
Setelah Felicie berhasil menjual apartment yang ia tempati dengan bantuan Airin dan Devan, ia pun pindah ke apartment barunya.
Sebelum ia pindah, Felicie mengatakan pada Airin dan Devan untuk tidak memberitahu siapapun tentang letak tempat tinggal barunya. Cukup hanya mereka berempat yang mengetahuinya.
Sekarang sudah hampir seminggu Felicie menempati apartment barunya ini, meskipun pada awalnya ia sempat terkejut ketika mengetahui kalau Dave tinggal di unit sebelah apartemennya. Tapi kini justeru ia merasa senang karena ia jadi ada teman ngobrol yang menemaninya bekerja setiap malam hari. Penghuni apartment yang juga tinggal bertetangga dengan Felicie, walaupun bersikap cuek tapi tetap saling menyapa jika mereka berpapasan di lorong apartment.
Memang inilah yang Felicie inginkan, cukup saling menyapa tanpa harus terlalu dekat. Ia sulit untuk sekedar basa - basi. Baginya yang terpenting sekarang kerja, kerja, kerja dan kuliah.
Perlahan meski belum sepenuhnya Felicie bayangan
Elbert sudah mulai terkikis di - ingatannya. Mungkin karena ia berusaha keras untuk melupakannya. Terlebih lagi ketiga sahabatnya terus menghiburnya dan membuatnya tertawa. Terutama Dave.
Sembari mengerjakan pekerjannya dari butik, Felicie mulai merancang baju atas nama labelnya sendiri. Meskipun ia belum mulai memasarkannya, karena ia masih sibuk menyelesaikan tugasnya yang di berikan nyonya Megan.
Rencana nya setelah pekerjaan Felicie dari butik selesai dan ujian di kampusnya rampung, baru ia akan memasarkan pakaian hasil rancangannya.
Semua ide ini karena Dave yang mengusulkannya. Hingga membuat Felicie semangat. Ia sengaja tidak membuat gaun pesta ataupun gaun - gaun mewah seperti yang ia kerjakan di butik melainkan gaun - gaun yang simpel tapi elegan juga pakaian buat anak - anak remaja yang bisa di - pakai buat kuliah sehari - hari dengan model yang unik.
Dave juga yang mencarikan beberapa tukang jahit untuk membantu Felicie menyelesaikan pakaiannya itu. Untuk koleksi pertamanya ini Felicie tidak membuat terlalu banyak setiap helai nya. Selain itu ia juga sengaja melakukannya agar lebih terkesan eksklusif. Felicie ingin lebih dulu melihat minat dari pembeli. Jika tanggapan dari mereka bagus, baru rencana nya Felicie mulai melanjutkan koleksi lainnya.
Felicie terpaksa menghentikan kegiatannya karena handphonenya berdering dengan keras. Ia merasa terganggu karena saat ini ia sedang menjahit sebuah kemeja buat pria. Ia berencana untuk memberikannya pada Dave dan Devan. Sedangkan Airin akan ia buatkan sebuah gaun yang warnanya senada dengan Devan.
Felicie langsung tersenyum begitu melihat nama Dave yang muncul di sana. Sudah dua hari ini, Dave pergi bersama teman - temannya dari organisasi yang ada di - kampus. Sebagai ketua organisasi, Dave wajib ikut pergi meskipun pada awalnya ia menolak. Tapi karena Felicie memarahinya, Dave terpaksa ikut juga.
"Hai, Dave ... !" ucap Felicie.
" Hai, Felicie ... suara kamu kelihatannya lagi bahagia. Pasti kamu senang karena gak ada yang gangguin kamu, ya ....!" ujar Dave di balik handphone dengan nada kesal.
" Hah .... hahaha. Iya, kog, tahu !
Lama - lama aja, ya pulangnya.
Lumayan, jadi apartment ku sedikit lebih tenang karena aku gak harus mendengar suara kamu yang bawel." ledek Felicie.
" Wah, kamu ya ... ! Awas, besok aku pulang bakalan aku gangguin terus biar kamu gak bisa tidur." ujar Dave sembari meringis dan menghela nafas panjang.
Ia sedang berusaha menekan rasa rindunya pada Felicie. Sebenarnya inilah alasan Dave meneleponnya. Ia ingin mendengar suara Felicie yang selalu bisa menentramkan hatinya.
Sebenarnya sejak kemarin ia ingin menghubungi Felicie, tapi selalu ada yang menganggu nya. Apalagi mantan kekasihnya juga ikut pergi dalam rangkaian acara ini dan dengan sangat menyebalkan tanpa tahu malu terus berusaha menempel padanya. Baru hari inilah ia ada waktu kosong dengan suasana aman karena mantan nya Dave di ajak pergi sama temannya hingga akhirnya ia bisa memiliki kesempatan menghubungi Felicie.
Dave ikut bahagia jika melihat Felicie sedang tertawa. Makanya baik Dave, Airin maupun Devan tidak pernah mengungkit apapun lagi mengenai Elbert di depan Felicie. Kisah itu sengaja mereka kubur. Mereka tidak ingin Felicie mengingat kembali semua kenangan buruk yang di sebabkan Elbert.
" Hei, kog cepat banget pulangnya tapi kamu bilang lima hari ?" ucap Felicie dengan nada terkejut.
" Ya, seharusnya lima hari, tapi karena aku rindu sama kamu jadi aku pulang duluan. Mereka sudah dewasa, jadi gak perlu aku temani lebih lama lagi. " kata Dave yang segera tersadar dari lamunannya.
" Alah, bilang aja kamu rindu pengen makan masakan ku ... !" sahut Felicie cepat. Ia memang sudah mulai terbiasa dengan sikap Dave yang bicara sesuka hatinya.
" Tuh, kamu tahu ... lumayan kan makan gratis. Jadi, bisa menghemat uang ku !" ujar Dave sembari tertawa.
" Huh, katanya anak pengusaha tapi kog, pelit ... !" ledek Felicie.
__ADS_1
" Yang pengusaha itu papa ku bukan aku, aku hanya seorang mahasiswa biasa ... hiks !" suara Dave sengaja di buat memelas.
" Hahaha ... ada - ada aja kamu, Dave ! Jadi, beneran kamu pulangnya besok ? Kalau iya biar aku masakin makanan kesukaan kamu ! " tawa Felicie terdengar indah di telinga Dave, saat ia menanyakan hal ini.
" Iya, Feli ... aku pulang besok. Aku gak betah disini, abisnya gak ada kamu, sih ... ! " ujar Dave dengan jujur.
Ia sudah sering melakukan hal ini pada Felicie, tapi dengan cara bercanda jadi Felicie tetap menyikapinya dengan santai.
" Huek ... !" Felicie sengaja membalas perkataan Dave dengan berpura - pura mau muntah.
" Felicie .. kamu kog, bisa hamil ? Kita kan belum pernah ngapa - ngapain !" Dave semakin senang mengusili Felicie kalau sudah begini.
" Dasar gak waras ... udah aku tutup teleponnya. Aku mau melanjutkan jahitan ku !" kekeh Felicie sembari memutuskan sambungan telepon mereka.
Dave tersenyum lebar mendengar omongan Felicie. Ia tidak marah meskipun Felicie mengatakan dia gak waras dan memutuskan obrolan mereka. Dengan membuatnya tertawa, Dave sudah bahagia.
Felicie kembali melanjutkan jahitannya. Jika Dave pulang besok, berarti ia harus menyelesaikan kemeja buatnya malam ini juga.
Sementara itu di kota lain, seorang pria di sebuah kamar yang luas sedang menatap sebuah foto di galeri handphonenya dengan mata sendu. Ia sangat merindukan wanita yang sudah mengisi semua relung di hatinya. Tapi ia sudah menyakitinya.
Sejak dua Minggu yang lalu, ia sudah berapa kali, menghubungi nomernya tapi gak bisa di hubungi sama sekali. Sepertinya ia sengaja memblokir nomer nya atau malah menukar nomer handphonenya agar ia gak bisa menghubungi.
Hingga akhirnya, setelah ia menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki dan mencari tahu, ia pun bisa mendapatkan nomer baru wanita yang begitu ia cintai.
Tapi sejak tadi, tangannya terus gemetar saat ingin menekan nomer gadis itu.
Sebenarnya ia sudah berjanji untuk tidak menganggu dan menghubunginya sebelum ia bisa menyelesaikan semua masalah yang menjeratnya. Tapi ia sudah gak sanggup untuk menahan rasa rindu di hatinya.
Matanya berbinar karena bahagia saat terdengar handphonenya sudah tersambung.
Felicie mengerutkan keningnya, begitu melihat nomer asing yang menghubunginya. Awalnya ia tidak memperdulikan hingga dering handphonenya mati dengan sendirinya.
Tapi lagi, lagi dan lagi nomer asing itu terus menghubungi Felicie, hingga menganggu konsentrasi Felicie yang sedang menyiapkan kemeja buat Dave.
Hal ini membuat Felicie marah, dengan cepat ia menggeser tombol jawab. Ia ingin melampiaskan amarahnya karena nomer ini sudah mengusiknya.
" Halo ! Siapa ini ... kalau mau iseng jangan disini !" bentak Felicie begitu menjawab panggilan masuk itu.
Tapi tak terdengar suara sedikitpun, yang ada hanya sebuah helaan nafas berat. Seakan - akan yang meneleponnya punya begitu banyak beban.
" Hei, ngomong kalau berani ! Jangan cuma diam. " walaupun kesal Felicie masih tetap menunggu suara di balik handphone itu. Tapi lagi - lagi hanya helaan nafas yang terdengar. Seakan - akan yang menelponnya memang sengaja cuma ingin mendengar suara Felicie.
Karena Felicie harus segera menyiapkan jahitannya dan tidak ingin meladeni telepon iseng itu lagi akhirnya dengan kesal ia segera memutuskan panggilan masuk tersebut.
Sementara itu pria ini duduk mematung seperti tidak memiliki tenaga dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya begitu ia bisa mendengar kembali suara gadisnya meski hanya sebentar. Suara yang sangat ia rindukan. Jantungnya tidak bisa berhenti berdetak dengan cepat. Seakan - akan ingin memberontak untuk keluar. Membuat nya ingin sekali ia berlari ke sana, memeluknya dan tidak melepaskan nya lagi untuk selama nya. Tapi ia terlalu pengecut untuk berani menatap wajah gadis itu, saat ini. Bahkan ketika mendengar suaranya saja ia tidak bisa mengeluarkan semua kata - kata yang ingin ia ucapkan.
Mulutnya mendadak terkunci.
Tapi ia juga merasa senang saat mendengar kalau gadis itu sepertinya baik - baik saja sekarang.
" Huh, hari gini masih ada aja orang kurang kerjaan kaya gitu !" Felicie ngedumel dengan raut wajah kesal, sembari melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Tidak begitu lama terdengar handphone Felicie kembali berbunyi menandakan ada pesan masuk buatnya. Felicie terpaksa menghentikan pekerjaan nya sebentar dan meraih handphone yang ia letakkan di meja.
Mata Felicie seketika terbelalak saat membaca pesan itu.
" Maafkan aku !" isi pesan itu, meski singkat tapi membuat Felicie mendadak kaku.
Dadanya berdebar saat membacanya. Entah kenapa, Felicie langsung berpikir kalau pesan singkat itu dari Elbert.
Tapi jika memang pesan itu dari dia, bagaimana Elbert bisa mengetahui nomer baru Felicie.
Tidak lama masuk sebuah pesan lagi di handphone Felicie.
" Bolehkah aku yang pengecut ini meminta agar kau bisa tetap percaya padaku !".
Membaca isi pesan ini membuat Felicie benar - benar yakin kalau Elbert yang mengirim kannya.
Hanya dia pria yang pernah meminta Felicie untuk tetap percaya dengannya.
" Aku tidak merasa mengenalmu. Jadi untuk apa minta maaf dan memintaku untuk percaya. Jadi, tolong jangan pernah mengirimkan pesan apapun lagi padaku." balas Felicie lalu memblokir nomer itu yang sudah membuat hatinya resah.
Elbert yang mendapat balasan seperti itu dari Felicie seketika terhenyak. Ia benar - benar semakin hancur saat ia memutuskan untuk menelepon Felicie, dan kembali memberanikan diri untuk menyapanya tapi handphone Felicie sudah gak aktif. Elbert melihat kalau nomernya sudah di blokir olehnya. Felicie benar - benar ingin menghapus semua tentang Elbert dari hidupnya.
Mulai dari memulangkan mobil, menjual apartemen nya, mengganti nomer handphonenya.
Bahkan Felicie langsung memblokir nomernya.
" Sebesar itukah rasa bencimu padaku, Feli ... ? Tolong, maafkan aku ... !" ujar Elbert dengan menatap nanar foto Felicie.
Bagaimana Elbert terluka saat ini, begitu juga yang di rasakan Felicie. Meski ia sudah mencoba menahan tapi tetap saja air matanya memberontak untuk keluar.
" Kenapa kau harus menganggu ku kembali setelah aku hampir berhasil menghapus namamu.
Kenapa, El ... !" ucap Felicie sembari menekan dadanya yang terasa sakit.
Felicie tidak menyadari ia menangis sampai berapa lama hingga membuat matanya bengkak dan kepalanya mulai terasa pusing. Karena kelelahan ia pun tertidur di atas sofa.
Tapi baru satu jam ia tertidur , Felicie terbangun dan merasa ada yang belum ia selesaikan. Ia seperti mendapatkan energinya kembali ketika mata nya langsung tertuju pada kemeja Dave yang belum ia selesaikan, padahal besok, kemeja itu ingin ia berikan pada Dave, yang sudah bersabar menghadapinya selama masa sulitnya. Ia pun tersadar kalau ia tidak boleh melakukan hal bodoh ini lagi. Sudah cukup ia membuat Dave, Airin dan Devan khawatir.
" Kau sudah baik - baik saja selama ini, Feli ... jadi tetaplah seperti itu ! Jangan bodoh ! Pria seperti dia tidak pantas mendapatkan cinta darimu !" ucap Felicie mencoba tersenyum di depan cermin sebelum ia melanjutkan kembali menyelesaikan kemeja buat Dave.
Syukurnya hatinya sekarang lebih cepat pulih dibandingkan waktu itu saat ia melihat Elbert tunangan.
Mungkin karena ia sudah lelah memikirkan semua drama yang gak penting itu. Apalagi ia tidak boleh berharap apapun lagi, karena tak lama lagi Elbert dan Claire akan segera menikah. Buktinya wanita itu sudah meminta nyonya Megan untuk memakai jasaku untuk membuat gaun pengantin untuknya.
Jadi untuk apa membuang waktu untuk memikirkan Elbert.
" Okey, semangat Felicie ! " ucap Felicie lalu melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Elbert masih terpuruk. Ia semakin jatuh ke dalam pusaran luka. Ia tidak sanggup memikirkan jika Felicie sudah membenci dirinya. Walaupun ia sadar sepenuhnya semua itu pantas ia terima. Wanita mana yang bisa percaya jika melihat pria yang mengatakan cinta dan mengungkapkan perasaannya tetapi malah bertunangan dengan wanita lain.
**********************************
__ADS_1