Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 129


__ADS_3

" Ada apa ... ? " tanya Aaron pada asisten yang ditugaskan William untuk menemani mereka selama di kota B.


" Kita sudah bisa pergi sekarang, Tuan. Biasanya jam segini nona Felicie akan keluar dari apartment nya untuk pergi ke kampus. " terang Leon setelah melihat Aaron selesai sarapan.


" Hmm ... baiklah !" ucap Aaron datar padahal dia sedang berusaha menenangkan hatinya yang berkecamuk karena membayangkan akan segera melihat wajah Felicie kembali setelah sekian lama.


" Tapi Tuan hanya boleh melihat nona dari dalam mobil saja. Setelah itu kita pergi ke - perusahaan. " ujar Leon.


" Apa maksud kamu hari ini juga saya harus pergi ke perusahaan ? Saya tidak mau. Hari ini saya hanya mau melihat kegiatan yang di lakukan Felicie." Aaron dengan wajah marah membantah perkataan Leon.


" Maaf Tuan Aaron. Ini perintah dari Tuan William. " jawab Leon dengan berani.


Tommy yang awalnya hanya diam mendengarkan langsung menengahi.


" Ron ... sebaiknya kamu mendengarkan apa yang di - katakan Leon. Ini perintah Daddy mu."


" Aku mau pergi kemari karena ingin melihat Felicie bukan untuk mengurusi perusahaan. " kata Aaron masih bersikeras.


" Ron ... tolong jangan keras kepala. Kali ini lakukan saja apa yang di suruh oleh daddy Lo. Bukankah ini semua demi masa depan Lo juga. Mudah - mudahan setelah ini Daddy Lo kembali mempercayakan perusahaan untuk elo jalankan lagi. " ujar Tommy menasehati Aaron.


Aaron terdiam dan memikirkan perkataan Tommy. Apa yang di katakan oleh Tommy sangatlah benar. Tapi untuk saat ini ia hanya ingin menjalankan usaha cafe yang sudah dirintisnya dengan susah payah.


Aaron hanya ingin menyelesaikan permasalahan nya dengan kedua wanita yang masih menjadi isteri nya dulu. Baru setelah itu ia bersedia memimpin perusahaan lagi.


Aaron tidak ingin kedua wanita itu mengambil kesempatan untuk meminta kekayaan nya jika tiba waktunya ia menceraikan Giselle dan Vera.


" Hmm ... ya sudah ! Sekarang juga kita pergi. " Aaron langsung bangkit dari tempat duduknya.


Tommy mengulum senyum kecil melihat sikap Aaron. Ia tahu Aaron pasti mendengarkan apa yang ia katakan. Meski kemarin mereka sempat bersitegang dan Tommy sempat kesal pada Aaron tapi ia tahu itu bukan masalah buat mereka berdua. Hal ini sudah sering terjadi jika mereka berbeda pendapat. Ia pun bangkit dan mengikuti langkah Aaron keluar dari rumah yang mereka tempati selama di kota ini. Ia juga sudah tidak sabar untuk melihat keadaan Felicie sekarang.


Leon membukakan pintu mobil buat Aaron dan Tommy. Baru setelah itu ia menjalankan mobil dengan perlahan, karena jarak rumah mereka yang tidak terlalu jauh dari apartment Felicie.


Sementara itu sejak pernikahan Elbert, hampir setiap hari Dave, Airin dan Devan menemani Felicie. Baik itu di apartment maupun di kampus. Mereka baru pulang meninggalkan Felicie jika hari sudah gelap. Meskipun di depan mereka Felicie selalu menunjukkan sikap yang tegar dan terlihat biasa saja. Seakan - akan masalah pernikahan Elbert bukanlah masalah besar buatnya.


Ya, Felicie begitu pintar menutupi perasaan yang sedang ia rasakan.


Kecewa, sedih, marah ... pasti. Perasaan itu yang ada di hatinya saat melihat Elbert menikah dan terlihat begitu bahagia dengan Claire, isterinya.


Felicie sadar kalau ia dan Elbert tidak memiliki hubungan apa - apa. Elbert memang pernah berkata padanya kalau ia mencintai Felicie. Tapi Elbert tidak pernah berjanji untuk menikah dengannya.


Mungkin semua sikap dan perkataannya hanya sebuah janji kosong belaka. Elbert hanya menjadikan ia sebagai penghibur saat dia jauh dari Claire, wanita yang di cintai nya. Lagi pula pria mana yang mau dengan gadis yatim piatu dan masih berstatus mahasiswi, yang masa depannya belum jelas.


Sungguh berbeda dengan Claire, wanita yang di nikahi Elbert. Dia wanita dewasa, punya karier yang bagus. Selain itu status sosial mereka sama di mata masyarakat.


Hal inilah yang membuat Felicie bisa bersikap terlihat biasa saja di depan ketiga sahabatnya. Lagi pula ia memang sudah bertekad untuk melupakan Elbert sejak ia tahu dan melihat sendiri mereka bertunangan.


" Hey, kamu kenapa ngeliatin aku terus sih ? Ada yang salah ya dengan wajahku ?" tanya Felicie pada Dave yang sedari tadi memperhatikan dirinya begitu mereka keluar dari apartment.


" Kamu cantik ... hehehe. " sahut Dave menggoda Felicie sembari tertawa kecil.


" Terima kasih. Aku tahu, aku memang cantik. " kata Felicie dengan cuek.


" Hahaha ... sifat kamu ini yang selalu buat aku rindu kalau jauh dari kamu, Feli. Aku jadi malas pulang liburan kali ini." ujar Dave masih dengan tawa yang menghiasi wajah tampannya.

__ADS_1


" Hmm ... jangan Dave. Kamu harus pulang. Ini liburan panjang. Orang tua kamu pasti ingin kalian kumpul saat hari besar seperti ini." kata Felicie dengan wajah serius.


" Tapi kalau aku pulang, kamu siapa yang menemani. Airin dan Devan juga bakalan pulang ke Indonesia. Kamu bakalan sendirian disini, Feli. " ujar Dave sembari menghela nafas.


" Aku terbiasa sendiri. Jadi gak masalah kalau kali ini kalian gak ada di sini. Bisa saja aku pulang dan ikut bareng Airin dan Devan, tapi setelah aku pikir lagi sayang uangnya. Lagian butik harus tetap di kelola. Orderan pakaian di butik kita lagi banyak Dave. Belum lagi yang memesan via online. Sayang, kalau di tinggal. Nanti kalau semua pesanan sudah dikirim baru butik aku tutup dan selama butik tutup aku mau buat design baru buat tahun depan. " Felicie menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman.


Dave tercenung mendengar omongan yang keluar dari mulut Felicie. Ia tidak tega meninggalkan Felicie sendirian


Tapi apa yang di katakan Felicie padanya benar, kalau liburan Natal dan tahun baru ini ia harus pulang ke rumah buat berkumpul dengan kedua orang tuanya.


" Bagaimana kalau kamu datang ke rumahku setelah semua pesanan butik kita selesai. Orang tuaku pasti senang melihatmu." usul Dave.


" Hmm ... gak usahlah, Dave. Aku gak enak. Itu acara keluargamu, masa aku yang bukan siapa - siapa datang dan bergabung dengan kalian. Aku di apartment aja." tolak Felicie.


" Tapi, Feli ... aku gak tenang ninggalin kamu sendiri di sini. Hampir semua penghuni apartment pulang ke rumah masing - masing. Kampus juga bakalan sepi. " Dave masih berusaha membujuk Felicie agar mau datang ke rumahnya.


" Dave, udah ya. Aku gak papa.


Paling kalau aku bosan di - apartment, aku bakalan jalan - jalan ke pantai atau aku telepon kamu. Kamu tenang aja. " kata Felicie tetap bersikukuh dengan perkataannya.


" Hmm ... baiklah. " akhirnya Dave mengalah. Ia tahu kalau dirinya gak akan pernah menang berdebat kalau melawan Felicie.


Dave sudah memiliki rencana sendiri agar ia nanti bisa menemani Felicie di sini.


Aaron yang saat ini hanya bisa melihat Felicie dari dalam mobil menghela nafasnya dengan berat. Apalagi ia melihat Felicie begitu nyaman dengan pria yang berdiri di sampingnya.


" Siapa pria itu ?" tanya Aaron dengan suara datar.


" Senior di kampusnya, Tuan Aaron. Mereka memang teman dekat. " sahut Leon.


" Dari yang kami pantau, mereka hanya berteman. Tapi sepertinya pria itu menyukai nona. Selain pria bernama Dave itu ada dua orang lagi temannya nona Felicie, Airin dan Devan. " jelas Leon.


" Pria itu menyukai Feli ? Tahu dari mana kamu ?" tanya Aaron dengan nada gusar. Ia lalu menatap pria muda itu dengan tatapan kesal.


" Kami sudah menyelidiki dan mencari info mengenai siapa saja yang dekat dengan nona begitu kami tahu keberadaannya, Tuan." jawab Leon.


" Hmm ... mereka mau kemana ?" tanya Aaron begitu melihat mobil yang membawa Felicie dan Dave berjalan.


" Ke kampus Tuan. " sahut Leon singkat.


" Felicie tambah cantik, ya bro ... ! Wajahnya juga udah gak sedingin dulu. " ujar Tommy yang tadi ikut memandang Felicie.


Aaron tidak menanggapi omongan Tommy. Tapi dalam hati kecilnya, ia mengakui kalau apa yang di katakan oleh Tommy memang benar. Gadis kecilnya itu semakin bertambah cantik.


" Apa dia begitu bahagia jauh dariku, hingga wajahnya gak sedingin seperti biasa yang ia perlihatkan padaku ?" tanya Aaron dalam hati.


" Tuan Aaron, begitu nona Felicie turun di kampusnya, kita langsung pergi ke perusahaan. " Leon mengingatkan Aaron agar tidak lupa dengan perintah Tuan William.


" Terserah !" sahut Aaron kesal karena ia masih belum puas melihat Felicie.


" Nanti sepulang dari perusahaan, tuan masih bisa melihat nona Felicie di butiknya. Nona akan berada di sana hingga pukul delapan malam. Baru setelah itu kembali ke apartment." ujar Leon menjelaskan agar Aaron tidak terlalu kesal.


Aaron lumayan terhibur mendengar perkataan Leon.

__ADS_1


" Pria tadi tinggal di mana ?" tanya Aaron.


" Tinggal di gedung apartment yang sama dengan nona Felicie, Tuan. " ujar Leon.


" Apa ? mereka tinggal bersama ?" tanya Aaron dengan suara keras.


" Bukan Tuan, hanya di gedung yang sama. Bukan tinggal bersama."


Aaron membuang muka melihat ke jalanan begitu mendengar perkataan Leon. Sedangkan Tommy menahan ketawanya melihat reaksi yang di perlihatkan Aaron. Ternyata benar kata orang, cinta bisa membuat orang menjadi bodoh.


" Apa yang kupikirkan ? Felicie wanita yang baik. Dia tidak akan mungkin mau tinggal bersama seorang pria, meskipun itu kekasihnya. Aku saja yang pernah jadi suaminya tidak diizinkannya untuk menyentuh tubuhnya karena perjanjian g*la itu. Apalagi jika hanya sekedar kekasih !" batin Aaron menyesali pikiran bodoh yang tadi sempat terlintas di - kepalanya.


" Hey, lihat bro ... Felicie sudah bisa tersenyum lebar sekarang. " ujar Tommy dengan tatapan tak percaya.


" Hmm ... " sahut Aaron singkat dengan mata yang terus menatap Felicie.


" Itu wanita yang saya katakan tadi, Tuan. Namanya Airin, yang di sebelahnya Devan. Mereka sudah bertunangan. Keduanya juga berasal dari Indonesia. Mereka sahabat nona Felicie, selain Dave." Leon menjelaskan.


" Indonesia ? Kalau begitu pasti Felicie pergi kesini mereka bersama mereka !" ucap Aaron mengingat akan kepergian Felicie yang pernah menghilang begitu saja.


" Tidak, Tuan Aaron. Mereka berdua lebih dulu berangkat dan kuliah disini. " bantah Leon karena memang bukan itu yang terjadi.


Aaron mengerutkan dahi mendengar sanggahan yang di - berikan Leon.


" Jadi Felicie bisa sampai kesini pergi bersama siapa ?" tanya Aaron semakin penasaran.


" Itu yang belum kami ketahui sampai sekarang, Tuan. Sepertinya ada seseorang yang memiliki kekuasaan besar yang sengaja menutupi hal ini."


" Kekuasaaan besar ?" gumam Aaron pelan.


" Apa mungkin Elbert ?" tanya Tommy yang ikut penasaran mendengar nya.


" Awalnya Tuan William dan kami juga curiga nya seperti itu, Tuan. Tapi itu langsung terbantahkan begitu melihat Tuan Elbert tidak pernah mengunjungi nona Felicie. Apalagi Tuan Elbert sekarang sudah menikah dengan nona Claire. Jadi tidak mungkin Tuan Elbert yang membantu nona pergi ke negara ini."


" Benar juga yang kamu bilang !" sahut Tommy setuju.


" Jadi, kalau bukan Elbert. Siapa yang membantu Felicie ?" tanya Aaron bingung.


"Kata Tuan William itu sudah tidak penting lagi sekarang. Yang penting keberadaan nona Felicie sudah di ketahui dan nona dalam keadaan baik - baik saja."


" Hmm ... " Aaron masih fokus melihat ke arah Felicie yang mulai berjalan menjauh.


" Tuan William benar. Felicie sudah terlihat baik - baik saja." ujar Tommy.


" Bagaimana Tuan Aaron, kita sudah bisa pergi sekarang ? Nona Felicie sudah masuk ke kelasnya." suara Leon membuat Aaron kesal.


Ia masih ingin berada di sini agar bisa melihat saat Felicie selesai kuliah.


" Ya, sebaiknya kita pergi ke - perusahaan, Leon. Felicie juga udah gak kelihatan lagi." ujar Tommy menyindir Aaron yang masih tetap memandang ke arah Felicie menghilang.


Aaron langsung menatap Tommy dengan tatapan marah. Ia juga tahu kalau Felicie sudah tidak terlihat. Hanya saja ia masih belum puas melihat wajah gadis kecil itu. Waktunya terlalu singkat. Mana dia harus pergi ke - perusahaan dan Aaron sangat yakin pasti mereka pulangnya sore. Itu berarti hanya sedikit waktu yang bisa ia gunakan untuk bisa melihatnya.


" Baik, Tuan ! " sahut Leon.

__ADS_1


Meski Aaron kesal tapi ia tidak berusaha untuk protes saat mobil membawanya pergi meninggalkan kampus Felicie. Ia tahu percuma ia membantah, daddy nya pasti punya banyak cara untuk tetap memaksanya pergi ke - perusahaan.


**********************************


__ADS_2