Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 92


__ADS_3

" Kamu udah siap untuk berangkat kuliah ... ?" tanya Elbert yang sudah menunggu Felicie sejak tadi.


" Ya, El ... kamu sebaiknya gak usah nganterin aku deh ... aku kasihan kalau kamu harus jalan kaki setiap hari cuma buat nganterin aku ke kampus. " kata Felicie.


" Udah, kamu tenang aja. Yuk ... nanti kamu terlambat." Elbert menarik tangan Felicie kemudian menggenggamnya dengan lembut.


Felicie tidak berusaha menarik tangannya dari genggaman Elbert.


Hal ini membuat Elbert merasa senang, karena ia yakin dengan perhatian yang ia berikan perlahan hati Felicie akan terbuka untuknya.


" Kamu udah bilangkan sama Airin dan Devan kalau hari ini gak usah jemput kamu, Feli ... ?" .


" Udah, aku langsung chat Airin ketika kita pulang dari super market. "


" Hmm ... baguslah. Teman kamu yang bawel itu gak protes kan ? ".


" Hahaha ... awalnya protes, sih ... Airin bilang ... kamu kurang kerjaan ! " Felicie tertawa geli saat mengingat semua perkataan Airin tadi malam.


" Biarkan saja, aku cuma pengen kehadiranku disini berguna untuk kamu. Aku ingin ada di setiap kegiatan yang kamu lakukan. Lagi pula aku gak mau kejadian kemarin terjadi lagi. " ujar Elbert menatap Felicie dengan lembut.


" Maksud kamu ... ?" tanya Felicie gak mengerti.


" Aku gak akan memberi kesempatan pada senior di kampus mu itu atau pun pria lain untuk mendekati kamu lagi. Cukup satu kali aja aku kecolongan. " kali ini Elbert menatap wajah Felicie serius.


" Apaan sih ... kamu cemburu ?" tanya Felicie tertawa kecil.


" Ya, aku cemburu. Aku sangat cemburu. Aku gak mau melihat kamu dekat dengan pria lain selain aku." jawab Elbert tegas.


Ia sudah tidak ingin bermain - main lagi dengan perasaannya.


Elbert sudah memutuskan untuk merubah caranya dalam mengejar cinta Felicie.


" Kamu kenapa El ... sekarang sikap kamu beda banget. Dulu, kamu kenapa gak cemburu saat aku masih bersama Aaron ? " tanya Felicie yang heran dengan perubahan sikap Elbert yang lebih frontal sekarang.


" Ya, jelas beda ... waktu kamu masih dengan Aaron, status kamu adalah isterinya. Aku terlambat datang dan mengenali kamu. Saat itu sebenarnya aku juga marah dan sangat cemburu. Tapi aku gak bisa berbuat apa - apa karena status kalian. Tapi sekarang, kamu bukan isteri siapa - siapa lagi. " Elbert menjelaskan alasannya dengan gamblang.


" Hmm ... aku baru tahu kamu cemburuan orangnya. " ledek Felicie.


" Ya, aku memang cemburuan. Aku gak akan mau berbagi milikku dengan orang lain. " sahut Elbert dengan mimik serius.


" Memangnya aku milik kamu ?" Felicie sengaja menggoda Elbert yang terlihat begitu serius.


" Saat ini belum, tapi akan ku pastikan dengan segera kamu akan jadi milikku." ujar Elbert yakin.


" Hahaha ... yakin banget. Gimana kalau gak ... ayo, kamu mau melakukan apa ?" goda Felicie.


" Aku akan membuat kamu jatuh cinta secepatnya dengan aku !" jawab Elbert lugas.

__ADS_1


Felicie seketika terdiam mendengar omongan Elbert. Ia tidak bisa berdebat lagi. Ia bisa melihat Elbert beneran serius kali ini dengan omongannya.


Tapi yang membuat Felicie heran, apa karena kejadian ia diantar pulang oleh seniornya membuat Elbert jadi berubah dan lebih berani mengungkapkan perasaannya. Ia tidak mencoba


untuk bersabar seperti dulu.


" Hai, Felicie ... !" tiba - tiba terdengar suara seorang pria menyapanya ketika ia dan Elbert tiba di parkiran mobil.


Felicie terkejut begitu melihat Dave yang sudah berdiri di parkiran, seakan - akan sedang menunggunya keluar dari apartment.


Felicie bisa melihat wajah Elbert langsung mengeras begitu melihat Dave mendekatinya.


Elbert dengan wajah dinginnya menghampiri Dave.


" Kamu ada keperluan apa menemui Feli ... ?" tanya Elbert menahan berusaha menahan perasaan emosinya.


" Aku mau menjemputnya agar bisa bareng pergi ke kampus. Kamu siapanya Felicie ... kakaknya, ya ... ?" jawab Dave dengan sopan karena mengira Elbert adalah kakaknya Felicie.


Felicie berusaha menahan tawanya mendengar yang dikatakan Dave. Memang dia gak salah, kalau mengira Elbert adakah kakaknya. Karena usia mereka lumayan agak jauh.


Elbert yang tahu Felicie menahan tawa, semakin kesal dengan kehadiran Dave.


Apalagi ia yakin kalau pasti pria di depannya ini yang telah mengantar Felicie pulang semalam.


" Tidak bisa ! aku yang akan mengantar dan menjemput Felicie. Sebaiknya kamu pergi sekarang sebelum aku bertambah emosi." ujar Elbert dengan terus terang, tidak berusaha menutupi rasa marahnya.


" Wah, kakak kamu galak juga, ya ... Feli. Sama seperti kamu.


" Siapa bilang aku kakaknya Felicie !" bentak Elbert dengan wajah merah menahan marah.


" Feli, kakak kamu galak juga, ya ... !" Dave kemudian mendekat ke arah Felicie dan bicara dengan pelan.


Elbert yang melihat ini langsung menarik Felicie pergi dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


Dave yang di tinggalkan begitu saja di pelataran parkir langsung memacu mobilnya. Ia jadi penasaran siapa pria yang sedang bersama Felicie. Kenapa ia tidak terima saat Dave mengatakan kakaknya Felicie.


" Apa, jangan - jangan pria itu kekasihnya ?" gumam Dave.


Begitu terpikirkan hal ini membuat Dave semakin memacu mobilnya dengan kencang. Ia tidak ingin mobilnya terlalu jauh ketinggalan di belakang dari mobil pria yang membawa Felicie pergi.


Felicie menatap bingung.


Ia tidak tahu sedang berada


di dalam mobil siapa. Kenapa Elbert dengan seenaknya menyuruhnya masuk kedalam mobil ini. Jangan - jangan dia sengaja membeli mobil demi mengantarnya ke kampus.


" Kamu gak usah bingung. Aku membelinya kemarin untuk mengantar jemput kamu." Elbert seakan mengerti isi kepala Felicie

__ADS_1


dengan wajah yang masih merah.


Felicie benar - benar gak menyangka kalau Elbert sampai rela melakukan ini hanya agar bisa mengantar jemputnya setiap hari. Pantas saja, ia begitu sangat yakin ketika mengatakan akan mengantarnya setiap hari ke kampus. Ternyata demi dirinya agar tidak capek, Elbert sampai rela membuang uangnya untuk membeli mobil ini.


" Kenapa kamu melakukannya, El ... ? Aku gak mau kamu membuang - buang uangmu demi membantu aku." ujar Felicie dengan mata yang mulai berkaca - kaca karena tersentuh dengan


perhatian Elbert.


" Aku melakukannya agar kamu gak harus menumpang terus sama Airin dan Devan. Sementara ada beberapa jadwal kuliah kalian yang berbeda jamnya. Aku tahu kamu gak ingin selalu merepotkan mereka. Aku melakukannya karena gak ingin kamu nanti lelah berjalan kaki jika tidak bisa pergi bersama mereka dan alasan yang paling penting aku membeli mobil ini di antara semuanya, karena aku gak mau kamu pulang diantar dan duduk berdua dengan pria lain. " Elbert menjelaskan semua alasan dengan segenap perasaannya.


Felicie sangat terharu dengan semua yang di katakan Elbert padanya. Tanpa sadar ia mendekat dan memeluk Elbert yang sedang menyetir mobil.


Elbert tersenyum bahagia saat melihat dan merasakan pelukan dari Felicie. Ini pertama kalinya Felicie yang memeluknya lebih dulu. Biasanya selalu Elbert yang lebih dulu melakukannya.


Meskipun ia agak kesusahan menyetir mobil karena ini, tapi ia tidak perduli.


Amarahnya yang tadi begitu besar saat cemburu dengan pria tadi langsung lenyap tak berbekas.


" Maaf, maaf ... " Felicie tersadar dan segera melepaskan pelukannya dari tubuh Elbert dengan wajah malu.


" Kenapa minta maaf ? aku malah senang dan ingin kamu lebih sering melakukannya. " goda Elbert dengan bibir tersenyum.


Felicie tak menjawab, ia menutupi rasa malu dan memalingkan wajahnya dengan menatap jalanan. Ia bisa mendengar dadanya yang sedang berdebar dengan keras dan ia menyadari kali ini lebih kencang dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di kampus Felicie. Felicie yang masih merasa malu buru - buru ingin keluar dari mobil. Tapi tangan Elbert menahannya.


" Feli ... kamu tidak perlu malu. Aku malah sangat bahagia karena perlahan kamu sudah mulai bisa mengekspresikan perasaanmu.


Aku mencintaimu. " Elbert membelai wajah Felicie dengan lembut.


Wajah Felicie kembali memerah.


" Aku mau keluar, takut telat .. !" ucap Felicie gugup.


" Hmm ... baiklah. Baik - baik kuliahnya, ya ... ! Nanti aku jemput. " ujar Elbert lalu melepaskan tangannya dari tangan Felicie.


" Ya ... " ucap Felicie lirih kemudian keluar dari dalam mobil.


Elbert tersenyum lebar kemudian perlahan mobilnya keluar dari kampus Felicie. Tapi baru saja sampai di pintu gerbang ia melihat mobil pria yang sekarang menjadi saingannya, masuk


ke kampus. Elbert hampir saja membatalkan niatnya untuk pergi setelah melihat pria ini mengejar Felicie setelah memarkirkan mobilnya.


Tapi ia langsung sadar jika ia akan membuat malu Felicie jika sampai terjadi keributan, hanya karena ia gak bisa menahan emosinya.


Elbert segera keluar sebelum ia berubah pikiran.


**********************************

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komentnya ya sayang - sayangku 🙏🙏😘


Love You All ❤️❤️


__ADS_2