Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 123


__ADS_3

" Apa ... kamu mau berhenti, Feli ? Kenapa ... ?" tanya Jenny terkejut setelah ia menjelaskan maksudnya menemui nyonya Megan.


" Iya, kak ... tadi nyonya Megan sudah menyetujui surat permohonan ku buat berhenti. " jawab Felicie.


" Tapi apa alasannya ? Kamu ini designer yang lagi di gemari orang loh, Feli ... ! Apa gak sayang kalau kamu mengundurkan diri sekarang ? Coba ... coba katakan alasan kamu berhenti !" tanya Jenny masih gak mengerti dengan alasan Felicie mengundurkan diri.


" Begini kak ..... !" Felicie pun dengan sabar menceritakan semua alasannya untuk berhenti dari butik nyonya Megan.


" Hah ... jadi itu alasan kamu, Feli ? Berarti waktu kakak main


ke apartment kamu pakaian yang sedang kamu kerjakan itu buat butik kamu ?" tanya Jenny dengan mulut terbuka lebar saking terkejutnya.


" Ya, benar banget kak ... !" sahut Felicie sembari tersenyum.


" S*al ... ! kakak pikir untuk buat kamu pakai sendiri. Gak tahunya buat koleksi butik kamu ! Pakaiannya bagus - bagus banget." ujar Jenny benar - benar gak menyangka.


" Hehehe ... ya, gaklah ! Masa pakaian sebanyak itu buat aku pakai sendiri. Cuma waktu itu aku masih gak enak buat cerita sama kak Jenny. Takut tau - tau gak jadi buka butiknya !" kata Felicie tertawa kecil.


" Ya, udah ceritain gimana awalnya kamu kepikiran pengen buka butik ?" ujar Jenny merasa sangat tertarik dengan wanita muda berbakat yang sedang duduk di depannya ini.


" Hmm ... awalnya aku, coba membuat - kemeja, kaos dan pakaian buat di pakai ke kampus. Terus aku posting di media sosial punyaku. Eh, gak tahunya banyak yang suka. Terus aku mulai bikin gaun - gaun simpel dan bisa di pakai selain buat remaja bisa juga buat ibu - ibu muda yang suka berpakaian simpel tapi tetap kelihatan elegant. Di tambah lagi aku suka bekerja yang membuatku bahagia bukan bekerja karena adanya tekanan atau paksaan dari orang lain ! " Felicie menjelaskan awal mula dia kepikiran untuk membuka butik.


" Hmm ... kakak mengerti ! Memang gak enak kalau kita bekerja tapi sebenarnya kita mengerjakannya karena terpaksa." Ujar Jenny menganggukkan kepalanya karena ia juga merasa tekanan itu.


" Iya, kak ... itulah alasan paling besar yang membuatku mengambil keputusan ini." sahut Felicie senang karena Jenny mengerti dengan maksudnya.


" Terus, kenapa yang awalnya kamu jual secara online sekarang memutuskan membuka butik ?" tanya Jenny penasaran.


" Hmm ... itu karena temanku Dave yang menganjurkan agar jika ada yang ingin mencari pakaian yang ku buat bisa di beli dengan mudah dan cepat baik itu mahasiswa - mahasiswi atau pun mereka yang mulai menyukai pakaian buatan ku. Selain itu yang kami jual di butik design nya sengaja aku buat sedikit berbeda dan hanya aku buat beberapa potong saja. Limited edition lah kalau istilah kerennya ... he ! " ucap Felicie menjelaskan dengan semangat.


" Oh, bagus ! Ide kalian sangat bagus. Kakak tambah kagum sama kamu. Kamu melakukan semua ini karena menyukainya dan yang pasti membuatmu bahagia. Kakak iri melihat kamu, Feli ... di usia yang begitu muda sudah bisa menentukan pilihan yang membuatmu nyaman tanpa merasa takut jika karyamu tidak


di sukai oleh orang - orang kalangan atas seperti yang kita lakukan di butik ini !" ujar Jenny lirih.


" Hmm ... itu yang paling aku suka, kak ! Aku suka kalau pakaian ku bisa di nikmati semua kalangan.


Bukan hanya melulu di pakai sama artis, istri - istri atau kekasih dari pengusaha besar, belum lagi isteri pejabat. Aku tidak suka dengan tekanan dan selalu menuruti apapun permintaan dari mereka. Seakan - akan kita hidup buat melayani keinginan mereka." mata Felicie menerawang seakan mengingat hal yang telah membuatnya sakit.


" Iya, kamu benar Feli ... ! Contohnya kasus Tuan Elbert dan tunangannya waktu itu. Seenak jidat nya aja mau nutup butik karena kamu menolak membuat gaun pengantin untuknya ! Memangnya siapa dia hingga bisa melakukan hal itu. Tapi untung saja sikap Tuan Elbert tidak seperti tunangannya itu. Ia sangat pengertian dan meminta maaf akan kejadian yang di sebabkan wanita menyebalkan itu ! Belum lagi kasus - kasus lain sebelum kamu bekerja di butik ini. " Jenny terlihat emosi ketika mengatakan hal ini.


" Hmm ... makanya keputusanku sudah benar kan buat berhenti. Ini semua karena aku gak mau lagi mengalami tekanan yang sama seperti kejadian itu !" kata Felicie berusaha menutupi perasaannya yang jadi teringat kembali dengan Elbert, sebuah nama yang sudah ia buang dari pikirannya belakangan ini.


Ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk tetap kuat dan ia yakin sudah melupakan Elbert dan membuktikan diri ia sudah baik - baik saja sekarang.


" Kak ... aku mau ke ruangan kerja ku dulu, ya ... mau pamit sama mereka. Bagaimana pun aku sempat merasakan kehangatan dan bahagia saat masih bekerja di butik ini ! Jadi, aku gak mungkin pergi begitu saja tanpa pamit sama mereka. " kata Felicie.


" Oh, ya udah ... sana temui mereka ! Kakak sampai bosan terus di tanyain sama mereka kapan kamu kembali masuk " sahut Jenny.


" Hee ... ya, udah kalau gitu Felicie naik ke atas ya, kak ... !" ucap Felicie sembari bangkit.


" Ya, kakak juga mau ngerjain tugas kakak yang belum selesai." sahut Jenny ikutan bangkit dan sekarang berdiri di samping Felicie.


Felicie dan Jenny berpisah dengan arah yang mereka tuju masing - masing.


Felicie sedikit gugup saat langkahnya sudah mulai mendekati ruang tempatnya bekerja selama beberapa bulan ini. Meski baru sebentar sudah banyak kenangan yang menyenangkan bersama mereka.


Walau mulut mereka selalu ramai dan heboh membahas tentang kehidupan - kehidupan para selebritis terutama gosip - gosip terbaru tapi pada dasarnya mereka adalah wanita - wanita yang baik dan pekerja keras dan yang paling utama mereka tidak pernah membahas tentang keburukan sesama pekerja di butik ini.


Tidak ada rasa iri sama sekali di antara mereka jika design yang mereka buat belum terpilih, malah design Felicie yang anak baru yang di pilih oleh nyonya Megan. Mereka selalu saling memberi dukungan agar tetap semangat dan terus membuat karya yang bagus.


Felicie berdiri sejenak di depan pintu buat menenangkan hatinya yang berdebar karena harus mengucapkan salam perpisahan pada mereka.


Perlahan Felicie membuka pintu ruangan itu.


" Hai, selamat siang kakak - kakakku yang cantik !" sapa Felicie menatap dengan senyum manisnya sembari menatap mereka yang sedang asyik berkumpul di meja Niken.


" Felicie .... ! " ujar mereka bangkit dan langsung menyerbu ke - arahnya.


" Kamu sakit, Feli ... kog, kelihatannya lebih kurusan ?" tanya Niken perhatian sambil menelisik wajah dan badan Felicie.

__ADS_1


" Ah, nggak kak ... Felicie sehat - sehat aja sejauh ini. Mungkin kecapekan aja karena baru selesai menghadapi ujian di kampus !" jawab Felicie memeluk mereka satu - persatu secara bergantian.


" Oh, kakak kirain kamu sakit. Soalnya wajah kamu kelihatan kaya menyimpan beban yang berat." ujar Niken menarik nafas lega setelah mendengar jawaban dari Felicie.


" Ya, kak ... memang ada beban berat. Berat harus lulus ujian dengan nilai yang baik biar bisa cepat selesai kuliahnya. Kalau gak, Felicie mau minta bantuin siapa buat bayar uang kuliahnya ... hehehe !" jawab Felicie bercanda agar Niken tidak menanyakan hal ini lagi.


" Hahaha ... !" mereka tertawa begitu mendengar jawaban Felicie.


" Udah, kita duduk aja, yuk ... takutnya kalau kelamaan berdiri betis indah ini nanti kaya pukulan baseball ... hehehe." ujar Sarah.


Mereka pun bergegas duduk berhadapan setelah mengambil kursi masing - masing.


" Jadi, ceritanya hari ini udah mulai masuk kerja lagi, nih ?" tanya Sarah.


" Hmm ... bukan kak. Sebenarnya ... !" Felicie agak gugup saat ingin menyampaikan kalimat perpisahan darinya.


" Hei, kog malah gugup. Santai aja kaya di lantai ... hahaha ! " ujar Debby tertawa lebar.


" Iya, Felicie ... kenapa sih kamu kaya baru kenal aja sama kita. Udah cerita kamu mau ngomong apa sebenarnya !" ujar Niken.


Felicie menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Kini ia mulai terasa lebih lega.


" Hmm ... kakak - kakakku yang baik dan cantik. Sebenarnya hari ini hari terakhir Felicie bekerja di butik ini. Tadi Felicie sudah mengatakannya sama nyonya Megan. " kata Felicie sambil menatap wajah mereka yang langsung terkejut begitu mendengar perkataannya.


" Apa ? Jangan bercanda, Feli ?" tanya Niken masih tetap gak percaya.


" Hmm ... aku gak sedang becanda kak Niken ... aku beneran berhenti kerja hari ini !" ucap Felicie.


" Serius, Feli ... ? bulan April masih lama loh ... masa kamu udah April mop duluan !" ujar Anne gak yakin begitu juga dengan ke tiga temannya yang masih menatap Felicie dengan tatapan gak percaya.


" Ya, Felicie serius kak ... !" ucap Felicie dengan wajah serius.


" Hah ... apa alasan kamu memutuskan berhenti ? Apa kamu gak suka bekerja sama dengan kami ?" tanya Sarah gak kalah serius.


" Hmm ... bukan karena itu kak Sarah. Felicie suka banget kerja dengan kalian semua. Bahkan kalian lah yang membuat Felicie selalu semangat bekerja saat masih disini. Kalian berempat adalah senior yang baik. Tapi karena ada alasan lain yang membuat Felicie gak bisa kerja lagi di butik ini !" Felicie menggelengkan kepalanya saat menolak omongan yang di - katakan Sarah.


" Lantas, apa alasan kamu berhenti, Feli ....?" tanya Niken menyentuh tangan Felicie.


" Okey ... ! Udah, sekarang cerita !" kata Niken.


" Hmm, gini, kak ... !" Felicie mulai mengatakan semua alasan ia berhenti. Felicie menghela nafas lega setelah ia menyelesaikan ceritanya.


" Beneran Feli ... kamu buka butik ? " tanya mereka dengan tatapan kagum.


" Hee ... cuma butik kecil aja kak ! Gak besar kaya butik nyonya Megan lah ... !" ucap Felicie tersenyum kecil.


" Wah, hebat ... ! Mau kecil, besar tapi kami sudah berani menentukan langkah kamu, Feli.


Kakak aja belum berani mencobanya meski pengen !" ujar Sarah masih menatap kagum ke arah Felicie.


" Yakin aja kak Sarah ... Kakak pasti bisa ! Design kakak bagus, begitu juga dengan design buatan kak Niken, kak Anne dan kak Debby. Felicie aja yang baru belajar masa kakak yang jauh lebih senior dari Felicie menyerah sebelum mencoba nya." kata Felicie memberi semangat.


" Terus ... terus gimana dengan design kamu yang terpilih bulan ini ? Apa kamu yang akan tetap mengerjakannya ? " tanya Anne ingin tahu.


" Ya, kak ... itu masih tanggung - jawab Feli, jadi harus Feli selesaikan. " jawab Felicie.


" Oh, terus ... kalau kamu gak kerja disini lagi, kita gak bisa ketemu lagi, dong Felicie ?" ujar Anne.


" Tentu saja masih bisa, kak ... Felicie kan masih tetap tinggal di kota ini bukan pindah ke kota lain. Cuma pindah tempat kerjanya aja ... hehehe. Nanti kalau kita semua gak lagi sibuk, kita masih bisa ketemuan waktu weekend. " kata Felicie tertawa kecil sembari memberikan ide agar mereka masih bisa tetap bertemu.


" Eh, benar juga ... kita ketemuan setiap weekend kalau kita lagi gak banyak kerjaan ya ... !" ujar Sarah.


" Iya, kak ... telepon aja kapan kakak pengen kita ketemuan. " sahut Felicie.


" Ya, ya ... sekalian kita mau lihat butik kamu juga. Siapa tahu ada pakaian yang bisa kita borong ... tapi di kasi diskon ya, hahaha !" ucap Sarah tertawa lebar.


" Pasti ... Felicie akan kasi diskon gede buat kakak semua ! " sambut Felicie.


" Ya, udah ... kalau gitu selamat buat kamu, ya Feli ... semoga butik kamu makin terkenal dan pakaian yang kamu buat disukai

__ADS_1


semua orang. " ujar Niken dengan wajah tulus.


" Ya, Feli ... pokoknya kami ikut bangga sebagai kakakmu kalau kamu jadi orang sukses dan terkenal. " sahut yang lain.


" Aamiin ... Makasih, kakak - kakakku yang cantik atas doa dan supportnya." ucap Felicie merasa terharu atas perhatian yang mereka berikan padanya.


" Udah, sekarang kita gak usah sedih - sedih karena Felicie pergi buat kemajuannya. Lebih baik kita membahas gosip terhangat aja sekarang !" ujar Sarah sembari mengibaskan tangannya.


" Hehehe ... gosip apa lagi, kak ... ?" tanya Felicie lucu melihat wajah Sarah yang mendadak serius saat mengatakan tentang gosip.


" Aku tahu, gosip yang kamu maksud Sarah ... pasti tentang Tuan Elbert lagi kan !" ujar Debby gak mau kalah update dari Sarah.


" Yap ... seratus ! Kamu benar ... Gosip Tuan Elbert memang selalu menarik untuk di ceritakan. " sahut Sarah sembari mengacungkan jempolnya ke - wajah Debby.


" Hmm ... kak, sebenarnya Felicie masih ingin berlama - lama disini tapi mendadak Felicie ingat kalau hari ini, kain pesanan Felicie datang sebentar lagi. " Felicie berusaha melarikan diri agar tidak perlu mendengarkan lagi cerita tentang Elbert.


" Hah ... bentar aja, Feli ... kan, gara - gara wanita angkuh itu kamu terpaksa bekerja dari rumah meski akhirnya kamu malah mendapatkan ide bagus buat membuka butik. Jadi, kamu harus ikut mendengarkan gosip terhangat ini !" ujar Sarah menahan Felicie.


" Ya, Felicie ... bentar lagi aja, pulangnya. " ujar Niken.


" Maaf, kak ... takutnya teman Felicie gak ada di tempat jadi gak ada yang menerima waktu kainnya datang. " Felicie masih berkilah agar bisa segera pergi dari ruangan ini.


" Hmm ... ya, udah, deh ! Tapi nanti kalau kamu penasaran sama beritanya, kamu bisa lihat di media sosial. Pasti banyak yang memberitakan tentang pernikahan mereka. "


" Besok, kan kalau gak salah ?" .


" Ya, besok ... acaranya dari pagi sampai malam di hotel termewah di sana."


" Hee ... ya, udah ya kak ... selamat bergosip ria. Felicie pergi sekarang, ya ... sampai jumpa lagi pas weekend !" mendengar hal itu membuat Felicie semakin ingin buru - buru keluar dari sini.


" Eh, Okey ... sampai jumpa weekend, ya Feli ... jangan lupa kasi diskon buat kami kalau belanja di butik kamu !".


" Okey ... Bye !" sahut Felicie cepat, karena ia sudah ingin pergi secepatnya agar tidak perlu mendengar lagi cerita tentang Elbert.


" Bye ... ! " sahut mereka serempak.


Felicie pun bergegas keluar agar mereka tidak mencoba menahannya lagi di ruangan itu.


" Eh, kalian lihat gak wajah Felicie berubah sedikit pucat waktu kamu mau membicarakan tentang Tuan Elbert, Sarah ... !" ujar Anne yang melihat perubahan di wajah Felicie.


" Ah, masa sih ? Kamu salah lihat kali, Anne ... !" ujar Sarah.


" Iya, kamu pasti salah lihat, Anne ." ujar Niken menyetujui omongan Sarah.


"Kamu, lihat gak Debby ... ?" tanya Sarah.


" Sorry, aku gak lihat. Lagi asyik lihat kekasih tampanku yang besok mau nikahan !" sahut Debby yang fokus melihat handphone di tangannya.


" Huh, tapi aku yakin kalau aku gak salah lihat. Wajah Felicie berubah pucat tadi !" Sarah masih kekeh dengan penglihatannya.


" Ya, udah gak usah di bahas lagi. Mungkin karena Felicie takut telat menerima pesanan kain nya jadi dia cemas. " ujar Niken.


" Hmm ... tapi kaya nya bukan gara - gara itu, Niken ! Kalian ingat, Felicie pernah mau pingsan waktu kita memperlihatkan berita tentang Tuan Elbert dan wanita sombong itu dari handphone !" Sarah merasa ada yang aneh setelah mengingat kejadian itu.


" Oh, ingat ... tapi kan memang waktu itu kecapekan. Tiap hari Felicie lembur. Jadi wajar kalau dia mau pingsan. " ujar Niken membantah dugaan Sarah yang menurutnya gak masuk akal.


" Hmm ... tapi menurut ku bukan karena kecapekan, pasti ada hal lain yang membuatnya seperti itu !" Sarah yakin dengan perkiraannya.


" Huss, udah ... sekarang aku mau lanjutin kerja, biar bisa buka butik kaya Felicie ... malas aku ngeliat berita tentang pernikahan Tuan Elbert dan wanita sombong itu. " Niken bangkit dan menggeser kursi ke arah meja kerjanya.


" Ya, aku juga harus selesai hari ini. Aku gak mau kena marah sama nyonya Megan !" ujar Anne juga kembali ke meja kerjanya.


" Ya, udah la Sarah ... besok aja kita lihat pernikahan Tuan Elbert


dari televisi. Siaran langsung juga. Sekarang kita lanjut kerja, aja ... biar cepat selesai." ujar Debby.


" Hmm ... benar juga ! " Sarah pun mulai melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan teman - teman satu ruangan dengannya.


Ia kembali mengerjakan design nya yang belum selesai.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2