
" Sayang, aku gak terima kamu
memberikan uang dan barang sebanyak itu pada wanita j*****
itu. Aku ini isteri yang baru saja kamu nikahi, tapi sudah harus
berbagi dengan wanita lain.
Aku tidak berani marah karena kamu sudah melakukan kesalahan pada 🦊 wanita yang
sok polos dan menjijikkan itu. " kata Giselle dengan raut wajah menyedihkan.
" Hmm .... apa mau kamu ? " tanya Aaron singkat, karena ia tahu pasti maksud Giselle.
" Kalau aku ingin mendapatkan
semua seperti yang mereka dapatkan tadi, kamu gak marahkan ? " ucapnya dengan nada manja.
" Tidak bisa, bukankah waktu kita menikah kamu juga kuberikan seperangkat perhiasan. Kalau apartment, aku bahkan membelikan untukmu sebelum kita menikah. Terus masalahnya dimana ... Uang ? Kemarin aku baru saja mentransfer ke rekening kamu." ujar Aaron datar.
" Hmm ... iya, sih ... tapi maksudku, aku ingin lebih dari mereka. Kamu lihat aja tadi sikap mereka begitu merendahkan aku sebagai isteri pertama kamu.
Aku hanya gak mau, uang kamu habis karena di kuras dua siluman jahat itu. Biar aku menyimpan sebagian uangmu di rekening aku." ucap Giselle mencoba
mempengaruhi Aaron.
Aaron hanya tertawa dalam hati melihat sikap Giselle. Apa dia pikir
Aaron begitu bodoh sehingga bisa
dipengaruhinya seperti ini.
Kalau bukan karena merasa bersalah karena sudah meniduri
Giselle, mungkin sekarang ia sudah menjatuhkan talak padanya.
" Hmm ... kamu sebaiknya pulang, karena sebentar lagi Tommy dan Zico akan datang." ucap Aaron tanpa membahas hal yang dikatakan Giselle tadi.
" Tapi sayang bagaimana dengan usulku ? Apa kamu tidak ingin
melakukannya. Aku janji akan
menjaga uang kita dengan sebaik
mungkin. Nanti jika Vera tidak hamil, kamu bisa langsung menceraikan dia. Nah, setelah kamu bercerai, aku akan mengembalikan uang itu pada kamu. " Giselle masih tetap berusaha membujuk Aaron dengan kalimat yang meyakinkan.
" Sudahlah Gis, aku lagi pusing.
Nanti saja kita membahas hal itu.
Untuk saat ini, aku hanya ingin
sendiri. Kamu pulang saja atau kamu mau bertemu dengan Tommy dan Zico. Aku yakin mereka sedang dalam perjalanan menuju kesini." ujar Aaron dengan tegas, supaya Giselle tidak terus
memaksanya.
" Baiklah ... tapi besok aku boleh kesini lagi ? " tanya Giselle menutupi rasa kesalnya karena gak berhasil mempengaruhi Aaron.
" Tidak, besok Daddy akan datang." tolak Aaron.
Ia langsung memukul tempat tidur setelah menyadari kebodohannya.
Kenapa ia bisa lupa, besok Daddy dan Felicie akan datang bersama kerumah sakit.
Bagaimana mungkin tadi ia malah
menyetujui permintaan Sisca untuk menikahi Vera.
Pasti Felicie akan semakin jijik melihatnya. Semua yang telah dilakukan Aaron hanya membuat Felicie akan semakin sulit untuk
diraih.
" Sayang kamu kenapa ? Tangan kamu belum terlalu baik, jangan
seperti ini ... nanti tangan kamu
semakin lama sembuhnya." kata Giselle dengan menatap heran
pada Aaron.
" Hmm ... aku tidak apa - apa.
Aku hanya kesal, kenapa aku bisa lupa kalau besok Daddy akan datang. Ini akan menjadi masalah besar buatku." ucap Aaron.
" Oh, tapi kalau menurutku ada juga bagusnya dengan pernikahan
ini. Karena Daddy mu pasti berpikir kamu tidak akan bisa lagi
bersama denganku. Jadi kita tidak akan dicurigai lagi. Biarkan aja
pernikahanmu dengan Vera menjadi alat untuk menutupi pernikahan kita. Bagaimana menurut kamu ? " Giselle senang dengan pemikiran yang ia punya.
Aaron cuma menghela nafas berat mendengarnya.
Yang ia takutkan, Daddy nya akan
menahan Felicie agar tidak minta cerai dengan Aaron. Ini akan membuat langkah yang ia ambil bersama Felicie akan jadi semakin sulit.
" Oh, ya sayang ... hampir aja aku kelupaan. Tadi waktu Sisca meminta mahar sama kamu, ia menyebutkan nama Felicie. Itu bukankah nama wanita yang menemui kamu di rumah sakit dan apartment waktu itu ? Apa coba hubungannya sehingga nama gadis itu di bawa - bawa oleh Sisca. Apa Sisca kenal dengannya ? " tanya Giselle yang baru mengingat akan perkataan Sisca tadi.
Aaron berusaha bersikap senormal mungkin supaya Giselle
tidak melihat perubahan yang
__ADS_1
terjadi di dirinya karena mendengar nama Felicie yang keluar dari mulut Giselle.
Ia gak menyangka, Giselle malah
menanyakan hal ini.
" Kamu salah dengar pasti. Tidak ada Sisca menyebutkan nama itu.
Kamu pulang sekarang ya, sebelum ketauan Tommy, Zico dan anak buah Daddy. " Aaron mengalihkan pembicaraan agar Giselle tidak lagi bertanya
mengenai Felicie.
" Hmm ... baiklah. Sepertinya kamu benar, mungkin aku salah dengar tadi. Ya, udah aku pulang,
Sebelum pulang aku ingatkan,
kamu bisa menikahi Vera tapi tidak boleh jatuh cinta padanya
atau mencintai wanita lain.
Cinta kamu harus selalu jadi
milikku." ucap Giselle mengingatkan Aaron dengan wajah serius.
Tanpa menunggu jawaban dari Aaron, Giselle lalu mengecup bibir Aaron sekilas sebelum melangkah keluar. Dengan melihat kearah kanan dan kiri lorong rumah sakit, ia keluar seperti maling yang takut ketauan.
* * * * *
Sisca dan Vera langsung berteriak
dengan senang begitu tiba dirumah mereka, dengan tangan yang penuh tas belanjaan. Setelah tadi Aaron mentransfer uang ke rekeningnya Sisca dan Vera langsung membeli seperangkat perhiasan dan beberapa barang yang mereka inginkan. Vina, adiknya Vera melihat mereka dengan tatapan penasaran.
" Ada apa sih, Ma .. ? Kenapa kalian berdua bahagia banget ? " tanyanya ingin tahu.
" Sini sayang, ini sepatu dan gaun untuk kamu. Mama juga membelikan buat kamu." ujar Sisca tersenyum senang.
" Wah, Mama baru dapat arisan, ya ? " tanya Vina lagi sambil
melihat barang yang di belikan
untuknya.
" Bukan sayang, ini lebih dari arisan, kakakmu Vera sedang dapat lotre besar. "
" Maksud Mama, Vera menang undian ? ".
" Hehehe ... seperti itu istilahnya.
Tapi yang sebenarnya Vera besok akan menikah dengan Aaron.
Kamu tahu Aaron kan, itu loh, suaminya Felicie gadis tengik itu."
Bik Imah dan Tika yang kebetulan
Kenapa Aaron bisa menikahi
Vera ? Apa yang sebenarnya dilakukan dua nenek sihir ini ? Pertanyaan ini muncul di benak Tika dan Bik Sumi. Tika yang sudah tahu, kalau Felicie akan segera bercerai dengan Aaron
tidak terlalu masalah. Tapi beda dengan bik Imah, ia sangat syok
karena ia mengira pernikahan
Felicie baik - baik saja.
Pasti Felicie akan menderita jika
Vera menikah dengan Aaron, begitulah yang ada dalam pikiran bik Sumi.
" Hah ... yang benar, Ma ... ?
Kog bisa ? atau jangan - jangan
menjebak Aaron, ya ... ? " ujar Vina
yang tahu akal bulus Mamanya jika ingin mendapatkan sesuatu.
" Benar sekali tebakanmu, Vin.
Gak sia - sia Mama mendidik kamu." ujar Sisca lalu menceritakan semua yang telah
mereka lakukan terhadap Aaron.
" Keren ... Mama paling top, deh kalau soal beginian. Jadi Vera dan
Aaron akan menikah besok ? ".
" Iya, kamu juga besok harus dandan yang cantik. Mana tahu
temannya Aaron yang pengacara itu kecantol sama kamu."
Tika dan Bik Sumi benar - benar gak menyangka ada perempuan jahat seperti mereka. Bahkan demi mendapatkan apa yang mereka inginkan, hingga sampai
rela melakukan perbuatan hina seperti itu.
" Tapi Ma ... bagaimana dengan
Papa ? Papa kan kemarin gak setuju kalau Vera menikah dengan
Aaron ? ".
" Itu nanti biar jadi urusan Mama.
Mama tahu cara menaklukkan
__ADS_1
Papa kalian. Sekarang sebaiknya
kalian melakukan perawatan, agar besok terlihat cantik. Terutama kamu Vera, buat Aaron tergila -
gila sama kamu hingga dia menceraikan Felicie. Biar tahu rasa anak s*****n itu ."
" Okey, Ma ... Mama gak usah khawatir. Felicie pasti akan tersingkir secepatnya setelah Vera menikah dengan Aaron."
" Bagus ... Ya, udah, cepat tunggu di kamar. Mama akan memanggil
tukang lulur biar tubuh kamu bersih dan wangi di malam pernikahan kalian."
" Baik Ma ... " Vera dan Vina pun segera naik menuju kamar mereka.
Bik Sumi dan Tika pun langsung
bergerak dari tempat mereka
sembunyi menuju kamar.
" Apa yang harus kita lakukan, nak ? " tanya bik Sumi begitu sudah di dalam kamar.
" Gak usah melakukan apapun, Bu ... biarkan aja pernikahan ini terjadi, ini bisa jadi alasan buat Felicie agar segera bercerai dengan pria b******k itu." umpat Tika kesal.
" Huss ... gak baik mengumpat orang dengan kata - kata kasar
seperti itu. Apalagi nyumpahin adik kamu sampai bercerai.
Ibu gak suka kamu seperti ini " bik Sumi menegur Tika.
" Maaf, buk ... tapi bukankah lebih bagus Felicie bercerai dari pada
harus memiliki madu seperti
Vera, yang jelas - jelas ingin
menyingkirkannya." Tika mengatakan pendapatnya.
" Memang benar, tapi Allah paling
membenci perceraian. Jika Felicie bisa menerima dengan ikhlas, ia
akan mendapat pahala atas kesabarannya."
" Aduh buk ... Ibu memang benar
jika dalam segi agama. Tapi gak harus gitu juga. Cari pahala bisa didapatkan di mana aja. Gak sampai harus mengorbankan
diri merelakan suami buat menikah lagi. Yang ada malah nambah dosa, buk ... melihat suami kita harus membagi waktu dengan wanita lain.
Bukankah Ibu sendiri mengalami
nya. Suami Ibu menceraikan Ibu,
karena ingin menikah lagi, karena
gak mau punya anak perempuan seperti aku. Sakit kan buk ...?
Jadi kenapa Felicie yang masih sangat muda harus rela mengorbankan dirinya demi suami yang gak pantas untuknya."
Tika membantah perkataan Ibunya dengan menahan rasa sakit dihatinya karena teringat kembali akan penderitaan yang dialami Ibunya.
Kalau saja waktu itu, Ibu tidak di tolong oleh kedua orang tua Felicie, mungkin Tika tidak akan hadir ke dunia ini.
Bik Sumi langsung terdiam mendengar perkataan Tika.
Anaknya benar, ia saja sangat
menderita waktu itu. Jadi, kenapa
ia harus berharap Felicie mempertahankan pernikahannya.
Ia merasa sangat bersalah pada Felicie dan Tika, anaknya.
Ternyata terkadang kita para orang tua juga harus mendengarkan pendapat dari anak - anak kita. Agar bisa mengingatkan para orang tua jika
melakukan kesalahan. Baik itu kesalahan kecil ataupun besar.
Tidak selamanya baik menurut
orang tua itu, baik juga menurut anak - anaknya.
" Maafkan Ibu ... kamu benar nak,
kita harus selalu mendukung apapun keputusan yang akan
di ambil oleh Felicie." ucap Bik Sumi sambil membelai lembut rambut Tika.
" Iya, buk ... Tika juga minta maaf karena udah bicara gak sopan tadi sama Ibu." balas Tika menyesal.
" Ya sudah, gak papa. Sudah Ibu
maafkan. Sebaiknya kita sekarang
istirahat, mumpung Iblis wanita dan kedua anaknya itu lagi tidak
membutuhkan kita. " ujar Sumi.
" Hehehe ... Ibu udah bisa mengumpat juga sekarang." tawa Tika terdengar mendengar omongan Ibunya.
" Itu bukan mengumpat tapi kenyataan. Tingkah mereka memang seperti Iblis."
Tika makin tertawa lebar mendengarnya.
__ADS_1