Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 128


__ADS_3

Suasana hening menemani perjalanan Aaron dan Tommy.


Tommy masih enggan untuk berbicara dengan Aaron.


Sejak mereka tiba di bandara dan kini sedang di perjalanan menuju kota tempat Felicie meneruskan pendidikannya. Aaron sibuk dengan pikirannya sendiri memikirkan apa yang harus ia lakukan ketika bertemu dengan Felicie. Rasanya ia tidak bisa menerima jika hanya bisa melihatnya dari kejauhan saja. Tapi Aaron juga tidak ingin membuat Daddy nya semakin marah kepadanya. Terlebih lagi Aaron yakin kalau Felicie tidak ingin melihat wajahnya lagi setelah semua yang terjadi di - dalam pernikahan singkat mereka.


Tidak terasa setelah menempuh waktu beberapa jam Aaron dan Tommy pun sampai di kota B.


" Tuan ... kita sudah sampai.


Silahkan turun !" ujar bawahan Daddy nya Aaron yang ditugaskan untuk menjemputnya di bandara.


" Hmm ... apa kami akan tinggal disini ?" tanya Aaron setelah keluar dari dalam mobil sembari melihat rumah tempat mereka berhenti. Tidak terlalu besar memang tapi terlihat nyaman.


" Ya, Tuan ... ini tempat tinggal sementara Tuan tinggal di kota ini. Letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal dan usaha nona Felicie. " ujar Leon anak buah Tuan William.


Aaron dan Tommy langsung mengerutkan dahi mereka begitu mendengar perkataan Leon.


" Usaha ? Dia buka usaha apa ?


Bukannya Felicie kuliah ?" tanya Aaron tak bisa menutupi rasa ingin tahunya.


Tommy hanya diam sembari mendengar pembicaraan Aaron dengan Leon.


" Nona Felicie membuka butik yang tidak terlalu besar di dekat sini Tuan ! " jelas Leon.


" Hah ... ? tidak mungkin Felicie membuka butik. Pasti maksudnya dia bekerja disana. Kasihan gadis itu, mungkin dia kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya selama disini hingga harus bekerja di butik itu ! Ini semua karena gara - gara aku hingga dia harus mengalami hal seperti ini !" batin Aaron dengan hati resah.


" Hmm ... benarkah Felicie tinggal di dekat rumah ini ?" tanya Tommy melihat Aaron hanya diam.


" Benar Tuan ! Nona Felicie tinggal di apartment dekat kampus H.


Kami juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Setelah menyelidiki sekian lama, akhirnya kami menemukan nona !" sahut Leon.


Tommy hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Leon.


" Apa kalian melihat Felicie bersama seorang pria ?" tiba - tiba pertanyaan ini terlontar dari mulut Aaron. Aaron sendiri tidak mengerti kenapa pikiran ini terlintas di kepalanya.


Tommy menoleh ke arah Aaron. Ia juga ingin menanyakan hal yang sama sebenarnya. Jika memang Felicie pergi kesini bersama Elbert , pasti Felicie pernah jalan bersama nya.


" Ada dua orang pria dan satu wanita yang kemarin terlihat jalan bersama nona, Tuan ! Mereka seperti nya teman kuliah nona !" ujar Leon.


" Apa pria ini salah satunya ?" Tommy langsung menunjukkan foto Elbert yang ada di - handphonenya pada Leon.


" Bukan Tuan ! kalau itu saya tahu.


Itukan Tuan Elbert. Saya dan beberapa teman saya di tugaskan oleh Tuan William untuk memantau beliau sejak lama. Tapi Tuan Elbert tidak pernah terlihat mengunjungi atau berjalan dengan nona Felicie !" jawab Leon jujur.


" Hmm ... " Tommy manggut - manggut mendengarnya.


" Berarti Felicie bukan pergi bersama Elbert ke negara ini !" gumam Aaron.

__ADS_1


" Silahkan Tuan ... !" Leon menyuruh Aaron dan Tommy masuk ke dalam rumah setelah pelayan yang memang disediakan oleh Tuan William buat mengurus keperluan mereka selama berada di kota ini membuka pintu.


" Terima kasih !" ujar Tommy sembari tersenyum tipis. Sedangkan Aaron hanya menarik sudut bibirnya sedikit.


" Ini kamar buat Tuan Aaron dan yang itu kamar buat Tuan Tommy.


Silahkan istirahat, Tuan. Jika Tuan ingin makan sesuatu nanti akan


di sediakan oleh pelayan. " Leon lalu memperkenalkan dua pelayan yang akan mengurus mereka di rumah ini.


" Saya mandi sebentar, setelah itu bawa saya ke butik tempat Felicie bekerja !" ucap Aaron singkat.


" Maaf, Tuan Aaron. Kata Tuan William sebaiknya hari ini Tuan berdua istirahat dulu baru besok saya akan membawa Tuan berdua melihat nona Felicie. Lagi pula selain melihat keadaan nona Felicie, Tuan Aaron juga di perintahkan oleh Tuan William untuk hadir ke perusahaan buat mewakili Tuan William dalam sebuah rapat penting ! " ujar Leon menyampaikan pesan yang di perintahkan oleh tuannya.


" Apa ? Tidak, saya bersedia datang kesini buat melihat Felicie bukan datang ke perusahaan. " Aaron menolak keinginan Daddy nya.


" Maaf Tuan Aaron. Saya hanya di tugaskan untuk menyampaikan perintah Tuan William. Kalau Tuan Aaron ingin menolak, beritahu langsung ke Tuan William. Saya tidak berani membantah perintah beliau !" tolak Leon dengan sopan.


" Sudahlah, Ron ... turuti saja apa yang disuruh oleh Tuan William.


Harusnya Lo bersyukur karena Tuan William sudah mulai mengijinkan elo buat campur tangan lagi di perusahaan. Ini pasti buat kebaikan Lo juga ! Lagi pula kita kebetulan sedang berada di negara ini !" ujar Tommy dengan wajah datar.


" Tapi Tom .. sebelum kita berangkat, Daddy tidak ada menyuruh kita pergi untuk mengurus perusahaan. Melainkan buat melihat keadaan Felicie." Aaron menatap Tommy dengan perasaan kesal begitu mendengar omongannya.


" Ya, tidak ada salahnya kan ! Mumpung kita ada di sini. Mungkin karena Tuan William tidak bisa hadir jadi beliau menugaskan Lo !" ujar Tommy.


" Ah, terserahlah ! Aku mau istirahat !" ucap Aaron kesal lalu masuk ke dalam kamar nya meninggalkan Tommy dan Leon.


Tommy hanya bisa menarik nafas panjang melihat sikap Aaron yang terkesan labil. Suka sekali berubah - ubah gak jelas.


Ia sudah tahu watak Aaron karena Tuan William sudah memberitahunya sebelum Aaron datang ke negara ini.


Tapi yang jelas tugas yang paling penting buat di jalankannya adalah jangan sampai Aaron mengganggu ketenangan Felicie lagi. Ia hanya di perbolehkan melihat keadaan Felicie dari jauh dan setelah ia menghadiri rapat di perusahaan. Aaron hanya boleh tinggal satu Minggu di negara ini.


" Gak usah di ambil pusing Leon ! Aaron wataknya memang seperti itu. Hmm ... kamu tinggal disini juga bersama kami ?" tanya Tommy.


" Ya, Tuan Tommy. Saya juga tinggal di rumah ini. Kamar saya ada di belakang. Saya di beri tugas oleh Tuan William untuk menemani dan mengantarkan Tuan Aaron dan Tuan Tommy selama berada di sini. " sahut Leon.


" Oh, kalau begitu terima kasih.


Hmm ... kalau begitu saya masuk ke kamar dulu, Leon. Saya mau istirahat. Nanti kita berbincang - bincang lagi." ujar Tommy sembari menepuk bahu Leon pelan.


" Baik Tuan. Selamat istirahat !" jawab Leon.


" Okey, kamu juga istirahat !" ujar Tommy sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar yang disediakan untuknya.


" Ya, Tuan ... !" sahut Leon cepat.


Aaron sudah selesai membersihkan badannya dan mulai terasa segar kembali. Ia duduk di atas tempat tidur yang ada di kamarnya sembari memikirkan langkah apa yang akan ia lakukan selanjutnya jika melihat Felicie.


" Ternyata gadis kecil itu benar - benar gigih. Di manapun dia berada dia tetap bisa bertahan. Bahkan dia masih bisa bekerja disela - sela kuliahnya."

__ADS_1


" Ah, kenapa aku begitu bodoh bisa menyia - nyiakan wanita seperti Felicie. Sudah baik, cantik, pintar, mandiri gak matre lagi ! Bukan seperti kedua wanita 🦊. itu ! Andai saja waktu itu aku tidak membuat kontrak konyol itu dengannya pasti sekarang kami sudah bahagia. Tapi aku terlalu di butakan dengan semua rayuan Claire sehingga menutup mata hatiku buat yang lain. Aku pasti bisa mendapatkan cintanya secara perlahan walaupun ia belum mencintaiku saat itu. Apalagi Daddy sangat menyayanginya. "


" Arrgh ... aku memang benar - benar seorang pecundang !" umpat Aaron kesal pada dirinya setelah memikirkan semua yang telah terjadi pada dirinya dan Felicie.


" Tapi aku berjanji mulai hari ini aku akan merubah semuanya. Aku akan melakukan apapun yang membuat Felicie bahagia. Aku tidak boleh egois lagi. Jika memang Feli tidak bisa mencintaiku. Aku akan mencoba untuk benar - benar mengikhlaskannya dan menganggap Felicie sebagai adikku seperti yang di lakukan Tommy. Apalagi Daddy sudah mengangkatnya sebagai anak. " gumam Aaron dengan lirih.


Tak terasa karena tubuhnya yang terlalu lelah di sebabkan penerbangan yang berlangsung lama membuat mata Aaron perlahan tertutup.


Padahal ia tadi masih bersikeras pada Leon untuk segera melihat tempat kerja Felicie.


Sementara Tommy sudah lebih dulu merebahkan diri dan tertidur


di kamarnya. Ia benar - benar menggunakan waktu bepergian ke negara A ini untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang selama ini sibuk di pakai buat bekerja. Apalagi perjalanan tadi sangat melelahkan .


Tommy menganggap kepergiannya kali ini buat liburan, karena yang ditugaskan buat mereka tidaklah terlalu sulit. Ia dan Aaron hanya di perintahkan untuk melihat keadaan Felicie. Jika dia dalam keadaan baik - baik saja dan tidak kekurangan apapun mereka akan segara kembali.


" Hmm ... sekarang mereka di mana ?" tanya William pada Leon yang menghubunginya untuk melaporkan pekerjaannya.


" Tuan Aaron dan Tuan Tommy sedang berada di kamarnya Tuan.


Sepertinya sedang beristirahat." ujar Leon menjelaskan dengan sopan.


" Hmm ... kau awasi Aaron dengan benar. Anak itu terkadang suka berbuat hal yang tidak masuk akal. Jangan sampai Felicie tahu kalau Aaron ada di dekatnya !" perintah William dengan suara berat.


" Baik Tuan !" sahut Leon singkat.


" Hmm ... bagaimana dengan urusan yang saya perintahkan ke kamu buat mencari tahu hubungan Felicie dengan Elbert ?


Apa dia memang tidak pernah terlihat datang mengunjungi Felicie ?" tanya William.


" Tidak pernah Tuan. Saya yakin sekali ! Sejak saya berada disini dan menemukan nona Felicie, saya tidak melihat Tuan Elbert berkunjung buat menemui nona !" ujar Leon dengan sangat yakin.


" Hmm ... tetap pantau dan segera laporkan pada saya ! Beri juga pengamanan yang baik buat Felicie selama kuliah di sana ! Jangan sampai ada yang berniat menyakiti putriku ! Kerjakan tugas kalian dengan benar !" perintah William tegas.


" Baik Tuan William ! Saya dan Mark yang akan menjaga nona Felicie. " ujar Leon.


" Hmm ... bagus ! " ucap William


lalu memutuskan sambungan teleponnya.


Leon langsung menarik nafas lega setelah mendengar Tuan William mengakhiri pembicaraan mereka.


Ia masih tetap saja gugup jika Tuan William menghubunginya.


Aura Tuan William sangat menakutkan meski usianya tidak lagi muda. Berbeda sekali dengan Aaron anaknya. Meski pun wajahnya juga terlihat datar dan dingin tapi tidak menakutkan seperti Tuan William.


**********************************


Hai, jangan lupa like, vote, hadiah yang banyak dan koment yang baik.


Buat yang selalu dan terus memberi dukungan nya pada cerita ini, mommy ucapkan terima kasih ....🙏🙏😘

__ADS_1


Maaf, jika masih banyak kesalahan dalam penulisan 🙏🙏


Love You All ❤️❤️❤️


__ADS_2