
" Si*l ... ! Mau ngapain lagi si rese itu datang ke kantor lagi !" gumam Tika kesal begitu sekretaris memberitahunya kalau Tommy, sudah menunggu di depan pintu ruangan kerjanya.
" Kenapa kamu gak bilang kalau saya lagi sibuk ! " ucap Tika kesal.
" Maaf, Bu ... saya sudah mengatakannya tapi Pak Tommy bersikeras untuk tetap menunggu Ibu. " jawab sekretaris nya dengan wajah takut.
" Huff ... ya, sudah suruh pria itu masuk ! " ucap Tika akhirnya terpaksa mengalah karena ia tahu pasti pria b*e*g**k itu gak akan pergi kalau belum berhasil bertemu dengannya.
Tika benar - benar muak melihat pria satu ini karena ia tahu pasti sikapnya sama brengseknya dengan Aaron, mantan suami Felicie adiknya.
Sejak beberapa kali ia harus hadir di perusahaan Tuan William untuk menghadiri rapat pemegang saham mewakili Felicie, pria itu terus menganggu nya. Kalau saja bukan karena demi mendukung keinginan Felicie buat mengejar cita - cita nya, Tika gak akan mau menjalankan perusahaan dan bertemu dengan orang - orang menyebalkan, terutama kedua sahabat Aaron.
Sebenarnya kalau hanya mengurus perusahaan ini saja Tika gak akan kesal begini karena ia juga menikmatinya. Selain ilmu yang di pelajari nya sesuai buat menjalankan perusahaan, lingkungan kerjanya juga menyenangkan meski ada juga beberapa orang Bagas, om nya Felicie yang tetap bekerja disini dan terlihat kurang menyukainya tapi Tika gak perduli. Tika juga melakukannya demi membalas budi pada papa Felicie yang sudah menyekolahkannya hingga ia bisa menyelesaikan kuliahnya. Apalagi Felicie memang membutuhkan bantuan darinya.
Tapi yang membuatnya sangat kesal karena perusahaan ini selalu berhubungan dengan perusahaan Tuan William karena walau bagaimanapun perusahaan ini bisa kembali ke tangan Felicie atas bantuan dari Tuan William.
Kalau hanya bertemu dengan Tuan William saja, Tika tidak masalah karena seperti kata Felicie, Tuan William orangnya sangat baik meski terkadang menyeramkan juga kalau sedang marah di rapat.
Namun yang membuat Tika marah itu karena Tommy selalu mengganggunya dengan sejumlah pertanyaan yang menyangkut keberadaan Felicie sekarang. Belum lagi ia sering menelepon untuk menanyakan hal - hal yang gak penting.
Di tambah lagi Zico juga meski tidak sesering Tommy, juga menanyakan hal yang sama yaitu tentang dimana Felicie ? Kenapa ia tidak pernah muncul di - perusahaan atau saat rapat di - perusahaan Tuan William.
Bahkan beberapa kali, mereka hampir benar menebak tentang keberadaan Felicie, meski Tika gak terlalu khawatir karena ia yakin Elbert akan melindungi Felicie di sana. Buktinya sampai sekarang mereka terus bertanya padanya. Itu berarti mereka hanya sekedar menebak atau berusaha menjebak Tika agar salah saat menjawab pertanyaan mereka. Berarti mereka memang belum tahu tentang di mana keberadaan Felicie sekarang.
Tika tersadar dari lamunannya ketika sekretaris nya membuka pintu dan pria menyebalkan itu berdiri di sampingnya dengan senyumnya yang memuakkan. Untung saja di meja kerjanya banyak berkas - berkas, jadi ia tidak terlalu kelihatan berbohong saat mencoba menolak Tommy tadi.
" Permisi Bu ....!" ujar sekretaris nya sopan sebelum keluar kembali dari ruangan kerja Tika.
" Ya ... " sahut Tika singkat.
" Wah, ibu direktur kita beneran lagi sibuk ! Maaf, jika kedatangan saya sudah mengganggu ibu Tika !" ujar Tommy langsung duduk di kursi yang ada di depan meja Tika.
" Udah tahu saya sedang sibuk tapi Pak Tommy masih tetap memaksa masuk juga !" sahut Tika sengaja menyindir Tommy.
" Maaf, tapi ini beneran ada hal penting yang mau saya tanyakan pada Bu Tika ! " ujar Tommy tanpa merasa bersalah.
" Hmm ... hal penting apa yang ingin anda tanyakan Pak Tommy ?" tanya Tika malas karena ia sudah bisa menduga pasti pria di depannya ini akan menanyakan Felicie lagi.
" Hmm ... kemarin teman saya Zico baru saja pulang dari Ame**ka dan ia sempat singgah
ke kota Bos**n dan Zico seperti melihat Felicie di sana !" ujar Tommy kali ini menatap serius Tika.
Jantung Tika langsung berdebar mendengar perkataan Tommy.
__ADS_1
Apa benar Zico melihat Felicie
di sana. Bagaimana jika dia mengikuti Felicie. Felicie gak akan aman lagi kuliah di sana. Pasti Tuan William dan Aaron juga sudah di beritahu oleh Tommy.
Tapi biar Tommy gak curiga, Tika segera menenangkan dirinya dan menjawab dengan nada datar.
" Oh, benarkah ?" Yakin itu Felicie ?".
Tommy menatap Tika dengan pandangan yang menyelidiki. Seakan ia mencari kebohongan yang sedang di tutupi oleh Tika.
Padahal ia sengaja berbohong untuk melihat reaksi Tika. Memang benar Zico baru pulang dari Ame***ka dan pergi ke kota yang disebutkan Tommy tadi karena urusan perusahaan bersama Tuan William tapi ia sama sekali tidak ada bertemu dengan Felicie.
" Hmm ... Zico, sepertinya yakin kalau yang di lihatnya itu memang Felicie !" ujar Tommy terus memancing Tika.
Sudah banyak kota dan negara yang Tommy selidiki untuk mencari keberadaan Felicie. Begitu juga dengan Zico. Tapi hingga detik ini mereka belum bisa menemukannya. Ia ingin menemukan Felicie karena
Tommy kasihan melihat Aaron yang walaupun pura - pura bahagia jika bertemu dengannya tapi ia tahu kalau Aaron memendam rindu yang begitu besar pada Felicie. Tapi sayangnya sahabat bodohnya itu masih tetap juga bertahan dengan kedua wanita j****g itu demi menghukum dirinya sendiri karena sudah mengecewakan Felicie, hingga menghilang seperti ini.
Bahkan perut kedua wanita itu semakin membesar dan hanya dalam hitungan beberapa bulan lagi mereka akan melahirkan.
Makanya Tommy benar - benar berusaha untuk menemukan Felicie agar sahabat bodohnya itu bisa bahagia kembali.
Tommy juga yakin, kalau Tuan William tidak pernah berhenti mencari Felicie, karena Tommy beberapa kali melihat anak buah Tuan William datang ke - perusahaan untuk melaporkan sesuatu padanya.
Tuan William sangat menyayangi Felicie seperti anak nya sendiri. Ia tidak peduli jika memang Aaron tidak lagi bisa bersama dengan Felicie, karena kesalahan anaknya sangat fatal. Felicie pasti kecewa tapi ia masih berharap Felicie masih menganggap dirinya sebagai Daddy nya. Tuan William bahkan sudah mengetahui kalau Aaron dan Felicie melakukan perjanjian sebelum pernikahan mereka.
" Terus, maksud dari pembicaraan Pak Tommy ini apa ... ? " tanya Tika masih dengan wajah datar.
" Benarkah Felicie berada di sana ... ? Kenapa sih, kamu gak mau memberitahu dimana dia ? Aku juga sudah menganggapnya sebagai adikku. Jadi kamu gak usah takut kalau aku akan mencelakainya. Aku hanya ingin ketemu dan bicara dengan Felicie !" ujar Tommy tanpa sadar bicara non formal karena ia mulai menyerah, ia tidak bisa memancing emosi Tika yang tetap saja datar.
" Seperti yang selalu saya katakan pada Pak Tommy, saya juga tidak mengetahui di mana Felicie sekarang. Setelah ia memberikan kuasa pada saya untuk menjalankan perusahaan dan mewakilinya di perusahaan Tuan William, keesokan harinya ia bilang ingin jalan - jalan keluar sebentar dan sejak hari itu ia tidak pernah pulang lagi ke rumah. " kata Tika masih tetap bertahan dengan kebohongannya.
" Kamu jangan bohong lagi, Tika ! Dia sudah menganggap kamu seperti kakak kandungnya sendiri, mana mungkin dia gak memberitahu kamu tentang kepergiannya !" ujar Tommy.
" Terserah kalau Pak Tommy mengatakan saya bohong pada anda ! Tapi jawabannya saya tetap sama, saya tidak mengetahui keberadaan Felicie sekarang. Tapi saya yakin, di manapun dia sekarang pasti dia sangat bahagia karena bisa lepas dari tangan sahabat kamu yang ba***g*n itu ! kata Tika sembari tersenyum sinis .
" Tapi Tika, bagaimana kamu bisa yakin dia bahagia sementara kamu gak tahu keberadaan Felicie ! " ucap Tommy dengan senyum manisnya.
" Tentu saja saya tahu, karena sebagai kakak saya bisa merasakannya, meski ia tidak mau memberitahu saya di mana dia sekarang ! " sahut Tika cepat berusaha agar tidak terlihat gugup .
" Hmm ... baiklah ! Aku harap suatu saat kamu berkenan memberitahu aku tentang kebenarannya. Tapi ngomong - ngomong kamu semakin cantik kalau lagi jutek gini ! Aku suka ... !" ujar Tommy menggoda Tika.
Tika langsung menatap Tommy dengan tajam begitu mendengar perkataan Tommy. Pria satu ini memang mengesalkan. Dia suka bicara asal dan bertindak sesuka hatinya saja. Mana sikapnya sok dekat lagi.
__ADS_1
" Maaf, jika Pak Tommy sudah tidak ada kepentingan lagi, saya harap Tuan keluar sekarang juga karena masih banyak yang harus saya kerjakan !" kata Tika kesal karena waktunya terbuang demi obrolan yang gak penting dan ini terus berulang.
" Hmm ... baiklah ! Aku pergi sekarang tapi sebelum aku pergi bisakah kamu berikan aku sebuah senyuman karena aku yakin wajahmu yang cantik itu akan semakin indah jika di hiasi senyuman yang manis ! " Tommy semakin menggoda Tika.
Entah kenapa semakin kesini, ia semakin suka menganggu Tika.
Sejak pertama kali mereka bertemu, ada rasa yang menggelitik di hatinya. Ia semakin suka menganggu Tika, karena dengan itu ia bisa melihat wajah cantiknya meski sikap Tika selalu sinis dan datar pada Tommy.
Meski Tika kesal mendengar omongan Tommy yang semakin gak jelas. Tapi tak urung ia juga merasa senang, karena Tommy sudah berulang kali memujinya.
" Pak Tommy jangan keterlaluan ! Bisa keluar sekarang !" Tika berusaha agar Tommy tidak melihat wajahnya yang mulai memerah.
" Gak, aku gak akan keluar sebelum kamu menghadiahiku sebuah senyuman !" Tommy tetap kekeh dengan keinginannya.
" Pak Tommy, tolong saya harus lanjut bekerja. " ucap Tika masih bertahan tidak memberikan permintaan Tommy.
" Lanjutkan saja pekerjaan kamu, aku janji gak akan menganggu tapi biarkan aku tetap disini menunggu sampai bisa melihat senyum manis mu !". Tommy masih bertahan dengan keras kepalanya.
" Pak Tommy, tolong anda keluar !
Saya mohon ... !" Tika sudah mulai kehabisan akal untuk mengusir pria di hadapannya ini.
" Hmm ... berikan saya senyuman, setelah itu saya janji akan segera pergi !" ujar Tommy santai.
Tika benar - benar gak mengerti dengan keinginan Tommy yang gak masuk akal. Tapi kalau ia gak memberikan keinginannya, Tika harus terus melihat wajah menyebalkan itu berada di - ruangannya.
" Tersenyumlah ! " ujar Tommy sambil menatap lembut ke arah Tika.
" S**l ... ! Kalau gak aku lakuin pasti dia gak akan pergi. Apa aku senyum aja, ya biar dia pergi ? Bukankah tadi dia bilang akan segera pergi jika aku tersenyum !" Baiklah, sebaiknya aku lakukan saja biar aku gak semakin bertambah kesal melihat wajahnya itu !" Rina membatin.
Akhirnya Rina pun terpaksa mengeluarkan senyuman yang diinginkan Tommy.
" Wah, benarkan kamu semakin cantik kalau tersenyum seperti ini ! Terima kasih ... kalau begitu aku pergi sekarang !" ujar Tommy sembari bangkit dari tempat duduknya.
" Huff ... akhirnya pergi juga dia !" gumam Tika menghela nafas lega.
" Tetaplah tersenyum itu, karena kamu jauh lebih mempesona di bandingkan bersikap ketus ! Bye ... pretty !" ujar Tommy sebelum melangkah keluar dari ruangan Tika.
Tika tak kuasa menahan debar di dadanya yang mendadak hadir tanpa di undang saat mendengar pujian dari Tommy.
" Ada apa dengan ku ? Kenapa justru aku malah senang mendengar pujian dari nya ?" tanya Tika dengan senyum yang terukir di wajahnya.
" Ah, Tika ... Fokus ... Fokus ! Pria itu pasti sama sikapnya dengan Aaron !". Tika menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan cepat.
__ADS_1
Setelah konsentrasinya kembali, Tika lalu kembali membaca dengan serius berkas yang ada di mejanya.
**********************************