
Felicie setengah berlari ketika masuk kedalam rumah sakit.
Ia tidak ingin Tuan William menunggunya terlalu lama hingga
mencurigainya.
Elbert hanya bisa menatap kepergian Felicie dengan perasaan berkecamuk. Ia sebenarnya khawatir, jika Felicie
berubah pikiran untuk tidak berpisah dengan Aaron karena
kehadiran Tuan William.
Sedangkan Tika yang tadi juga ikut turun bersama Felicie memilih pulang naik kendaraan aplikasi online.
Setelah melihat badan Felicie menjauh, Elbert memutuskan untuk tetap menunggunya dirumah sakit. Ia tidak ingin membiarkan Felicie pulang sendiri dalam keadaan kacau.
Elbert lalu keluar dari mobil, lalu
menunggu di ruang tunggu yang disediakan pihak rumah sakit.
Jadi ia bisa melihat, jika Tuan William sudah turun dari ruangan
Aaron.
Felicie merapikan dirinya dan menenangkan hatinya yang berdetak kencang dengan berhenti sejenak sebelum melangkahkan kakinya
masuk kedalam kamar Aaron.
Setelah merasa ia sudah lebih
tenang, Felicie pun masuk.
Semua mata yang ada dikamar itu langsung terfokus pada kehadiran
Felicie. Terutama Aaron dan Zico , mata mereka begitu lekat melihat penampilan Felicie. Untung saja tadi Felicie sempat mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru saja dibelinya. di butik bersama Tika. Jadi ia sedikit lebih rapi dari pada baju sporty yang dikenakannya tadi. Ia dengan percaya diri menghampiri Tuan William.
Kira - kira beginilah, ya penampilan Felicie , simpel sih ... tapi bagaimana menurut kalian
Cantik gak ?
" Daddy, apa kabar ? " sapa Felicie
sopan.
" Daddy baik, sayang. Kamu kenapa gak pernah menghubungi
Daddy ? " tanya William dengan
lembut.
Hal ini membuat semua yang ada
di ruangan itu melihat Tuan William dengan tatapan tidak percaya. Tuan William yang sejak
datang tadi hanya bersikap dingin berubah jadi lembut begitu bertemu dengan Felicie.
Ternyata hanya Felicie yang bisa
melunakkan Tuan William.
" Feli takut Daddy lagi sibuk, nanti
Feli malah mengganggu lagi." ucap Felicie.
" Gaklah, Daddy gak terlalu sibuk.
Sudah ada Aaron, yang sedikit
meringankan tugas Daddy. " kata William melirik Aaron yang masih
belum berpaling dari wajah Felicie. Sudut bibir William terangkat melihat Aaron
begitu terpesona dengan Felicie.
" Oya, Dokter kenalkan ini menantu saya, isterinya Aaron.
Jadi jika ada wanita lain yang
mencoba masuk ke kamar anak
saya, mengaku - ngaku sebagai
isteri Aaron. Anda tidak perlu mempercayainya. Karena saya hanya mengakui Felicie sebagai menantu sampai kapanpun." William mengenalkan Felicie pada direktur rumah sakit sambil berpesan dengan nada penuh tekanan.
Aaron langsung menelan ludah
mendengar perkataan Daddy nya.
Felicie mengenalkan dirinya dengan sopan pada direktur.
" Menantu anda sangat cantik, Tuan William." puji sang direktur.
" Tentu saja, saya yang mencarikan untuk anak bodoh ini.
Kalau dengan pilihannya sendiri,
saya tidak percaya ... karena anak
bodoh ini tidak bisa melihat dengan jelas, mana wanita yang
pantas atau tidak pantas untuknya." sindir William dengan
tajam.
Aaron hanya bisa diam saja mendengar sindiran yang ditujukan padanya.
" Sini duduk dekat Daddy dan suamimu, nak ... " William memerintahkan dengan matanya
pada Rio untuk menggeser kursi
kedekat Aaron.
" Baik, Daddy ... " Felicie berjalan
mendekati tempat tidur Aaron.
Dada Aaron mendadak berdetak
kencang melihat Felicie kini duduk
disampingnya.
Zico walau merasa cemburu dengan keberuntungan Aaron hanya bisa mendengus kesal.
" Nak, kata suamimu tadi pada Daddy, ia masuk rumah sakit karena berantem di club' ... Apa selama kalian menikah, dia sering pergi keluar meninggalkan kamu
sendirian di apartment ? " tanya
William ingin mendengar jawaban
dari Felicie.
Jantung Aaron dan Felicie rasanya hampir saja copot mendengar perkataan William.
Aaron takut jika Felicie mengatakan yang sebenarnya,
tamatlah riwayatnya. Sedangkan
Felicie juga tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya.
Agar ia bisa cepat bercerai dengan Aaron, Felicie harus menutupi perbuatan dan sikap
Aaron padanya. Tommy dan Zico juga sangat khawatir, mereka takut Felicie berbicara jujur.
Kalau benar, tamatlah riwayat mereka ... karena membantu Aaron menutupi kesalahannya.
" Benar, Daddy ... ia mabuk waktu
kejadian di club' itu. Tentu saja tidak Dad, Aaron selalu menemani di apartment jika sudah selesai dengan urusannya
di perusahaan." ujar Felicie berbohong.
__ADS_1
Aaron, Tommy dan Zico langsung
bisa bernafas dengan normal kembali begitu mendengar jawaban yang keluar dari mulut
Felicie.
Tuan William hanya tersenyum kecil mendengar apa yang di sampaikan Felicie.
Walau ia tahu Felicie berbohong, tapi pasti hal ini dilakukannya demi melindungi Aaron suaminya ... begitulah dalam fikiran William.
" Baiklah, Daddy percaya padamu.
Tapi tidak dengan suamimu ini."
ucap William dari awalnya tersenyum ketika melihat Felicie langsung berubah dingin saat
melihat wajah Aaron.
" Terima kasih, Daddy." ujar Felicie
mengembangkan senyum di bibirnya.
Hal ini menambah kecantikan di wajahnya. Karena biasanya jika
didepan Aaron dan teman - temannya, mereka hanya bisa melihat wajah Felicie yang datar dan dingin.
" Ya, nak ... sekarang Daddy harus
pulang kemansion dulu. Tadi begitu sampai, Daddy langsung datang ke perusahaan lalu kerumah sakit melihat suamimu.
Jadi, Daddy ingin pulang buat istirahat sebentar. Besok Daddy akan menjemputmu di apartment
lalu kita bersama ke rumah sakit."
kata William panjang.
" Baiklah, Dad ... hati - hati di jalan
Dad." balas Felicie dengan tulus.
" Ya, sayang ... Terima kasih." William bangkit dari tempat duduknya, lalu setelah mengelus
rambut Felicie sebentar dengan
sayang, ia melangkah keluar diikuti Rio dan direktur rumah sakit.
Felicie langsung ingin bangkit begitu mendengar langkah kaki Tuan William sudah tidak terdengar lagi, di lorong rumah sakit. Tapi gerakannya terhenti,
karena tangan Aaron menahannya.
Tommy dan Zico langsung duduk
di sofa untuk merilekskan badan
mereka karena tegang sejak kehadiran Tuan William.
" Terima kasih karena kamu mau
membantuku." ucap Aaron tulus
sambil memandangi wajah Felicie, yang masih berstatus isterinya tapi hubungan mereka
berdua layaknya orang asing.
" Lepaskan tangan lo.. !!! Elo gak perlu mengucapkan terima kasih karena gue melakukan ini juga demi kepentingan gue. Sama sekali bukan untuk membantu Lo."
sahut Felicie dengan dingin.
" Apapun alasanmu, tapi aku tetap
harus mengucapkan terima kasih
pada kamu." Aaron melepaskan tangannya dari tangan Felicie, tapi ia tetap memandangi wajah Felicie yang kini berdiri menjauh
darinya.
Tommy dan Zico heran dengan
perubahan sikap Aaron pada
sama bersikap kasar dan dingin.
Apakah Aaron, mulai menyukai
Felicie, isterinya ? pertanyaan ini
melanda di hati mereka berdua.
Tapi rasanya gak mungkin, karena
jika Aaron menyukai Felicie, tidak
mungkin ia mau menikahi Giselle.
Atau karena kejadian tadi, saat
Felicie membantu menutupi
kebohongan Aaron membuatnya
menyadari kalau ia sudah mulai tertarik pada isterinya.
" Mumpung gue disini, gue ingin
membicarakan perceraian kita.
Gue juga udah bilang sama Tommy dan Zico tentang memberikan waktu seminggu ini pada kamu, untuk mengurusnya. Ini sudah berjalan dua hari. Sebaiknya Lo menyuruh
Zico untuk mengurus berkas - berkas perceraian kita secepatnya
agar gue bisa menanda - tanganinya." Felicie tetap teguh dengan keinginannya.
Ia tidak terpengaruh dengan perubahan sikap Aaron.
Elbert yang melihat Tuan William sudah pergi dari rumah sakit bersama asistennya, segera naik
kelantai atas tempat Aaron di rawat. Ia tidak ingin Felicie sendirian menghadapi tiga orang pria, yang jelas - jelas mereka
bertiga bersahabat.
Entah mengapa mendengar permintaan Felicie, Aaron jadi
merasa berat. Sejak kejadian
di apartment, ia sudah berusaha
untuk melupakan gadis kecil yang berstatus isteri sahnya ini dengan
segala cara. Bahkan ia menyetujui
keinginan Giselle untuk menikah.
Walau ia tahu resiko yang akan di tanggungnya jika sampai Daddy nya tahu. Tapi tetap ia lakukan.
Semua karena ia ingin Felicie
mendapatkan kebebasannya.
Tapi kenapa sekarang, setelah
melihat Felicie lagi. Aaron merasa
gak ikhlas untuk bercerai dengannya.
" Hei, Lo dengar perkataan gue kan ? Atau Lo mau isteri tercinta Lo itu tahu kalau gue isteri pertama Lo ... hehe, Lucu juga ...
istri tua tapi umur gue jauh lebih muda dari istri kedua Lo itu." ujar Felicie kesal karena Aaron hanya diam saja sambil terus menatap
wajahnya.
" Apa kamu mau tetap bertahan denganku jika aku menceraikan
Giselle ? " tanya Aaron tanpa sadar.
__ADS_1
Felicie dan kedua sahabat Aaron, Tommy dan Zico langsung tertegun mendengar perkataan
yang baru saja dikatakan Aaron.
Felicie dengan cepat menguasai
rasa kagetnya.
" Jangan bermimpi ... kita hanya
menikah karena terpaksa bukan
karena ada hal lain. Lo pertahankan saja pernikahan kedua Lo itu. Bukankah elo sangat mencintainya, karena dia kontrak
pernikahan kita Lo buat." Felicie memandang tajam Aaron.
Zico tersenyum kecil mendengar
kata - kata Felicie. Gadis kecil ini
sangat pintar. Ia ternyata sudah tahu dan memikirkan dengan matang saat menandatangani
kontraknya dengan Aaron. Pantas saja Felicie tidak perduli dengan pernikahan Aaron dan Giselle terjadi, karena itu bisa menjadi
senjata ampuh buat menekan Aaron, untuk menceraikannya.
Sementara Tommy, justru berharap agar Felicie mau mempertahankan pernikahan mereka. Agar Giselle bisa secepatnya di campakkan.
Aaron membenarkan perkataan Felicie dalam hatinya. Ia memang
melakukan hal seperti yang dikatakan Felicie karena menunggu kepulangan Giselle.
Elbert yang baru saja sampai didepan kamar Aaron mendengar
apa yang dikatakan Felicie.
Tapi ia tetap belum ingin masuk.
Elbert masih ingin mendengar
apa lagi yang di katakan Aaron.
" Kamu memang benar. Aku melakukannya waktu itu karena
Giselle. Tapi tidak bisakah, aku
berubah fikiran. Aku sendiri juga gak percaya dengan perasaan yang hadir di hatiku saat ini.
Apa aku salah, jika mulai mencintai isteriku sendiri ? Lagian, bukankah tadi Daddy tidak
mengijinkan aku bersama orang lain. Ia ingin kita bersama untuk selamanya dalam ikatan pernikahan." rasanya Aaron ingin mengatakan semua ini pada Felicie, tapi ia hanya menahannya dalam hati.
Aaron sadar, ia sudah menyakiti
Felicie dengan menikahinya, dengan perjanjian dari awal sebelum mereka sah menikah. Hanya karena rasa cintanya pada Giselle, ia malah mengorbankan perasaan Felicie. Walau ia tahu Felicie juga tidak menyukainya.
Tapi sebenarnya Aaron bisa saja berusaha keras untuk mendapatkan hatinya, jika waktu itu ia memanfaatkan kesempatannya dengan benar. Tapi ia malah lebih memilih mengikuti keinginan Giselle untuk pergi liburan. Ia memang tidak pantas meminta Felicie, untuk tetap menjadi istrinya.
Harusnya gadis kecil ini , masih
bisa hidup dengan bebas dan berhak memilih kehidupannya
sendiri tanpa paksaan orang lain.
" Baiklah, aku akan mengabulkan
keinginanmu. Aku memang tidak
pantas untuk memintamu untuk
bertahan denganku. Zi, tolong segera urus berkas perceraian kami dan rahasiakan hal ini dari
siapapun. Aku tidak ingin Daddy
sampai mengetahuinya." akhirnya
Aaron mengambil keputusan ini demi membuat Felicie senang.
" Baik, Ron ... hari ini juga aku akan mengambil berkas perceraian di kantor Pengadilan Agama. Supaya kalian berdua bisa segera menandatanganinya." jawab Zico senang mendengar keputusan Aaron. Hal ini berarti membuat ia memiliki kesempatan untuk mendekati Felicie dengan bebas.
" Baiklah ... " jawab Aaron lirih.
Hatinya mendadak sakit, mendengar sebentar lagi ia akan
benar - benar berpisah dengan
Felicie. Padahal ia baru saja menyadari rasa cintanya pada Felicie.
" Kalau begitu gue menunggu
berkas perceraian di apartment saja. Karena gue gak mungkin terlalu lama disini. Gue gak mau Istri kesayangan Lo itu nanti
marah seperti kemarin." ujar Felicie lalu berbalik ingin segera pergi dari kamar Aaron.
" Feli, tapi bisakah aku minta tolong sama kamu, datanglah setiap hari kesini selama aku
masih dalam penyembuhan.
Bukan karena aku ingin memanfaatkan mu tapi supaya
Daddy tidak curiga. Hingga tiba waktunya kita bercerai dan kamu
bisa pergi kemanapun yang kamu
inginkan ... baru aku akan mengatakannya pada Daddy. Bisakah kamu mengabulkannya ?"
ujar Aaron panjang dengan suara terdengar sedih.
" Bagaimana dengan istrimu ? "
tanya Felicie memastikan.
Ia sebenarnya setuju dengan perkataan Aaron. Felicie juga tidak ingin Tuan William tahu, sebelum semuanya selesai.
" Aku akan melarangnya datang
kemari. Baru setelah aku keluar dari rumah sakit, aku juga akan
menceraikannya." ucap Aaron yakin.
" Hmm ... baiklah. Gue akan datang di pagi hari, tapi menjelang sore gue harus pulang karena gue
masih punya kewajiban mengajar di sanggar bela diri." Felicie akhirnya menyetujui perkataan Aaron.
Toh, ini juga demi kepentingan
bersama. Selain urusan mereka
bisa lebih cepat selesai. Tuan William juga tidak akan menaruh curiga. Bukankah tadi Tuan William mengajak Felicie untuk pergi bersama besok kerumah sakit melihat Aaron.
" Terima kasih, Fei ... " ucap Aaron dengan lembut menetapkan panggilan yang sudah beberapa hari ini dipikirkannya untuk Felicie.
Dahi Felicie langsung mengerut
mendengar panggilan yang disematkan Aaron untuknya.
Tapi ia tidak berusaha mendebatnya, karena Felicie ingin segera pulang keapartment untuk
istirahat sebentar sebelum pergi
kesanggar. Agar bisa menenangkan perasaannya yang
merasa heran melihat perubahan
yang terjadi pada sikap Aaron.
" Sudah selesaikan, gue mau pulang." ujar Felicie.
" Ya, silahkan kalau kamu sudah ingin pergi." sahut Aaron.
Mendengar hal ini, Felicie langsung berbalik pergi dari kamar Aaron tanpa menoleh sedikitpun. Padahal Aaron berharap, Felicie mau berbalik sehingga ia bisa melihat wajah cantik Felicie lagi sebelum melangkah keluar.
Aaron hanya bisa menatap nanar kearah pintu kamar melihat kepergian Felicie.
__ADS_1
**********************************