
Dave begitu cemas melihat Felicie yang belum juga sadar dari pingsannya. Begitu juga dengan Airin dan Devan. Dengan sabar mereka bertiga menemani Felicie di rumah sakit. Ternyata saat Felicie di periksa oleh dokter, tekanan darahnya sangat rendah. Itu yang tadi membuatnya jatuh pingsan. Tapi mereka bertiga tahu apa pemicu yang menyebabkan Felicie mengalami itu.
" Sabar sayang, Felicie akan baik - baik saja !" Devan berusaha menenangkan Airin, kekasihnya yang masih menangis melihat keadaan Felicie.
" Ini karena perbuatan pria b******k itu ! Kalau dia memang sudah punya tunangan kenapa dia harus mendekati Felicie dan kenapa juga dia harus mempermainkannya ! " suara Airin terdengar emosi saat mengatakan ini.
Devan terdiam mendengar perkataan Airin. Ia membenarkan omongan kekasihnya. Kenapa Elbert harus berpura - pura menyukai Felicie jika hanya untuk di sakiti.
" Aku akan mendatangi pria b******n itu biar dia mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Feli ! Aku tidak terima dia melakukan ini pada Feli. " Dave terlihat begitu marah.
" Ya, kamu benar Dave ! Kita harus menemuinya dan menanyakan apa maksud Elbert melakukan hal sejahat itu pada Feli ! Dia yang mendekati Felicie. Dia juga yang menyatakan cinta pada Felicie. Tapi kenapa dia bisa melakukan hal setega ini pada Felicie !" ujar Airin menimpali omongan Dave.
" Hei, kalian berdua sabar dulu. Kita harus menunggu Felicie bangun. Lagi pula apa kalian yakin bisa menemui Elbert ! Apa kalian tidak tahu siapa dia ! Dia bukan pria sembarangan yang bisa seenaknya kita jumpai !" Devan berusaha menyadarkan Dave dan Airin yang terlihat begitu tidak bisa menahan emosi mereka.
Sebenarnya apa yang dikatakan Devan sangat benar. Mereka bertiga saja awalnya sangat terkejut ketika mengetahui kalau Elbert adalah pengusaha terkenal yang selama ini jadi panutan buat makasiswa bisnis. Sosoknya banyak dikagumi calon - calon pebisnis muda. Meskipun Elbert tidak pernah memperlihatkan wajahnya di depan publik tapi namanya sudah di ketahui semua masyarakat. Makanya wajar saja, begitu ada berita tentang pertunangannya, semua orang menjadi heboh dan tertarik. Karena akhirnya semua bisa melihat bagaimana sosok dari seorang Elbert, pengusaha sukses dan terkenal itu.
" Tapi, sayang ... aku gak terima dia memperlakukan Felicie seperti itu ! Kalau dia tidak datang dalam kehidupan Feli. Mungkin Feli akan tetap baik - baik saja seperti dulu. Dia wanita yang kuat ! Bahkan dengan semua masalah yang pernah dia lalui Feli tetap semangat dan tidak pernah sampai selemah ini !" ujar Airin tidak terima dengan perkataan Devan, tunangannya.
" Ya, aku tahu sayang ! Tapi sebaiknya kita harus menunggu Feli sadar dulu dan menanyakan pendapatnya. Kita tidak boleh melakukan suatu hal yang tidak ia sukai." ujar Devan sabar dalam menghadapi sikap Airin.
" Tapi Dev, Feli akan tetap seperti ini keadaannya jika dia terus mengingat peristiwa tadi ! Itu yang buat aku tidak bisa terima. Pria b******k itu enak - enakan tunangan dan bahagia dengan kekasihnya sementara Felicie disini sedang terpuruk !" ujar Dave dengan tangan terkepal erat menahan amarahnya.
" Sabarlah sebentar, Dave ! Kita tunggu aja Felicie sadar dari pingsannya. Aku tahu kamu khawatir melihat keadaan Feli ! Aku pun sama khawatirnya dengan kalian. Karena Felicie bukan hanya aku anggap sebagai sahabat tetapi sudah seperti adikku sendiri. Tapi kita tetap harus menghormati apa yang jadi keputusan Felicie. Kita tidak bisa melakukan sesuatu yang gegabah dan membuat Felicie semakin terpuruk. Biarkan Felicie yang mengambil keputusan yang terbaik buatnya !" ujar Devan berusaha meyakinkan Airin dan Dave.
Dave dan Airin terdiam mendengar apa yang di katakan Devan. Dia benar, mungkin saja Felicie akan semakin sedih jika mereka melakukan perbuatan yang tidak ia sukai. Mereka hanya bisa menghempaskan nafas dengan kasar saat memikirkan hal itu.
Selagi mereka bertiga berdebat, perlahan Felicie mulai membuka matanya. Kepalanya yang masih pusing akibat rendahnya tekanan darahnya membuat Felicie hanya diam tak bersuara dan mendengar kan semua yang dikatakan ketiga orang yang duduk di dekat tempat tidurnya.
Felicie yang awalnya heran melihat dirinya berada di rumah sakit kembali mengingat semuanya. Tentang acara pertunangan Elbert dan kekasihnya yang digelar secara meriah. Saat Elbert memakaikan cincin di jari manis wanita itu dan ketika Elbert mulai me****m bibir tunangannya. Di situlah akhirnya pandangan Felicie mulai gelap dan ia sudah tidak bisa menahan badannya yang mendadak lemas lalu akhirnya terjatuh. Sejak itu ia pun tidak ingat apa - apa lagi.
Tapi kini ia menyesal akibat kebodohannya membuat ketiga sahabatnya menjadi kerepotan dan khawatir akan nasibnya.
" Tidak ! Aku tidak boleh seperti ini terus ! Sudah cukup beberapa hari ini aku jadi orang yang lemah dan menyusahkan sahabatku. Aku harus menjadi Felicie yang dulu ! " ucap Felicie dalam hati.
Setelah berkata seperti itu pada dirinya, membuat Felicie jadi yakin dan lebih kuat. Hatinya sudah mantap untuk bangkit dari keterpurukan yang membelenggunya. Mungkin memang begini garis yang di takdir kan oleh Allah buat dirinya bahwa cinta pertama yang hadir di hidupnya harus dia akhiri dengan cepat. Kini Felicie sudah lebih mantap dari sebelumnya.
" Hey, kenapa kalian harus ribut ! Aku baik - baik saja. Jangan khawatirkan aku lagi. Sekarang aku haus, bisakah Lo mengambilkan aku air, Rin ... !" ucap Felicie dengan senyum di - bibirnya.
Mendengar suara Felicie ketiganya terkejut.
" Hah ... Lo, udah sadar Feli ? Bentar, gue ambilkan minum Lo, dulu !" ujar Airin seraya buru - buru bangkit dan menuangkan air ke dalam gelas buat Felicie.
Felicie tersenyum tipis melihat sikap Airin yang heboh. Sementara Dave dan Devan menatapnya dengan pandangan takjub. Kini mereka sudah tidak melihat mata Felicie yang sedih seperti beberapa hari terakhir.
" Kamu udah sadar, Feli ? Beneran kamu baik - baik aja !" tanya Dave masih khawatir.
Sedangkan Devan menepuk bahu Felicie dengan lembut. Ia yakin kalau Felicie sudah kembali seperti dulu. Ia bisa melihat dari tatapan mata Felicie yang sudah tidak lemah seperti kemarin. Tanpa harus bertanya pada Felicie , Devan sudah mengetahuinya. Sudah berapa tahun ia bersahabat dengan Felicie. Ia yang paling mengerti bagaimana watak dari Felicie.
" Ya, aku beneran baik - baik saja sekarang ! Maaf, aku sudah merepotkan kalian. Aku janji ini terakhir kalinya aku membuat kalian khawatir. " kata Felicie dengan yakin.
" Udah, jangan ngomong dulu ! Nih, minum Lo hauskan ?" ujar Airin memberikan gelas berisi air pada Felicie.
__ADS_1
Felicie pun bangkit dan duduk di tempat tidur. Dave yang ingin membantunya untuk duduk, dengan halus ia tolak. Felicie tahu kalau ia bisa. Badannya tidak sakit selama ini hanya hatinya. Tapi ia yakin setelah hari ini, ia akan lebih baik.
Felicie menerima gelas yang di berikan Airin.
" Thanks, Rin ... ! " ucap Felicie.
" Udah, minum .. !" ujar Airin sembari menganggukkan kepala.
Felicie dengan perlahan menghabiskan air yang diberikan Airin padanya. Ia memang sangat haus.
Dave, Airin dan Devan memandangnya dengan tatapan serius. Felicie benar - benar kehausan.
" Sini, biar gue taruh disana gelasnya !" Airin segera mengambil gelas dari tangan Felicie setelah ia selesai meminumnya.
" Thanks, Rin .. !" sahut Felicie.
" Gimana kamu udah baikan, Feli ... ? Apa masih ada yang sakit ?" tanya Dave dengan nada cemas.
" Ya, sekarang aku sudah nggak papa , Dave. Tadi aku hanya sedikit pusing. Mungkin karena kemarin lemburnya sampai malam banget, makanya aku kelelahan." ucap Felicie dengan senyum di sudut di bibirnya.
" Ya, ya ... kamu lelah ! Makanya jangan bandel kalau diingatkan ... hehehe !" Dave berusaha mengimbangi perkataan Felicie yang tidak ingin menyinggung masalah Elbert.
" Kamu yakin sekarang sudah baik, Feli !" tanya Devan dengan wajah serius.
" Ya, Dev ... aku yakin !" sahut Feli juga serius.
Devan menarik nafas lega mendengar jawaban dari Felicie. Sekarang ia sangat yakin kalau kedepannya Felicie akan lebih baik. Ia bisa melihat dari sorot mata Felicie sekarang.
" Eh, bentar gue panggil dokter dulu. Biar dia meriksa tensi Lo !" ujar Airin yang Barus sadar kalau Felicie harus di periksa lagi, karena ia tahu Felicie akan tetap bersikeras untuk pulang.
" Hmm ... " sahut Felicie.
" Yuk, honey ... temani aku temui dokter !" Airin menarik tangan Devan.
Airin dan Devan pun segera keluar dari kamar Felicie hingga membuat Felicie dan Dave tinggal berdua.
" Feli ... Kamu sudah yakin mau pulang sekarang ? Gak besok aja biar kami jauh lebih sehat !" tanya Dave sembari menatap wajah Felicie.
" Ya, Dave ... aku sangat yakin. Kamu jangan khawatirkan aku lagi. " ucap Felicie juga membalas tatapan Dave dengan wajah serius.
" Hmm ... baiklah !" sahut Dave akhirnya.
Tidak lama Airin dan Devan sudah datang bersama seorang dokter yang tadi memeriksanya.
Dokter itu kemudian kembali memeriksa Felicie.
" Kamu yakin mau pulang sekarang ?" tanya dokter itu.
" Ya, dokter ... saya yakin !" jawab Felicie dengan cepat.
Ia tidak ingin berlama - lama di rumah sakit ini.
__ADS_1
Ia hanya ingin segera sampai di apartment nya, istirahat sebentar lalu melanjutkan pekerjaannya. Ia harus lebih giat belajar dalam menjahit agar bisa segera mewujudkan mimpinya untuk membuat pakaian dengan brand nya sendiri dan sebuah gaun pengantin buat Airin pada saat ia nanti menyelenggarakan pernikahannya dengan Devan. Felicie ingin memberikan gaun itu sebagai kado pernikahan dari nya buat mereka.
" Hmm ... baiklah kalau itu sudah jadi keinginan nona. Tapi saya harap, begitu keluar dari rumah sakit sebaiknya istirahat dulu biar kesehatan anda bisa lebih cepat pulih. Jangan terlalu banyak yang di pikirkan. Tekanan darah nona masih rendah." ujar dokter.
" Baik, dokter. Saya akan mendengarkan saran dari dokter. " jawab Felicie sembari tersenyum tipis.
" Hmm ... bagus !" sahut dokter itu tersenyum menatap Felicie.
" Terima kasih, dokter !" ucap Felicie.
" Ya, sama - sama, nona . Ini sudah jadi kewajiban saya sebagai seorang dokter." ujar dokter itu kembali tersenyum.
Dokter muda ini sangat menyukai senyuman dan tatapan mata Felicie yang dingin. Tapi ia hanya sekedar kagum saja, tidak ada niat lain.
" Ya, sudah ... kalau begitu saya permisi. Sekarang teman nona sudah bisa mengurus ke bagian administrasi." ujar dokter.
" Baik, dokter ... !" kali ini Dave yang menyahut perkataan dokter sembari bangkit dari tempat duduknya.
" Aku keluar sebentar !" ujar Dave menatap Felicie.
Felicie hanya menganggukkan kepalanya.
Bersamaan dokter itu keluar dari kamar Felicie, Dave pun ikut keluar. Ia bergegas pergi untuk mengurus biaya Felicie di bagian administrasi rumah sakit.
Airin langsung memeluk Felicie dengan erat setelah dokter itu keluar dari kamar.
" Gue gak mau lihat Lo kaya gini lagi, Feli ... ! Lo harus kuat, ada kita yang mendukung Lo. " ujar Airin dengan suara lirih.
" Hei, gak usah lebay ! Gue gak papa. Tapi makasih buat dukungan elo berdua ke gue. " ucap Felicie lalu melepas pelukan Airin dan kemudian turun dari tempat tidur untuk bersiap - siap buat pulang.
" Dia sudah kembali !" bisik Airin pada Devan dengan perasaan senang.
" Hmm ... !" sahut Devan singkat dengan senyum tipis di wajahnya.
Ternyata ada hikmah dibalik peristiwa pertunangan Elbert. Felicie kini sudah berusaha untuk bangkit dan berniat melupakan kesedihannya.
**********************************
Hai, apa kabar semuanya ?
Semoga kalian selalu dalam keadaan sehat dan bahagia ya .. 😍😍
Semoga kalian menyukai lanjutan ceritanya dan jangan lupa tetap berikan dukungan yang banyak berupa like, vote dan koment yang positif.😍😍🥲
Buat kalian yang sudah dan terus mendukung Mommy, mommy ucapkan terima kasih banyak ... 🙏🙏😘
Maafin Mommy, ya ... jika masih banyak kesalahan dalam penulisan ataupun hal lainnya.
Terima kasih ... 🙏🙏😘
Love You All ❤️❤️❤️
__ADS_1