
Dada Felicie terasa sesak. Ia sulit bernafas. Ia pun terbangun. Ternyata itu hanya sebuah mimpi buruk yang hadir dalam tidurnya.
" S**l ... kenapa aku harus bermimpi tentangnya lagi ! " desah Felicie sembari mengucek matanya yang terasa perih.
" Tapi kenapa mimpi itu seperti nyata ? Dia meminta tolong padaku untuk menunggunya. Padahal ia sedang menikah dengan wanita itu ! "gumam Felicie dengan wajah gak mengerti arti dari mimpi yang menghampirinya.
" Ah, Sudahlah Felicie ! Stop memikirkan dia ! Bukankah dia juga tidak memikirkan kamu ! Buktinya dalam mimpimu pun dia memutuskan menikah dengan kekasihnya itu ! Sejauh ini kau sudah baik - baik saja, tanpa dirinya. Jadi, lupakan !" ucap Felicie kesal pada dirinya, karena bahkan dalam mimpinya pria itu terus menganggu kehidupan nya yang sudah membaik.
" S**l ... ! Gara - gara memikirkan mimpi yang gak jelas itu , aku hampir saja telat ! Kenapa juga aku harus tertidur sih ... !" ucap Felicie kaget begitu melihat jam dindingnya sudah menunjukkan pukul dua siang.
Padahal hari ini, ia ingin menuju lokasi yang akan di beli nya bersama Dave untuk tempat usaha pakaian yang sebentar lagi dirilis. Walaupun dana untuk membeli toko tersebut lebih banyak memakai uang Dave, Dave 60% sedangkan Felicie hanya 40% tapi Felicie berjanji akan membayarnya jika usaha mereka itu maju.
Sebenarnya bisa saja Felicie tidak harus membeli toko dan menjualnya secara online saja seperti rencananya semula tapi ia berubah pikiran. Ia juga ingin mengembangkan usaha kecilnya itu menjadi sebuah butik.
Sebentar lagi ujian nya akan selesai. Sekarang sudah waktunya. Kemarin ia dan Dave berbincang mengenai hal itu hingga akhirnya mereka berdua sepakat, untuk membuka butik bersama. Tapi dengan syarat Felicie tidak mau wajahnya diketahui orang. Cukup orang tahu namanya saja. Jadi, untuk mengatasi hal ini Dave yang akan maju di depan umum.
Memikirkan hal ini, ia pun segera bangkit dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena pasti Dave sebentar lagi akan datang menjemputnya.
Setelah selesai mandi, Felicie memakai pakaian hasil rancangan yang di buatnya celana cutbray bahan jeans dan kaos rajut warna putih lengan pendek. Entah mengapa hari ini ada rasa bangga di hatinya karena bisa mengenakan pakaian yang ia rancang sendiri. Tak lupa ia memakai sepatu boot warna putih. Biar tampilannya lebih terlihat meyakinkan sebagai seorang designer ... hehehe.
Felicie mematut dirinya di cermin dan tepat ia selesai memoles wajahnya dengan make up natural, bunyi Bella apartment nya pun berdering.
" Ya, aku udah siap, Dave ... !" Felicie bergegas membuka pintu apartment nya.
Wajah Dave terpampang di depan pintu dengan senyum yang menghias di bibirnya.
" Wow ... nona designer kita udah siap ternyata. Cantik ... !" ucap Dave sembari menatap kagum Felicie.
" Tentu saja, aku udah gak sabar untuk melihat tempat usaha kita ! btw, makasih atas pujiannya ... " Felicie begitu antusias hingga tidak mengingat lagi mimpi buruk yang tadi sejenak membuat pikirannya teralihkan dari dunia nyata.
" Ayo, Tuan Putri ... kita berangkat !" Dave mengulurkan tangan sembari membungkukkan badannya.
" Hahaha ... ayo berangkat !" Felicie tertawa lebar melihat sikap Dave. Ia pun mengunci pintu apartment nya dan berjalan berdampingan dengan Dave.
Dave melirik Felicie dan ia tersenyum bahagia karena sekarang ia bisa melihat kalau gadis cantik yang berjalan di sebelahnya ini sudah benar - benar move on dari Elbert.
" Silahkan masuk nona designer kita !" ujar Dave sembari membukakan pintu mobil pada Felicie.
" Ah, lebay tahu .... !" ucap Felicie tapi dengan senyum lebar di bibirnya.
Lokasi toko yang akan mereka buat sebagai butik bersebelahan dengan beberapa toko yang menjual aksesoris dan sepatu, sehingga mereka merasa letaknya sangat sesuai. Apalagi di seberang toko ada apartment buat mahasiswa dan pegawai kantoran. Jadi, Felicie dan Dave yakin kalau tempat yang mereka pilih ini cocok.
" Dave ... aku gugup !" ucap Felicie saat mereka turun dari mobil dan hendak masuk ke lokasi butik kecilnya. Karena ia gak menyangka kalau keinginannya menjadi seorang designer bisa tercapai meski gak harus kuliah di bidang itu.
" Tenang ... kenapa harus gugup !
Kita cuma tanda - tangan, setelah itu toko ini jadi milik kita. " ujar Dave berusaha menenangkan Felicie sembari tersenyum.
" Huff ... bukan itu yang buat aku gugup, Dave. Tapi aku gugup karena gak nyangka bisa sampai tahap ini. " ucap Felicie sembari menarik nafas panjang lalu membuang nya dengan pelan untuk menghilangkan perasaan gugupnya.
" Hmm ... itu pantas kamu dapatkan Feli. Kamu memang berbakat." ujar Dave dengan tulus.
Felicie tersenyum mendengar perkataan Dave yang selalu memberi support untuk nya.
" Sekarang kita sudah bisa masuk, Fel ... ? " tanya Dave lembut.
" Hmm ... Ya. Ayo ... !" ajak Felicie setelah berhasil menenangkan perasaan gugupnya.
__ADS_1
Dave dan Felicie melangkah masuk ke dalam toko. Dave bisa melihat mata Felicie yang berbinar ketika masuk. Hal ini semakin membuat Dave bertekad untuk selalu menemani Felicie dalam setiap perjalanan kariernya.
Meski ini bukan bidang yang ia pelajari, tapi ia akan berusaha keras untuk membuat butik mereka menjadi lebih besar.
Walau ia tetap harus bersiap untuk di tinggalkan oleh Felicie jika akhirnya memutuskan untuk pulang ke negaranya setelah ia menyelesaikan kuliahnya disini.
Tapi sebelum waktu itu tiba, Dave harus bisa membuat Felicie menerima cintanya.
Felicie langsung tersenyum begitu melihat keberadaan pemilik gedung ini yang sudah menunggu kedatangan mereka.
" Selamat siang, Bu ... maaf kalau kami terlambat." ucap Felicie sembari mengulurkan tangan pada wanita yang wajahnya masih terlihat menawan meskipun usianya sudah seperti nyonya Megan pemilik butik tempat Felicie bekerja.
Wanita itu membalas uluran tangan Felicie dan Dave dengan senyum di bibirnya.
" Tidak apa - apa, nona ... saya juga baru saja tiba disini."
"Oh, ya ... silahkan duduk !" ujar wanita itu.
" Terima kasih nyonya !" jawab Dave dan Felicie serentak.
" Wah, kalian pasangan muda yang sangat kompak. Kalian terlihat serasi. Saya suka melihatnya." puji wanita ini dengan tatapan kagum.
Felicie yang mendengar perkataan wanita ini pun hanya bisa tersenyum tipis. Sedangkan Dave tentu saja sangat senang mendengar kata - kata tersebut, tapi ia tidak berani menimpali omongan Nyonya ini karena takut Felicie jadi marah dengannya.
" Hmm ....apa saya bisa melihat kembali surat perjanjian jual beli nya sebelum kami menandatanganinya, nyonya ?" tanya Felicie sopan.
" Silahkan nona ... !" wanita pemilik gedung ini pun memberikan surat perjanjian jual beli beserta berkas - berkas penting bukti kepemilikan nya atas gedung yang akan ia jual pada kedua anak muda di - hadapannya ini.
" Terima kasih, nyonya ... !" kata Felicie kemudian mulai membaca berkas tersebut dengan teliti.
Dave membaca berkas - berkas itu dengan teliti seperti yang di lakukan Felicie. Setelah melihat semuanya lengkap dan sesuai dengan perjanjian mereka sebelumnya, Dave pun memberikan berkas itu kembali ke tangan Felicie.
" Semua sudah lengkap kan, tidak ada yang kurang ?" tanya wanita itu dengan lembut.
" Ya, nyonya. Semua sudah lengkap." sahut Felicie dan Dave kembali bersamaan.
" Hahaha ... saya suka dengan kalian anak muda. Semoga kalian bisa berjodoh." ujar wanita itu tertawa sambil menatap gemas ke arah Felicie dan Dave.
" Maaf, nyonya ... tapi kita berdua hanya berteman. " sangkal Felicie dengan cepat.
Meski sedikit kecewa mendengar apa yang di katakan Felicie tapi Dave tetap tersenyum.
" Ya, nyonya ... kami hanya berteman saat ini. Tapi kita gak tahu apa yang akan terjadi kedepannya ... hehehe." sahut Dave bercanda berusaha menutupi perasaan kecewanya.
Felicie melotot ke arah Dave setelah mendengar perkataan nya barusan. Dave cuma tertawa melihat yang di lakukan Felicie.
" Hahaha ... kalian berdua memang benar - benar anak muda yang menggemaskan." ujar wanita itu kembali tertawa.
Mau gak mau Felicie ikut tertawa mendengar omongan wanita pemilik gedung ini.
" Hmm ... sekarang bisa kita tanda - tangan surat jual belinya ?" tanya wanita ini.
" Ya, nyonya ... !" sahut Felicie semangat. Sementara Dave hanya menganggukkan kepalanya.
Nyonya ini pun memberikan surat jual beli setelah lebih dulu memberi tanda tangannya di kertas itu pada Felicie dan Felicie pun menandatanganinya lalu setelah ia selesai Felicie memberikannya pada Dave.
Dave dengan cepat membubuhkan tanda tangannya.
__ADS_1
" Hmm .... sekarang gedung ini sudah jadi milik kalian. Semoga usaha yang akan kalian rintis disini bisa sukses secepatnya." ujar wanita itu dengan tulus.
" Aamiin ... Terima kasih atas doanya, nyonya !" kata Felicie dan Dave.
" Ya, ya ... kalau begitu karena semua sudah selesai saya permisi pulang. Senang bisa menjual gedung yang penuh kenangan ini pada kalian anak muda !" ujar wanita ini tersenyum.
" Sama - sama nyonya. Kami juga senang karena nyonya mau menjual gedung ini pada kami. " kata Dave membalas senyuman wanita itu.
" Okey ... !" sahut wanita itu sembari bangkit dari tempat duduknya.
Felicie dan Dave pun bergegas bangkit.
" Silahkan nyonya, biar kami antar ke depan. Kami juga mau sekalian keluar." ujar Dave.
" Oh, ya ... baiklah. Terima kasih." sahut wanita ini.
Lalu mereka bertiga berjalan berdampingan menuju pintu keluar sambil sesekali mengobrol.
Ternyata kenapa nyonya ini mau menjual gedung peninggalan suaminya karena ia di ajak anak perempuannya untuk tinggal di rumahnya. Anak nya tidak tega melihat ibunya tinggal sendiri sejak ayah nya meninggal. Hampir setahun anak nyonya ini membujuknya untuk ikut tinggal bersamanya sampai akhirnya ia setuju.
Dulu di gedung ini digunakan oleh nyonya itu dan suaminya untuk berjualan sepatu. Tapi sejak suaminya meninggal, nyonya itu tidak ingin melanjutkan usahanya lagi. Ia lalu menyumbangkan sepatu yang tersisa ke panti asuhan dekat rumah nya.
" Baiklah, semoga saat kita bertemu kembali toko kalian sudah sukses." ujar Nyonya itu setelah mereka berada di luar gedung.
" Aamiin ... terima kasih atas doanya, nyonya. Kami juga berharap nyonya selalu sehat dan tetap cantik. " Kata Felicie.
Nyonya itu tersenyum lalu menepuk bahu Felicie dengan lembut. Sebelum melangkah pergi ia berbisik pada Dave,
" Anak muda ... jangan pernah menyerah ! Tapi jika kamu tidak juga bisa mendapatkan hatinya tetaplah jadi sahabat terbaik untuknya. Karena persahabatan itu lebih abadi di bandingkan percintaan."
Felicie mengerutkan dahinya melihat wanita itu terlihat serius membisikkan sesuatu pada Dave.
" Terima kasih nyonya atas nasehatnya. " ujar Dave tersenyum.
" Baiklah, sudah saat nya saya pergi. " wanita itu mengulurkan tangannya sebagai tanda perpisahan.
Felicie dan Dave menyambut uluran tangan itu dengan senyum di wajah mereka.
" Hati - hati di jalan, nyonya. Salam buat anak anda." kata Felicie.
Nyonya itu menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia pun melangkah menjauh dari Felicie dan Dave.
" Hei, apa yang di bisikkan ibu itu tadi padamu, Dave ?" tanya Felicie penasaran.
" Oh, Ibu tadi mengatakan jangan pernah menyerah !" sahut Dave sengaja tidak mengatakan semua.
" Masa cuma itu ? Tadi kayanya banyak deh, yang di bisikkan ibu itu sama kamu !" ucap Felicie menatap Dave dengan pandangan
tidak percaya.
" Oh, dia bilang andai saja anak gadisnya belum menikah, ia akan menjodohkannya denganku. Karena ibu itu bilang aku tampan dan baik .... hehehe !" ujar Dave berbohong.
" Huh ... Ayo, pulang. Aku jadi lapar !" Felicie mencibir begitu mendengarnya.
Dave semakin tertawa lebar melihat sikap Felicie yang menggemaskan.
**********************************
__ADS_1