
Tidak terasa hari ini adalah hari
sidang penjatuhan talak cerai dari Aaron pada Felicie. Itu berarti
Felicie akan bertemu kembali
dengan Aaron dan ini yang terakhir. Karena setelah ini mereka tidak akan ada hubungan
sama sekali. Lalu ia akan segera
pergi dari negara ini.
Sebenarnya jika tidak ada campur tangan dari Tuan William, proses perceraian ini jatuhnya akan lebih lama.
Normalnya sidang perceraian itu bisa berjalan kurang lebih selama enam bulan, atau tiga sampai empat bukan jika sidang berjalan lancar dan cepat. Karena jangka waktu tersebut berdasarkan atas tingkat kerumitan setiap kasus perceraian. Ini semua tergantung
kedua belah pihak, baik penggugat maupun tergugat. Apakah mereka kooperatif atau tidak pada saat terjadinya sidang.
Jika kedua belah pihak bersikap
kooperatif maka persidangan
bisa selesai lebih cepat dan
berjalan dengan lancar.
Berbeda dengan kasus umumnya,
sidang perceraian Aaron dan Felicie jauh lebih cepat di laksanakan. Tuan William
meminta pada Hakim dan pihak yang terkait agar segera memproses nya.
Kali ini Tika tidak bisa ikut menemani Felicie. Karena ia harus
mengurus jualan onlinenya yang sedang bermasalah. Salah - satu
pelanggannya ada yang komplain,
karena barang yang mereka pesan belum datang juga pada hari yang di janjikan Tika pada mereka.
Elbert menggenggam tangan Felicie dengan erat saat masih di dalam mobil.Karena tangan Felicie sangat dingin ketika tadi Elbert gak sengaja bersentuhan dengannya.
" El ... " ucap Felicie berusaha menarik tangannya dari genggaman Elbert.
Tapi Elbert menahannya dengan
semakin erat.
" Tanganmu dingin, biarkan sebentar seperti ini. Nanti setelah
lebih hangat akan aku lepaskan."
ujar Elbert menatap Felicie dengan lembut.
Felicie gak bisa menjawab perkataan Elbert. Ia tahu saat ini,
kondisinya tidak dalam keadaan baik. Semalam entah kenapa ia
kesulitan untuk tidur. Setelah
selesai mengemasi semua barangnya yang ada di apartment
Aaron, lalu ia membersihkan apartment Aaron mulai dari lantai atas hingga lantai bawah.
Ia ingin keluar dari apartment itu
tanpa meninggalkan sebutir debu
sedikitpun. Jadi jika nanti Aaron
kembali tinggal di apartment itu,
ia akan senang melihatnya.
Bukan apa - apa, ini hanya sebagai
ucapan terima kasih Felicie saja
terhadap Aaron. Karena bagaimana pun, ia memiliki tempat berteduh yang nyaman setelah ia keluar dari rumahnya.
Meski Felicie punya apartment sendiri pemberian Papa nya, tapi karena saat itu ia tidak ingin Bagas dan keluarganya tahu,
jadi ia terpaksa tinggal bersama
Aaron. Karena terlalu semangat bebersih, ia tidak menyadari jika hari sudah menjelang pagi.
" Kamu sakit, Feli ....? " tanya Elbert karena melihat keringat yang mulai berjatuhan dari dahi
Felicie.
" Gak, hanya kurang tidur aja." ucap Felicie.
" Kog gak bisa tidur ? " tanya Elbert perhatian.
" Karena aku akan segera keluar dari apartment itu, jadi aku membersihkan semuanya. Gak taunya karena keasyikan bebersih, aku sampai lupa waktu." jelas
Felicie jujur.
" Kamu ... kenapa harus memaksakan diri seperti ini ?
Biarkan aja pria itu menyuruh pelayannya untuk membersihkan
apartment nya. Karena itu kamu
jadi kelelahan dan sakit." ujar
Elbert gusar.
" Gak El, aku gak sakit, kog.
Cuma kurang istirahat aja. Nanti
setelah sidang selesai aku akan
menebusnya dengan tidur seharian." ucap Felicie
meyakinkan Elbert.
Elbert memandang Felicie dengan
mata khawatir. Ia benar - benar gak ingin kalau Felicie sampai
jatuh sakit.
" Apa kamu kuat untuk jalan ? "
tanah Elbert.
" Kuatlah. Masa gitu aja gak kuat.
Sungguh aku gak papa, El ... " ujar
Felicie terharu dengan perhatian
yang di berikan Elbert.
" Hmm ... baiklah. Jika kamu gak
kuat bilang biar aku menggendong kamu sampai ke dalam." kata Elbert serius.
" Hehehe ... Okey. " sahut Felicie tertawa melihat wajah Elbert yang
terlihat cemas.
Melihat Felicie tertawa membuat
Elbert jadi ikut tertawa. Ia selalu
merasa bahagia jika bisa melihat
senyum dan tawa Felicie.
Elbert mencubit hidung Felicie dengan gemas tanpa sadar.
Felicie yang mendapat perlakuan
seperti ini dari Elbert mendadak
salah tingkah. Ia membuang pandangannya ke luar agar tidak
bertatapan dengan El.
Elbert yang tahu Felicie sedang
malu, karena yang di lakukannya tadi semakin berniat menggoda
Felicie. Ia sengaja mendekatkan
__ADS_1
wajahnya ke arah Felicie, seakan
ingin mencium Felicie.
Walaupun ia memang sangat menginginkannya selama ini.
Benar saja Felicie langsung bereaksi begitu melihat El mendekatinya.
" Eh, kamu mau lakuin apa, El ... ?"
tanya Felicie terkejut dengan wajah memerah.
Hidung Felicie bisa menghirup wangi maskulin yang keluar dari tubuh Elbert yang jaraknya begitu dekat dengannya.
Lalu Felicie memegang dadanya yang tiba - tiba berdetak lebih keras dari biasanya.
Begitu juga dengan Elbert, rasanya ia sangat ingin menarik
Felicie ke dalam pelukannya saat
ia mencium aroma vanila yang
keluar dari tubuh Felicie.
Tapi El sudah berjanji pada dirinya, ia akan bersabar menunggu cinta Felicie dan tidak
memaksakan perasaannya.
Hingga Felicie sendiri yang datang
padanya suatu hari nanti.
" Gak ada, cuma mau bukain seat belt kamu, Feli ... abis udah nyampe dari tadi gak di buka juga.
Taat peraturan banget sih gadis
kecilku ...." ujar Elbert menggoda
Felicie.
" Oh ... kirain apa ? " ucap Felicie
malu, karena pikiran mesum yang tadi sempat terlintas di kepalanya.
Ia pikir Elbert ingin menciumnya.
" Kamu pikir aku mau lakuin apa rupanya ? " tanya El lagi dengan mata tersenyum.
" Eh, itu ... aku pikir kamu mau
bukain pintu nyuruh aku keluar."
jawab Felicie berbohong dengan
gugup.
" Oh, kirain kamu mikir aku mau
mencium kamu .... hehehe." ledek
Elbert.
" Elbertttttt ... !!! " teriak Felicie
malu, lalu segera keluar dari mobil.
Elbert tertawa melihat tingkah
Felicie. Ia benar - benar seperti
gadis kecil kecil yang sangat menggemaskan. Ia lalu berlari
menyusul Felicie yang sudah
jauh di depan.
Aaron menyaksikan semua yang
terjadi antara Felicie dan Elbert
dengan hati sakit.
Feli terlihat sangat bahagia saat bersama Elbert.
Hari ini ia akan menjatuhkan talak
cerai pada Felicie. Berarti setelah ia menjatuhkan talak, mereka sudah resmi berpisah untuk selamanya. Ia tidak akan lagi
Felicie, isteri cantiknya. Aaron menghela nafas dengan berat,
memikirkan hal ini.
" Istriku sangat cantik, Tom ... " gumam Aaron sambil melihat
Felicie yang kembali mengenakan
pakaian formal untuk sidang terakhir ini. Tapi kali ini ia terlihat
lebih anggun dalam balutan pakaian yang di kenakan nya.
Beginilah perkiraan Author penampilan Felicie hari ini ... 😀
Tommy yang tahu jika sahabatnya
sedang bersedih berusaha untuk
menghiburnya.
" Lo harus kuat, bro ... Jangan
lemah. Gue tahu Lo sedih, tapi
Lo ingat semua ini adalah yang
terbaik yang elo bisa lakukan
buat Felicie." ujar Tommy menepuk bahu Aaron pelan.
" Ya, Lo benar Tom ....ayo, kita
segera menyusul mereka." ucap
Aaron berusaha menutupi perasaan sedihnya.
" Yuk, Zico udah heboh dari tadi,
nih ... " Tommy menunjukkan
ponselnya yang terus berdering
karena panggilan dari Zico.
Aaron dan Tommy lalu keluar dari
dalam mobil dan berjalan dengan
cepat menghampiri Zico.
" Gila Lo, ya Ron ... udah tau sebentar lagi mau sidang. Lo baru
datang jam segini." omel Zico kesal.
" Sorry, bro ... sebenarnya kami udah datang dari tadi, tapi karena
gue dan Tommy kecepatan jadi
kami nunggu di mobil." ujar Aaron
menjelaskan sambil melirik Felicie
yang berdiri tak jauh dari nya.
Aaron dan Zico membicarakan
mengenai sidang hari ini dan
mengenai pengalihan saham pada Felicie yang sudah di lakukan sejak kemarin di perusahaan.
Begitu juga dengan pengalihan kekayaan milik Aaron dan uang
satu milyar yang pernah ia janjikan pada Felicie jika mereka
bercerai.
" Ya, udah kalau gitu kita masuk
__ADS_1
sekarang. Felicie juga udah masuk, tuh ... " ucap Zico.
Benar, Aaron sudah gak melihat
Felicie, yang tadi masih berdiri
bersama Elbert dan pengacaranya.
" Hmm ... " jawab Aaron singkat.
Ia pun mengikuti langkah Zico menuju ruang sidang.
Aaron melihat Felicie sudah duduk dengan manis di kursi
yang di sediakan untuknya.
Sementara Aaron akan duduk
di sebelahnya.
Aaron memandang wajah Felicie
dengan tatapan cinta yang penuh
kesedihan dan penyesalan.
Ingin rasanya Aaron memeluk
tubuh Felicie yang pernah ia lecehkan. Semua lekuk tubuh Felicie masih terekam dengan jelas di pikirannya.
" Andai saja waktu itu aku tidak bertindak bodoh, mungkin aku akan jadi pria yang paling beruntung dan bahagia di dunia ini karena memiliki isteri secantik dan sebaik Felicie." batin Aaron.
Felicie yang merasa sedang
di perhatikan oleh Aaron, hanya bisa menghela nafas pelan.
Elbert yang melihat Aaron terus
melihat ke arah Felicie
menahan gejolak cemburu
di hatinya.
Hakim memulai jalannya persidangan dengan cepat.
Karena kedua belah pihak yang akan bercerai sudah mencapai
kata sepakat. Selama ini kedua pengacara dari pihak Felicie dan Aaron mewakili mereka di setiap persidangan.
Akhirnya tibalah waktunya Aaron
mengikrarkan kata talak untuk
Felicie yang menandakan ia sudah
sah di mata hukum dan agama sebagai pasangan yang telah bercerai.
Saat akan mengucapkan kata - kata, itu Aaron benar - benar merasa berat. Ia terdiam sejenak.
Akhirnya Hakim kembali mengulang dan mengingatkan pada Aaron untuk segera mengucapkan kata talak.
Agar perceraian mereka bisa selesai dengan secepatnya.
Dengan menarik nafas kasar, akhirnya Aaron melafaskan kata
talak itu dari mulutnya.
Setelah Aaron mengucapkan kata talak pada Felicie, ia pun terduduk dengan lemas di kursinya.
Kini hubungan pernikahan mereka benar - benar telah berakhir. Felicie sudah bukan isterinya lagi. Begitu pula sebaliknya. Aaron bukanlah suami Felicie.
Setelah hakim mengesahkan
perceraian mereka akhirnya
sidang ini pun selesai.
Felicie bersama Elbert dan pengacaranya lebih dulu keluar dari ruangan sidang.
Baru kemudian tak lama giliran
Aaron dan kedua sahabatnya.
Aaron hanya bisa menatap dengan nanar ke arah Felicie.
Haknya sebagai suami sudah hilang hari ini.
Tapi tiba - tiba Aaron tidak percaya dengan penglihatannya. Felicie terlihat berjalan mendekat
ke arahnya. Apakah ini mimpi ?
" Apakah Felicie sengaja melakukan ini untuk menghukum ku lalu setelah itu ia akan menerima rasa cinta dariku ?" gumam Aaron senang dalam hati.
" Tuan Aaron ... terima kasih."
ucap Felicie mengulurkan tangannya untuk mengajak berjabatan dengan Aaron.
Aaron termangu mendengar perkataan Felicie. Ternyata Felicie hanya ingin mengucapkan kata terima kasih bukan seperti yang ia pikirkan. Ia hanya berdiri seperti patung tanpa membalas jabatan tangan Felicie .
Tommy yang melihat hal ini segera menyenggol badan Aaron untuk menyadarkannya.
Aaron pun menyadari sikapnya, lalu dengan senyum di wajah
Aaron membalas jabatan tangan dari Felicie.
" Harusnya aku yang berterima kasih padamu, Fei ... karena sudah memberikan kesempatan padaku untuk menjadi suamimu.
Walau hanya sebentar.
Aku sadar, aku memang tidak
pantas untukmu ... Semoga setelah ini kehidupan yang akan kamu jalani lebih baik dan bahagia di bandingkan saat bersamaku.
Maafkan atas semua kesalahan
yang pernah aku lakukan padamu
dan terima kasih untuk segalanya. Aku akan menghukum diriku dengan mencintaimu seumur hidupku." setelah selesai mengucapkan kata - kata ini, Aaron segera melangkah pergi meninggalkan Felicie yang terdiam mendengar perkataan
Aaron.
Semua yang ada di dekat mereka,
termasuk juga Elbert merasa terkejut dengan perkataan Aaron.
Mata Aaron berkaca - kaca setelah berlalu dari hadapan Felicie. Ia benar - benar merasa hancur kali ini.
" Selamat Felicie ... semoga kamu
selalu bahagia. Maafkan Aaron
sahabatku." ujar Tommy menjabat tangan Felicie, lalu berlari mengejar Aaron.
Felicie hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas perkataan Tommy padanya.
Karena kata - kata Aaron tadi masih terngiang jelas di telinganya.
" Feli, kita bisa pulang sekarang ? "
tanya Elbert yang melihat Felicie
masih terkejut dengan ucapan
Aaron tadi dengan menggenggam
tangan Felicie.
Elbert sendiri sebenarnya juga sangat terkejut. Ia tidak menyangka Aaron ternyata mencintai Felicie begitu dalam,
sama seperti dirinya.
" Hah, Ya ... Baiklah." jawab
Felicie gugup dengan lirih.
Elbert segera merangkul Felicie
untuk menyalurkan kekuatan
padanya. Agar gadis kecilnya ini
tidak menjadi rapuh.
**********************************
Maaf semua, Up nya baru bisa
__ADS_1
malam nich ... 🙏🙏😘
Love You All ... 🙏🙏😘😘