Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 91


__ADS_3

Elbert menahan tangan Felicie yang hendak pergi meninggalkannya. Ia langsung menarik tubuh Felicie ke dalam pelukannya. Felicie berusaha melepaskan dirinya. Tapi Elbert malah memeluknya dengan semakin erat.


" El, lepaskan ... ! aku mau istirahat. " ucap Felicie dengan keras.


" Tidak ... ! Dengarkan aku .... , sebelum kamu memutuskan untuk marah denganku." ujar Elbert.


" Siapa yang marah sama kamu.


Aku hanya butuh tidur sekarang ini. " ucap Felicie yang masih berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Elbert.


" Feli ... please. Dengarkan aku dulu, ya ... aku akan memberitahu kamu kemana aku pergi hingga sampai lupa menjemput kamu." ujar Elbert dengan lembut.


Felicie yang memang penasaran akan hal ini, membuatnya mulai melunak. Tapi karena rasa gengsinya, membuat Felicie bersikap seakan gak perduli.


Ia juga gak mengerti kenapa harus marah hanya karena Elbert tidak jadi menjemputnya dan tidak memberitahu kemana ia pergi.


Lagi pula ia gak ingin, Elbert nanti malah jadi besar kepala kalau sampai mengetahui, bahwa yang membuatnya begitu kesal karena berpikir Elbert melupakan janjinya untuk menjemput Felicie di kampus karena menemui wanita lain.


" Feli ... Sungguh, handphoneku tadi beneran ketinggalan di kamar dan aku baru menyadari ketika mau menghubungi kamu. Jadi bukan karena aku sengaja gak mau menjawab panggilan dari kamu. Tapi beneran karena handphoneku gak kebawa." Elbert melihat reaksi Felicie yang masih berada dalam pelukannya.


" Hmm ... udah selesaikan, sekarang bisa lepaskan aku !" ucap Felicie masih kesal karena bukan ini yang ingin ia dengar.


" Belum ... aku belum cerita kemana aku pergi hingga membuat aku sampai lupa bawa handphone." ujar Elbert belum juga ingin melepaskan Felicie dari pelukannya.


" El, kamu gak harus bilang ke aku kalau kamu gak ingin cerita. Aku gak masalah, beneran kog ... Tadi aku hanya kesal karena harus menunggu kalian sampai sejam lebih gitu dan saat aku hubungi gak ada yang menjawab. Tapi sekarang aku udah tahu alasannya. " ucap Felicie berusaha terlihat santai dengan bibir mengerucut.


Elbert tersenyum kecil melihat sikap Felicie yang terlihat menggemaskan di matanya.


Ia langsung menggendong badan Felicie dan membawanya menuju kamar.


" El, turunin ... kamu mau ngelakuin apa ? " ucap Felicie gugup. Harusnya kalau ia mau, bisa saja ia melawan Elbert,


tapi anehnya Felicie gak ingin melakukannya. Malah ia merasa nyaman dan hangat dalam pelukan Elbert.


Setelah berada di kamar, Elbert meletakkan tubuh Felicie dengan sangat lembut di atas tempat tidur. Kemudian ia juga ikut berbaring berbaring di samping badan Felicie.


Hal ini membuat Felicie menjadi semakin gugup dan tidak berani menggerakkan tubuhnya. Jantungnya jadi berdetak dengan sangat kencang.


" Feli ... sebenarnya aku tadi pergi buru - buru untuk melihat sebuah ruko yang akan kubuat jadi tempat usaha. Aku gak mau hanya duduk diam tanpa melakukan sesuatu disini. Karena terlalu asyik menata semua barang - barang yang ada disana membuat aku jadi melupakan waktu. Aku baru sadar saat melihat jam. Lalu ketika aku mau menghubungi kamu, ternyata handphonenya ketinggalan. Makanya tadi aku langsung pulang ke apartment buat mengambil handphone agar bisa menelfon kamu. Tapi, kamu nya udah nyampe di apartment. " ujar Elbert menjelaskan secara rinci pada Felicie.


Felicie lega setelah mendengar penjelasan dari Elbert. Ternyata ia pergi bukan untuk menemui gadis lain.


" Kamu jangan marah lagi ya, Fel ... aku janji gak akan pernah melakukan kesalahan seperti ini lagi." ucap Elbert sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Felicie.


Jarak mereka yang begitu dekat membuat Felicie bisa mencium aroma tubuh Elbert yang maskulin dan membuatnya jadi susah untuk bernafas. Felicie benar - benar gak tahu harus melakukan apa saat ini. Ia hanya diam tanpa berani bergerak sedikitpun seperti patung.


" Feli, kamu kog diam aja ... Masih kesal ya, sama aku ? Please, maafin aku ... !" ucap Elbert sembari menggenggam tangan Felicie dengan lembut.


Hal ini malah membuat Felicie semakin salah tingkah, ia kemudian menarik tangannya, lalu segera bangkit dari tempat tidur.


Ia tahu jika masih tetap bertahan di tempat tidur, takutnya nanti ia beneran berhenti bernafas.


" Ya, aku maafin kamu. Sekarang kamu udah bisa keluarkan dari kamarku ?" ucap Felicie berusaha menetralkan kembali perasaannya yang bergejolak.


" Beneran kamu udah gak marah lagi ? " tanya Elbert memastikan, sambil duduk di pinggir tempat tidur.


" Iya, lagian aku bukan marah cuma kesal doang, karena aku hubungi beberapa kali tapi gak di angkat. " ucap Felicie berbohong.


" Aku malah senang kalau kamu beneran marah sama aku. Itu berarti kamu lagi nungguin aku." ujar Elbert.


" Ih, enggak ya ... aku juga gak mau merepotkan kamu, karena aku tahu jarak dari apartment ke kampus lumayan juga kalau jalan kaki. Kamu kan gak biasa. Udah, mulai besok aku pulang sendiri aja atau bareng Airin." ucap Felicie masih bertahan gengsinya.


" Gak boleh ... mulai besok aku yang akan mengantar dan menjemput kamu setiap hari. Aku gak mau kamu di anterin sama pria lain lagi, seperti tadi." ujar Elbert mengeluarkan rasa cemburu dihatinya.


" Aku awalnya juga gak mau pulang bareng dia. Tapi karena dia senior di kampus, aku gak enak juga kalau harus menolak ajakannya. Sementara dia menemani aku, nungguin kabar dari kamu. Bukan karena aku sengaja ingin melakukannya." ucap Felicie menjelaskan.


" Jadi satu jam, kamu duduk di kampus berdua dengan dia?" ujar Elbert semakin cemburu.

__ADS_1


" Gak, kami duduk di cafe !". jawab Felicie.


" Apa ? Kog bisa duduk di cafe ? " tanya Elbert dengan wajah kesal.


" Oh, itu ... Dia yang ngajak, karena karena aku mahasiswi baru dia nawarin buat masuk organisasi yang ada di kampus." ujar Felicie dengan santainya.


" Kenapa kamu mau bicara berdua dengan orang yang baru kamu kenal ? Dulu, sama aku gak kaya gitu ?" tanya Elbert cemburu.


" Aku juga udah menolak dia tadi.


Udah, ah ....kamu keluar ya, aku mau istirahat sebentar." ucap Felicie.


" Aku cemburu, Feli ... !" ujar Elbert akhirnya sembari mendekat ke tempat Felicie berdiri.


Felicie terdiam begitu mendengar yang dikatakan oleh Elbert. Sebenarnya ia sangat senang mendengarnya. Berarti Elbert masih mencintai dirinya.


" Ya, aku sangat cemburu dan gak rela kalau kamu berduaan dengan pria lain lagi. Sudah cukup sekali saja aku merelakan kamu bersama Aaron. Tapi tidak untuk kali ini dan seterusnya. Kamu tahukan, aku sangat mencintai kamu. Sebenarnya aku masih ingin memberi kamu waktu agar perlahan - lahan bisa menerimaku. Tapi kejadian hari ini membuatku sadar, aku gak ingin sampai harus kehilangan kamu lagi !" setelah selesai mengatakan ini, Elbert


kemudian menarik badan Felicie hingga merapat ditubuhnya.


Tubuh Felicie langsung menegang seketika. Ia kembali menghirup aroma tubuh maskulin Elbert. Mulutnya mendadak kaku. Ia gak tahu kenapa ia justru bahagia mendengar apa yang diucapkan Elbert. Tidak sama seperti sebelumnya sewaktu Elbert pernah mengucapkan kata - kata yang sama. Jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya.


Elbert hampir saja tidak bisa menahan dirinya untuk mencium bibir Felicie yang sangat menggoda. Tapi ia berusaha dengan sangat keras untuk bisa menahan karena ia tahu ini bukan waktu yang tepat.


Ia akan menunggu hingga tiba saat dimana Felicie menerima cinta darinya karena sekarang dari jarak mereka yang begitu dekat, Elbert bisa melihat meski belum sepenuhnya Felicie sudah mulai bisa menerimanya.


" Ya, udah ... kamu istirahat ya.


Aku pergi belanja sebentar ke supermarket. Makanan yang di bawakan bik Sumi udah hampir habis. Ada yang mau kamu titip, gak ?" ujar Elbert menjauh dari Felicie.


" Hah ... kamu ngomong apa ?" tanya Felicie bingung karena masih terbius dengan aroma maskulin yang berasal dari tubuh Elbert.


Elbert tersenyum melihat wajah Felicie yang sangat menggemaskan kalau sedang dalam keadaan bingung seperti sekarang ini.


" Kamu istirahat aja. Aku mau ke supermarket, belanja keperluan harian kita. Rendang dari bik Sumi udah hampir habis. Kemarin kan kamu bagi sama Airin.


Kamu mau nitip sesuatu gak ? " Elbert mengulang perkataannya.


" Tapi tadi katanya capek, pengen tidur. Biar aku aja yang pergi. " ujar Elbert.


" Udah gak ngantuk, aku mau ikut pokoknya." ucap Felicie dengan cepat.


" Hehehe ... Ya, udah ... Ayo !" ujar Elbert tertawa ringan mendengar omongan Felicie.


" Kamu keluar bentar .. aku mau ganti baju dulu." ucap Felicie malu.


" Gak ah ... aku disini aja. " goda Elbert.


" Elbert ... !" Felicie mendelik kan matanya ke arah El dengan wajah merah.


" Hahaha ... ya, ya ... aku keluar sekarang. " ujar Elbert tertawa lebar.


Begitu Elbert keluar dari kamarnya , Felicie buru - buru mengganti pakaiannya. Karena hari ini lumayan panas, ia mengenakan celana pendek dan kaos gantung tanpa lengan. Sebelum keluar dari kamar, Felicie melihat wajahnya di cermin. Wajahnya masih saja terlihat merah.


" Bagaimana ini ... gimana cara menutupinya ?" gumam Felicie bingung.


" Feli ... udah siap belum ?" tanya Elbert dari balik pintu.


" Ya, bentar, udah siap kog ... !" sahut Felicie segera keluar dari kamarnya. Ia tidak perduli meski Elbert bisa melihat wajahnya yang masih memerah.


Saat ini ia hanya ingin pergi keluar dan jalan bersama dengan Elbert.


Elbert tertegun begitu melihat Felicie hanya mengenakan kaos gantung gak berlengan dan celana pendek.


Ia jadi terlihat bertambah sexy.


Tapi Elbert gak rela kalau tubuh indah Felicie bisa dilihat oleh pria lain.

__ADS_1


" Kenapa ?" tanya Felicie heran karena melihat reaksi Elbert.


" Kamu mau kan ganti pakaian kamu !" ujar Elbert.


" Loh, emang nya kenapa ? Kitakan cuma kesupermarket." ucap Felicie.


" Hmm ... kamu mau nanti aku berantem dengan pria yang ada disana jika aku melihat mereka memandangi badan kamu !" ujar Elbert jujur.


" Hah ... ?" Felicie kaget mendengar jawaban jujur dari Elbert.


" Ya, aku gak rela tubuh kamu dilihat sama pria lain." sahut Elbert dengan wajah serius.


" Hahaha ... kamu makin aneh aja.


Ya, udah ... aku ganti bentar." ucap Felicie tertawa pelan karena merasa lucu tapi ia mengikuti keinginan Elbert.


Felicie mengganti baju yang ia kenakan dengan kaos putih berlengan dan celana 👖.


Ia lalu keluar dari kamar dan menatap Elbert.


" Nih, kamu senang sekarang ... !"


ucap Felicie.


" Ya, begini lebih bagus." jawab Elbert dengan senyum dibibir.


Felicie menggelengkan kepalanya melihat sikap Elbert yang lebih posesif dari sebelumnya.


Mereka berdua pun keluar dari


apartment dan turun ke lantai bawah. Karena jarak apartment


ke supermarket tidak begitu jauh, Elbert memutuskan untuk berjalan kaki.


Besok pagi baru El akan memberitahu Felicie kalau ia sudah membeli mobil untuk mereka.


" Sayang ... Felicie sama Elbert udah baikan belum ya ?" tanya Airin pada Devan.


" Hmm ... aku yakin Elbert bisa meredakan amarah Felicie." ujar Devan.


" Iya, aku juga yakin. Dari yang aku lihat, Elbert lumayan sabar dan mengerti cara menghadapi Felicie." ucap Airin sembari menyandarkan kepalanya di bahu Devan.


" Hmm ... ya, aku bisa melihatnya." ujar Devan kembali mengingat awal ia ketemu dengan Felicie.


Felicie dan Devan memiliki kesamaan dalam sifat, sama - sama dingin dan acuh pada sekitar. Awalnya mereka tidak saling menegur dan masing - masing ingin jadi yang paling terbaik di sanggar. Tapi setelah beberapa lama, akhirnya mereka saling mengerti satu sama lain dan jadi dekat sebagai sahabat.


Ia tahu sebagian tentang yang


dialami Felicie, begitu pula sebaliknya.


" Sayang .... melamun apaan, sih ?" tanya Airin sembari cemberut.


" Gak ada ... aku hanya berharap, semoga Elbert bisa membuat Felicie bahagia." ujar Devan tidak mau mengatakan yang sebenarnya agar Airin gak berpikiran aneh.


Karena meskipun ia dan Felicie lebih dulu dekat tapi sekarang ia adalah calon suami Airin. Jadi, ia harus menjaga perasaannya.


" Ya, sayang ... aku juga sangat ingin Felicie bisa mendapatkan kebahagiaannya kali ini. Agar ia juga bisa merasakan seperti yang kita rasakan." ucap Airin dengan tulus.


Devan tersenyum mendengar perkataan Airin. Ia juga merasa bersyukur dan bahagia bisa bersama dengan Airin.


**********************************


Hai, ..... Semoga kalian semua selalu sehat, ya ... 😘


Makasih atas semua dukungan


yang kalian berikan pada Mommy ... 🙏🙏😘

__ADS_1


Jangan pernah bosan ya untuk memberi like, koment yang positif dan favorit ❤️


Love You All ❤️❤️❤️


__ADS_2