
Felicie yang tidak melihat keberadaan Elbert di apartment,
lumayan kebingungan.
" Elbert kemana, ya ... ? Kog, dia gak menghubungi gue kalau mau pergi !" ucap Felicie mengerutkan dahinya.
Sementara itu, Elbert yang tidak menyadari kalau Felicie telah menghubunginya, karena handphone Elbert ketinggalan di apartment.
Ia tadi langsung pergi begitu mendapat telefon dari John, asistennya setelah John melaporkan bahwa tempat usaha yang ia inginkan sudah tersedia.
Begitu juga dengan mobil yang ia inginkan, agar memudahkan langkahnya untuk mengantar jemput Felicie, juga udah ada.
Sekarang ia lagi serius melihat bangunan yang akan menjadi tempat usaha barunya. Hingga gak menyadari kalau handphonenya ketinggalan.
Elbert puas melihat hasil kerja John. Ia memang selalu mengerti apa yang diinginkan Elbert tanpa harus menyebutkan dengan detail.
Hingga akhirnya, ketika ia melihat jam ditangannya , Elbert baru menyadari kalau ia sudah melupakan janji untuk menjemput Felicie di kampus.
Elbert meraba saku celananya untuk mengambil handphone untuk menghubungi Felicie dan ia terkejut kalau ternyata handphonenya gak ada.
" Stupid ... !" Elbert menepuk jidat setelah mengingat bahwa handphonenya ketinggalan
di apartment.
Buru - buru Elbert keluar dari tokonya. Ia memacu dengan kencang laju mobilnya menuju apartment. Pasti, Felicie sudah pulang dengan Airin dan Devan dan sekarang udah di apartment.
Airin yang baru aja mengaktifkan kembali handphonenya, baru melihat ada beberapa panggilan masuk dari Felicie dan ada chat juga. Airin langsung melotot
lebar begitu melihat isi chat dari Felicie.
" Sayang ... Felicie ternyata tadi telfon gue dan nyuruh kita jemput dia di cafe. Gimana nih ... kasihan banget. " ujar Airin merasa bersalah karena bisa sampai kelupaan mengecas handphonenya.
" Apa ... ? Jadi dia bukan pulang dengan Elbert ? " ujar Devan terkejut.
" Iya, sayang ... gimana nih ? Pasti dia kesal karena aku gak angkat telfon dan gak balas chat darinya." ucap Airin sedih.
" Udah, jangan mikir kaya gitu dulu. Coba kita lihat ke apartmentnya dulu. Siapa tahu, Felicie udah pulang. Cafe itu kan gak terlalu jauh dari sini. " ujar Devan menenangkan kekasihnya.
" Itu kalau naik kendaraan. Tapi kalau jalan, lumayan juga sayang. Kasihan Felicie !" ucap Airin lirih.
" Udah, kita lihat dulu dia di apartment. Kalau belum pulang , baru kita ke cafe. " ujar Devan.
" Ya ... " Airin dan Devan kemudian segera keluar dari apartment mereka dan berjalan menuju apartment Felicie.
Begitu keluar dari mobil, Elbert dengan langkah lebar masuk
ke apartment dan dengan cepat
memencet tombol lift menuju lantai atas.
Elbert langsung membuka pintu apartment Felicie begitu ia sampai.
" Fel ... Feli ... !" panggil Elbert, tapi ia gak mendengar jawaban dari Felicie.
" Apa dia masih di kampus nungguin aku ? Sial ... kenapa aku bisa sampai lupa bawa handphone, sih ... !" umpat Elbert kesal pada dirinya.
Felicie yang sedang berada di kamar mandi tentu saja gak mendengar kalau Elbert memanggilnya. Apalagi ia mandi sambil mendengarkan lagu dari ponselnya.
__ADS_1
Elbert kemudian berjalan menuju kamarnya. Ia harus mengambil handphonenya terlebih dulu agar bisa menghubungi Felicie.
Tapi saat ia lewat di depan kamar Felicie, ia mendengar lagu yang
di putar dengan volume yang lumayan keras.
Mendengar hal ini, Elbert menghela nafas dengan lega.
Felicie ternyata sudah pulang.
Setelah mengetahui Felicie udah di apartment, Elbert kemudian menuju kamar dan segera mengambil handphonenya.
Ia melihat kalau Felicie tadi menghubunginya beberapa kali.
Hal ini membuat Elbert merasa sangat bersalah dan menyesal.
Kenapa ia bisa sampai bisa menyia nyiakan kesempatan ini.
Padahal tadi rencananya, ia ingin mengajak Felicie untuk belanja kebutuhan sehari - hari mereka
di apartment. Jadi mereka bisa masak bersama tiap hari di apartment agar Elbert bisa semakin dekat dengannya.
Elbert kemudian duduk di ruang tamu menunggu hingga Felicie keluar dari kamarnya.
Tak lama Airin dan Devan pun juga tiba di apartment Felicie dan segera memencet bel di pintunya.
Mendengar ada suara bel, Elbert pun bangkit dan segera membuka pintu apartment.
" Felicie udah pulangkan ? Feli, gak nungguin kami kan ? Jadi dia pulang sama Lo, tadi El ... ? " Airin langsung memberondong Elbert dengan pertanyaan.
" Maksud kamu ... ? Felicie gak pulang bareng kalian ? " tanya Elbert.
ia baru melihat panggilan masuk dan chat dari Feli kalau ia minta kami menjemputnya di cafe." Devan menjelaskan dengan tenang.
" Sama, aku juga ... Felicie juga menghubungiku beberapa kali. Tapi aku gak tahu. Tadi, aku keluar sebentar dari apartment dan sialnya handphone ku ketinggalan di kamar. " ujar Elbert
masih kesal dengan kebodohannya.
" Oh, sekarang, Felicie nya mana, El ... ?" tanya Devan karena belum melihat Felicie.
" Seperti nya Felicie lagi di kamar mandi.Tadi aku dengar suara nyanyian dari kamar nya. Ayo, duduk ... biar lebih enak kita ngobrolnya sambil nungguin Felicie selesai atau Airin mau langsung ke kamar aja !" ujar Elbert setelah menjelaskan keberadaan Felicie.
" Gak, aku disini aja, deh ... Felicie kalau lagi kesal, bisa berubah jadi monster ...bisa habis gue nanti kalau cuma sendirian menghadapi nya ... hehehe." ujar Airin sembari tertawa.
Elbert hanya menarik sudut bibirnya mendengar omongan Airin. Ia juga tahu bagaimana sikap Felicie jika sedang marah.
Ia berharap, Felicie gak akan marah terhadapnya.
Felicie yang baru saja selesai membersihkan dirinya, melihat telefonnya tapi gak ada juga
telefon masuk baik dari Airin maupun Elbert.
Kalau Airin, meski tadi awalnya kesal, Felicie bisa memakluminya. Mungkin aja dia lagi sibuk berduaan dengan Devan. Tapi yang membuatnya kesal, Elbert gak menghubunginya juga sampai sekarang.
Setelah selesai mengenakan pakaiannya, ia segera keluar dari kamar. Felicie ingin membuat coklat hangat buat dirinya agar bisa meredakan rasa kesalnya terhadap Elbert.
" Tapi, kenapa gue harus kesal ?
__ADS_1
El, gak ada kewajiban juga buat
selalu mengangkat telefon gue !
Tapi tadi dia udah janji buat jemput gue di kampus ? Terus kenapa dia gak bisa di hubungi ?
Apa dia keluar buat ketemu dengan seorang wanita ? Jadi gak bisa diganggu. Tapi, gak mungkin ....El, bilang dia cinta sama gue ! Tapi, kenapa dia gak menelfon balik ... ?" ujar Felicie bicara pada hati kecilnya sembari berjalan. Hingga ia baru menyadari, kalau Elbert, Devan dan Airin sedang melihat ke arahnya.
" Feli, gue minta maaf ... tadi gue gak tahu handphone gue habis batere. Karena kami lihat Lo udah gak ada di kampus. Jadi, kami pikir elo udah pulang duluan sama Elbert. Begitu di apartment dan selesai gue cas ... gue baru tahu, kalau elo ngechat gue.
Sumpah, gue gak bohong ... ! Tanya Devan deh, kalau Lo gak percaya." ujar Airin menghampiri Felicie dengan wajah menyesal.
" Hmm ... gak masalah. Gue udah nyampe juga." ujar Felicie singkat.
" Feli, jangan marah dong ... Mulai hari ini gue akan selalu ngecek
batere handphone gue biar gak kehabisan batere lagi kaya tadi. " ujar Airin lirih karena tatapan datar Felicie.
" Gue bilang gak masalah, Rin ... lagi pula gue bisa pulang sendirikan." ucap Felicie.
" Felicie ... aku minta maaf.
Tadi aku keluar karena ada keperluan sebentar sembari nunggu kamu keluar dari kampus. Tapi sayangnya aku lupa waktu hingga aku baru sadar saat mau menelfon kamu, ternyata handphone ku ketinggalan di kamar. Makanya aku pulang buat ambil handphone buat menghubungi kamu dulu. Tapi, kamu ternyata udah disini. Sungguh, aku minta maaf, Feli .... !" ucap Elbert dengan perasaan bersalah.
" It' s okey ... !" ucap Felicie singkat.
Elbert menghela nafas mendengar jawaban singkat Felicie.
" Feli, Lo pulangnya tadi gimana ... jalan, ya ... ?" tanya Airin.
" Gak, kebetulan ada orang baik yang mau nganterin gue pulang tadi. " ucap Felicie.
" Hah ... beneran ? cewek apa cowok ...?" tanya Airin semangat.
Elbert juga penasaran dan menunggu jawaban Felicie.
" Hmm ... mahasiswa senior
di kampus kita. " ucap Felicie sengaja buat melihat reaksi Elbert.
Benar saja, Elbert terlihat tidak bisa menutupi perasaan cemburunya begitu mendengar perkataan Felicie. Baru hari pertama kuliah aja udah ada yang mendekatinya. Gimana hari - hari selanjutnya. Bisa - bisa ia akan kehilangan kesempatan lagi untuk bersama Felicie.
Devan yang mengerti kalau Felicie masih kesal terhadap Elbert memutuskan mengajak Airin pulang untuk memberikan waktu buat Elbert agar bisa bicara dengan lebih bebas berdua dengan Felicie.
" Rin, kita pulang sekarang yuk ...
kamu pasti lupa kalau tugas buat besok belum kamu kerjakan." ujar Devan sembari memberi kode pada Airin agar dia mengerti maksudnya.
" Hah ... Oh, iya ... hampir aja aku lupa. Ya, udah ... kalau gitu kami pulang, ya Fel ... sekali lagi gue minta maaf. Besok, kita berangkat kuliah bareng lagi kan ? " ucap Airin mengerti maksud Devan.
" Ya, pulang sana ! gue juga mau istirahat. Capek ... nungguin sampai sejam lebih !" sindir Felicie.
" Okey ... bye, Feli, Elbert." Airin dan Devan buru - buru keluar dari apartment melihat tanggapan yang di berikan Felicie.
Setelah Airin dan Devan pergi, Felicie pun berencana untuk masuk ke kamarnya. Ia ingin menghindar dari Elbert. Entah kenapa hatinya masih saja kesal dengannya.
Felicie gak mengerti kenapa Elbert gak memberitahunya kalau tadi ia ada janji di luar.
__ADS_1
**********************************