
Setelah kepergian Giselle, tidak
lama Tuan William dan yang lain
sampai di rumah sakit.
Tommy dan Zico membawa Tuan
William kearah ruangan tempat
Aaron di rawat.
Pihak rumah sakit yang mengetahui kedatangan Tuan William segera datang menghampiri. Walaupun Tuan
William bukan pemilik rumah sakit, tetapi pemiliknya adalah
relasi bisnisnya.
" Selamat datang Tuan William." sapa direktur rumah sakit.
" Ya, Terima kasih." jawabnya singkat.
" Tuan Aaron sudah jauh lebih
baik kondisinya sekarang." ujar
direktur.
" Hmm ... " sahut William.
" Silahkan Tuan William, ini ruangan Aaron." Tommy segera membuka pintu kamar Aaron.
William melangkah masuk kedalam. Aaron yang sudah
menunggu kedatangan Daddynya
dengan jantung berdebar keras berusaha menutupi rasa gugup dihatinya.
Tuan William melihat Aaron dengan sangat dingin. Saat ini, ia hanya diam memperhatikan wajah dan tubuh Aaron tanpa mengucap sepatah katapun. Ini membuat Aaron semakin gelisah.
Ia tidak berani menebak, apakah kepulangan Daddy karena sudah mengetahui tentang pernikahannya atau karena
mendapat kabar mengenai Felicie, yang ingin bercerai secepatnya dengan Aaron.
Tuan William memberi kode pada
Rio, asistennya untuk menyampaikan pesannya pada direktur rumah sakit.
" Pak direktur saya ingin bicara sebentar dengan anda di luar sebentar." ujar Rio setelah mengerti dengan maksud Tuan
William.
Aaron dan kedua sahabatnya, bertambah khawatir setelah melihat Rio mengatakan mau
berbicara dengan direktur rumah sakit. Aaron memang sudah
menyuap semua yang ada di rumah sakit yang mengetahui
tentang pernikahannya dengan
Giselle. Tapi dengan kekuasaan
Daddy nya, ia takut semua akan
terbongkar. Untungnya pihak petinggi rumah sakit, hanya beberapa saja yang tahu dan itupun yang bisa Aaron bungkam dengan sejumlah uang. Sedangkan Direktur dan wakilnya tidak mengetahui tentang pernikahan Aaron.
Selain itu hanya para dokter dan
suster rumah sakit yang tahu.
" Baik, mari keruangan saya.
Permisi Tuan William." ujar direktur dengan sopan.
" Ya ..." jawab William singkat dan datar.
" Mana isteri mu ? " tanya William terdengar ambigu ditelinga Aaron.
Apakah maksud Daddy, Felicie atau Giselle ? Aaron belum berani menjawab. Ia menunggu kata selanjutnya.
" Felicie, dimana menantuku ? " tanya William lagi dengan wajah
dingin.
" Felicie masih di apartment, dad ... mungkin sebentar lagi dia datang kesini." ujar Aaron berbohong dan bisa bernafas sedikit lega mendengar Daddy nya
menanyakan Felicie.
" Hubungi Felicie sekarang juga dan suruh datang kerumah sakit." perintah William tegas.
William ingin melihat perubahan
yang terjadi di wajah Aaron dengan menyuruh Felicie datang.
Tapi anaknya lumayan pintar menutupinya. Walau masih bisa
tertangkap perasaan cemas di mata Aaron, tapi tidak terlalu
mencurigakan.
" Baik, dad ... Tom, tolong hubungi Felicie, isteri ku. Katakan padanya
Daddy menyuruhnya kerumah sakit." Aaron memerintahkan Tommy dan sengaja mengatakan
kalimat isteri ku, agar Daddy nya
senang.
__ADS_1
Benar saja, walau Tuan William
menutupi perasaannya, terlihat ia menarik sudut bibirnya dengan tipis berbentuk senyuman begitu mendengar perkataan Aaron.
Tommy segera menghubungi
nomer ponsel Felicie. Ia khawatir, Felicie tidak mau menerima panggilannya karena perkataan
Tommy saat di apartment.
Tapi jika ia tidak berhasil menghubungi Felicie, itu berarti dia akan mendapat masalah.
Pasti Tuan William akan semakin curiga.
Felicie yang sedang santai berjalan bersama Elbert dan Tika,
di dalam mall mengernyitkan dahinya melihat nomer Tommy menghubunginya.
" Siapa Feli ? " tanya Elbert.
" Tommy ." sahut Felicie singkat.
" Ada apa lagi dia menghubungi kamu ? " Elbert terlihat gak senang.
" Gak tau, nih ... " ucap Felicie agak heran karena Tommy terus
menghubunginya.
" Coba aja angkat, Felicie ... mungkin ada hal penting yang mau dia sampaikan." Tika mencoba berfikir positif, karena Tommy tidak berhenti menghubungi ponsel Felicie.
Sedangkan Tommy mulai berkeringat, karena Felicie tidak juga mengangkat teleponnya.
Sementara Tuan William terus mengawasinya sejak ia menghubungi ponsel Felicie.
Bukan hanya Tommy yang gelisah, Aaron dan Zico juga merasakan
hal yang sama.
Felicie akhirnya mau juga mengangkat ponselnya setelah
mendengar omongan Tika.
Ia segera menggeser tombol jawab di handphonenya.
" Halo ... " ucap Felicie.
" Ya, halo Felicie ... Ini aku Tommy.
Kamu masih di apartment, ya .. jam berapa kerumah sakit ? Aaron nungguin kamu, nih ... " ujar Tommy berbohong agar Tuan William tidak curiga sambil menarik nafas lega setelah mendengar suara Felicie.
Begitu juga dengan Aaron dan Zico.
" Untuk apa gue datang kesana ?
Suruh aja isterinya." jawab Felicie ketus.
" Tuan William datang dan sedang
menunggu kamu." Tommy terpaksa mengatakan hal ini agar
Felicie bersedia untuk datang.
" Apa ? Baiklah ... " Felicie sangat terkejut mendengar Tuan William
sudah pulang dan sekarang malah berada di rumah sakit.
" Kenapa Daddy gak pulang setelah gue resmi berpisah dengan Aaron saja, sih ? " batin Felicie merasa khawatir.
" Kenapa Felicie ? " tanya Tika dan Elbert bersamaan karena wajah Felicie terlihat cemas.
" Tolong sekarang antar aku kerumah sakit, El ... Daddy nya Aaron datang. " pinta Felicie dengan panik.
" Tuan William datang ? Terus kenapa kamu jadi cemas kaya
gini, Feli ? " tanya Elbert heran.
" Aku gak mau Tuan William tahu tentang rencana perceraian kami.
Karena pasti dia akan menggagalkannya." sahut Felicie
menjelaskan.
" Ya, udah ... kita berangkat sekarang." ujar Elbert setelah tahu alasan Felicie.
" Ya ... " sahut Felicie singkat.
Dengan tergesa mereka bertiga,
turun dari lantai atas mall menggunakan lift. Setelah masuk ke mobil dilantai empat, Elbert segera memacu mobilnya dengan kencang.
" El, nanti kamu dan mbak Tika sebaiknya jangan ikut masuk kerumah sakit. Aku gak mau
Tuan William jadi bertanya kenapa
kalian bisa datang bersamaku.
Sedangkan tadi Tommy bilang aku lagi di apartment." ujar Felicie dengan pelan agar Elbert tidak salah paham dengan maksudnya.
Elbert yang mengerti dengan kecemasan Felicie, mengangguk setuju. Tika juga melakukan hal yang sama.
" Baiklah, Feli ... Jangan terlalu panik. Semua akan baik - baik saja." Elbert berkata mencoba menguatkan Felicie.
" Iya, Felicie ... kamu harus bisa bersikap biasa saja di depan Tuan William. " sahut Tika.
" Ya ... " jawab Felicie pelan.
Dikamar rumah sakit Aaron mulai sedikit tenang, karena Felicie sedang menuju ketempat ini.
__ADS_1
" Felicie sudah berangkat, Tuan."
ujar Tommy dengan yakin.
" Hmm ... Apa yang kamu lakukan
hingga tubuhmu jadi seperti ini ? "
kini Tuan William baru menanyakan keadaan Aaron.
" Aku kecelakaan, Dad ... ada yang tidak senang denganku ? " jawab Aaron berbohong. Karena gak mungkin dia menceritakan kejadian yang sebenarnya.
" Hmm ... terus yang membuatmu
celaka sudah ditahan ? " tanya
William lagi.
" Bukan kecelakaan di jalan, Dad, maksudku ... tapi aku bertengkar di club' ... karena kebanyakan
minum aku jadi mabuk terus gak
sengaja memukul orang.
Setelah itu aku dikeroyok oleh beberapa orang temannya. Tapi karena awalnya aku yang salah dan banyak saksi yang melihat. Jadi aku memutuskan berdamai dengan mereka. " Aaron
mengarang bebas untuk menutupi
kebohongannya.
" Tommy dan Zico tidak pergi bersamamu ?" tanya William dengan tatapan gak percaya.
" Tidak, Daddy ... saat itu aku sedang marah dengan mereka." ujar Aaron mulai gugup.
" Kenapa kamu marah dengan
mereka ? " Tuan William terus mencecar Aaron dengan pertanyaan.
" Itu karena mereka menyukai
Felicie isteri ku. " kata Aaron sudah gak tahu memberi alasan
apa lagi.
Tommy dan Zico langsung pucat
mendengar perkataan Aaron.
Mereka telah dijadikan tameng oleh Aaron demi menyelamatkan dirinya.
" Apa benar yang dikatakan Aaron ? Kalian berdua menyukai Felicie, menantuku ? " kini Tuan William beralih pada Tommy dan Zico.
" Kami hanya mengagumi Tuan
tidak ada maksud apa - apa.
Bukankah nona Felicie memang sangat cantik. Jadi, saya rasa wajar setiap pria yang melihatnya pasti merasa kagum. Aaron sungguh beruntung memiliki isteri seperti nona Felicie. Sungguh sangat bodoh, jika Aaron melepaskan nona Felicie. " kali ini Tommy yang sengaja gantian
memojokkan Aaron.
" Maksud kamu ? " tanya William
dengan dahi berkerut.
" Saya tidak punya maksud apapun Tuan. Hanya berandai saja, jika Aaron bersikap kurang baik pada nona Felicie, lalu dia
pergi. Pasti akan banyak pria yang akan berusaha mendekatinya.
Mungkin termasuk Zico dan saya."
Tommy berkata dengan nada sarkas sambil menatap Aaron.
Aaron yang mendengar omongan
Tommy, seketika merasa kesal.
Sahabatnya yang satu ini benar -
benar kelewatan. Beraninya dia
bicara seperti ini pada Daddynya.
" Hmm ... kamu benar. Akan banyak pria yang akan mendekati
menantuku jika ia pergi dari anak bodoh ini. Sudah dicarikan wanita yang baik dan cantik, malah masih berharap dengan wanita gak jelas." sindir Tuan William
dengan dingin.
Tommy dan Zico menghembuskan nafas mereka dengan pelan mendengar perkataan Tuan William yang sepertinya tidak curiga.
" Sialan ... " batin Aaron geram pada Tommy.
Sementara itu Rio, asisten William
sudah kembali ke ruangan Aaron
bersama direktur rumah sakit setelah menyelesaikan tugas yang diperintahkan Tuan William.
Rio menghampiri Tuan William lalu membisikkan sesuatu ditelinga Tuan William.
Melihat hal ini Aaron dan kedua sahabatnya kembali gelisah.
Mereka takut, Rio mendapatkan
sesuatu dari pihak rumah sakit.
Tuan William terlihat menganggukkan kepala, dengan rasa puas di matanya.
__ADS_1
**********************************