Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 71


__ADS_3

Giselle dan Vera benar - benar menderita semalaman di buat


Aaron. Karena masakan yang


mereka masak gagal total dan


tidak bisa di makan, Aaron


menghukum mereka untuk tidak


boleh tidur di kamar dan harus


belajar memasak dari you ****.


Belum lagi, Aaron hanya memesan makanan buat dirinya, pak supir dan kedua temannya saja. Sedangkan Vera dan Giselle


di perintahkan untuk menghabiskan makanan yang telah mereka masak.


Sementara pagi ini, mereka berdua sudah harus menyiapkan sarapan buat Aaron dan kedua temannya.


Terpaksa walaupun saling tidak


menyukai satu sama lain, Giselle


dan Vera bekerja sama mengerjakan apa yang diperintahkan Aaron.


" Lo, gimana sih ... ? Masa cuma


goreng telur aja bisa hangus!" omel Giselle pada Vera.


" Gak usah banyak ngomong Lo,


coba Lo yang masak, pasti sama


hasilnya kaya gue." balas Vera.


Giselle yang biasanya ketus membenarkan perkataan Vera.


Ia sendiri tidak akan bisa memasak dengan benar, meski udah semalaman nonton you****.


" Gimana, kalau kita pesan aja ...


mumpung Aaron belum bangun." usul Giselle.


" Lo benar, kita pesan aja. Sekalian buat makan siang ... jadi kita gak repot lagi nanti." ucap Vera setuju.


" Okey, biar gue pesan tapi kita bagi dua bayarnya. Gue gak mau ya, pake uang gue sendiri. Inikan buat kita bersama." ujar Giselle.


" Iya, tapi uang gue gak banyak.


Jadi setelah ini, kita harus benar - benar belajar masak agar gak banyak pengeluaran."


" Okey, gue setuju. "


Giselle lalu memesan makanan dari aplikasi online. Setelah urusan selesai, mereka duduk dengan santai, di kursi meja makan sembari meminum susu


buat ibu hamil.


* * * * * *


Sementara Felicie dan Elbert sedang bersiap - siap menuju bandara udara Soekarno Hatta,


di temani Tika, dan Bik Sumi.


Hanya mereka berdua yang mengetahui tentang keberangkatan Felicie.


" Nak, apa selama kamu disana,


kami tidak boleh menghubungi kamu ?" tanya bik Sumi dengan mata bersedih.


" Hmm ... bukan gak boleh Bu,


tapi nanti jika Felicie ada waktu, biar Felicie aja yang menghubungi


Ibu dan mbak Tika. Lagi pula, Felicie menghindari agar Tuan William dan Om Bagas tahu keberadaan Felicie. Felicie ingin tenang dan fokus belajar, tanpa ada gangguan dari siapapun." jawab Felicie dengan merangkul bahu bik Sumi.


" Baiklah, ibu mengerti."


" Kita sudah bisa berangkat sekarangkan biar gak kena macet nanti di jalan." ucap Elbert yang


menjemput Felicie di rumahnya.


" Ya, kita lebih baik berangkat sekarang." kata Felicie setuju dengan omongan Elbert.


Elbert menyuruh asisten dan supirnya untuk membawa koper dan semua perlengkapan Felicie yang akan di bawanya.


" Gak ada yang ketinggalan kan Felicie ?" tanya Tika mengingatkan.


" Gak mbak ... dokumen penting udah Felicie taruh didalam tas


semua, nih ... ! " jawab Felicie


yakin.


" Ya sudah, ayo berangkat !" ajak


Tika.

__ADS_1


Bergegas Felicie, Elbert dan lainnya masuk kedalam mobil


yang dibawa Elbert.


Sepanjang perjalanan, bik Sumi


memberikan banyak kata nasehat dan mengingatkan agar Felicie


lebih berhati - hati di negara orang


karena ia sendiri disana.


Felicie mendengarkan semua


perkataan bik Sumi dengan serius, sembari meletakkan kepalanya


di bahu bik Sumi.


Elbert yang melihat dari kaca spion hanya bisa tersenyum kecil,


karena sikap Felicie jika begini


terlihat seperti anak - anak yang


manja pada ibunya.


Sikap Felicie yang terkesan tangguh dan cuek, tidak kelihatan sama sekali dalam keadaan begini.


Elbert juga sangat senang, karena


sekarang ia dan Felicie bisa pergi


bersama, meski Felicie menolak


untuk tinggal di mansion nya.


Tapi karena mengerti dengan alasan yang Feli berikan, Elbert


tidak memaksanya lagi.


Ia tidak akan lagi melepaskan Felicie untuk selamanya. Oleh karena itu Elbert bertekad akan menumbuhkan rasa cinta di hati Felicie untuk dirinya.


" Nak, kamu disana jangan sampai telat makan, ya ... " kata bik Sumi.


" Iya, Bu .... ".


" Ibu jangan khawatir, saya akan


mengingatkan Felicie setiap hari." sahut Elbert tersenyum ringan


pada bik Sumi.


ujar bik Sumi.


" Iya, Bu ... Jangankan menjaganya, menikahi Felicie sekarang saya juga mau ... hahaha." jawab Elbert tertawa.


" Hahahaha ... ada - ada aja nak Elbert. Felicie masih belum habis


masa Iddah nya. Tapi kalau sudah selesai dan Felicie nya mau ... ya, gak masalah." ujar bik Sumi sengaja menggoda Felicie.


" Iya, benar tuh, Bu ... dengerin tuh,


Feli ... Ibu setuju kamu sama Elbert ... tunggu apa lagi ?hahaha." Tika pun ikut


menggoda Felicie yang sudah mulai merah padam wajahnya karena menahan malu atas omongan kedua orang yang duduk di dekatnya ini.


Elbert merasa bahagia karena mendapat dukungan dari kedua orang terdekat Felicie.


" Apaan sih, Bu, mbak ... Felicie kan mau kuliah dulu, masa disuruh nikah. " ucap Felicie cemberut, dengan pipi yang masih bersemu merah.


" Ya, ibu tahu kamu kesana buat belajar. Tapi ibu juga takut


terjadi hal yang buruk sama kamu


karena tinggal sendirian. Jadi, Ibu


merasa lebih baik kalau kamu ada


pasangan yang mendampingi dan


bisa menjaga kamu setiap hari.


Namun, tunggu masa Iddah mu selesai dulu, baru bisa menikah


lagi. Kamu bisa tetap kuliah meski sudah menikah. Nak Elbert pasti


mengizinkan kamu.


Ya, kan nak Elbert ... ?" ujar bik Sumi serius, setelah melihat kesungguhan di mata Elbert pada


Felicie.


" Ih, Ibu kenapa sih ? Kog ngomongnya jadi ngelantur gini."


protes Felicie.


Sedangkan Tika cuma tertawa melihat wajah Felicie yang cemberut.

__ADS_1


" Tentu saja Bu, saya pasti mengizinkan ... tapi sayangnya


Felicie gak mau dengan saya." ucap Elbert juga serius.


" Bukan gak mau, tapi belum ...


mbak benar kan, Felicie ?" goda Tika.


" Gak tau, ah ... pada aneh semuanya." jawab Felicie sembari


melihat ke arah luar.


Semua langsung tertawa lebar


mendengar perkataan Felicie.


Tidak terasa kini mereka sudah


sampai di bandara. Felicie dan


Elbert pun segera turun dari mobil,


begitu juga dengan Tika dan bik Sumi.


Elbert dan Felicie melakukan check in terlebih dulu, dan mendaftarkan bagasi mereka, agar masih bisa ngobrol beberapa menit dengan Tika dan Bik Sumi sebelum mereka terbang.


Baru setelah semua keperluan


keberangkatan mereka selesai,


Felicie dan Elbert kembali menemui Tika dan Bik Sumi untuk


berpamitan. Karena setelah mereka pergi, mungkin baru beberapa tahun lagi Felicie


kembali dan bertemu dengan Tika dan Bik Sumi.


" Nak, ingat ... Jangan lupa sholat. Jangan lupa istirahat yang cukup. Jaga kesehatanmu selama disana." pesan bik Imah dengan wajah bersedih.


" Iya, Bu ... jangan khawatirkan Felicie. Ibu juga harus jaga kesehatan dan doakan Felicie ." balas Felicie.


" Iya, nak ... Ibu akan selalu mendoakan kamu."


" Feli, pokoknya kamu fokus saja dengan kuliahmu. Jangan pikirkan hal yang lain. Mbak, akan berusaha sebaik mungkin menjalankan perusahaan sesuai


keinginanmu. Mbak ingin melihat, saat kamu pulang nanti, kamu sudah jadi seorang ahli dalam dunia bisnis." kata Tika.


" Iya, mbak ... doakan Felicie ya."


jawab Felicie lirih.


" Pasti, kamu harus kuat dan tolong pertimbangkan cinta Elbert. Mbak, yakin kamu akan bahagia jika punya suami seperti dia. " bisik Tika di telinga Felicie.


Felicie terdiam dan meresapi perkataan Tika.


Tika melepas pelukannya, lalu menghampiri Elbert.


" Kamu harus berhasil mendapatkan hati adikku dan berjanjilah kamu akan selalu membuat dia bahagia." ujar Tika


dengan pelan.


" Baik, aku berjanji. Kamu jangan


khawatir." kata Elbert serius.


Begitu pula dengan Bik Sumi, ia


mengucapkan kata - kata yang hampir sama dengan yang diucapkan Tika pada Elbert.


Setelah berpelukan beberapa saat, akhirnya tiba waktunya Felicie dan Elbert untuk segera masuk kedalam pesawat yang akan membawa mereka terbang jauh meninggalkan semua.


Sementara itu, di apartment ... Aaron yang sedang melihat foto Felicie di ponselnya tiba - tiba saja, handphonenya terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.


Buru - buru Aaron mengambil kembali handphonenya dan melihat layar ponselnya retak.


Hal ini membuat Aaron merasa akan terjadi sesuatu pada Felicie.


Tapi ia tidak tahu itu apa.


Entah kenapa, hatinya mendadak merasa kosong, seakan - akan ia akan kehilangan Felicie untuk selamanya.


Aaron menatap dengan mata berkaca - kaca, foto Felicie yang


dilayar ponselnya yang sudah retak. Ia begitu merindukan wajah Felicie yang selalu dingin saat melihatnya, namun sekarang ia sudah tidak bisa lagi melihatnya.


**********************************


Selamat membaca ...


Semoga kalian suka ya ... 😘😘


Jangan lupa like, koment yang positif dan favorit ❤️


Buat yang udah setia dan terus mendukung cerita Mommy,


mommy ucapkan banyak terima kasih ... 🙏🙏😘


Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan rezeki yang berkah.

__ADS_1


Maaf, jika masih banyak kesalahan dalam penulisan kata ataupun kalimat ... 🙏🙏🙏


Love You All ❤️❤️❤️


__ADS_2