Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 89


__ADS_3

Felicie sangat menikmati hari pertamanya kuliah, karena tadi ia tidak menemui kesulitan dalam mempelajari mengenai ekonomi dan bisnis. Profesor yang mengajar di kelasnya menerangkan begitu jelas , tanpa berbelit. Apalagi dengan otak sekelas Felicie yang selalu mendapatkan ranking di sekolahnya hingga mendapatkan beasiswa. Jadi, meskipun Felicie mahasiswa baru dengan mudah ia bisa mengejar ketinggalannya selama beberapa bulan ini.


Sambil menunggu Airin dan Devan yang belum keluar dari kelas mereka, Felicie lebih memilih duduk menyendiri sembari membaca buku di taman kampus.


Sikapnya yang dingin dan acuh pada sekitar membuat seorang senior di jurusan yang sama dengan Felicie merasa tertarik.


Ia jadi penasaran, karena baru hari ini melihat wanita yang gak perduli akan kehadirannya. Sementara gadis - gadis lain udah heboh teriak dan berusaha menempel padanya. Dave tampan dan pintar, ia juga anak pengusaha terkenal di kota ini. Jadi gak heran kalau banyak wanita yang ingin bersamanya. Meskipun pada dasarnya Dave adalah pria yang baik. Hanya saja ia tidak suka dengan wanita yang mencoba memanfaatkan ketenaran dan kekayaan orang tuanya. Hal inilah yang membuat Dave sering berganti pasangan dan menyebabkan ia dijuluki seorang playboy.


Felicie yang begitu fokus sama bacaannya, tidak begitu perduli dengan keributan yang terjadi disekitarnya.


Tanpa Felicie sadari, pria bernama Dave itu sudah berjalan menghampirinya.


Hingga Dave berdiri di dekatnya, Felicie tetap belum menyadarinya.


" Hai ... " sapa Dave kemudian duduk di depan Felicie.


Felicie mengangkat kepala karena ketenangannya sudah terusik.


Ia paling gak suka kalau ada yang berani menganggu ketika ia lagi membaca buku dan ingin sendiri.


Apalagi jika dilakukan oleh orang yang tidak dekat dengannya.


" Hai, I'm Dave ... ! Boleh tahu siapa nama kamu ?" ujar Dave mengulang sapaannya karena


melihat Felicie cuma diam.


" Hmm ... " sahut Felicie singkat


lalu kembali membaca buku


di tangannya, seakan gak ada orang didekatnya.


Merasa diacuhkan membuat Dave semakin penasaran pada sosok wanita cantik di hadapannya ini.


Ia berusaha menarik perhatian Felicie dengan cara mengambil buku yang ada di tangan Felicie.


Hal ini membuat Felicie emosi dan langsung meninju tangan Dave dan mengambil kembali bukunya, lalu beranjak pergi meninggalkan Dave.


Bukannya marah atas perlakuan Felicie padanya malah membuat Dave jadi semakin ingin mengenal Felicie lebih dekat. Ia pun bangkit dan mengejar Felicie.


Sementara para gadis yang menyukai Dave menatap marah kearah Felicie, karena berhasil mencuri perhatian dari Dave.


" Hey, tunggu ... ! aku hanya ingin


mencoba mengenalmu, karena aku baru pertama kali melihat kamu di kampus ini. Aku sama sekali gak punya niat buruk. " ujar Dave pada Felicie setelah berhasil menyusulnya.


Felicie terpaksa menghentikan langkahnya karena ia gak mau menjadi pusat perhatian para mahasiswa yang mulai berkerumun.


" Ya, aku mahasiswa baru. Ada apa ? " ucap Felicie datar.


" Boleh aku tahu siapa namamu ?"


ujar Dave.


" Untuk ... ?" tanya Felicie singkat.


" Sebagai mahasiswa senior dan ketua jurusan buat fakultas ekonomi dan bisnis, aku wajib mendata jika ada mahasiswa baru. Siapa tahu kamu ingin masuk beberapa organisasi atau kegiatan yang ada di kampus." Dave sengaja menggunakan alasan yang masuk akal agar Felicie mau berbicara dengannya.


" Hmm ... Felicie. " ucapnya singkat menyebutkan namanya.


" Felicie, nama yang bagus.


Bisa kita duduk sebentar biar lebih enak ngobrolnya. Kamu gak mau jadi pusat perhatian mereka kan ?"


ujar Dave sembari menunjuk mahasiswa yang terlihat penasaran.


Meskipun Felicie merasa enggan tapi ia terpaksa setuju dengan ide yang di tawarkan Dave.


Ia ingin menjalani kuliahnya dengan tenang di kampus ini hingga selesai tanpa harus menjalani hari - hari yang bisa menarik perhatian orang lain.


" Baiklah ... !" ucap Felicie.


" Okey, kita ke cafe Break di depan kampus. Kamu pasti suka, karena suasananya tenang. " ujar Dave.


" Hmm ... " sahut Felicie dengan wajah dinginnya.


" Okey, ayo Feli ... !" ujar Dave mengajak Felicie mengikutinya.


" Wait, aku mau menghubungi temanku. " ucap Felicie, karena ia gak mau Airin nanti bingung mencarinya.


" Oh, Okey ... ternyata kamu sudah punya teman disini. " ujar Dave tersenyum kecil hingga membuat wajahnya semakin tampan.


Mungkin kalau wanita lain pasti akan langsung histeris jika mendapat senyuman dari Dave.


Tapi Felicie malah menanggapi dengan wajah dingin dan malah menjauh agar Dave tidak mendengar obrolannya dengan Airin.


" Sialan ... Airin, angkat dong telefon Lo !" ucap Felicie kesal karena telefon nya belum diangkat juga oleh Airin.


Dave menunggu Felicie hingga selesai menghubungi temannya dengan sabar.


Setelah mencoba beberapa kali menghubungi namun gak diangkat juga sama Airin, akhirnya Felicie memutuskan untuk mengirim pesan aja. Setelah selesai, Felicie kembali menghampiri Dave.


" Kamu sudah selesai memberitahu temanmu ?" tanya Dave.


" Ya ... " ucap Felicie.


" Kalau begitu kita bisa pergi sekarang ?" tanya Dave sopan.

__ADS_1


" Lebih baik aku jalan sendiri." ucap Felicie.


" Loh, kenapa ... ?" tanya Dave heran.


" Aku gak ingin dapat masalah


di kampus ini kedepannya gara - gara kamu. " ujar Felicie dengan ekspresi datar.


" Maksud kamu ?" tanya Dave gak mengerti.


" Kamu lihat aja sendiri. Semua wanita itu seperti ingin menelanku karena bicara dengan kamu !" ujar Felicie dingin.


Dave melihat ke sekitar. Ia pun mengerti apa yang di maksud oleh Felicie. Beberapa wanita yang sedang mencoba mendekatinya terlihat begitu kesal. Termasuk juga seorang mantannya.


" Okey, kamu jalan duluan. Nanti aku menyusul kamu. " ujar Dave mengalah.


Felicie kemudian berjalan sendirian dan meninggalkan Dave di kampus, menuju cafe yang dikatakan Dave. Cafe ini tidak terlalu jauh dari kampus hingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki.


Begitu melihat Dave sendirian , mahasiswi yang pernah jadi kekasihnya, menghampiri dan mengajaknya mengobrol.


Meskipun mereka sudah lumayan lama putus, tapi Marie tetap tidak bisa terima dan masih mengejar Dave.


" Dave, kamu tadi ngobrol dengan siapa ? " tanya Marie dengan nada cemburu.


" Oh, mahasiswi baru tadi maksud kamu ? " ujar Dave pura - pura gak mengerti.


" Ya, apa kamu sudah lama kenal dengan dia ? Kog, kayanya kalian akrab banget !" kata Marie dengan wajah kesal.


" Tidak, aku baru saja kenal dengannya tadi. Aku hanya menawarkan padanya untuk masuk organisasi kampus. Lagipula aku gak punya kewajiban untuk menjelaskan apapun sama kamu. Kita sudah tidak berhubungan lagi sejak enam bulan yang lalu. Jadi, aku harap jangan pernah mencampuri masalah pribadiku."


ujar Dave dengan serius.


Mendengar ini Marie meski kesal tapi ia juga merasa senang karena ternyata Dave tidak kenal dekat dengan wanita tadi.


" Dave, aku masih mencintai kamu dan gak mau kita udahan. Please, kita pacaran lagi, ya ... !" ucap Marie dengan nada memelas.


" Marie, aku sudah sering bilang sama kamu kalau kita gak akan mungkin bersama lagi. Jadi jangan pernah berharap untuk hal itu.


" Tapi, aku gak mau Dave. Aku masih ingin kita kembali pacaran.


Aku janji akan berubah seperti yang kamu inginkan jika kamu mau menerimaku lagi." ujar Marie tetap memaksa.


" Sorry Marie, kamu bisa cari pria lain. Okey, aku harus pergi sekarang !" ujar Dave datar lalu menuju tempat parkir mobilnya dan meninggalkan Marie yang masih berdiri menatapnya.


Melihat Dave tidak perduli dan meninggalkannya begitu saja, Marie gak terima. Ia tetap yakin kalau ia bisa mendapatkan Dave lagi.


Felicie yang sudah sampai di cafe


yang dikatakan Dave segera memilih tempat duduk di pojokan


setelah ia memesan minuman terlebih dulu. Felicie kembali membaca bukunya dengan santai.


Tidak terlalu banyak pengunjung yang datang ke cafe ini.


" Sorry, aku lama, ya ... ?" ujar Dave. Ia menyesal karena waktunya terbuang gara - gara Marie. Padahal ia ingin mengobrol dan bisa mengenal Felicie lebih dekat.


" Gak juga ... ! " sahut Felicie singkat tanpa mengalihkan matanya dari buku yang sedang ia baca.


" Felicie, maaf kalau aku lancang.


Tapi dari tadi aku penasaran.


Kamu sepertinya campuran Asia ya .. ? " tanya Dave sembari melihat wajah Felicie yang unik.


Meski wajahnya bule, tapi ada satu sisi di wajahnya yang menunjukkan kalau ia berdarah campuran.


" Hmm ... sebenarnya kamu menyuruh aku datang ke cafe ini mau membicarakan apa ? Kalau bukan masalah kampus, aku akan pergi sekarang !" ujar Felicie sembari meletakkan bukunya tanpa menjawab pertanyaan Dave.


" Oh, ya ... hampir aja aku lupa.


Begini, di kampus kita ada beberapa organisasi atau club' mahasiswa. Jadi jika kamu berminat dan ingin masuk ke salah - satunya, aku bisa membantu kamu." ujar Dave tidak sakit hati karena pertanyaannya tidak ditanggapi oleh Felicie.


" Aku belum terlalu berminat saat ini, karena masih ingin fokus kuliah aja. Tapi gak tahu juga kedepannya, mungkin bisa saja ada yang membuatku tertarik." ucap Felicie.


" Oh, it' s okey ... nanti kamu tinggal ngomong ke aku aja kalau tiba - tiba berubah pikiran." ujar Dave memaklumi.


" Hmm ... kalau begitu pembicaraan kita sudah selesai.


Kamu sudah bisa pergi. Aku mau


sendirian aja disini sampai temanku datang. " ujar Felicie.


Dave terkejut, ia gak menyangka kalau Felicie bisa bersikap sedingin ini. Ia pikir karena mereka sudah mengobrol meski baru sebentar, Felicie sudah bisa menerimanya sebagai teman.


" No, aku akan pergi jika teman kamu sudah datang. Aku gak akan mengganggu kamu. Cuma duduk dan menikmati makanan. Aku udah keburu pesan, nih ... !" tolak Dave.


Karena malas berdebat, Felicie


membiarkan Dave tetap duduk


di tempatnya. Ia kemudian mengecek ponselnya. Belum ada juga balasan chat dari Airin.


Airin yang batere ponselnya habis tidak tahu kalau Felicie menyuruh menjemputnya di cafe. Karena mereka berdua tidak menemukan Felicie di tempat mereka janjian untuk ketemu setelah selesai kuliah, akhirnya mereka berpikir kalau Felicie sudah pulang duluan


dan Elbert yang menjemputnya.


Hingga Airin dan Devan memilih untuk kembali ke apartment mereka.

__ADS_1


Felicie udah mulai merasa sedikit gelisah, karena sudah setengah jam lebih menunggu Airin tapi sampai detik ini belum juga wajah mereka berdua kelihatan.


Ia kemudian menghubungi nomer ponsel Airin lagi, tapi malah sudah gak aktif. Hal ini membuat Felicie memutuskan untuk menelfon Elbert. Tapi lagi - lagi ia gak beruntung, ponsel Elbert tidak menjawab panggilannya.


" Kenapa Feli ... teman kamu gak bisa dihubungi ?" tanya Dave yang sedari tadi beneran tidak mengusik Felicie. Ia hanya duduk dan ikut membaca buku seperti yang di lakukan Felicie.


" Ya .... ponselnya gak aktif." jawab Felicie mulai mau berinteraksi karena melihat Dave menepati omongannya yang tidak menganggu Felicie, meskipun ia duduk didekatnya.


" Oh, bagaimana kalau aku aja yang ngantar kamu pulang." ujar Dave.


" Aku akan menunggu mereka sebentar lagi. Mungkin mereka lagi di perpustakaan, makanya hand phone nya gak aktif."


" Oh, baiklah. " sahut Dave tidak memaksa.


Felicie kembali mengecek ponselnya. Tapi tetap saja gak ada pesan dari Airin maupun Elbert. Ini membuatnya kesal.


Karena gak biasanya Elbert tidak mengangkat telefon darinya.


" Sabar, Felicie ... mungkin mereka belum selesai." ujar Dave.


" Hmm ... " sahut Felicie.


Tapi udah satu jam Felicie menunggu, belum ada juga yang menghubunginya kembali.


Ia kembali menghubungi nomer Elbert, berharap kali ini telefonnya diangkat. Tapi lagi - lagi ia harus kecewa.


" Feli, aku antar aja, ya ... Kamu bisa percaya denganku. Aku gak akan buat yang aneh - aneh sama kamu. Kitakan satu kampus." ujar Dave berusaha meyakinkan Felicie.


Felicie menimbang omongan Dave. Memang benar, gak mungkin juga Dave mau melakukan hal buruk padanya.


Secara mereka kuliah di tempat yang sama.


" Okey, kamu bisa mengantar aku pulang sekarang ?" akhirnya Felicie menerima tawaran Dave.


Ia mulai lelah dan ingin cepat pulang ke apartment nya agar bisa melihat apa yang sedang dikerjakan Elbert hingga sampai gak bisa mengangkat telefon darinya.


" Okey, kamu tinggal di asrama atau apartment ?" tanya Dave.


" Apartment .. !" sahut Felicie.


" Oh, apartment apa ?" tanya Dave.


Felicie menyebutkan nama apartmentnya.


" Kamu tinggal disana ? Gak terlalu jauh dari kampus, ya ... " tanya Dave.


" Ya ... !" sahut Felicie.


" Ya udah ... yuk Feli." ajak Dave bangkit dengan semangat dari tempat duduknya.


Karena akhirnya ia bisa tahu dimana tempat tinggalnya Felicie.


Felicie menganggukkan kepala dan berjalan menuju mobil Dave.


Dave dengan cepat membuka pintu mobil buat Felicie.


" Silahkan, Feli ... " ujar Dave lembut.


" Thanks ... !" ucap Felicie kemudian masuk ke dalam mobil.


Dave segera menjalankan mobilnya dan mulai melaju menuju apartment Felicie yang tidak terlalu jauh dari cafe tempat mereka nongkrong.


" Kamu sendiri atau bersama teman kamu di apartment, Feli ... ?" tanya Dave.


" Beberapa hari ini ada temanku yang tinggal bersamaku, karena apartment nya lagi dibenahi, nanti setelah selesai dia akan segera pindah ke apartment nya." ujar Felicie.


" Oh, teman kamu yang satu kampus dengan kita ?" .


" Bukan ... !".


" Oh, teman kamu yang lain."


" Ya ... !".


" Feli, nanti kalau kamu ada yang kurang jelas dengan pelajaran.


Kamu bisa nanya ke aku. Jelek - jelek begini, aku lumayan loh dalam pelajaran. Mudah - mudahan aku bisa membantu."


" Thanks ... !".


Tidak terasa mobil Dave sudah sampai di apartment Felicie, hingga membuat mereka harus mengakhiri obrolan mereka.


Felicie lalu segera keluar dari dalam mobil, begitu juga dengan Dave.


" Thanks, Dave atas tumpangannya." ucap Felicie.


" Okey, gak masalah. Kalau kamu mau tiap hari aku mau kog, nganterin kamu pulang." ujar Dave tertawa.


Felicie hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Dave.


" Bye ... !" ucap Felicie sebelum melangkah masuk.


" Bye ... See you tomorrow." ujar Dave.


Felicie lalu berjalan meninggalkan Dave yang masih saja tetap berdiri di samping mobilnya menatap Felicie hingga akhirnya bayangan Felicie sudah tidak kelihatan lagi olehnya.


" Hmm ... aku akan mencari tahu siapa Felicie. Dia terlihat sangat berbeda dengan wanita lain. " gumam Dave sebelum pergi meninggalkan apartment Felicie.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2