
Mata Vera terlihat berbinar begitu
kakinya menginjak mall. Jiwanya seperti kembali. Ia begitu semangat menapaki setiap lantai
mall, sembari memperhatikan di lantai berapa yang ada menjual ponsel. Sekarang ia lagi memikirkan cara bagaimana bisa memisahkan diri dari Giselle dan kedua teman Aaron.
Ia harus membeli handphone hari ini supaya bisa menghubungi mamanya. Vera harus bersiap - siap dengan kemungkinan yang terjadi kedepannya. Ia tidak tahu apakah Aaron akan berubah atau masih tetap bersikap sama seperti waktu berada di mansion.
Karena ia sendiri belum yakin bisa membuat Aaron jatuh cinta padanya. Selain harus bersaing dengan Giselle, ia juga tahu Aaron masih sangat mencintai Felicie. Walaupun ia sudah bertekad untuk mendapatkan hati Aaron untuknya. Tapi ia tahu pasti akan sulit.
Untuk itu ia harus berhubungan
kembali dengan orang tuanya terutama Mama agar saat nanti dia mengalami kesulitan bisa meminta pertolongan darinya.
Vera senang karena penjagaan
di apartment tidak seperti ketika berada di mansion. Makanya ia yakin bisa keluar dengan mudah
jika suatu saat mendapatkan masalah disana.
" Kenapa kamu senyum - senyum
terus dari tadi ?" tanya Giselle yang berjalan di samping Vera.
" Gak ada ... aku senang aja karena setelah sekian lama baru bisa keluar dan jalan ke mall." sahut Vera.
" Bagus kalau cuma itu yang ada dalam pikiran kamu asal jangan
mikir yang aneh - aneh aja. Awas kamu, Aaron bisa marah besar."
Giselle memberi peringatan.
" Iya, aku mana berani. Bisa dibolehkan ke mall gini aja aku udah senang banget." ujar Vera
berbohong.
" Hmm ... ya udah. Aku cuma mengingatkan kamu aja !" ucap
Giselle.
" Iya, aku ngerti." sahut Vera singkat sembari menahan kesal.
" Ini orang, cerewet banget, sih ...
jangan sok baik, deh Lo ... gue tahu apa yang ada dalam pikiran Lo itu pasti sama dengan gue.
Lo lagi berusaha mendapatkan cintanya Aaron lagi. Makanya Lo pura - pura berubah jadi baik !"
omel Vera dalam hati
Kedua bodyguard tetap berjalan mengikuti di belakang Giselle dan Vera seperti yang diperintahkan Aaron.
Giselle sibuk memilih beberapa kebutuhan dapur untuk
di apartment. Ia ingin belajar
memasak makanan yang disukai oleh Aaron. Sedangkan Vera hanya melihat tanpa tahu harus
membeli apa. Ia sendiri gak pernah tahu semua nama jenis bahan dapur dan sayuran yang ada disini.
" Eh, kamu bantuin juga dong ...
jangan cuma lihat - lihat doang !"
tegur Giselle yang melihat Vera
hanya berdiri saja.
" Aku gak ngerti sama sekali. " jawab Vera santai.
" Sama, aku juga gak ngerti tapi aku mau belajar. Udah, sekarang kamu ambil itu sosis dan bakso yang di sebelah sana. Masa kamu gak ngerti juga yang mana bakso dan sosis !" ujar Giselle kesal.
" Ya, kalau cuma sosis sama bakso aku tahu lah. " jawab Vera.
" Ya, udah ... kamu kebagian sana,
ambil beberapa bungkus." perintah Giselle.
" Okey, maduku. " jawab Vera sembari tersenyum smirk.
Giselle mendengus mendengar panggilan yang dikatakan Vera.
Ia tidak bisa menerima sebenarnya berbagi suami dengan Vera. Tapi demi memperjuangkan
kembali cintanya Aaron, ia harus
berusaha untuk menerima.
" Eh, kamu ngapain ikut aku.
__ADS_1
Temani maduku aja. Aku bisa sendiri, kog ... !" Vera mencoba
protes ketika salah - satu teman
Aaron mengikutinya.
" Udah, biarkan aja dia nemani kamu. Aaron kan takut terjadi
hal yang buruk dengan bayi kita.
Makanya dia nugasin temannya
menemani kita belanja." ucap
Giselle menasehati Vera.
" Hmm ... ya, udah !" sahut Vera berusaha menutupi rasa kesalnya.
Padahal tadi ia sudah semangat,
karena ada kesempatan pergi sebentar.
Vera dengan malas melangkahkan kakinya meninggalkan Giselle. Kepalanya lagi berpikir keras, cara apa yang akan dia gunakan agar bisa
melepaskan diri dari temannya Aaron yang menyeramkan ini.
Setelah berpikir beberapa menit, akhirnya Vera menemukan ide
yang bagus dan pasti tidak mencurigakan.
Vera berpura - pura mual dan ingin muntah. Hal ini tentu saja wajar buat wanita yang sedang hamil mengalaminya.
" Hoek ... Hoek .... !" ucap Vera
dengan menampilkan ekspresi
ingin muntah.
" Kamu kenapa ?" tanya bodyguard yang bernama Doni.
" Aku mual banget, pingin muntah." ucap Vera berbohong.
" Hoek ... Hoek ... " ucap Vera lagi.
Melihat hal ini, Doni merasa bingung. Ia tahu ibu hamil memang sering mengalami seperti yang dialami Vera sekarang ini. Tapi jika ia membiarkan Vera ke kamar mandi , ia tidak akan bisa mengikutinya masuk kedalam.
Bisa saja ia melarikan diri nanti.
Udah gak tahan lagi, kayanya aku harus ketoilet sekarang. " ujar Vera sembari menutup mulutnya seakan - akan menahan muntahnya yang ingin keluar.
" Ya, sudah ... kita ke toilet !" ujar Doni.
" Ya, tapi kamu nunggu diluar aja."
ucap Vera tersenyum licik.
Doni menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Vera.
" Tapi temani aku, beli mukena baru, dulu." bohong Vera.
Padahal boro - boro, sholat aja gak pernah dia lakukan selama ini.
" Tapi kamu udah mau muntah.
Nanti aja setelah selesai dari toilet !" ujar Doni gak setuju.
" Aku gak tahu, mungkin aku lagi ngidam pengen pakai mukena baru, makanya jadi mual kaya gini." Vera mencari alasan yang masuk akal dengan menggunakan kehamilannya.
" Ya, sudah ... tapi cepat, jangan lama !" perintah Doni.
" Iya ... tapi aku gak tahu lantai berapa yang jual perlengkapan sholat . " ucap Vera menutupi rasa senang, karena Doni percaya dengan kebohongan yang ia katakan.
" Nanti bisa kita tanya. " sahut Doni singkat.
" Baiklah, terima kasih. " ucap Vera berpura - pura baik.
" Hmm ... !" sahut Doni singkat.
Doni bersama Vera, berjalan mendekati salah seorang pekerja
di mall, untuk menanyakan tempat
di mana menjual perlengkapan
sholat. Setelah berhasil mengetahui lantai berapa yang menyediakan nya, Vera dan Doni
segera menuju lantai tiga.
Vera terlihat semangat begitu semakin mendekati toko.
__ADS_1
Ia langsung pura - pura memilih
mukena sembari melihat pakaian
syar'i sekalian niqab nya.
Tadi Vera sudah merencanakan
akan mengganti pakaiannya dengan busana muslim dan cadarnya agar bisa lolos dari Doni. Nanti di toilet ia akan memakainya.
Doni yang berdiri di luar, tidak mengetahui jika Vera membeli mukena sekaligus baju syar'i.
" Hoek ... aku sudah selesai. Sekarang aku mau ketoilet." ujar Vera setelah membelinya.
" Ya, sudah ... !" .
Vera bergegas berjalan menuju
toilet yang tersedia. Ia segera masuk kedalam dan langsung memakai nya tanpa membuka pakaian yang ia kenakan. Ia harus bergerak cepat sebelum Doni mengetahui rencananya. Setelah memakai baju buat penyamarannya, Vera keluar dari
toilet dan berjalan pelan melewati Doni yang berdiri menunggu di luar. Vera tersenyum lebar melihat Doni tidak mencurigainya sama sekali. Setelah berhasil menjauh dari Doni, Vera kemudian menuju lift. Ia harus ke lantai empat, karena tadi ia sempat melihat ada beberapa toko yang menjual handphone yang ia inginkan.
Doni yang belum menyadari kalau Vera sudah mengelabuinya tetap
setia menunggu di luar.
Begitu tiba di lantai empat, Vera bergegas berjalan memasuki toko. Ia begitu gembira ketika melihat handphone yang ia inginkan. Setelah berhasil membeli ponsel, Vera segera kembali turun kelantai tiga dan berjalan ke arah toilet. Vera menyembunyikan kotak ponselnya dibalik pakaian syar'i nya yang lebar.
Ia tersenyum licik saat melihat Doni masih saja berdiri menunggunya di luar.
" Dasar bodoh ... mukanya aja yang seram !" umpat Vera.
Vera lalu membuka kembali pakaian penyamarannya. Setelah selesai, ia baru berjalan keluar.
" Kenapa lama sekali !" ujar Doni dengan menatap tajam pada Vera.
" Maaf, aku tadi banyak banget muntahnya. Jadi sedikit lemas. "
bohong Vera.
" Cepat ... kita sudah harus pulang. Aaron udah di apartment."
" Tapi aku belum membeli yang disuruh Giselle tadi ?" ucap Vera.
" Gak usah ... sudah dibeli sama Giselle. Kamu kelamaan
di toiletnya. "
" Oh, maaf ... " sahut Vera memasang wajah bersalah.
Mereka berdua kemudian menuju tempat mobil di parkiran.
Ternyata Giselle sudah berada
di dalam mobil menunggu mereka.
" Kamu dari mana aja, sih ... masa
muntah doang lama banget. "
" Maaf, tadi setelah muntah, badanku lemas banget. Jadi gak bisa langsung jalan cepat."
" Awas aja kalau karena kamu,
Aaron marah sama aku. "
" Aku minta maaf, bukan aku sengaja. Tapi perutku beneran mual tadi. Nanti biar aku yang jelasin sama Aaron. "
" Harus ... kamu harus jelasin
ke Aaron. "
" Iya ... ".
Giselle mendengus kesal melihat
jawaban yang dikatakan Vera.
Ia beneran takut, Aaron jadi marah padanya karena hal ini.
Doni dan Dian yang melihat perdebatan Giselle dan Vera cuma bisa menggelengkan kepala mereka.
"Tuan Aaron kog bisa mau ya bersama kedua wanita ini ? " ujar Doni pelan pada Dian.
" Iya, aku juga heran. " sahut Dian.
" Dian, kita agak ngebut aja. Aku gak mau Aaron menunggu terlalu lama." ucap Giselle pada Dian yang menyetir mobil.
Tanpa menjawab perkataan Giselle, Dian lalu melajukan mobil dengan lebih kencang.
__ADS_1
**********************************
Love You All ❤️❤️❤️