
Tommy dan Zico yang tahu Aaron benar - benar terpuruk hari ini karena perceraiannya, terpaksa menemaninya minum sekarang.
Aaron bersikap layaknya orang
gak waras. Berulang kali ia tertawa tiba - tiba tanpa ada penyebabnya. Setelah tertawa kencang mendadak diam seperti patung. Hal ini di lakukannya berulang.
Tommy dan Zico hanya menghela nafas dengan berat melihat sikap
Aaron.
Walaupun Zico senang dengan perceraian Aaron, tapi ia tetap
tidak bisa mengenyampingkan
nya sebagai sahabat.
Bagaimanapun Aaron adalah
teman yang baik untuknya dan
Tommy.
" Ron ... kita pulang sekarang.
Lo udah m**** berat ... ! " ajak Tommy sembari menarik tangan
Aaron.
" Hah ... kenapa ? Lo pulang aja
duluan sama Zico. Gue masih
mau di sini. " Aaron menolak ajakan Tommy dengan tatapan
kosong.
" Gak bisa, Ron ... Lo harus ikut pulang dengan kami. " paksa Tommy.
" Pulang ... Pulang kemana ?
Felicie sudah gak ada ! atau
maksud lo, gue pulang ketempat dua j****g itu ? Hah ... iya.
Itu maksud Lo ... ? Hahahaha ... "
tawa Aaron terdengar sangat menyeramkan ketika mengatakan
hal ini.
Tommy hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban Aaron yang terdengar menyedihkan.
" Lo, gak bisa kaya gini, Ron ... Lo
harusnya bisa bersikap dewasa.
Kalau lo cuma meratapi nasib, apa Lo pikir Felicie kembali lagi ?
Gak ... dia gak akan pernah kembali lagi dengan Lo. Jadi, sebaiknya Lo menerima kenyataan yang ada di depan mata Lo. Sorry, Ron ... gue gak
ingin Lo terpuruk seperti ini.
Walaupun jujur, gue senang dengan perceraian kalian. Karena
sekarang gue punya kesempatan
untuk mendekati Felicie dan
menjadikannya milik gue.
Tapi gue gak suka punya lawan
yang mudah kaya Lo ... yang
bisanya cuma melarikan diri dari
masalah dengan minum. Gue gak mau buang waktu menemani kebodohan yang lo lakukan. Sementara saat ini gue punya saingan yang lebih berat dari Lo.
Elbert, dia lebih pantas jadi saingan gue di bandingkan Lo yang pengecut .... !!! " ujar
Zico kesal sembari bangkit meninggalkan Aaron dan Tommy.
Tommy gak bisa berbuat apa - apa dengan perkataan yang
di keluarkan Zico. Zico memang benar, Aaron terlalu lemah.
Dulu, saat di tinggal pergi oleh
Giselle ... Aaron masih bisa bersenang - senang, meski dengan cara yang salah.
Sedangkan Aaron lebih memilih tak perduli dengan omongan Zico. Ia semakin larut dengan
minumannya. Hari ini ia hanya
ingin minum agar bisa melupakan
Felicie.
Melihat sikap Aaron yang malah
terus menuangkan minuman
ke gelasnya membuat Tommy mengambil tindakan untuk menghentikannya.
Tommy menarik badan Aaron untuk berdiri agar bisa membawanya keluar, lalu pergi
dari tempat yang sudah lama
tidak mereka datangi, sejak
semua masalah yang menimpa
Aaron.
Tapi Aaron melawan dengan keras. Ia menahan tubuhnya agar tidak bisa di bawa oleh Tommy.
" Udah, Lo pulang aja Tom.
Gue akan tinggal disini sementara. Lo, jangan khawatir,
gue akan pulang setelah gue nanti merasa lebih baik." usir Aaron.
" Lo gak akan bisa pulang sendiri dalam keadaan mabuk kaya gini, Ron .. " ujar Tommy menolak.
" Bisa ... nanti gue minta tolong
pada manajer club' buat di panggilkan taksi. Udah, Lo pulang ... Gue hanya ingin sendiri saat ini. " ucap Aaron
serius.
" Gak bisa ... Nanti Lo buat masalah kalau masih tetap
berada di tempat ini." tolak Tommy.
" Gue bilang, Lo pergi ... !!!
Gue mau sendiri ... dengar gak Lo.
Gue ini boss Lo ... Pergi, Lo !!"
bentak Aaron kasar.
Mendengar perkataan Aaron, membuat Tommy emosi. Karena ia juga minum, walau tidak semabuk Aaron. Tapi hal ini
menyebabkan nya tidak bisa berfikir terlalu normal.
" Okey ... gue pergi !! Gue gak akan perduli jika Lo terkena masalah !!" ujar Tommy marah,
lalu bangkit dan meninggalkan
Aaron sendiri.
Aaron mengibaskan tangannya
tak perduli dengan Tommy yang telah meninggalkannya sendiri
di ruangan VVIP, tempat mereka biasa jika datang ke club'. Memang ini yang Aaron inginkan.
Tommy melangkah dengan wajah
merah dan langkah yang agak sempoyongan keluar dari club'.
Ia benar - benar meninggalkan
Aaron sendirian.
Tanpa sepengetahuan Aaron dan kedua sahabatnya, Giselle menyeringai dengan liciknya
melihat kepergian Tommy.
Berarti saat ini Aaron sendiri.
Giselle sudah berada di club' ini
ketika melihat Aaron dan teman -
temannya datang. Ia sengaja sembunyi agar keberadaannya tidak di ketahui mereka.
Giselle hampir saja berteriak karena kesenangan melihat Zico dan Tommy, satu persatu meninggalkan Aaron. Ini berarti
Aaron sedang sendirian di ruangan itu. Kesempatan ini tidak akan di sia - siakan Giselle.
Dengan sabar ia menunggu Aaron
keluar dari ruangannya. Ia ingin menunggu sampai keadaan Aaron
benar - benar mabuk agar ia bisa
leluasa membawa Aaron pulang
ke apartment nya.
Tapi hampir satu jam ia menunggu, setelah kepergian Tommy, Aaron belum juga keluar. Hal ini membuatnya tidak sabar. Giselle bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri
salah satu pelayan di club' ini untuk meminta tolong melihat
Aaron.
" Tolong kamu lihat suami saya
di ruangan VVIP 1. Dari tadi ia
__ADS_1
belum juga keluar. Saya takut ia
mabuk berat." ucap Giselle.
" Tapi kenapa gak nona sendiri saja yang masuk dan melihat
suami nona. " jawab pelayan club'.
" Kami sedang bertengkar. Saya
takut ia akan semakin marah jika melihat saya ada di sini." bohong Giselle meyakinkan.
" Oh, baiklah ... " sahut pelayan itu percaya, sembari melangkah pergi menuju ruangan tempat Aaron berada.
Giselle tersenyum puas melihat hal ini. Ia lalu mengikuti pelayan itu untuk melihat Aaron.
Pelayan itu terkejut ketika membuka pintu ruangan VVIP.
Ternyata Aaron dalam keadaan terkapar dan tidur di atas sofa.
Sementara di lantai penuh dengan
pecahan kaca botol minuman
yang di banting oleh Aaron.
" Bagaimana ini, nona ? Suami
anda pingsan ... " ujar pelayan
itu bingung.
" Sekarang kamu bantu saya untuk mengangkat dan membawa suami saya ke mobil. Saya akan
membawanya pulang." perintah
Giselle.
" Baik nona."
Giselle bersama pelayan itu mengangkat tubuh Aaron yang berat dengan cara membopongnya. Mereka sedikit
kesulitan membawanya.
Sementara itu Giselle terus menundukkan kepalanya agar tidak terlihat di cctv. Untung saja ia selalu menaruh topi di dalam tasnya. Jadi ia memakainya, begitu juga dengan masker.
Giselle sengaja melebarkan maskernya agar hanya matanya saja yang terlihat.
Terpaksa pelayan meminta bantuan dari salah - satu petugas keamanan club' yang bertubuh besar untuk mengangkat Aaron
ke mobil.
" Terima kasih atas bantuannya."
ujar Giselle pada kedua orang yang telah membantunya sembari
memberikan beberapa lembar uang untuk mereka.
" Sama - sama non." jawab mereka dengan wajah senang karena mendapatkan uang tip yang banyak.
Giselle menganggukkan kepalanya lalu bergegas melajukan mobilnya meninggalkan club'.
Ia bersorak dalam hati karena bisa membawa Aaron ke apartment nya. Ia tidak akan
menyia - nyiakan kesempatan bagus ini untuk tidur kembali
bersama Aaron dan memintanya
untuk mengalihkan kekayaannya
pada Giselle.
Sedangkan Tommy yang kini sudah berada di apartment dan baru saja selesai mandi, membersihkan tubuhnya yang bau minuman kini menyesali tindakannya yang meninggalkan
Aaron sendirian di sana dalam
keadaan mabuk.
" Bagaimana jika ada yang menjebaknya lagi ? " gumam Tommy.
Memikirkan hal ini membuat Tommy segera mengambil
kunci mobilnya dan bergegas
pergi kembali menuju club'.
Tapi begitu ia tiba di sana, Tommy sudah tidak melihat keberadaan
Aaron. Ia menjadi cemas karenanya.
" Aaron gak mungkin bisa pulang sendiri dalam keadaan seperti itu.
Pasti ia meminta tolong untuk
memanggilkan taksi." uajr Tommy.
" Ah, sebaiknya gue menanyakan
pada manajer club' saja."
Tommy segera menghubungi
nomer manajer club' dan menyuruhnya untuk datang menemuinya.
pada manajer itu, karena pemilik club' ini adalah salah satu teman
mereka. Begitu pula dengan orang tuanya yang merupakan temannya
Tuan William, Daddy Aaron.
Dengan terburu - buru manajer
datang menemui Tommy. Ia tidak
ingin mendapatkan masalah jika
menentang kemauan mereka.
Ia tidak ingin pekerjaannya sebagai manajer terancam
di pecat. Karena ia tahu, mereka
adalah teman dari pemilik club'
tempat ia bekerja.
" Maaf, Tuan Tommy ... Tuan mau bertanya mengenai apa ? " tanyanya dengan wajah khawatir.
" Apa Aaron tadi ada menghubungi kamu untuk minta
di carikan taksi ? " tanya Tommy
serius.
"Maaf, tidak ada Tuan. Tuan Aaron
tidak ada menghubungi saya." jawabnya jujur dengan perasan cemas.
Tommy mengernyitkan dahinya
mendengar jawaban dari manajer.
" Hmm ... jika begitu kenapa ia bisa tidak ada di ruangan ini ?
Aaron tidak mungkin bisa berjalan sendiri. Ia dalam kondisi m****
berat." kata Tommy kesal.
" Ma ... ma ... maaf Tuan. Saya akan mencoba menanyakan pada
para pelayan dan bartender mengenai Tuan Aaron. Siapa tahu
ada di antara mereka yang membantu Tuan Aaron untuk
memanggilkan taksi. " ucap manajer dengan gugup.
" Hmm ... " sahut Tommy singkat.
Mereka berdua keluar dari ruangan untuk menanyakan masalah Aaron pada para pekerja
club'.
Pelayan yang membantu Giselle
untuk membawa Aaron mulai
merasa takut, karena teman pria yang ia bawa keluar tadi sedang mencari keberadaannya.
Karena yang ia dengar dari beberapa temannya. Aaron belum memiliki seorang isteri. Berarti siapa wanita yang tadi memberikan uang padanya dan sekuriti ? Hal ini semakin membuatnya semakin gelisah.
Ia baru saja bekerja seminggu
di club' ini. Ia tidak ingin di pecat.
Karena ia pergi dari kampung dan datang kemari untuk mencari uang demi membiayai sekolah adiknya yang masih kecil.
Pelayan baru ini semakin gugup
ketika melihat manajer dan Tommy kini mulai berjalan
mendatanginya.
" Kamu yang membawa Tuan
Aaron keluar ? " tanya manajernya
langsung begitu sudah tiba
di hadapannya.
" I .. iya ... Tuan." jawabnya jujur dengan gugup.
" Kamu tahu siapa Tuan Aaron ? "
tanya manajer lagi.
" Ti ... tidak Tuan."
Tommy dan manajer saling berpandangan. Mereka yakin
dengan kejujuran pelayan ini
__ADS_1
melihat ia jujur dan gugup ketika
menjawab pertanyaan.
" Hmm ... kamu membawanya kemana ? " tanya Tommy datar.
" Itu ... itu tadi ada seorang wanita
yang mengaku sebagai isteri dari Tuan itu. Ia meminta tolong pada saya untuk membantunya membawa Tuan Aaron ke mobilnya. Karena Tuan Aaron
pingsan dan mabuk parah. Bahkan botol minuman banyak
pecah di buat Tuan Aaron."
jawabnya jujur.
" Wanita ... ? " Tommy mengernyitkan dahinya.
" Ya, Tuan ... wanita itu tadi mengaku isterinya. Makanya saya
membantunya."
" Hmm ... wanita itu seperti apa ? "
tanya Tommy lagi.
Pelayan itu menjelaskan rupa dan
ciri - ciri wanita yang di bantunya.
Meski ia tidak terlalu yakin, jika
yang di deskripsikan nya itu benar.
" Tapi tuan, wanita itu pakai topi dan masker. Jadi saya tidak bisa
memastikannya dengan jelas."
Tommy langsung teringat pada
Giselle begitu mendengar ciri -
ciri yang di sebutkan pelayan itu.
Tapi ia belum yakin.
" Tuan bisa melihat cctv untuk
melihat wajah wanita itu." kata
manajer.
Hmm ...." Tommy lalu mengikuti
langkah manajer menuju ruang
cctv.
Tommy tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang membawa Aaron. Ia mengenakan
topi dan masker seperti yang
di katakan pelayan tadi.
Bahkan wajah Giselle yang ia curigai tidak terlihat. Karena. wanita itu selalu menundukkan
kepalanya. Seakan ia tahu di mana letak cctv di club' ini.
" Tapi Giselle memang sering di bawa Aaron kesini saat mereka
masih pacaran dulu ? " batin
Tommy.
" Bagaimana ini Tuan Tommy ?
wajah wanita ini tidak bisa kita lihat dengan jelas." ujar manajer
takut, karena merasa gagal menemukan orang yang membawa Aaron.
" Hmm ... berikan copy an cctv ini pada saya. Biar saya yang mencari Aaron. " ujar Tommy
datar.
" Baik Tuan ... " manajer menyuruh
bawahannya untuk membuatkan
copy an yang di minta Tommy.
" Ini Tuan ... " ujar manajer memberikan copy an cctv yang
di minta Tommy.
" Hmm ... Ya, sudah saya pergi."
Tommy melangkah pergi meninggalkan manajer dan club'
setelah mengatakan hal itu pada
manajer.
Tommy segera memacu mobilnya dengan kencang melaju di jalanan
yang mulai sepi. Karena waktu
sudah menunjukkan pukul dua
pagi.
Ia akan pergi ke apartment
Giselle pemberian Aaron.
Tommy tidak ingin, Giselle menjebak sahabatnya lagi.
Sedangkan Aaron sudah berniat
menceraikan Giselle, jika ia tidak
hamil anak Aaron.
Tapi begitu tiba di lobby apartment, ia tidak di perbolehkan masuk, karena hari sudah larut bahkan bisa di katakan pagi.
Sekuriti menyuruhnya untuk datang kembali setelah para
penghuni apartment bangun dan
beraktivitas.
Mendengar hal ini, Tommy benar -
benar frustasi. Ia tidak bisa menolong Aaron saat ini. Ia yakin
Giselle telah berhasil menjebak
Aaron kembali. Wanita j****g itu
pasti sengaja melakukan ini.
Karena sudah beberapa kali ia
mencoba mendatangi dan menghubungi Aaron, tapi Aaron selalu menolaknya.
Aaron benar - benar membenci
Giselle sekarang.
Terpaksa ia harus pergi dari
apartment Giselle dan kembali
saat matahari sudah mulai
menampakkan dirinya.
Sebelum masuk ke dalam mobil,
Tommy memandang ke arah apartment yang menjulang.
Di salah satu kamar yang ada
di sana ada Aaron sahabatnya
yang terjebak bersama wanita
j****g, Giselle.
**********************************
Hai semua, sayang - sayangku .... pada Sehatkan ?
Harus Sehat ya , agar bisa beraktivitas dan tetap produktif.
Sebenarnya Mommy ingin bisa
up seperti Author yang lain hingga
tiga bab sekaligus. Tapi sayangnya Mommy tidak cukup
untuk menulis. Ada aja kesibukan
yang gak bisa di tinggalkan.
Jadi Mommy mohon pengertiannya, ya ... gak papakan
kalau Mommy cuma bisa Up
satu episode setiap harinya.
Tapi jika ada waktu lebih luang,
Mommy akan usahakan sesekali
Up beberapa episode.
Tapi belum tahu kapan, ya sayang... 😀😘
Terima kasih buat yang sudah mendukung novel yang mommy buat. 🙏😁😘😍
Jangan lupa terus dukung Mommy, ya ....like, koment, vote, beri hadiahnya yang banyak .... dan tekan favorit agar notifikasi masuk di tempat kalian semua. hehehe. ❤️😍
__ADS_1
Okey deh ... selamat membaca.😘😘😘