
Hati Felicie terasa lebih lega sekarang. Semua masalahnya telah selesai satu demi satu.
Bahkan tanpa ia perlu bersusah payah seperti rencananya semula.
Saat itu, Felicie merencanakan
akan pergi diam - diam meneruskan kuliahnya keluar negeri setelah bercerai dengan Aaron. Ia akan serius mempelajari tentang bisnis agar bisa mengelola dengan benar perusahaan Papanya, jika ia sudah selesai kuliah. Lalu perlahan ia akan membeli saham perusahaan dengan uang yang ia miliki. Setelah semua saham menjadi miliknya, Felicie akan mencampakkan Bagas dari perusahaan. Tapi ternyata ia tidak perlu melakukan itu semua.
Dengan bantuan dari Tuan William, Felicie akan mendapatkan kembali semua miliknya. Sekarang ia hanya perlu memikirkan tentang kuliahnya biar cepat selesai dan sementara ia pergi, untuk belajar ... perusahaan akan dikelola sama Tika.
Setelah terlebih dulu istirahat di apartemen, Felicie menghubungi Elbert.
Ia gak tahu kenapa, kali ini ia ingin
Elbert menemaninya pergi kerumah peninggalan orang tuanya. Padahal semalam ia sudah meminta Elbert untuk tidak menghubunginya. Karena ia pergi bersama Tuan William , dan Felicie tidak ingin William salah paham jika ada seorang pria menghubunginya. Karena walau bagaimanapun ia masih menjadi isterinya Aaron sampai sidang perceraian mereka selesai.
" Halo, Feli ... ? Kamu dimana ... apa sudah selesai urusannya, bagaimana keputusannya ? " Elbert memberondong Felicie dengan banyak pertanyaan setelah panggilan tersambung.
Felicie tertawa mendengar suara Elbert yang terlihat begitu semangat.
" Ada lagi gak pertanyaannya ? Kalo ada biar sekalian aku jawab ... " ujar Felicie.
" Hahaha ... Sorry, Feli ... abisnya dari tadi aku gak sabar nunggu kabar dari kamu. Mana aku gak
di bolehin telepon sama kamu.
Aku khawatir, Feli ... " Elbert menjelaskan sebab kegelisahannya.
" Ya sudah, sekarang aku tunggu kamu di lobby apartment. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Nanti setelah kamu datang, baru aku jelaskan yang tadi terjadi. " kata Felicie.
" Oh, okey ... tunggu aku. Aku pasti sampai disana dalam beberapa
menit." ujar Elbert semangat.
" Gak usah ngebut, aku gak mau, ya ... kamu celaka gara - gara aku."
ucap Felicie memarahi Elbert.
__ADS_1
" Hehehe ... Okey." sahut Elbert.
" Hmm ... hati - hati. Bye ... " .
" Bye ... ".
Elbert dengan setengah berlari
menuju garasi mobilnya. Ia sudah tidak sabar ingin mendengar cerita Felicie. Hal ini menjadi perhatian para pelayan yang ada di mansion. Padahal sejak pagi tadi, Elbert terlihat sangat gelisah. Bahkan sarapan
untuknya tidak di sentuh sama sekali. Bahkan kepala pelayan
sekalipun. Karena jika Elbert sedang seperti itu, biasanya ia tidak mau di ganggu oleh siapapun. Tapi sore ini ia terlihat sangat semangat. Wajah dinginnya berubah menjadi lebih
bersahabat.
Bagas dan keluarganya membereskan semua barang - barang milik mereka dengan perasaan kacau. Sisca dan Vina gak berhenti menangis. Ia benar - benar gak terima ini terjadi pada mereka.
" Bisa diam, gak ... pusing kepalaku." bentak Bagas marah.
" Tapi, Pa ... Mama gak terima kita di perlakukan seperti ini. Enak benar hidup gadis sialan itu. Udah dapat kekayaan Aaron, dapat saham perusahaan lagi.
" Hei, kamu gak salah ngomong ?
Bukankah semua ini terjadi akibat ulah kamu dan anakmu yang murahan itu. Kalian terlalu serakah. Bukankah Aku sudah pernah melarang kalian
untuk tidak mendekati Aaron.
Hidup kita sudah lebih enak, setelah Felicie menikah dengan
Aaron. Perusahaan ku banyak dapat proyek besar karena Tuan William. Tapi kamu dan Vera malah menghancurkannya dalam
sekejab. Sekarang, jangan berani
mengeluh ... ! " bentak Bagas dengan kasar.
Sisca tidak terima ia di salahkan.
__ADS_1
Bukankah yang mereka lakukan demi keluarga ini juga. Jika saja
tidak ada cctv s*****n itu mereka pasti gak akan ketahuan.
" Tapi Mama melakukannya demi kebaikan keluarga kita. Agar hidup kita lebih enak. Lagi pula Vera sangat ingin mendapatkan Aaron.
Jadi apa salahnya kalau Mama membantu anak sendiri. Kalau saja gak ada bukti itu, pasti Vera akan mendapatkan semua keinginannya. Apalagi jika ia hamil, pasti Aaron dan Tuan William akan sangat menyayanginya. Bukankah Tuan William sangat ingin mendapatkan cucu segera.' bantah Sisca dengan keras kepala.
" Hei, jangan mimpi kamu, Ma ...
Tuan William tidak ingin wanita lain yang jadi menantunya. Dia hanya suka pada Felicie. Waktu aku tidak bisa membayar hutang padanya, Tuan William langsung mengatakan bahwa ia menginginkan Felicie jadi isterinya Aaron, sebagai pembayar hutang. Jika tidak ia beneran akan menyita rumah dan perusahaan.
Aku pernah mencoba untuk menawarkan anak kita, tapi William langsung menolaknya.
Jadi buang mimpi kamu yang ketinggian itu. Bukannya bersyukur sudah bisa hidup enak selama ini, malah melakukan hal bodoh." Bagas benar - benar emosi mendengar perkataan Sisca.
" Kamu juga Vina, jangan hanya bisa menangis aja kerjanya. Cepat bantu bereskan ini. Kalau tidak, Papa gak akan membawa kalian kerumah kita." ujar Bagas bertambah emosi melihat Vina cuma menangis tanpa melakukan sesuatu.
Vina buru - buru membantu mengemasi barang setelah mendengar ancaman Papa nya.
" Pa, apa papa bisa mempertahankan perusahaan. Kalau rumah ini di ambil, gak terlalu masalah. Kita juga kan sudah punya rumah sendiri, bahkan lebih bagus. Tapi kalau perusahaan di serahkan juga pada gadis tengil itu, kita hidup dari mana. Tabungan juga akan habis kalau terus di pakai. Lagian gak mungkin Tuan William bisa tahu, kalau Papa yang merubah nama kepemilikan perusahaan.
Kita bisa menuntut Tuan William dengan tuduhan pencemaran nama baik. " Sisca terlalu percaya diri dengan mengatakan hal seperti ini mengenai William.
Bagas hampir saja menampar Sisca karena kesal mendengar omongannya. Tapi ia masih bisa menahannya. Karena ia tidak ingin masalah semakin bertambah.
Sisca pasti tidak terima jika Bagas memukulnya.
" Sebaiknya kamu diam ! Jika tidak tahu apapun. Kamu pikir Tuan William itu pengusaha abal - abal. Bisa dengan seenak jidat, menyentuhnya. William berani mengatakan hal itu, pasti karena ia sudah memiliki bukti. Sebelum aku memegang perusahaan, adikku yang berhubungan dengan dia. Tentu saja William tahu, kalau tidak mungkin perusahaan Papanya Felicie bisa jadi atas namaku kalau tidak dengan cara memalsukannya. Terus kamu mau menuntut William, hahaha ...harusnya kamu bersyukur karena kamu dan anakmu yang murahan itu tidak
di penjarakan oleh Aaron dan William, karena sudah berani menjebaknya. Kalau tidak, Ia bisa membuat kalian mendekam di sana seumur hidup dengan kekuasan yang ia punya. Jadi, tolong otakmu yang bodoh itu jangan pernah berani berfikir lagi untuk berbuat hal yang aneh - aneh jika masih mau selamat.
Mengerti kamu ... !"Bagas capek juga melihat sikap istrinya yang sok pintar dan suka ikut campur.
Sisca langsung terdiam, gak berani berdebat lagi dengan Bagas begitu mendengar kata penjara. Ia gak mau masuk kesana. Sisca pasti tidak akan tahan lagi jika harus tidur dan makan seadanya. Ia sudah terbiasa selama beberapa tahun ini tidur di kasur yang empuk, pakai AC dan makan dengan berbagai macam makanan mahal.
Bik Sumi dan Tika, yang disuruh membantu mengemasi barang - barang Vera merasa heran. Kenapa Bagas dan keluarganya mengemasi semua barang - barang mereka seperti mau pindahan. Sumi dan Tika belum mengetahui kejadian yang sedang
__ADS_1
menimpa Bagas dan keluarganya. Karena Felicie sengaja belum memberitahu kepada mereka berdua. Felicie ingin saat ia datang, baru menceritakannya.
**********************************