Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 49


__ADS_3

Bagas pun panik melihat isterinya jatuh pingsan. Ia mengangkat badan Sisca lalu meletakkannya di sofa. Vera dan Vina lalu memijit kepala Sisca setelah menaruh minyak angin yang selalu dibawa Sisca, karena ia sering merasa pusing.


" Bagas, kamu dengarkan perkataan Felicie. Jadi sebaiknya


kalian segera mengemasi semua


barang kalian dari rumah Felicie, anakku. Jangan coba membawa yang bukan milik kalian, karena anak buah ku akan ikut dan akan mengawasi kalian. Begitu juga dengan perusahaan. Aku akan memprosesnya besok. Sebaiknya kamu jangan pernah


mencoba berbuat curang di belakangku. Karena aku tahu, kamu telah memalsukan nama pemilik perusahaan dan aku bisa dengan sangat mudah menyelidiki sebab dari kematian pengacara perusahaan Papanya Felicie." ucap William dengan menatap tajam mengintimidasi


Bagas.


Bagas hanya bisa menganggukkan kepala menyetujui perkataan William tanpa berani membantahnya.


Ia tahu William tidak pernah


main - main dengan ucapannya.


" Satu lagi, karena anakmu sangat ingin menjadi isterinya Aaron bahkan sampai rela menggunakan


tubuhnya, maka dengan senang


hati aku akan menaruhnya


di mansion agar ia tidak bisa


kabur sebelum Aaron puas bermain - main dengannya." ujar


William lagi dengan datar.


" Tuan, bisakah kesalahan anak saya Vera, dimaafkan ... saya akan


melakukan apapun yang Tuan katakan, agar anak saya bisa bebas dari hukuman Tuan Aaron.


Saya ikhlas, jikapun Vera nanti hamil kami tidak akan meminta


Tuan Aaron untuk bertanggung jawab untuk membesarkannya.


Tolong ceraikan Vera ... " ujar Bagas mencoba memberanikan diri. Karena ia tahu, Vera akan


mengalami hari - hari yang menyedihkan jika tetap bersama


Aaron. Apalagi, karena hal ini


membuat Felicie minta bercerai dengan Aaron. Padahal, Bagas tahu kalau Tuan William sangat menginginkan Felicie


tetap menjadi menantunya.


" Hahahaha ... bukankah tadi Pak Bagas mengatakan pada saya, bahwa kau tidak ingin anakmu hamil tanpa memiliki suami. Jadi kenapa sekarang berbeda ?


Karena saya dan Aaron sangat setuju dengan keinginan kalian,


kami juga tidak akan tega membiarkan anakmu hamil


tanpa didampingi suaminya yaitu Aaron. Oya, satu lagi ... kamu gak perlu khawatir, Aaron pasti akan


menceraikan anakmu setelah ia


mulai bosan menyiksa anakmu."


suara tawa William terdengar sangat menyeramkan.


" Sebaiknya kalian pergi sekarang,


dan aku akan mengurus isteri ku


yang polos ini ... " kata Aaron dengan seringai yang muncul di bibirnya.


" Tuan Aaron, tolonglah biarkan Vera ikut pulang bersama kami.


Kasihanilah dia ... " Bagas memohon dengan bersujud di kaki Aaron.


Sisca yang baru saja tersadar dari pingsannya bersama kedua anaknya tidak tega melihat hal ini.


Demi menyelamatkan Vera, Bagas sampai rela membuang harga dirinya. Sisca dan kedua anaknya hanya bisa menangis meratapi nasib mereka.


" Pak Bagas, anda membuang - buang waktu memohon seperti ini. Bagaimana mungkin saya akan membiarkan isteri yang baru saja saya nikahi dibawa pulang kerumah orang tuanya. Nanti apa


penilaian orang terhadap Vera.


Bisa saja mereka berfikir, kalau anak anda tidak diinginkan sama

__ADS_1


suaminya. Walaupun memang kenyataannya seperti itu. Pasti


Pak Bagas gak mau kan kalau


Vera digunjingkan sama tetangga


di lingkungan tempat Bapak tinggal ? " Aaron sangat meremehkan Bagas ketika mengatakan hal ini.


" Gak papa, Tuan Aaron ... kami siap mendengar semua gunjingan asal anak saya boleh di bawa pulang." ucap Bagas memohon.


" Gak mungkin, Pak Bagas ... Vera harus bertanggung - jawab atas perbuatannya. Bukankah dia sangat ingin menggantikan Felicie sehingga sampai berani menjebak saya. Jadi sebaiknya anda dan keluarga segera pergi dari kamar saya. Saya lelah dan mau istirahat." kata Aaron tanpa perasaan.


" Rio, panggil sekuriti dan usir mereka keluar sekarang juga. Saya mau bicara dengan


isteri Aaron yang baru." perintah William pada Rio, asistennya.


Karena ia juga sudah mulai muak melihat drama yang di perlihatkan keluarga ini.


" Baik, Tuan ... " jawab Rio lalu memanggil sekuriti rumah sakit. Tak butuh lama, datang tiga orang sekuriti ke dalam ruangan Aaron dan segera menarik Bagas beserta keluarganya dari ruangan Aaron.


" Jangan pernah izinkan mereka


untuk bisa masuk kesini lagi. Begitu juga ke mansion." perintah William tegas.


Vera hanya bisa meratapi nasib sialnya. Ia terus menangis dan semakin ketakutan melihat kepergian kedua orang tuannya.


Apalagi tadi mereka dipaksa keluar dengan cara ditarik dengan kasar. Vera memberanikan diri untuk mendekati dan bicara pada Aaron agar bersedia memaafkan perbuatannya. Tapi belum juga melangkah, sudah terdengar suara keras dari Aaron untuk menghentikan niatnya.


" Jangan pernah berani untuk mendekatiku lagi kalau tidak mau kakimu itu aku patahkan." kata Aaron dengan nada mengancam.


" Hmm ... sudah, biar wanita ini Daddy bawa ke mansion jadi kamu dan Felicie bisa membicarakan masalah perceraian kalian dengan tenang."


kata William pada Aaron sambil memerintahkan Rio untuk menarik badan Vera keluar dari kamar Aaron.


" Baik, Dad ... terima kasih." sahut Aaron senang. Karena ia juga pasti akan semakin emosi jika terus melihat wajah Vera yang sangat menjijikkan.


" Hmm ... nak, Daddy pulang.


Agar kalian bisa lebih leluasa


berbicara." ucap William pada Felicie yang sedikit merasa kasihan melihat nasib Vera.


" Ya, Daddy .. terima kasih atas semua bantuan yang Daddy


lakukan buat Felicie." ujar Felicie.


" Itu bukan bantuan nak, tapi merupakan syarat dari kamu.


Lagi pula semua itu memang milik kamu, jadi sudah sewajarnya kembali padamu. Okey, Daddy jalan dulu ya ... " kata William dengan sangat lembut pada Felicie.


Aaron yang melihat ini semakin menyesali kebodohannya. Andai saja ia tidak menuruti rasa egois dan nafsunya untuk menikah dengan Giselle. Mungkin saat ini, ia dan Felicie bisa menjadi pasangan yang bahagia karena mendapatkan restu dari William, Daddy nya. Tidak seperti sekarang, ia harus menyembunyikan pernikahannya dengan Giselle agar Daddy tidak mengetahuinya.


Setelah kepergian William, Aaron menatap Felicie dengan perasaan


sedih dan bersalah. Sedih, karena


akhirnya mereka akan segera berpisah dan perasaan bersalah karena sejak ia bersama Felicie, belum pernah sekalipun ia memperlakukan Felicie dengan baik.


Felicie yang tahu, kalau Aaron terus menatapnya merasa risih. Jadi ia ingin segera memberikan tanda tangannya di berkas perceraian mereka agar bisa secepatnya pergi dari ruangan ini.


" Zi ... mana berkasnya biar segera gue tanda tangani." ucap Felicie.


Suara Felicie menghentikan lamunan Aaron. Ia semakin bersedih mendengarnya. Felicie ternyata sudah benar - benar gak sabar untuk berpisah dengannya.


Bahkan untuk berlama - lama di satu ruangan yang sama dengan Aaron juga ia enggan.


" Apakah setelah kita bercerai, kamu akan menikah dengan pria bernama Elbert itu ? " tanya Aaron cemburu melihat Felicie memberikan tanda tangannya di atas kertas berkas perceraian mereka.


" Itu bukan urusan Lo " sahut Felicie dingin tanpa menoleh pada Aaron.


Aaron benar - benar terdiam begitu mendengar jawaban sai Felicie. Ternyata Felicie begitu membenci dan tak menganggapnya sama sekali.


Tommy yang kasihan melihat keadaan Aaron sekarang berusaha untuk menghiburnya.


Ia tahu, Aaron pasti sekarang sedang menyesali semuanya.


" Gak mungkinlah Felicie menikah dengan Elbert. Mereka kan cuma teman. Pasti Felicie lebih


mementingkan untuk


meneruskan kuliahnya, ya kan Feli ... ? " kata Tommy.

__ADS_1


Felicie gak menjawab perkataan Tommy, walaupun yang di katakan


nya itu benar sekali. Felicie akan segera kuliah setelah keputusan


cerai mereka keluar.


Aaron merasa senang mendengar perkataan Tommy, hingga tak sadar ia tersenyum kearah Felicie.


" Felicie bisa tetap meneruskan kuliahnya jika ia bersedia menikah dengan gue Gimana Ron ... Lo gak marahkan, kalau Felicie menikah dengan gue " tanya Zico datar.


Aaron ingin sekali merobek mulut Zico yang tidak merasa bersalah


mengatakan ini kepadanya.


Walaupun ia sudah tahu Zico menyukai isterinya dan ia pria yang baik , tapi bukan berarti ia rela Felicie harus menikah secepat ini. Apalagi dengan sahabatnya sendiri.


Tommy cuma bisa mengusap wajahnya melihat sikap Zico.


Tapi ia juga gak bisa terlalu menyalahkannya, karena baru kali ini Zico benar - benar menyukai seorang wanita.


Suasana di kamar ini menjadi hening seketika.


" Urusan gue sudah selesai disini.


Jadi sebaiknya gue pergi." ujar Felicie memecahkan keheningan yang terjadi di ruangan ini.


Aaron yang melihat Felicie ingin melangkah keluar segera menahannya dengan memanggil nama Felicie sehingga menghentikan langkahnya.


" Fei ...aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan sama kamu. Tapi bisakah kita bercerai, kita berteman. Bolehkah aku jadi teman kamu, Fei ... ? " suara Aaron terdengar lirih saat mengatakan hal ini.


Felicie merasa agak tersentuh dengan kata maaf yang keluar dari mulut Aaron. Sebenarnya dalam hal ini, Aaron juga tidak terlalu pantas di salahkan,. ia juga terpaksa menikah dengan Felicie. Jadi wajar saja, ia bersikap seenaknya. Justru dengan sikapnya ini sangat memberikan keuntungan


pada Felicie. Coba saja jika tidak ada perjanjian itu dan Aaron memaksa meminta haknya sebagai suami pasti Felicie tidak akan semudah ini pergi darinya. Karena ada kemungkinan dia bisa hamil jika telah melakukan hal itu.


Memang Aaron pernah bersikap kurang ajar dan berniat melecehkannya, tapi bukankah ia juga sudah mendapatkan hukuman yang pantas ia terima.


Tubuhnya penuh luka dibuat Felicie bahkan belum sembuh hingga saat ini.


" Fei, bisakah aku jadi temanmu ?"


tanya Aaron lagi karena melihat


Felicie tak bergeming.


" Maaf dari lo gue terima. Tapi untuk jadi teman, maaf ... gue gak bisa." setelah mengatakan hal ini,


Felicie langsung melangkah pergi.


Aaron terlihat begitu terpuruk mendengar penolakan dari Felicie.


Bahkan untuk menerimanya jadi seorang teman Felicie gak bersedia. Begitu besarkah rasa benci Felicie padanya ? Pertanyaan ini memenuhi kepala


Aaron.


Tommy dan Zico mengerti kalau


Aaron sedih dengan penolakan


Felicie. Zico menepuk pundak Aaron untuk memberinya semangat.


Sementara Tommy mencoba


menghibur Aaron dengan memberikan kata - kata nasihat


pada Aaron.


" Lo sabar bro, mungkin sekarang


Felicie belum mau menerima Lo sebagai teman tapi kita gak tahu apa yang terjadi kedepannya.


Jadi Lo harus tetap semangat." ujar Tommy.


Aaron hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar kata - kata Tommy.


" Ya, aku harus tetap semangat.


Aku akan membuktikan pada Felicie bahwa aku akan jadi pria yang lebih baik dan akan tetap


menunggunya sampai ia bisa membuka hatinya padaku." ucap Aaron dengan penuh keyakinan dalam hati.


**********************************

__ADS_1


__ADS_2