, basic ilmu yang mbak pelajari sesuai.


Jadi mbak juga harus yakin.


Bukankah, mbak harus menerapkan ilmu yang mbak dapat di kuliah." ujar Felicie meyakinkan Tika.


Tika mencerna setiap kalimat yang dikatakan Felicie. Felicie


memang benar, harusnya ia tidak perlu takut. Karena dulu semasa kuliah, ia pernah magang


di perusahaan Papanya Felicie.


" Bagaimana mbak ... ? Kalau bukan mbak, siapa yang mengelola perusahaan Papa.


Sementara Felicie masih harus


kuliah."


" Tapi, Feli ... apa petinggi


di perusahaan tidak akan protes


jika mbak yang menggantikan kamu ? ".


" Tidak , karena Felicie akan membuat sebuah surat kuasa di Pengacara yang membuktikan bahwa mbak adalah wakil Felicie di perusahaan selama Felicie tidak bisa hadir ke perusahaan.


Begitu juga untuk perusahaan Tuan William, mbak Tika yang akan datang menghadiri setiap ada rapat di sana, karena seperti yang tadi udah Felicie ceritakan, Tuan William memaksa Felicie untuk menerima saham perusahaannya. "


" Apa ... ? Aduh, jangan becanda dong Feli ... masa mbak harus ketemu dengan Aaron dan Tuan William ? Mbak gak berani, ah ... " ujar Tika cemas.


" Mbak jangan cemas, Tuan William sangat baik orangnya. Felicie juga udah ngomong ke beliau, jika Felicie gak bisa hadir, maka wakil yang Feli tunjuk akan datang mewakili


dan Tuan William sudah setuju."


jelas Felicie.


Tika benar - benar gak percaya dengan pendengarannya.


Felicie ingin membuatnya mati berdiri kalau begini. Tapi jika bukan dia yang melakukannya siapa lagi. Hanya Tika yang bisa membantu Felicie agar ia bisa tetap meneruskan kuliahnya.


" Bagaimana mbak .. ? " Felicie melihat Tika dengan mata penuh harap.


" Baiklah, mbak lakukan semua ini demi kamu. Semoga dengan mbak membantumu, kamu bisa kuliah dan lulus dengan nilai yang terbaik." ujar Tika akhirnya sambil menghembuskan nafas berat.


" Baik, mbak ... Terima kasih." Felicie langsung memeluk Tika, sambil menciumi wajah Tika.


Tika hanya bisa tertawa melihat sikap Felicie yang kembali seperti masa anak - anak dulu.


Felicie biasa menciumi wajah Tika jika keinginannya di penuhi olehnya.


" Udah, ayo kita turun. Kasihan pacar kamu itu sendirian." goda Tika.


" Teman mbak ... ". sahut Felicie


agak tersipu.


" Iya, Teman tapi mesra ... hahaha." Tika tertawa setelah menggoda Felicie lagi.


" Mbak ... " teriak Felicie mengejar Tika yang sudah lari keluar.


Sementara itu, Elbert berbincang dengan bik Sumi, sambil menunggu Felicie selesai bicara dengan Tika.


" Hei, kalian kenapa kaya anak kecil gini ? " tanya bik Sumi yang melihat Felicie mengejar Tika yang berlari memutari meja.


" Ini, buk ... mbak Tika usil." ucap Felicie, masih tetap mengitari meja.


" Aduh, udah dek ... mbak capek." kata Tika terduduk lemas di sofa.


Felicie pura - pura gak mendengar


perkataan Tika, ia pun menggelitiki pinggang Tika hingga


Tika berteriak minta ampun karena kegelian.


Bik Sumi hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya.


" Harap maklum ya, nak Elbert ...


begini tingkah mereka kalau lagi berdua. Jika saja Pak Bagas dan keluarganya tidak pernah tinggal


disini, mungkin hal seperti ini terus terjadi. Rumah ini akan selalu penuh dengan tawa dan candaan mereka." uajr Sumi dengan mata menerawang.


" Iya, buk ... gak papa. Saya senang jika bisa melihat Felicie


bisa ceria." ujar Elbert.


Akhirnya setelah Tika hampir pipis di celana karena menahan geli, Felicie melepaskan tangannya dari pinggang Tika, lalu ia segera menghampiri Elbert.


" Maaf, lama ya El ... " ujar Felicie


gak enak karena membiarkan Elbert menunggu lama.


" Hmm ... It's okey. Apa kita sudah bisa pulang ? " tanya Elbert setelah ia mengatakan hal itu.


" Ya, aku juga pengen istirahat.


Besok, masih banyak yang harus aku kerjakan lagi." jawab Felicie.


" Kalian sudah mau pergi ? " tanya bik Sumi dan Tika bersamaan.


" Iya, buk, mbak ....kasihan Elbert ,


pasti dia sudah lelah." sahut Felicie.


" Baiklah, kalau begitu kalian hati - hati di jalan." kata bik Sumi.


" Kami pamit, buk, Tika ..." ujar Elbert.


" Ya ... jangan ngebut bawa mobilnya." pesan bik Sumi.


Elbert dan Felicie serentak menganggukkan kepalanya sebelum melangkah masuk kedalam mobil.


**********************************


Hai, semua ... semoga kalian suka dengan episode ini.


Seperti biasa, Mommy gak bosan untuk mengingatkan kalau perlu memaksa ... 😂😂😂


untuk terus memberi dukungan dari kalian buat karya Mommy.


Jangan lupa like, favoritkan cerita Mommy, koment positifnya, vote dan hadiah yang banyak.


Kalau semua udah diberikan,


Mommy ucapkan " Terima kasih ".


🙏🙏😘

__ADS_1


Maafkan Mommy jika masih ada kesalahan dalam penulisan kata ataupun kalimat ... 🙏🙏


Jaga selalu kesehatan karena dengan badan yang sehat kita bisa tetap mengerjakan semua aktivitas. 😘😘


__ADS_2