Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 133


__ADS_3

" Feli, Lo beneran gak mau ikut pulang ke Indonesia selama liburan ini ?" tanya Airin dengan wajah khawatir.


" Enggak Rin, gue disini aja. Gue masih belom mau pulang ke sana. Lagi pula gue mau ngerjain design baru." ucap Felicie menolak ajakan Airin.


" Tapi nanti Lo bakal sendirian disini. Dave juga pulang kerumah orang tuanya. Gue bakalan kepikiran terus kalau Lo gak ada yang nemani." ujar Airin.


" Rin, gue gak papa. Lo tahukan gue udah biasa sendiri selama ini. Lo pasti tahu alasan gue malas pulang ke sana. Gue masih belum ingin ketemu dengan mereka. Terus gue nanti pasti akan sulit kembali kesini lagi. Pasti Tuan William bakalan tahu keberadaan gue yang udah berhasil di - sembunyikan Elbert." Felicie langsung terdiam begitu mengatakan hal ini. Tanpa bisa di cegah, ia terpaksa mengingat kembali semua tentang Elbert.


Padahal selama beberapa hari ini sejak ia melihat pernikahan pria itu, Felicie sudah berupaya sekeras mungkin untuk tidak mengingatnya lagi.


Airin mengelus bahu Felicie dengan lembut. Meski Felicie bersikap biasa saja dan tidak pernah memperlihatkan kesedihannya di depan mereka tapi Airin yakin kalau sebenarnya Felicie terluka dengan apa yang di lakukan oleh Elbert.


" Feli ... Lo pergi udah beberapa bulan dari sana. Mungkin semua yang disana sudah berubah. Jadi apa yang membuat Lo malas pulang ? Aaron ... ? Aaron juga gak akan mungkin berani menganggu lo lagi karena kedua istrinya sekarang dalam keadaan hamil. Dia pasti gak mau buat masalah yang lebih parah lagi buat mendekati elo. Lagipula Lo kan udah pernah bilang sama dia kalau elo gak mencintai dia. Jadi, apa yang membuat Lo keberatan ikut pulang bersama kami ? Apa Lo gak kangen dengan mbak Tika dan bik Sumi ? Mereka orang yang menyayangi lo dengan tulus. Ini liburan panjang, loh Feli. Mau ngapain elo sendirian disini ?" Airin masih berusaha keras untuk membujuk Felicie agar mau ikut pulang bersamanya dan Devan.


Felicie sempat terdiam ketika Airin menyebutkan dua nama yang begitu ia rindukan.


Ia memang kangen dengan mbak Tika dan bik Sumi. Tapi sebelumnya ia juga sudah pernah mengatakan pada mereka kalau ia gak akan pulang ke Indonesia dalam beberapa waktu dekat ini.


" Maaf, Rin ... bukan gue gak mau pulang dengan Lo berdua. Tapi gue disini aja. Gue harus menghemat. Masih banyak biaya yang gue butuhkan agar tetap bisa kuliah disini. Lo kan tahu perjuangan gue. Jadi gue gak mau semua yang telah gue lakukan jadi sia - sia." Felicie tetap kekeh dengan pendiriannya.


" Apaan ? Lo itu sekarang udah jadi jutawan. Gue tahu berapa penghasilan dari penjualan pakaian online sama butik. Gue pernah nanya sama Dave. Uang Lo itu udah banyak. Bukan itu kan alasan Lo sebenarnya malas pulang. Elo masih berharap Elbert mendatangi lo dan menjelaskan semuanya sama Lo ! Lo cinta dengan Elbert, kan ! Dia itu suami orang, Feli. Lo mau jadi pelakor !" ujar Airin emosi.


" Airin ! Lo jangan mengada - ada. Gue gak pernah berharap seperti yang Lo katakan. Dia sudah menikah. Jadi buat apa gue harus mengharapkannya datang dan menemui gue buat ngasi penjelasan ke gue. Lagi pula kami tidak memiliki hubungan selama ini yang sampai harus membuat dia berkewajiban menjelaskan tentang masalah pernikahannya. Gue mau tetap tinggal disini karena memang pengen aja. Selain gue masih harus mengerjakan design pakaian buat musim selanjutnya. Dave juga bilang ke gue, dia akan menemani gue. Dave cuma pulang buat merayakan natal dengan keluarga besarnya. Setelah itu dia kembali ke apartment. Kami mau mengerjakan ini bersama. Selagi Dave pulang ke rumahnya, gue juga mau pergi ke rumah teman - teman gue waktu masih kerja di - butik nyonya Megan. Mereka mengajak gue buat kumpul selama musim liburan ini. Jadi, Lo jangan khawatir gue bakal kesepian disini. Itu alasan gue makanya gak mau ikut pulang dengan kalian. Bukan karena Elbert ! Gue juga tahu dia suami orang. Gak perlu Lo ingatkan !" nada Felicie meninggi saat mengatakan ini pada Airin dan langsung bangkit meninggalkan Airin juga Devan.

__ADS_1


Airin tersadar kalau perkataannya tadi telah menyakiti hati Felicie. Harusnya ia tidak mengatakan hal itu. Walaupun ia tahu Felicie mencintai Elbert dan bersikeras menutupinya dari mereka. Tapi tidak seharusnya ia berkata kasar seperti itu. Harusnya ia menghibur Felicie agar ia melupakan kesedihannya. Bukan malah semakin menyakitinya.


" Kamu kelewatan, Rin .. !" ujar Devan kesal lalu mengejar Felicie.


" S**l ... ! gue memang b****sek. " ujar Airin kesal melihat sikapnya.


Apalagi Devan terlihat marah padanya. Ia pun bangkit dan mengejar Devan dan Felicie.


" Feli ... Tunggu gue !" panggil Devan.


Felicie semakin mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin semakin marah pada Airin, makanya ia harus menghindar sementara dari mereka. Ia tahu Airin begitu mengkhawatirkan dirinya karena harus tinggal di apartment sendirian. Tapi bukan berarti juga ia berhak menyinggung masalah perasaannya yang sudah dengan susah - payah di tutupinya.


" Feli ... tolong maafkan Airin. Kamu tahukan kalau dia kadang bicara gak di pikirkan dulu. Airin sayang sama kamu, Feli. Dia hanya cemas karena harus meninggalkan kamu sendiri di kota ini. Airin hanya gak mau kamu bersedih." ujar Devan berusaha membujuk Felicie setelah berhasil menyamai langkahnya.


" Tapi Felicie ... " ujar Devan langsung dipotong oleh Felicie.


" Udah pulang sana. Gue gak papa. Gue hanya butuh istirahat. " ucap Felicie.


" Hmm ... baiklah. Tapi tolong maafkan perkataan Airin tadi, ya Feli. Kamu tahukan dia gak punya maksud sedikitpun buat menyakiti kamu, Fel. " ujar Devan.


" Gak ada yang perlu gue maafkan Airin gak salah. Kami berdua hanya emosi sesaat tadi. Pergilah. Kasihan Airin. Pasti dia lagi menangis sekarang. Lo kan tahu,dia gadis yang cengeng !" ucap Felicie berusaha menenangkan hatinya.


" Baiklah. Aku harap kamu akan jauh lebih tenang setelah istirahat." Devan mengalah, ia tidak ingin memaksa Felicie lagi.

__ADS_1


Ia mengerti kalau saat ini Felicie hanya ingin sendiri buat menenangkan hatinya yang sedang emosi karena perkataan Airin.


" Hmm ... " sahut Felicie, kemudian melangkah pergi meninggalkan Devan yang terus menatapnya.


Felicie dengan cepat berlalu dari hadapan Devan. Ia belum ingin ketemu dengan Airin dulu. Ia takut emosinya belum bisa ia kendalikan jika mengingat perkataan Airin tadi yang sudah melukai harga dirinya. Mungkin nanti setelah ia berhasil menenangkan dirinya di - apartment, ia akan menemui Airin lagi. Felicie tahu, Airin bukan sengaja mengatakan hal tadi buat melukai hatinya. Ia hanya khawatir Felicie kesepian jika mereka tidak ada disini.


" Maaf, Feli. Maafkan gue !" ujar Airin menyesal dengan air mata yang menetes di pipinya, melihat tubuh Felicie yang semakin menjauh darinya dan Devan.


" Sudah sayang, jangan menangis. Felicie pasti akan memaafkan kamu. Felicie gadis yang baik Biarkan dia sendiri dulu untuk menenangkan dirinya." ujar Devan menghibur Airin, kekasihnya.


" Tapi, aku tadi sangat kelewatan, sayang. Aku telah menyakiti hati Felicie." wajah Airin begitu menyedihkan.


" Hmm ... kamu memang sedikit kelewatan tadi. Perkataan kamu pasti melukai harga diri Felicie. Kalaupun Felicie mencintai Elbert, dia juga gak akan mungkin berbuat hal yang bodoh. Felicie seorang gadis yang memiliki harga diri yang tinggi. Gak mungkin dia mau jadi seorang pelakor !" ujar Devan berusaha menyadarkan kesalahan yang telah dilakukan Airin.


" Ya, aku jahat banget. Felicie pasti membenci ku !" tangis Airin semakin deras.


" Hmm ... sudahlah. Sebaiknya kita pulang. Aku yakin Felicie gak akan benci sama kamu. Saat ini dia hanya kesal mendengar perkataan kamu. Tadi dia juga udah janji ke aku kalau dia akan mengantarkan kita ke bandara. Biarkan untuk sementara ini kita jangan menganggu nya." ujar Devan.


" Ya ... hiks, hiks. " sahut Airin masih menangis.


Devan memeluk Airin agar kekasihnya merasa lebih tenang. Dia tahu meski terkadang Airin sedikit keterlaluan tapi hatinya sangat lembut. Ia melakukan itu pada Felicie karena Airin begitu menyayanginya.


**********************************

__ADS_1


__ADS_2