
Felicie sudah merasa lega
karena tugasnya sekarang selesai
setelah tadi mengunjungi Tuan
William untuk berpamitan.
Kini ia hanya harus fokus dengan
tujuannya, yaitu kuliah ... tanpa
harus memikirkan hal lainnya.
Masalah perusahaan Papa, juga
sudah ia serahkan pada Tika.
Besok, adalah hari yang paling
ia nantikan dalam hidupnya.
Felicie akan pergi meninggalkan
semua, baik itu masalah dalam
kehidupannya maupun urusan
lainnya.
Felicie ingin saat ia pulang nanti,
bisa menjalankan perusahaan
dengan baik agar bisa membuat
bangga almarhum Papa dan Mama nya.
Semua yang ia perlukan untuk
di bawa besok sudah selesai.
Felicie tersenyum kecil membayangkan ke depannya ia
bisa hidup layaknya remaja yang
seusianya.
Lagi asyik - asyiknya melamun,
Felicie di kejutkan dengan suara
handphonenya yang berdering.
Ia tersenyum lebar ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Devan dan Airin, dua sahabatnya yang telah lebih dulu
berada di A*****a untuk kuliah.
Felicie segera menggeser tombol jawab di ponselnya dengan senyum yang terus menghias bibirnya.
" Halo, Felicie ... Lo jadikan berangkat besok ?" tanya Airin sahabatnya dengan semangat begitu Felicie menjawab panggilannya.
" Eh, Lo gak bisa pelan dikit suaranya. Sakit nih telinga gue."
protes Felicie.
" Hehehe ... abis, gue gak sabar
nungguin Lo datang kesini." sahut Airin tertawa.
" Gaya, Lo ... ntar gue disana, Lo
sibuk pacaran melulu." ucap Felicie.
" Ya, kalau itu Lo gak boleh ngiri
sama kita. Secara gue dan Devan
sepaket, jadi dimana ada gue pasti ada Devan. Jadi Lo harus
ikhlas ngeliatin kami berduaan
terus ... hehehe." ujar Airin dengan
ringannya.
" Woi, Lo berdua disana itu buat belajar, bukan pacaran. Kasihan,
orang tua Lo udah ngeluarin uang
yang banyak buat kuliah, Lo nya
pacaran melulu."
" Iya, orang tua gue juga udah
ngerti kog, gue itu belajar sekalian pacaran ... hahaha."
" Bisa aja, Lo ... ini Lo lagi gak kuliah ? kog bisa telfon gue ?".
" Ya, bisa lah ... namanya lagi
istirahat. Makanya gue sempatin
bentar buat nanya kabar Lo."
" Oh, gitu ... gimana, enak gak
tinggal dan kuliah di sana ? ".
" Ya, gitu deh ... ada enaknya tapi ada juga gak enaknya. Gue masih suka kangen sama orang tua gue,
Feli ... belum lagi kangen sama
makanan di Indonesia. Lo tahu
sendiri, gaya gue boleh sok
bule tapi lidah, tetap Indo banget,
kalau gak ada sambel berasa gak
__ADS_1
makan gue."
" Hehehe ... ntar gue bawain deh
sambel terasi yang banyak buat Lo."
" Eh, benar ya ... Lo janji ya ...
sama rendang juga. Lagi pengen gue nih ... ".
" Iya, kebetulan bik Sumi masakin
gue rendang buat di bawa kesana.
Ntar, gue kasi deh Lo dikit."
" Ya, kog dikit sih ... pelit Lo."
" Hei, Lo belajar masak dong ... jangan beli jadi melulu. Jadi,
kapan Lo pengen bisa buat sendiri."
" Hehehe ... kalau ada yang udah jadi ngapain capek - capek masak."
" Lo nya aja yang malas."
" Sorry, gue bukan malas. Tapi gue
di takdir kan jadi ratu bukan babu ... hahaha."
" Sialan, Lo ... !" .
" Oh, ya ... Lo jadi perginya bareng
cowok baru Lo, itu kan, Feli ... ?
Siapa namanya, lupa gue ... ?".
" Enak aja cowok gue, Elbert teman gue sama kaya Lo berdua."
" Iya, awalnya teman tapi nanti jadi pacar juga gak papa, kaya gue sama Devan ... hahaha."
" Emangnya gue sama kaya Lo.
Gue mau fokus belajar dulu."
" Hei, pacaran bisa nambah semangat belajar juga, tau ... !".
" Terserah lo, deh ... yang jelas
gue pergi kesana buat belajar
bukan buat yang lain."
" Iya, deh ... tapi gue yakin Lo bakalan jadian sama Elbert.
Sayang cowok sebaik itu, dibiarin.
Kalau gue jadi Lo, gak bakalan
gue sia - siakan. Secara, sekarang ini udah susah dapatin cowok setia kaya Elbert. Lo bayangin aja,
dari ketemu sama Lo saat kecil
tetap setia nungguin Lo ... kalau gue jadi Lo, gak akan gue lepas deh ... !".
Felicie tercenung mendengar
omongan Airin. Apa memang
seharusnya Felicie menerima
saja cinta Elbert. Tapi, ia takut
kalau menerima cinta Elbert
sekarang, nanti ia tidak bisa
fokus dengan kuliahnya.
Belum lagi, ia takut bagaimana
kalau Elbert tiba - tiba meminta
untuk menikah. Sedangkan Felicie
masih ingin menikmati kesendiriannya setelah perceraiannya dengan Aaron. yang penuh dengan masalah.
Felicie mengakui dalam hati kecilnya, kalau Elbert adakah pria yang sangat baik, pengertian dan selalu sabar menghadapinya.
Elbert juga selalu menemaninya,
dalam masa - masa sulit saat ia
mengurus perceraian dengan Aaron. Jujur, Felicie juga mulai
menyukai Elbert dalam hatinya.
Tetapi ia masih ragu, rasa sukanya itu karena rasa terima kasih pada Elbert disebabkan ia selalu ada disisinya dalam menghadapi semua masalah yang ia hadapi belakangan ini atau karena memang Felicie murni menyukai dari hatinya.
Untuk hal ini, ia harus memastikan hatinya terlebih dahulu, agar suatu saat ia bisa yakin ketika menerima Elbert.
" Woi, kog Lo malah diam, sih ... ?
Lagi melamun kan Elbert kan Lo ... ? Apa gue bilang Lo sebenarnya udah suka sama dia, tapi elo masih ragu atau jangan
bilang Lo masih ingat sama mantan suami Lo yang b******k itu !".
Felicie tersentak mendengar perkataan Airin yang nyelekit.
" Enak aja Lo, siapa juga yang mikirin Aaron."
" Nah, itu Lo masih ingat namanya."
" Gila Lo ya ... masa karena gue udah pisah terus gue jadi amnesia gitu. "
" Pokoknya gue gak mau ya kalau
Lo masih ingat dan berhubungan
sama pria b******n itu. Kalau Lo
__ADS_1
masih tetap nyebutin nama dia
lagi di depan gue ... gue bakalan
gak mau temenan dengan Lo lagi."
" Udah bisa ngancam gue Lo sekarang, ya ... udah berani nih ?".
" Hehehe ... gak berani sih , tapi kalau Lo berani macam - macam
dengan gue, kan ada Devan ... biar Lo berdua aja yang beradu di ring."
" Beraninya ngandalin orang lain.
Lo dong yang jadi lawan gue."
" Devan bukan orang lain, tapi calon suami masa depan gue.
Jadi, wajar dong sebagai suami
membela isterinya yang mau
dizolimi sama Lo, cewek bar - bar."
Felicie tak bisa menahan tawanya
mendengar omongan Airin yang
selalu saja bisa memberikan alasan. Tapi ia gak marah sedikitpun pada Airin, meski
di katakan bar - bar.
" Awas Lo ya, nanti ... !".
" Sayang, lihat nih, isteri kamu
di ancam sama wanita jadi - jadian nih ... !" terdengar suara
Airin mengadu pada Devan dengan manja.
" Sialan Lo ya ... tadi bar - bar,
sekarang jadi - jadian. Lihat aja Lo ntar kalau udah ketemu sama gue."
" Iya deh ... ampun Feli. Gue cuma
bercanda doang. Pokoknya gue ingatin, Lo harus melupakan
si laron itu dan harus menerima
Elbert. Gue dukung Elbert seribu persen buat jadian dengan Lo.
Devan juga sama nih ... dia mau
Lo jadinya sama Elbert."
" Hmm ... terserah Lo berdua mau ngomong apa. Udah, sekarang gue tutup telfonnya, nih ... gue
mau keluar bentar sama mbak Tika."
" Okey, okey ... sekali lagi gue ingatin ... Lo terima Elbert ya."
Felicie diam gak menjawab perkataan Airin.
" Feli, gue serius nih ... !".
" Udah selesai belum ngomongnya, gue tutup nih ... ".
" Ya udah ... sampai jumpa disini."
" Hmm ... bye."
" Bye honey ... "
Setelah telefon ditutup, Felicie segera keluar dari kamarnya.
Ia pun turun ke bawah untuk
mencari keberadaan Tika.
Sementara itu Aaron bersama
Giselle dan Vera sudah sampai
di apartment baru milik Aaron.
Tanpa memperdulikan keduanya,
Aaron keluar dari mobil.
" Sayang, bantuin dong ... " rengek
Giselle.
" Kamu punya tangankan ? jadi
bawa aja sendiri." ujar Aaron datar.
" Hahaha ... kasihan banget sih ...!" ejek Vera.
" Diam Lo ... !" bentak Giselle kesal, karena Aaron benar - benar
meninggalkannya.
" Pak, bawakan koper saya !" perintah Giselle pada supir Aaron.
" Baik, nona." sahut supir menutupi rasa jengkelnya.
Giselle pun berjalan cepat mengejar Aaron yang sudah jauh berada di depannya.
Melihat hal ini, Vera gak mau kalah, ia juga bergegas menyusul
keduanya.
**********************************
Selamat membaca ... semoga
kalian menyukai lanjutan cerita ini.
Terima kasih ... 🙏🙏😘
__ADS_1
Love you All ❤️❤️❤️