Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 81


__ADS_3

" Jadi sebenarnya kamu kerja apa,


El ... ? " tanya Devan begitu mereka sudah berada di luar.


" Hmm ... aku bekerja di sebuah perusahaan. " jawab Elbert singkat.


" Perusahaan apa ? Kog kamu bisa ikut Felicie sampai kesini kalau cuma kerja. Apa gak


di pecat ?" tanya Devan dengan tatapan menyelidik.


Elbert lalu menjelaskan pada Devan secara detail, agar ia


mengerti.


Devan tidak percaya begitu selesai mendengarkan penjelasan dari Elbert. Ternyata, ia adalah


pemilik sebuah perusahaan besar.


Bahkan di negara ini, ia juga memiliki cabang dari perusahaannya.


" Terus kalau kamu tinggal disini,


bagaimana dengan perusahaan kamu ? " tanya Devan.


" Hmm ... Aku masih bisa mengawasi semuanya dari sini.


Lagi pula, ada orang kepercayaan ku yang bisa menghandle nya, selagi aku tidak ada di tempat." ujar Elbert.


" Hmm ... kamu mau langsung


ke swalayan atau kita mengurus apartment buat kamu dulu ? " tanya Devan.


" Apartment saja agar aku cepat


punya tempat tinggal. Baru setelah itu kita pergi


ke swalayan !" ucap Elbert.


Devan menemani Elbert ke kantor


penjualan apartment, untuk mengurus pembelian apartment buat Elbert.


Setelah Elbert selesai menandatangani pembelian apartment nya, mereka berjalan


menuju swalayan.


" Dimana kalian membeli perabotan untuk apartment Felicie ? "


" Kami meminta jasa desainer untuk menyediakan nya karena


Felicie mau semuanya sudah


lengkap dan tersedia saat dia datang kesini. "


" Hmm ... butuh waktu berapa lama kalau memakai jasanya ? ".


" Tidak begitu lama. Hanya butuh waktu sebulan. Tapi ia juga bisa


langsung menyediakan nya jika


kamu ingin cepat. Selain itu ia juga menyediakan merk - merk terkenal.


" Kalau begitu tolong kamu hubungi dia agar hari ini juga


ia mengantarkan semua yang aku butuhkan di apartment. "


" Begini saja, nanti biar aku dan Airin membujuk Felicie untuk mengizinkan kamu tinggal sementara di apartmentnya, agar apartment kamu di tata lebih dulu."


" Lebih baik jangan. Bukankah tadi kamu dengar sendiri kalau Felicie tidak menyetujuinya. Tidak apa - apa aku bisa tinggal di hotel selagi mereka menata apartmentku. "


" Baiklah ... aku akan menghubunginya sekarang. Nanti kamu tinggal memilih apa saja yang kamu inginkan dari foto yang ia kirimkan."


" Okey ... !" ujar Elbert singkat.

__ADS_1


Sebenarnya bisa saja Elbert tidak harus repot seperti ini. Ia bisa tinggal di mansion nya yang ada


disini. Tapi itu berarti ia akan tinggal berjauhan dengan Felicie.


Itu yang tidak Elbert inginkan. Ia ingin selalu dekat dengan Felicie.


Supaya ia bisa semakin cepat


meluluhkan hatinya.


Sementara itu Felicie dan Airin sudah selesai membongkar semua barang yang di bawa oleh Felicie dan menatanya.


Bahkan pakaian Felicie sudah tergantung dengan rapi di dalam


lemari.


" Mereka kog lama banget ya, Feli ... ?" ujar Airin sembari merebahkan dirinya di tempat tidur.


" Lo ini, ya ... baru juga sebentar


di tinggal pergi sama Devan udah kehebohan kaya gini. Gimana kalau gak ketemu selama setahun. Bisa mati kali, ya ... !"


ucap Felicie meledek Airin.


" Oh, jelas ... jangankan setahun, setengah jam gak ketemu Devan aja gue bisa mati. " ujar Airin


membulatkan matanya ke arah


Felicie.


" Ih, segitu cintanya elo sama Devan ? Gimana kalau dia berpaling dengan wanita lain ?


Bisa gila elo ntar ... !" ucap Felicie ikut merebahkan dirinya di samping badan Airin.


" Amit - amit jangan sampai kejadian. Bukannya doain yang


baik - baik buat gue, malah ngomong jahat gitu. Lagian gue yakin, Devan bukan tipe pria seperti itu. Beda kalau itu Aaron mantan laki Lo ... diakan memang hobby mainin wanita !" ujar Airin


Airin langsung pucat dan terdiam setelah mengatakan hal ini. Ia menyesalinya. Harusnya ia tidak


menyebut nama Aaron lagi


di depan Felicie, agar ia tidak perlu mengingat hal buruk yang


pernah terjadi dalam hidupnya.


Felicie memang bilang ke Airin kalau alasan perceraiannya karena Aaron menikah lagi.


Tapi yang tidak Airin tahu, kalau sebenarnya tanpa Aaron menikah lagi pun, pernikahan mereka akan selesai dengan sendirinya karena kontrak yang mereka sepakati.


Bahkan dengan Aaron menikah lagi membuat Felicie bisa punya alasan yang bagus untuk mempercepat perceraian mereka.


" Hey, kenapa muka elo jadi pucat kaya gitu. Gue gak papa. Lo pikir gue sedih karena elo nyebutin


nama Aaron, ya gak lah." ujar Felicie dengan tersenyum geli menatap Airin.


"Beneran elo gak apa - apa ?


Maaf, gue mengingatkan elo pada pria brengsek itu lagi !" ucap Airin menyesal.


" Beneran gue baik - baik aja, meski elo nyebutin nama dia berulang kali, itu gak akan mempengaruhi gue. " ujar Felicie dengan mimik biasa saja.


" Baguslah ... gue ikut senang jadinya. Btw, emang benar ya, Feli ... kalau mantan suami elo itu gak tahu elo berangkat kesini ? " tanya Airin.


" Iya, lagian apa urusannya dia harus tahu urusan gue. Sekarang dia bukan siapa - siapa gue lagi !"


ucap Felicie sambil bangkit dari tempat tidurnya dan duduk di sofa


yang ada didalam kamarnya.


" Feli ... gue boleh nanya sesuatu gak sama Lo ?" tanya Airin dengan mimik serius.


" Hmm ... serius amat muka elo !"

__ADS_1


ledek Felicie.


" Gue serius nih ... gue mau nanya hal yang penting sama Lo. " ucap Airin lagi.


" Lo mau nanya apa ke gue ?" ujar Felicie.


Airin langsung bangkit dan duduk di samping Felicie.


" Hmm ... apa benar selama elo nikah dengan Aaron, elo gak pernah melakukan hal itu dengannya ? " tanya Airin.


Mendengar pertanyaan Airin, Felicie kembali teringat dengan kejadian yang menimpanya.


Ia hampir saja kehilangan kehormatannya karena Aaron.


" Benar, kami sama sekali belum pernah melakukannya. Kenapa ?"


ujar Felicie akhirnya.


" Gak ... gue penasaran aja. Kalian


tinggal bersama dan sudah menikah, masa dia gak pernah berusaha meminta haknya ?" Airin menatap manik mata Felicie.


" Hmm ... elo tahu sendiri, kami menikah karena terpaksa, Rin ...


Dia juga udah punya kekasih sebelum nikah dengan gue. Gue juga benci banget saat itu melihat dia. Sejak kami nikah, kami gak gak tidur di kamar yang sama kecuali waktu di mansion Daddy nya. Itu pun supaya Daddy nya gak curiga. Lagi pula sejak kekasihnya pulang, dia lebih banyak tidur di luar dari pada di apartment. Apalagi gak lama setelah itu, dia langsung menikahi kekasihnya.


Jadi jelas dia gak pernah menyentuh gue !" Felicie menjelaskan dengan panjang.


" Oh, terus waktu kalian tinggal sekamar di mansion dia gak ada


menyentuh elo ? Diakan pria normal masa gak gak tertarik lihat badan Lo yang bagus ini ?" .


" Ya, gak lah ... dia waktu itu bucin banget sama kekasihnya sama kaya elo dengan Devan. Jadi mana mungkin dia selera sama gue. Lagi pula, gue juga gak tertarik dengannya. " ujar Felicie.


" Tapi gue lihat Aaron tampan wajahnya, masa elo gak ada rasa suka sedikitpun sama dia ?" tanya Airin penasaran.


" Gak sama sekali. Elo kan tahu,


gue dari awal pengen kuliah. Tapi karena harus menikah dengan dia, membuat gue membatalkannya.


Kalau gak, gue udah di Perancis saat itu dan gak bakalan kuliah bareng elo berdua. " Felicie mengingat kembali impian awalnya yang ingin belajar


di negara tempat mamanya


dilahirkan.


" Ada juga bagusnya Lo menikah dengan Aaron waktu itu, jadi elo kuliah disini. Kalau gak kita gak bisa kuliah di tempat yang sama ... hehehe. " ujar Airin tertawa lebar.


" Sialan Lo ... !" ucap Felicie meringis mendengar omongan Airin.


" Hehehe ... terus gimana bisa dia juga menikahi sepupu Lo yang ganjen itu sedangkan Aaron mencintai kekasihnya ?" tanya Airin heran.


" Kalau masalah itu, Aaron di jebak sama Vera. Jadi dia terpaksa menikahinya. " ucap Felicie.


" Oh, dasar ya si Vera itu, gatel ... !


Pasti dia iri lihat elo ... " kata Airin kesal.


" Ah, udahlah ... bosan gue cerita tentang mereka. Mau Aaron punya isteri dua atau sepuluh, itu bukan urusan gue. Yang paling penting gue mau serius kuliah biar bisa cepat selesai dan pulang menjalankan perusahaan Papa." ucap Felicie.


" Iya, Lo benar ... biarin aja Aaron pusing sendiri karena punya isteri dua ... Sekalian biar Vera tahu rasanya punya madu ... hahaha. " ujar Airin tertawa lepas.


Felicie ikut tertawa melihat Airin yang tertawa dengan mimik wajah yang lucu.


Elbert dan Devan yang baru saja sampai di apartment setelah selesai belanja dari super market membawa begitu banyak bungkusan plastik.


Elbert sengaja membeli bahan - bahan makanan untuk mengisi


kulkas di apartment Felicie agar ia tidak perlu repot berbelanja lagi.


Devan juga membelikan makanan seperti yang dipesankan Airin saat mereka mau pergi tadi.


**********************************

__ADS_1


__ADS_2