
Bagas pun panik melihat isterinya jatuh pingsan. Ia mengangkat badan Sisca lalu meletakkannya di sofa. Vera dan Vina lalu memijit kepala Sisca setelah menaruh minyak angin yang selalu dibawa Sisca, karena ia sering merasa pusing.
" Bagas, kamu dengarkan perkataan Felicie. Jadi sebaiknya
kalian segera mengemasi semua
barang kalian dari rumah Felicie, anakku. Jangan coba membawa yang bukan milik kalian, karena anak buah ku akan ikut dan akan mengawasi kalian. Begitu juga dengan perusahaan. Aku akan memprosesnya besok. Sebaiknya kamu jangan pernah
mencoba berbuat curang di belakangku. Karena aku tahu, kamu telah memalsukan nama pemilik perusahaan dan aku bisa dengan sangat mudah menyelidiki sebab dari kematian pengacara perusahaan Papanya Felicie." ucap William dengan menatap tajam mengintimidasi
Bagas.
Bagas hanya bisa menganggukkan kepala menyetujui perkataan William tanpa berani membantahnya.
Ia tahu William tidak pernah
main - main dengan ucapannya.
" Satu lagi, karena anakmu sangat ingin menjadi isterinya Aaron bahkan sampai rela menggunakan
tubuhnya, maka dengan senang
hati aku akan menaruhnya
di mansion agar ia tidak bisa
kabur sebelum Aaron puas bermain - main dengannya." ujar
William lagi dengan datar.
" Tuan, bisakah kesalahan anak saya Vera, dimaafkan ... saya akan
melakukan apapun yang Tuan katakan, agar anak saya bisa bebas dari hukuman Tuan Aaron.
Saya ikhlas, jikapun Vera nanti hamil kami tidak akan meminta
Tuan Aaron untuk bertanggung jawab untuk membesarkannya.
Tolong ceraikan Vera ... " ujar Bagas mencoba memberanikan diri. Karena ia tahu, Vera akan
mengalami hari - hari yang menyedihkan jika tetap bersama
Aaron. Apalagi, karena hal ini
membuat Felicie minta bercerai dengan Aaron. Padahal, Bagas tahu kalau Tuan William sangat menginginkan Felicie
tetap menjadi menantunya.
" Hahahaha ... bukankah tadi Pak Bagas mengatakan pada saya, bahwa kau tidak ingin anakmu hamil tanpa memiliki suami. Jadi kenapa sekarang berbeda ?
Karena saya dan Aaron sangat setuju dengan keinginan kalian,
kami juga tidak akan tega membiarkan anakmu hamil
tanpa didampingi suaminya yaitu Aaron. Oya, satu lagi ... kamu gak perlu khawatir, Aaron pasti akan
menceraikan anakmu setelah ia
mulai bosan menyiksa anakmu."
suara tawa William terdengar sangat menyeramkan.
" Sebaiknya kalian pergi sekarang,
dan aku akan mengurus isteri ku
yang polos ini ... " kata Aaron dengan seringai yang muncul di bibirnya.
" Tuan Aaron, tolonglah biarkan Vera ikut pulang bersama kami.
Kasihanilah dia ... " Bagas memohon dengan bersujud di kaki Aaron.
Sisca yang baru saja tersadar dari pingsannya bersama kedua anaknya tidak tega melihat hal ini.
Demi menyelamatkan Vera, Bagas sampai rela membuang harga dirinya. Sisca dan kedua anaknya hanya bisa menangis meratapi nasib mereka.
" Pak Bagas, anda membuang - buang waktu memohon seperti ini. Bagaimana mungkin saya akan membiarkan isteri yang baru saja saya nikahi dibawa pulang kerumah orang tuanya. Nanti apa
penilaian orang terhadap Vera.
Bisa saja mereka berfikir, kalau anak anda tidak diinginkan sama
__ADS_1
suaminya. Walaupun memang kenyataannya seperti itu. Pasti
Pak Bagas gak mau kan kalau
Vera digunjingkan sama tetangga
di lingkungan tempat Bapak tinggal ? " Aaron sangat meremehkan Bagas ketika mengatakan hal ini.
" Gak papa, Tuan Aaron ... kami siap mendengar semua gunjingan asal anak saya boleh di bawa pulang." ucap Bagas memohon.
" Gak mungkin, Pak Bagas ... Vera harus bertanggung - jawab atas perbuatannya. Bukankah dia sangat ingin menggantikan Felicie sehingga sampai berani menjebak saya. Jadi sebaiknya anda dan keluarga segera pergi dari kamar saya. Saya lelah dan mau istirahat." kata Aaron tanpa perasaan.
" Rio, panggil sekuriti dan usir mereka keluar sekarang juga. Saya mau bicara dengan
isteri Aaron yang baru." perintah William pada Rio, asistennya.
Karena ia juga sudah mulai muak melihat drama yang di perlihatkan keluarga ini.
" Baik, Tuan ... " jawab Rio lalu memanggil sekuriti rumah sakit. Tak butuh lama, datang tiga orang sekuriti ke dalam ruangan Aaron dan segera menarik Bagas beserta keluarganya dari ruangan Aaron.
" Jangan pernah izinkan mereka
untuk bisa masuk kesini lagi. Begitu juga ke mansion." perintah William tegas.
Vera hanya bisa meratapi nasib sialnya. Ia terus menangis dan semakin ketakutan melihat kepergian kedua orang tuannya.
Apalagi tadi mereka dipaksa keluar dengan cara ditarik dengan kasar. Vera memberanikan diri untuk mendekati dan bicara pada Aaron agar bersedia memaafkan perbuatannya. Tapi belum juga melangkah, sudah terdengar suara keras dari Aaron untuk menghentikan niatnya.
" Jangan pernah berani untuk mendekatiku lagi kalau tidak mau kakimu itu aku patahkan." kata Aaron dengan nada mengancam.
" Hmm ... sudah, biar wanita ini Daddy bawa ke mansion jadi kamu dan Felicie bisa membicarakan masalah perceraian kalian dengan tenang."
kata William pada Aaron sambil memerintahkan Rio untuk menarik badan Vera keluar dari kamar Aaron.
" Baik, Dad ... terima kasih." sahut Aaron senang. Karena ia juga pasti akan semakin emosi jika terus melihat wajah Vera yang sangat menjijikkan.
" Hmm ... nak, Daddy pulang.
Agar kalian bisa lebih leluasa
berbicara." ucap William pada Felicie yang sedikit merasa kasihan melihat nasib Vera.
" Ya, Daddy .. terima kasih atas semua bantuan yang Daddy
lakukan buat Felicie." ujar Felicie.
" Itu bukan bantuan nak, tapi merupakan syarat dari kamu.
Lagi pula semua itu memang milik kamu, jadi sudah sewajarnya kembali padamu. Okey, Daddy jalan dulu ya ... " kata William dengan sangat lembut pada Felicie.
Aaron yang melihat ini semakin menyesali kebodohannya. Andai saja ia tidak menuruti rasa egois dan nafsunya untuk menikah dengan Giselle. Mungkin saat ini, ia dan Felicie bisa menjadi pasangan yang bahagia karena mendapatkan restu dari William, Daddy nya. Tidak seperti sekarang, ia harus menyembunyikan pernikahannya dengan Giselle agar Daddy tidak mengetahuinya.
Setelah kepergian William, Aaron menatap Felicie dengan perasaan
sedih dan bersalah. Sedih, karena
akhirnya mereka akan segera berpisah dan perasaan bersalah karena sejak ia bersama Felicie, belum pernah sekalipun ia memperlakukan Felicie dengan baik.
Felicie yang tahu, kalau Aaron terus menatapnya merasa risih. Jadi ia ingin segera memberikan tanda tangannya di berkas perceraian mereka agar bisa secepatnya pergi dari ruangan ini.
" Zi ... mana berkasnya biar segera gue tanda tangani." ucap Felicie.
Suara Felicie menghentikan lamunan Aaron. Ia semakin bersedih mendengarnya. Felicie ternyata sudah benar - benar gak sabar untuk berpisah dengannya.
Bahkan untuk berlama - lama di satu ruangan yang sama dengan Aaron juga ia enggan.
" Apakah setelah kita bercerai, kamu akan menikah dengan pria bernama Elbert itu ? " tanya Aaron cemburu melihat Felicie memberikan tanda tangannya di atas kertas berkas perceraian mereka.
" Itu bukan urusan Lo " sahut Felicie dingin tanpa menoleh pada Aaron.
Aaron benar - benar terdiam begitu mendengar jawaban sai Felicie. Ternyata Felicie begitu membenci dan tak menganggapnya sama sekali.
Tommy yang kasihan melihat keadaan Aaron sekarang berusaha untuk menghiburnya.
Ia tahu, Aaron pasti sekarang sedang menyesali semuanya.
" Gak mungkinlah Felicie menikah dengan Elbert. Mereka kan cuma teman. Pasti Felicie lebih
mementingkan untuk
meneruskan kuliahnya, ya kan Feli ... ? " kata Tommy.
__ADS_1
Felicie gak menjawab perkataan Tommy, walaupun yang di katakan
nya itu benar sekali. Felicie akan segera kuliah setelah keputusan
cerai mereka keluar.
Aaron merasa senang mendengar perkataan Tommy, hingga tak sadar ia tersenyum kearah Felicie.
" Felicie bisa tetap meneruskan kuliahnya jika ia bersedia menikah dengan gue Gimana Ron ... Lo gak marahkan, kalau Felicie menikah dengan gue " tanya Zico datar.
Aaron ingin sekali merobek mulut Zico yang tidak merasa bersalah
mengatakan ini kepadanya.
Walaupun ia sudah tahu Zico menyukai isterinya dan ia pria yang baik , tapi bukan berarti ia rela Felicie harus menikah secepat ini. Apalagi dengan sahabatnya sendiri.
Tommy cuma bisa mengusap wajahnya melihat sikap Zico.
Tapi ia juga gak bisa terlalu menyalahkannya, karena baru kali ini Zico benar - benar menyukai seorang wanita.
Suasana di kamar ini menjadi hening seketika.
" Urusan gue sudah selesai disini.
Jadi sebaiknya gue pergi." ujar Felicie memecahkan keheningan yang terjadi di ruangan ini.
Aaron yang melihat Felicie ingin melangkah keluar segera menahannya dengan memanggil nama Felicie sehingga menghentikan langkahnya.
" Fei ...aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan sama kamu. Tapi bisakah kita bercerai, kita berteman. Bolehkah aku jadi teman kamu, Fei ... ? " suara Aaron terdengar lirih saat mengatakan hal ini.
Felicie merasa agak tersentuh dengan kata maaf yang keluar dari mulut Aaron. Sebenarnya dalam hal ini, Aaron juga tidak terlalu pantas di salahkan,. ia juga terpaksa menikah dengan Felicie. Jadi wajar saja, ia bersikap seenaknya. Justru dengan sikapnya ini sangat memberikan keuntungan
pada Felicie. Coba saja jika tidak ada perjanjian itu dan Aaron memaksa meminta haknya sebagai suami pasti Felicie tidak akan semudah ini pergi darinya. Karena ada kemungkinan dia bisa hamil jika telah melakukan hal itu.
Memang Aaron pernah bersikap kurang ajar dan berniat melecehkannya, tapi bukankah ia juga sudah mendapatkan hukuman yang pantas ia terima.
Tubuhnya penuh luka dibuat Felicie bahkan belum sembuh hingga saat ini.
" Fei, bisakah aku jadi temanmu ?"
tanya Aaron lagi karena melihat
Felicie tak bergeming.
" Maaf dari lo gue terima. Tapi untuk jadi teman, maaf ... gue gak bisa." setelah mengatakan hal ini,
Felicie langsung melangkah pergi.
Aaron terlihat begitu terpuruk mendengar penolakan dari Felicie.
Bahkan untuk menerimanya jadi seorang teman Felicie gak bersedia. Begitu besarkah rasa benci Felicie padanya ? Pertanyaan ini memenuhi kepala
Aaron.
Tommy dan Zico mengerti kalau
Aaron sedih dengan penolakan
Felicie. Zico menepuk pundak Aaron untuk memberinya semangat.
Sementara Tommy mencoba
menghibur Aaron dengan memberikan kata - kata nasihat
pada Aaron.
" Lo sabar bro, mungkin sekarang
Felicie belum mau menerima Lo sebagai teman tapi kita gak tahu apa yang terjadi kedepannya.
Jadi Lo harus tetap semangat." ujar Tommy.
Aaron hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar kata - kata Tommy.
" Ya, aku harus tetap semangat.
Aku akan membuktikan pada Felicie bahwa aku akan jadi pria yang lebih baik dan akan tetap
menunggunya sampai ia bisa membuka hatinya padaku." ucap Aaron dengan penuh keyakinan dalam hati.
**********************************
__ADS_1