
Dalam waktu singkat Felicie sudah di beri tanggung jawab yang lebih besar dari Nyonya Megan, pemilik butik karena kinerjanya yang bagus. Ia sudah di percaya untuk mengerjakan pesanan - pesanan khusus dari klien yang memang meminta Felicie yang mengerjakan gaun buat mereka.
Semua hasil rancangannya, banyak disukai oleh para pelanggan - pelanggan butik, bahkan ada beberapa isteri juga anak pengusaha dan artis yang menginginkan Felicie mendesign gaun khusus untuk mereka.
Lingkungan tempatnya bekerja juga sangat mendukung. Tidak ada rasa saling iri ataupun menjatuhkan. Bahkan mereka yang lebih senior dari Felicie tidak pelit membagi ilmu dan membantu meringankan pekerjaan nya.
Kini harinya ia lewati hanya untuk belajar dan bekerja dengan serius.
Ia tidak berminat memikirkan hal - hal yang gak penting dan tidak bermanfaat untuknya.
" Feli, malam ini ikutan lembur, kan ?" tanya Niken tiba - tiba sudah berdiri di dekat Felicie.
" Iya, kak ... masih ada beberapa design yang harus aku selesaikan." ucap Felicie cepat sembari tetap fokus mengerjakan design terbarunya.
Sudah sebulan sejak Elbert tunangan, ia benar - benar sudah memutus semua kontak dengannya.
Mobil Elbert juga sudah di ambil kembali. Bahkan orang yang selalu mengikuti dan mengawasi Felicie setiap hari sudah tidak ada lagi.
Ia juga sengaja mengganti nomer handphonenya agar Jhon dan Elbert tidak bisa menghubunginya lagi.
" Eh, Niken ... aku rasanya gak sabar pengen melihat pesta pernikahan nya Tuan Elbert, pasti lebih megah di bandingkan pesta pertunangan nya." ujar Debby, salah satu teman kerja Felicie yang berada di ruangan yang sama dengannya.
" Aneh ... ! Yang mau nikah Tuan Elbert, kog malah kamu yang gak sabar !" cibir Niken.
" Iya, katanya kamu pengen tidur bareng Tuan Elbert meski cuma sekali. Sekarang, kog malah dukung pernikahan mereka !" sahut Anne.
Felicie berusaha menenangkan hatinya saat mereka malah berkumpul dekat mejanya sembari membahas mengenai Elbert.
" Tapi aku tetap yakin kalau Tuan Elbert gak mencintai Nona Claire itu !" ujar Sarah seraya memajukan bibirnya.
" Gak mungkinlah, Sarah ... kalau gak cinta mana bisa tunangan beneran. Dugaan kamu itu gak benar." bantah Debby.
" Hmm ... aku berani ngomong kaya gini karena aku melihat ada yang ganjil di pesta pertunangan mereka itu. Coba aja kalian lihat ulang rekaman video waktu Tuan Elbert bertunangan. Pasti kalian akan melihat hal yang aneh !" ujar Sarah dengan wajah serius.
" Hah ... maksud kamu ... ? Hal aneh apa ? " tanya Debby dan Anne dengan wajah penasaran.
" Ntar, biar aku ambil handphone dulu agar kalian bisa lihat keanehan yang aku maksud !" Sarah pun bangkit dan menuju meja kerjanya.
Sementara Niken dan yang lain menunggu dengan sangat penasaran.
Felicie yang awalnya berusaha tidak perduli dan tetap serius melanjutkan pekerjaannya, kini mulai gak fokus akibat omongan Sarah. Padahal seharusnya ia tidak perlu tahu lagi semua urusan menyangkut Elbert.
" Nih, liat ... senyum Tuan Elbert terkesan dipaksakan !" Semua langsung mengerumuni Sarah dan melihat video yang ia perlihatkan.
Felicie walaupun tidak ikut bergabung dengan mereka, tapi sekarang konsentrasinya teralihkan dan mulai mencuri dengar apa yang di katakan oleh Sarah.
" Dari awal Tuan Elbert dan Nona Claire berjalan menuju tempat acara, wajah Tuan Elbert terlihat tidak menikmati acara itu. Wajahnya tidak bahagia dan matanya seperti menyimpan amarah. Ia begitu gelisah. Apalagi waktu saat tukaran cincin. Jelas sekali kelihatan. Hanya nona Claire saja yang terlihat bahagia dan terus tersenyum." ujar Sarah lagi dan merasa lebih semangat karena melihat teman - temannya mulai percaya dan mengangguk - anggukkan kepala mereka.
" Iya, kamu benar , Sarah ... jelas banget kelihatan ! Tuan Elbert bahkan sempat terdiam begitu lama saat hendak memasangkan cincin pertunangan mereka !" sahut Niken dengan semangat.
" Iya, aku tadi juga lihat wajah nona Claire sempat berubah ketakutan. Seakan - akan dia takut kalau Tuan Elbert membatalkan pertunangan mereka !" ujar Anne dengan tatapan gak percaya dengan yang baru saja mereka lihat.
" Hmm ... benarkan ! Banyak yang aneh dari acara pertunangan mereka. Kalau menurut ku, Tuan Elbert terpaksa melakukan pertunangan itu. Masa kalau mereka memang benar saling mencintai dan memutuskan untuk tunangan, seperti yang di katakan nona Claire seharusnya wajah Tuan Elbert bahagia. Tapi ini malah kebalikannya. " ujar Sarah dengan wajah serius.
" Iya, aku jadi semakin curiga dengan peristiwa sebelumnya. Mungkin saja Tuan Elbert di jebak waktu di hotel itu dan nona Claire memaksanya untuk segera bertunangan dengannya ! Berarti dugaan ku kemarin benar kan ! ujar Niken semakin yakin dengan perkataan nya beberapa waktu lalu.
" Hmm ... mungkin itu yang terjadi sebenarnya." sahut Anne.
Walaupun ia sudah berusaha mencegahnya tapi Felicie tidak bisa menahan rasa sesak di - dadanya begitu mendengar semua yang di katakan oleh teman - teman kerjanya.
Ia jadi bertanya pada dirinya, apakah keputusannya ini salah atau malah sudah benar karena memutuskan untuk tidak percaya dan memaafkan Elbert.
__ADS_1
" Ah, tapi itu bukan urusanku lagi ! Mau dia benar ataupun salah tetap saja dia pria pengecut ! Harusnya dia menjelaskan padaku kalau semua itu tidak benar. Kenapa dia malah menghindar ? atau dia memang merasa gak penting juga buat memberitahu aku ! Hmm ... kalau begitu keputusanku tidak salah. Baiklah ... ! " gumam Felicie lirih nyaris tak terdengar.
" Wah, kalau itu memang benar berarti Claire sangat licik. Karena Tuan Elbert tidak membalas cintanya, jadi dia sengaja menjebak Tuan Elbert supaya ia tidak bisa menolaknya lagi ! Dasar wanita mu**h*n !" umpat Debby kesal, karena awalnya ia jadi ikut kagum dengan Claire yang terlihat begitu lembut dan pengertian ketika di wawancarai oleh media.
" Kalau begitu, kamu masih punya kesempatan untuk mendekati Tuan Elbert, Deb ....hahaha !" Anne menggoda Debby.
" Pengennya sih ... tapi aku tahu dirilah ! Selain tempat tinggal kita berjauhan, pasti sangat sulit untuk menggapai Tuan Elbert. Secara banyak saingan, mulai dari anak - anak orang kaya, artis belum lagi wanita licik itu ! Jadi, cukuplah memeluknya di dalam mimpi aja ... hahaha !" ujar Debby dengan wajah di buat memelas lalu tertawa lepas.
" Udah, dasar kalian berdua ini sama g**a nya ! Halu boleh tapi jangan ketinggian. Lagipula mana mungkin Tuan Elbert bisa menyukai wanita seperti kita yang hanya gadis biasa. Meskipun kita punya wajah secantik Felicie, tetap saja gak mungkin !" ujar Sarah mencibir ke arah Debby dan Anne.
" Eh, belum tahu juga Sarah ... kita gak tahu yang namanya jodoh ! Bisa saja Tuan Elbert langsung jatuh cinta begitu melihat wajah cantiknya Felicie ! Gue yang sesama wanita aja suka banget lihat wajahnya apalagi pria !" ujar Niken seraya memeluk badan Felicie yang sedari tadi hanya diam mendengarkan semua perkataan dan perdebatan di antara mereka sambil tetap melanjutkan pekerjaannya.
" Iya, ya ... kamu kenapa cantik banget, sih adikku sayang ! Kakak jadi gemas, deh ... Nikah yuk ! ujar Debby sembari berlutut seperti gerakan melamar seseorang.
" Hahaha ... dasar gak waras Lo ! Stress ... !" ujar mereka bersamaan.
Felicie pun ikut tertawa melihat kelakuan Debby. Mereka selalu bisa merubah suasana hati Felicie. Setiap hari ruangan ini selalu penuh dengan canda. Makanya Felicie gak pernah bosan meskipun harus lembur setiap hari.
" Iya, Feli ... kamu itu harusnya jadi artis aja ! Lumayan kami nanti bakalan ikut terkenal karena temenan dengan artis ... hahaha, " ujar Anne.
" Hee ... enggak deh, kak ! Aku lebih suka jadi designer dari pada jadi artis. Pasti pusing jika dikerubungi pa**ra*zi terus ! " ucap Felicie tersenyum tipis ke arah mereka.
" Iya juga, sih ... nanti kita gak bisa bebas kaya sekarang, ya ... !" sahut Anne dan Debby.
" Huss, diam ada yang datang ke sini !" ujar Niken seraya menaruh jarinya di mulut.
Mereka langsung terdiam begitu mendengar perkataan Niken. Memang terdengar suara langkah kaki mendekat ke ruangan mereka. Buru - buru mereka kembali ke mejanya masing - masing.
Ternyata benar, tidak lama Jenny pun masuk ke ruangan mereka.
" Feli ... kamu di panggil Nyonya Megan !" ujar Jenny.
" Baik, nona ... !" sahut Felicie seraya bangkit dari tempat duduknya sembari berpikir ada hal apa hingga ia sampai di panggil Nyonya Megan.
Bergegas ia mengikuti langkah Jenny menuju ruangan Nyonya Megan. Setelah tiba di depan pintu ruangan Megan, Jenny pun pergi meninggalkan Felicie sendiri.
Felicie mengetuk pintu ruangan itu pelan.
" Silahkan masuk !" ujar Nyonya Megan dari dalam ruangan.
" Baik ... !" Felicie segera membuka pintu dan kemudian masuk.
" Duduk Feli ....!" ujar Nyonya Megan dengan senyuman di - bibirnya menatap Felicie.
" Terima kasih, Nyonya Megan !" ucap Felicie sopan.
Felicie menunggu apa yang ingin di sampaikan Megan padanya.
" Kamu tahu kenapa saya memanggil kamu ?" tanya Megan.
" Maaf, Nyonya saya tidak tahu. Apa saya ada melakukan kesalahan ?" ucap Felicie dengan nada khawatir karena takut telah melakukan kesalahan tanpa ia sadari.
" Oh, tidak ... kamu tidak ada melakukan kesalahan apapun. Justru saya memanggil kamu kesini karena ingin menyampaikan kabar bahagia." ujar Megan tersenyum lebar melihat kecemasan di wajah Felicie.
" Maksud Nyonya .... ? " tanya Felicie gak mengerti arah dari pembicaraan mereka.
" Begini ... ada klien baru yang ingin menggunakan jasa kamu sebagai seorang designer untuk membuat gaun pernikahan nya." ujar Megan.
" Gaun pernikahan ....maksud nyonya ? " tanya Felicie gak yakin.
" Ya, ibu nya nona Claire ingin kamu yang membuat gaun untuk pernikahan anaknya. Dia sangat menyukai beberapa rancangan yang pernah kamu buat di kenakan oleh anak seorang pengusaha terkenal. Belum lagi anak temannya yang seorang artis terkenal juga memakai gaun rancangan kamu." ujar Megan menjelaskan.
__ADS_1
Jantung Felicie seketika berdebar begitu mendengar nama Claire di sebutkan oleh nyonya Megan.
" Apakah itu Claire yang di katakan nyonya Megan itu adalah orang yang sama dengan yang ada dalam pikirannya sekarang !" batin Felicie.
" Maaf, nyonya juga tahu sendiri ... saya belum pernah membuat sebuah gaun pernikahan. Saya hanya fokus membuat gaun - gaun untuk pesta saja. Jadi saya yakin tidak bisa mengerjakannya !" ucap Felicie berusaha menolak.
Walaupun yang sebenarnya ia sudah bisa membuatnya. Bahkan gaun pengantin untuk hadiah Airin , sedang ia kerjakan di - apartment dan sudah hampir selesai.
" Hmm ... saya sangat yakin kamu pasti bisa, membuat gaun pengantin itu, Felicie. Saya bisa melihat bakat besar yang kamu miliki. Buktinya hanya dalam waktu sebentar saja, kamu sudah bisa mengerjakan gaun - gaun yang sulit modelnya. Sementara team mu yang lebih senior kesulitan saat mencoba melakukan hal yang sama seperti yang kamu kerjakan. Di tambah lagi semua yang sudah memakai gaun buatan kamu sangat puas." ujar Nyonya Megan.
" Tapi Nyonya, maaf ... saya beneran tidak yakin kali ini !" ucap Felicie masih berusaha menolak.
" Tidak, kamu pasti bisa. Kamu tahu, jika kamu berhasil mengerjakan gaun ini maka namamu sebagai seorang designer muda akan semakin di kenal oleh setiap kalangan. Karena yang ingin memakai jasa kamu adalah nona Claire, anak seorang pengusaha besar yang akan menikah dengan Tuan Elbert Marshall, seorang pengusaha sukses dan terkenal di negara ini. Kamu pasti melihat saat acara pertunangan mereka di siarkan oleh semua stasiun televisi dan media." ujar Megan dengan wajah serius.
Deg ....jantungnya hampir lepas saat mendengar nama Elbert di sebutkan Nyonya Megan. Ternyata dugaan nya benar.
" Terima kasih atas kepercayaan yang nyonya Megan berikan pada saya. Tapi saya minta maaf, kali ini saya terpaksa harus menolak karena selain saya belum pernah mengerjakan sebuah gaun untuk pernikahan, saya juga dalam Minggu ini sedang menjalani ujian di kampus. Saya kuliah disini dengan biaya saya sendiri. Saya tidak ingin kuliah saya gagal. Apalagi yang paling besar alasan saya menolaknya adalah karena saya tidak ingin nama nyonya ikut tercemar jika saya nanti tidak berhasil mengerjakannya !" ucap Felicie dengan tegas menolak.
Nyonya Megan menghela nafas mendengar penolakan Felicie. Ia mengerti dengan alasan yang diberikan Felicie. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Felicie, ia belum mampu untuk mengerjakan tugas besar ini.
Tapi Megan bingung dan belum tahu harus memberikan alasan apa saat menolak permintaan itu. Ia tidak ingin membuat mereka tersinggung. Orang di belakang nona Claire adalah Tuan Elbert.
Namun Megan tidak ingin terus memaksa Felicie.
" Hmm ... baiklah, saya mengerti dan tidak akan memaksamu untuk mengerjakan gaun itu ! " ujar Megan setelah ia mendapatkan alasan yang tepat untuk menolak keinginan orang - orang berpengaruh itu.
Felicie langsung menghela nafas dengan lega setelah mendengar perkataan nyonya Megan yang bisa menerima alasannya. Itu berarti ia tidak akan bertemu dengan Elbert dan tunangannya.
Bukan ia pengecut, hanya Felicie tidak ingin lagi memiliki hubungan apapun yang menyangkut Elbert.
" Terima kasih ... Terima kasih nyonya Megan ! Saya sangat berterima kasih atas pengertian yang anda berikan." ucap Felicie sembari menundukkan kepalanya.
" Hmm ... kamu tidak perlu bersikap seperti ini. Alasan yang kamu berikan pada saya itu sudah tepat. Kamu harus lebih mementingkan kuliah mu agar bisa cepat selesai. " ujar Nyonya Megan.
" Ya, tentu saja nyonya. Terima kasih !" ucap Felicie tersenyum kecil.
" Hmm ... tapi saya minta tolong pada kamu, untuk ikut dalam kebohongan yang akan saya katakan pada nona Claire dan ibunya." ujar Nyonya Megan.
" Maksud Nyonya ... ?" tanya Felicie menatap Megan dengan tatapan terkejut.
" Begini, saya akan mengatakan pada nona Claire dan ibunya bahwa kamu sudah pulang ke negara kamu untuk beberapa bulan ini karena harus menjaga keluarga mu yang sedang sakit keras. Jadi mereka tidak akan memaksa lagi. Untuk membuat mereka percaya, sementara ini kamu jangan datang ke butik. Cukup kerjakan tugas kamu di - apartment. Biar nanti saya menyuruh Jenny mengantarkan semua yang harus kamu kerjakan. Kamu tetap kerja, tapi dari apartment saja." ujar Nyonya Megan memberitahu rencananya.
Felicie terbelalak mendengar perkataan Nyonya Megan. Ia tidak menyangka kalau nyonya Megan bahkan rela berbohong demi dirinya.
" Baiklah nyonya Megan ... saya setuju ! Maaf, karena saya nyonya harus berbohong." ucap Felicie terharu.
" Hmm ... tidak apa - apa. Lagi pula saya memang harus menolak mereka. Saya tidak suka melihat sikap angkuh Claire saat meminta kamu untuk datang menemuinya." ujar Megan.
Felicie menarik nafas panjang mendengarkan hal ini. Untung saja nyonya Megan mendukungnya. Kalau tidak ia harus bertemu dengan Elbert lagi. Padahal hal itulah yang paling ingin ia hindari.
" Terima kasih nyonya Megan. " hanya ini yang bisa ia katakan.
" Hmm ... sudahlah ! Sebaiknya hal ini hanya diketahui kita bertiga saja. Kamu, saya dan Jenny. Jangan beritahu teman - teman satu team kamu. Untuk sekarang kerjakan tugas kamu sampai selesai baru saya akan mengeluarkan surat cuti kamu agar lebih terlihat meyakinkan." ujar Megan.
" Baik, nyonya ... sekali lagi terima kasih !" ucap Felicie.
" Ya, sekarang kamu kembali bekerja agar teman - teman kamu gak curiga."
" Ya, baik nyonya. Kalau begitu saya permisi !" ucap Felicie.
" Ya ... " ujar Megan.
__ADS_1
Felicie lalu membalikkan badan dan segera keluar dari ruangan Megan dengan perasaan lega.
**********************************