
Felicie yang sedang bersama Elbert , kini berada di sebuah cafe
yang agak jauh dari kota.
Setelah tadi keluar dari rumah sakit, Felicie mengajak Elbert untuk pergi ke tempat kerjanya. Felicie memutuskan untuk
mengundurkan diri dari pekerjaan
nya. Ia merasa gak enak karena sudah terlalu sering tidak masuk kerja. Apalagi karena kejadian dengan Aaron kemarin, seminggu ia tidak ada memberi kabar pada manajer, alasan ketidak - hadirannya.
" Feli, kenapa memutuskan untuk berhenti kerja ? Kemana saja kamu seminggu ini. Aku benar -
benar bingung karena tidak tahu
keberadaan mu. Apa Aaron
menyakiti kamu ? Sehingga kamu
pergi menghilang." Elbert mengeluarkan pertanyaan yang sudah di tahannya sejak tadi.
Apalagi, wajah Felicie terlihat menyembunyikan sesuatu.
" Aku hanya ingin menenangkan diri seminggu ini, bukan menghilang seperti yang kau pikirkan. Aku mau secepatnya lepas dari Aaron. Aku ingin meneruskan pendidikan ku yang tertunda segera setelah bercerai dengannya. Aku memutuskan berhenti kerja, karena gak enak
sama karyawan yang lain. Aku sudah sering gak datang. Apalagi kemarin selama seminggu, sedikitpun aku tidak ada memberi kabar pada manajer. Jadi lebih baik, aku berhenti." Felicie memberikan jawaban yang masuk akal. Walau ia berbohong tentang kejadiannya dengan Aaron. Karena Felicie gak ingin, Elbert sampai tahu. Ia khawatir, Elbert jadi emosi lalu mendatangi Aaron kerumah sakit. Felicie cuma mau, pernikahannya dengan Aaron secepatnya di selesaikan.
" Benarkah karena itu saja ? Tidak ada yang kamu sembunyikan dariku ? " Elbert menatap mata Felicie dengan tatapan curiga.
" Benar, gak ada yang ku sembunyikan sama sekali." Felicie terpaksa berbohong.
" Jadi untuk apa tadi kamu menemui Aaron di rumah sakit ?
Apa yang kalian bicarakan dan hanya berdua saja ? " Elbert
mencecar Felicie dengan pertanyaan lagi.
" Kamu lihat wanita di rumah sakit tadikan ? ".
" Ya, tentu saja aku melihatnya.
Dia kekasih Aaron. Terus kenapa ?".
" Mereka baru saja menikah secara siri. Supaya Tuan William, Daddy nya Aaron tidak tahu.
Jadi, aku menekan Aaron dengan
pernikahan mereka untuk segera
menceraikan aku. Jika ia tidak setuju, aku mengancam untuk memberitahukan pada Daddy nya.
" Jadi, apa dia takut dengan ancaman kamu ? Apakah dia setuju untuk bercerai ?".
" Dia meminta waktu hingga keluar dari rumah sakit dan aku memberikan waktu seminggu buatnya. Setelah itu kami akan
mengurus perceraian."
" Benarkah ? Apa kamu yakin, dia
tidak membohongi kamu, Feli ?
Bisa saja dia hanya ingin mengulur waktu untuk tetap bersama denganmu."
" Untuk apa dia mengulur waktu.
Bukankah dia sudah menikahi wanita yang dicintainya. Lagian,
kami berdua, sama - sama tidak
menginginkan pernikahan ini.
Dia menikahi ku karena ancaman Tuan William. Sedangkan aku demi menyelamatkan perusahaan
Papa. Jadi tidak ada alasan buat dia mempertahankan pernikahan
palsu ini. Karena itu aku setuju
menanda - tangani kontrak pernikahan untuk tiga bulan saja.
Sebenarnya masih ada waktu sebulan lebih lagi. Tapi aku malah bersyukur, dengan dia menikahi
kekasihnya. Aku bisa menekannya dan mempercepat proses perceraian kami."
" Baiklah, mungkin kamu benar.
Aku harap pria licik itu menepati janjinya denganmu."
" Aamiin ... doakan saja biar cepat selesai."
" Tentu saja, aku akan ikut mendoakannya. Aku ingin kamu
bisa mewujudkan semua mimpimu yang sempat tertunda.
Walaupun sebenarnya aku juga
ingin, kamu mempertimbangkan
aku untuk jadi pendampingmu
selanjutnya setelah kamu pisah dengan Aaron." Elbert memandang mata Felicie dengan tatapan penuh cinta.
Felicie hanya mendesah pelan mendengar omongan Elbert.
Ia tahu, Elbert benar - benar mencintainya. Kalau tidak, mana mungkin ia tetap menunggu gadis kecil yang di temuinya selama ini.
Tapi, Felicie masih harus melanjutkan mimpi dan rencananya. Ia tidak ingin, hanya
karena menerima rasa cinta Elbert, ia harus mengorbankan
kembali hidupnya. Kali ini ia ingin
berjuang untuk hidupnya tanpa ada beban lagi.
" Kamu jangan khawatir, aku tahu apa yang kamu pikirkan. Aku tahu masih banyak yang ingin kamu wujudkan. Aku tidak akan egois untuk memaksamu, menerima cintaku saat ini. Tapi izinkan aku untuk tetap mendampingimu, dimanapun kamu nanti berada. Aku hanya gak mau kehilangan jejak mu seperti dulu. Apakah aku
__ADS_1
bisa meminta hal ini padamu, Feli ... ? " dengan lembut Elbert mengatakan keinginan di hatinya.
Felicie tertegun mendengar kata -
kata yang di ucapkan Elbert.
Pria ini terlihat sangat tulus, saat
mengatakan semua ini. Selama ini, ia belum pernah bertemu dengan orang yang benar - benar tulus mencintainya, selain kedua orang tuanya, Bik Sumi dan Tika.
Ia bahkan tidak memaksa keinginannya pada Felicie. Hanya
minta diijinkan untuk bisa tetap
bisa bersamanya. Felicie gak tega menolak keinginan Elbert.
" Baiklah, aku setuju dengan keinginanmu. Tapi aku minta,
jangan halangi aku nanti untuk
melakukan apapun yang aku
inginkan. Tapi, jika kamu terus bersamaku, bagaimana dengan
pekerjaanmu ? Apa kamu mau
jadi pengangguran seperti aku ?"
Akhirnya Felicie menyetujui
keinginan El, tapi ia juga gak mau
hanya karena ingin bersamanya,
Elbert harus mengorbankan
pekerjaannya.
" Kamu jangan khawatir mengenai hal itu. Kalaupun aku jadi pengangguran. Aku masih memiliki cukup banyak tabungan
buat melanjutkan hidup.
Aku bisa buka usaha kecil - kecilan nanti. Yang paling penting,
aku bisa dekat terus dengan kamu. " ucap Aaron yakin menenangkan Felicie.
" Hmm ... baiklah. Kalau itu sudah jadi keputusan kamu. Sekarang bisakah, antarkan aku pulang ke apartment. Aku sedikit lelah.
Pingin istirahat dengan tenang dan nyaman sebelum Aaron
kembali ke apartment." Felicie
meminta Elbert untuk mengantarnya pulang.
" Sebenarnya aku masih ingin berlama - lama disini denganmu.
Tapi, baiklah ... sebaiknya kamu
beristirahat juga. Jangan terlalu
banyak memikirkan hal yang tidak penting. Itu bisa membuatmu jatuh sakit. Okey, gadis kecilku ... "
senyum Elbert tercetak dibibirnya
setelah menasehati Felicie, yang ia tahu masih menyembunyikan
sesuatu darinya.
" Hmm ... " sahut Felicie singkat.
" Ayo, sekarang aku akan mengantar gadis kecil kesayanganku pulang ke istana
sementaranya biar bisa puas istirahat seharian." Elbert menarik tangan Felicie agar bangkit dari
tempat duduknya.
Felicie cuma tersenyum kecil, ketika mendengar omongan Elbert. Ia bahkan membiarkan tangannya di genggam Elbert.
Hatinya terasa nyaman saat jari
mereka bersentuhan seperti ini.
***
Sementara itu, di benua lain Tuan
William memutuskan untuk pulang hari ini juga. Semua urusannya sudah diselesaikan dengan cepat. Ia tidak ingin menunda lebih lama lagi.
Anak buahnya, yang ditugaskan
untuk selalu mengawasi gerak -
gerik Aaron, melaporkan
bahwa Aaron telah berani melakukan hal yang paling di bencinya, yaitu menikahi Giselle,
wanita j***** itu.
Tapi anak buahnya, belum bisa
mendapatkan bukti yang lengkap.
Karena saat pernikahan itu terjadi,
tidak ada yang berani untuk
membuka mulut mereka. Bahkan
pihak rumah sakit membantah,
tidak pernah ada pernikahan yang
terjadi di sana. Tuan William yakin, Aaron sudah menutup mulut mereka dengan uang atau
__ADS_1
mengancam mereka.
" Tuan, semua udah di siapkan.
Tuan sudah bisa pulang hari ini."
kata asisten Tuan William.
" Hmm ... baiklah. Kita pulang sekarang. Jangan beritahu satu orangpun di sana tentang kepulangan ku. " ucap Tuan William dengan tegas.
" Baik, Tuan ... " jawab asistennya.
Tuan William dan asistennya, lalu
bergerak pergi menuju lokasi
private jet pribadinya.
Besok ia sudah tiba, di Indonesia.
Jika memang benar, Aaron berani
menentang perintahnya. Ia tidak
akan segan untuk mengeluarkannya dari daftar pewaris seluruh kekayaan yang
di milikinya. William tidak ingin
wanita 🦊 itu menikmati hartanya
dengan mudah.
William lebih rela, kekayaannya
di berikan pada Felicie, menantu
sekaligus anak dari wanita masa
lalu yang pernah dicintainya.
Karena ia yakin, Felicie lebih bisa
mengelola semua kekayaannya
di bandingkan Aaron, anaknya
yang dibodohi oleh Giselle.
Kenapa, ia sangat yakin pada kemampuan Felicie, karena demi
mempertahankan perusahaan
almarhum Papanya, ia bahkan
rela menikah dan mengorbankan
masa depannya.
Anak itu memiliki prinsip yang kuat dan tegas. Ia juga anak yang
gigih. William tahu, Felicie lebih memilih bekerja dari pada harus
mengemis pada Bagas, pamannya. Padahal jelas - jelas,
semua harta yang digunakan
Bagas dan keluarganya adalah
milik orang tua Felicie.
Anaknya saja yang bodoh, gadis
secantik itu disia - siakan, malah
memilih sampah bekas orang lain.
Padahal ia berharap dengan
menikahkan Aaron dan Felicie,
bisa membuat mereka berdua
perlahan saling jatuh cinta.
Tapi ternyata harapannya tidak
terkabul. Aaron tidak pernah bisa
lepas dari jerat wanita menjijikkan
itu.
Tuan William menahan emosinya,
saat memikirkan hal ini.
**********************************
Up lagi biar kalian semua yang sudah membaca cerita Mommy
happy ... 😍
Jangan lupa dukung terus karya Mommy, ya ... tekan tombol Favoritnya, like, koment, vote dan hadiah yang banyak.
Boleh dong, beri bunga 😘😘😂
Terima kasih buat yang sudah mendukung Mommy dengan
memberikan komentar yang baik dan positif.
Semoga kalian selalu diberi kesehatan dan rezeki yang melimpah ... Aamiin.
Terima kasih semuanya ... 😘😘😍🥰🙏🙏
__ADS_1