Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 40


__ADS_3

Setelah kepergian Giselle, tidak


lama Tuan William dan yang lain


sampai di rumah sakit.


Tommy dan Zico membawa Tuan


William kearah ruangan tempat


Aaron di rawat.


Pihak rumah sakit yang mengetahui kedatangan Tuan William segera datang menghampiri. Walaupun Tuan


William bukan pemilik rumah sakit, tetapi pemiliknya adalah


relasi bisnisnya.


" Selamat datang Tuan William." sapa direktur rumah sakit.


" Ya, Terima kasih." jawabnya singkat.


" Tuan Aaron sudah jauh lebih


baik kondisinya sekarang." ujar


direktur.


" Hmm ... " sahut William.


" Silahkan Tuan William, ini ruangan Aaron." Tommy segera membuka pintu kamar Aaron.


William melangkah masuk kedalam. Aaron yang sudah


menunggu kedatangan Daddynya


dengan jantung berdebar keras berusaha menutupi rasa gugup dihatinya.


Tuan William melihat Aaron dengan sangat dingin. Saat ini, ia hanya diam memperhatikan wajah dan tubuh Aaron tanpa mengucap sepatah katapun. Ini membuat Aaron semakin gelisah.


Ia tidak berani menebak, apakah kepulangan Daddy karena sudah mengetahui tentang pernikahannya atau karena


mendapat kabar mengenai Felicie, yang ingin bercerai secepatnya dengan Aaron.


Tuan William memberi kode pada


Rio, asistennya untuk menyampaikan pesannya pada direktur rumah sakit.


" Pak direktur saya ingin bicara sebentar dengan anda di luar sebentar." ujar Rio setelah mengerti dengan maksud Tuan


William.


Aaron dan kedua sahabatnya, bertambah khawatir setelah melihat Rio mengatakan mau


berbicara dengan direktur rumah sakit. Aaron memang sudah


menyuap semua yang ada di rumah sakit yang mengetahui


tentang pernikahannya dengan


Giselle. Tapi dengan kekuasaan


Daddy nya, ia takut semua akan


terbongkar. Untungnya pihak petinggi rumah sakit, hanya beberapa saja yang tahu dan itupun yang bisa Aaron bungkam dengan sejumlah uang. Sedangkan Direktur dan wakilnya tidak mengetahui tentang pernikahan Aaron.


Selain itu hanya para dokter dan


suster rumah sakit yang tahu.


" Baik, mari keruangan saya.


Permisi Tuan William." ujar direktur dengan sopan.


" Ya ..." jawab William singkat dan datar.


" Mana isteri mu ? " tanya William terdengar ambigu ditelinga Aaron.


Apakah maksud Daddy, Felicie atau Giselle ? Aaron belum berani menjawab. Ia menunggu kata selanjutnya.


" Felicie, dimana menantuku ? " tanya William lagi dengan wajah


dingin.


" Felicie masih di apartment, dad ... mungkin sebentar lagi dia datang kesini." ujar Aaron berbohong dan bisa bernafas sedikit lega mendengar Daddy nya


menanyakan Felicie.


" Hubungi Felicie sekarang juga dan suruh datang kerumah sakit." perintah William tegas.


William ingin melihat perubahan


yang terjadi di wajah Aaron dengan menyuruh Felicie datang.


Tapi anaknya lumayan pintar menutupinya. Walau masih bisa


tertangkap perasaan cemas di mata Aaron, tapi tidak terlalu


mencurigakan.


" Baik, dad ... Tom, tolong hubungi Felicie, isteri ku. Katakan padanya


Daddy menyuruhnya kerumah sakit." Aaron memerintahkan Tommy dan sengaja mengatakan


kalimat isteri ku, agar Daddy nya


senang.

__ADS_1


Benar saja, walau Tuan William


menutupi perasaannya, terlihat ia menarik sudut bibirnya dengan tipis berbentuk senyuman begitu mendengar perkataan Aaron.


Tommy segera menghubungi


nomer ponsel Felicie. Ia khawatir, Felicie tidak mau menerima panggilannya karena perkataan


Tommy saat di apartment.


Tapi jika ia tidak berhasil menghubungi Felicie, itu berarti dia akan mendapat masalah.


Pasti Tuan William akan semakin curiga.


Felicie yang sedang santai berjalan bersama Elbert dan Tika,


di dalam mall mengernyitkan dahinya melihat nomer Tommy menghubunginya.


" Siapa Feli ? " tanya Elbert.


" Tommy ." sahut Felicie singkat.


" Ada apa lagi dia menghubungi kamu ? " Elbert terlihat gak senang.


" Gak tau, nih ... " ucap Felicie agak heran karena Tommy terus


menghubunginya.


" Coba aja angkat, Felicie ... mungkin ada hal penting yang mau dia sampaikan." Tika mencoba berfikir positif, karena Tommy tidak berhenti menghubungi ponsel Felicie.


Sedangkan Tommy mulai berkeringat, karena Felicie tidak juga mengangkat teleponnya.


Sementara Tuan William terus mengawasinya sejak ia menghubungi ponsel Felicie.


Bukan hanya Tommy yang gelisah, Aaron dan Zico juga merasakan


hal yang sama.


Felicie akhirnya mau juga mengangkat ponselnya setelah


mendengar omongan Tika.


Ia segera menggeser tombol jawab di handphonenya.


" Halo ... " ucap Felicie.


" Ya, halo Felicie ... Ini aku Tommy.


Kamu masih di apartment, ya .. jam berapa kerumah sakit ? Aaron nungguin kamu, nih ... " ujar Tommy berbohong agar Tuan William tidak curiga sambil menarik nafas lega setelah mendengar suara Felicie.


Begitu juga dengan Aaron dan Zico.


" Untuk apa gue datang kesana ?


Suruh aja isterinya." jawab Felicie ketus.


" Tuan William datang dan sedang


menunggu kamu." Tommy terpaksa mengatakan hal ini agar


Felicie bersedia untuk datang.


" Apa ? Baiklah ... " Felicie sangat terkejut mendengar Tuan William


sudah pulang dan sekarang malah berada di rumah sakit.


" Kenapa Daddy gak pulang setelah gue resmi berpisah dengan Aaron saja, sih ? " batin Felicie merasa khawatir.


" Kenapa Felicie ? " tanya Tika dan Elbert bersamaan karena wajah Felicie terlihat cemas.


" Tolong sekarang antar aku kerumah sakit, El ... Daddy nya Aaron datang. " pinta Felicie dengan panik.


" Tuan William datang ? Terus kenapa kamu jadi cemas kaya


gini, Feli ? " tanya Elbert heran.


" Aku gak mau Tuan William tahu tentang rencana perceraian kami.


Karena pasti dia akan menggagalkannya." sahut Felicie


menjelaskan.


" Ya, udah ... kita berangkat sekarang." ujar Elbert setelah tahu alasan Felicie.


" Ya ... " sahut Felicie singkat.


Dengan tergesa mereka bertiga,


turun dari lantai atas mall menggunakan lift. Setelah masuk ke mobil dilantai empat, Elbert segera memacu mobilnya dengan kencang.


" El, nanti kamu dan mbak Tika sebaiknya jangan ikut masuk kerumah sakit. Aku gak mau


Tuan William jadi bertanya kenapa


kalian bisa datang bersamaku.


Sedangkan tadi Tommy bilang aku lagi di apartment." ujar Felicie dengan pelan agar Elbert tidak salah paham dengan maksudnya.


Elbert yang mengerti dengan kecemasan Felicie, mengangguk setuju. Tika juga melakukan hal yang sama.


" Baiklah, Feli ... Jangan terlalu panik. Semua akan baik - baik saja." Elbert berkata mencoba menguatkan Felicie.


" Iya, Felicie ... kamu harus bisa bersikap biasa saja di depan Tuan William. " sahut Tika.


" Ya ... " jawab Felicie pelan.


Dikamar rumah sakit Aaron mulai sedikit tenang, karena Felicie sedang menuju ketempat ini.

__ADS_1


" Felicie sudah berangkat, Tuan."


ujar Tommy dengan yakin.


" Hmm ... Apa yang kamu lakukan


hingga tubuhmu jadi seperti ini ? "


kini Tuan William baru menanyakan keadaan Aaron.


" Aku kecelakaan, Dad ... ada yang tidak senang denganku ? " jawab Aaron berbohong. Karena gak mungkin dia menceritakan kejadian yang sebenarnya.


" Hmm ... terus yang membuatmu


celaka sudah ditahan ? " tanya


William lagi.


" Bukan kecelakaan di jalan, Dad, maksudku ... tapi aku bertengkar di club' ... karena kebanyakan


minum aku jadi mabuk terus gak


sengaja memukul orang.


Setelah itu aku dikeroyok oleh beberapa orang temannya. Tapi karena awalnya aku yang salah dan banyak saksi yang melihat. Jadi aku memutuskan berdamai dengan mereka. " Aaron


mengarang bebas untuk menutupi


kebohongannya.


" Tommy dan Zico tidak pergi bersamamu ?" tanya William dengan tatapan gak percaya.


" Tidak, Daddy ... saat itu aku sedang marah dengan mereka." ujar Aaron mulai gugup.


" Kenapa kamu marah dengan


mereka ? " Tuan William terus mencecar Aaron dengan pertanyaan.


" Itu karena mereka menyukai


Felicie isteri ku. " kata Aaron sudah gak tahu memberi alasan


apa lagi.


Tommy dan Zico langsung pucat


mendengar perkataan Aaron.


Mereka telah dijadikan tameng oleh Aaron demi menyelamatkan dirinya.


" Apa benar yang dikatakan Aaron ? Kalian berdua menyukai Felicie, menantuku ? " kini Tuan William beralih pada Tommy dan Zico.


" Kami hanya mengagumi Tuan


tidak ada maksud apa - apa.


Bukankah nona Felicie memang sangat cantik. Jadi, saya rasa wajar setiap pria yang melihatnya pasti merasa kagum. Aaron sungguh beruntung memiliki isteri seperti nona Felicie. Sungguh sangat bodoh, jika Aaron melepaskan nona Felicie. " kali ini Tommy yang sengaja gantian


memojokkan Aaron.


" Maksud kamu ? " tanya William


dengan dahi berkerut.


" Saya tidak punya maksud apapun Tuan. Hanya berandai saja, jika Aaron bersikap kurang baik pada nona Felicie, lalu dia


pergi. Pasti akan banyak pria yang akan berusaha mendekatinya.


Mungkin termasuk Zico dan saya."


Tommy berkata dengan nada sarkas sambil menatap Aaron.


Aaron yang mendengar omongan


Tommy, seketika merasa kesal.


Sahabatnya yang satu ini benar -


benar kelewatan. Beraninya dia


bicara seperti ini pada Daddynya.


" Hmm ... kamu benar. Akan banyak pria yang akan mendekati


menantuku jika ia pergi dari anak bodoh ini. Sudah dicarikan wanita yang baik dan cantik, malah masih berharap dengan wanita gak jelas." sindir Tuan William


dengan dingin.


Tommy dan Zico menghembuskan nafas mereka dengan pelan mendengar perkataan Tuan William yang sepertinya tidak curiga.


" Sialan ... " batin Aaron geram pada Tommy.


Sementara itu Rio, asisten William


sudah kembali ke ruangan Aaron


bersama direktur rumah sakit setelah menyelesaikan tugas yang diperintahkan Tuan William.


Rio menghampiri Tuan William lalu membisikkan sesuatu ditelinga Tuan William.


Melihat hal ini Aaron dan kedua sahabatnya kembali gelisah.


Mereka takut, Rio mendapatkan


sesuatu dari pihak rumah sakit.


Tuan William terlihat menganggukkan kepala, dengan rasa puas di matanya.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2