
Felicie di dampingi Pengacara, Elbert dan Tika memasuki perusahaan Tuan William.
Kehadiran mereka menjadi pusat
perhatian para karyawan.
Karena selain Felicie yang berwajah cantik, Elbert juga memiliki wajah yang tampan meskipun auranya sangat
dingin.
Felicie menggunakan setelan serba hitam. Ini membuat nya semakin terlihat dingin dan misterius.
Beginilah perkiraan Author, penampilan Felicie saat ini ... π
Begitu juga dengan Elbert, ia mengenakan pakaian yang berwarna sama dengan Felicie.
Sebenarnya ia tidak berkepentingan untuk hadir
di perusahaan Tuan William.
Tapi El tidak ingin, Felicie harus
berlama - lama di perusahaan ini.
Ia akan segera membawa Felicie pergi setelah urusannya selesai.
El hanya sekedar menemani bukan untuk ikut menghadiri
rapat pemegang saham perusahaan Tuan William.
Bagaimana menurut kalian penampilan Elbert ...
Pada saat mereka akan masuk
ke dalam lift, Tuan William
Aaron dan asistennya baru saja tiba di perusahaan.
Felicie yang menghormati Tuan
William seperti orang tuanya sendiri membatalkan niatnya untuk melanjutkan masuk ke lift.
Meski ia harus bertemu kembali dengan Aaron.
Hal ini membuat Elbert merasa
cemburu. Ia tidak ingin Aaron mengambil kesempatan ini untuk
berdekatan dengan Felicie.
Apa lagi setelah ia mendengar
kalau Aaron mencintai Felicie.
" Feli, kenapa tidak kita lanjutkan saja ? Nanti kamu akan ketemu juga dengan Tuan William di atas."
protes Elbert.
" Gak sopan, El ... bagaimanapun
Tuan William adalah orang tua.
Masalah ku dan Aaron sudah selesai. Tapi aku tidak mungkin
mengacuhkan Tuan William."
ujar Felicie dewasa.
" Benar apa yang di katakan Felicie, Elbert ... Ini tidak sopan.
Lagi pula setelah rapat ini, kamu
bisa puas bersama dengan Felicie
tanpa ada Aaron di sekitar kalian."
Tika membantu Felicie untuk
memberi pengertian pada Elbert.
Elbert membenarkan omongan
Felicie dan Tika dalam hati.
Ia harus sedikit lebih bersabar, agar bisa meraih cinta Felicie.
Elbert tidak mau di anggap sebagai pria cemburuan, meski ia memang lagi cemburu.
" Baiklah, Feli ... aku mengerti." ucap Elbert akhirnya.
Aaron yang sudah melihat kehadiran Felicie sejak ia masuk
ke dalam perusahaan berusaha
menenangkan dadanya yang berdetak keras.
Ia begitu merindukan wajah gadis kecilnya ini. Rasanya Aaron ingin sekali berlari ke arah Felicie lalu
menariknya ke dalam pelukan.
Tapi ia sadar ini semua tidak akan
bisa ia lakukan, karena semua
masalah yang masih mengitari
kehidupannya. Masalah Giselle dan Vera yang hamil secara
bersamaan. Ia harus menunggu
hingga anak dalam kandungan
mereka lahir, baru bisa memutuskan langkah selanjutnya.
Tuan William yang melihat wajah
anaknya berubah setelah melihat Felicie hanya bisa menghela nafas dengan berat.
Ia tahu, Aaron pasti mulai menyesali semua perbuatannya.
Apalagi dari mata Aaron bisa terlihat dengan jelas kalau ia sudah mencintai Felicie.
Walau pun Tuan William sangat berharap Aaron dan Felicie bisa bersatu kembali tapi ia juga sadar, Felicie tidak akan mungkin mau
menerima kehadiran dua bayi, jika itu terbukti memang anak Aaron.
Belum lagi pria yang berdiri di dekat Felicie. Tuan William tahu, pria itu juga mencintai Felicie. Karena dari setiap laporan yang ia terima dari anak buahnya yang di tugaskan untuk memantau Aaron dan Felicie, pria ini selalu menemani Felicie di setiap saat.
" Apa kabar, sayang ? " sapa William begitu mereka sudah
berdiri di hadapan Felicie.
" Baik, Daddy ... Daddy sehatkan ?"
Felicie membalas sapaan William
dengan tersenyum kecil.
Aaron begitu terpana melihat senyuman Felicie. Tanpa malu, ia
terus menatap wajah Felicie dengan perasaan rindu yang terpancar di mata Aaron.
Sikap Aaron ini membuat Elbert
mengepalkan kedua tangannya, karena menahan rasa marahnya.
" Kurang sehat ... karena Daddy
merindukan menantu Daddy yang
cantik ini. " ujar William serius.
Hal ini tentu saja membuat Felicie
sedikit salah - tingkah. Lagi - lagi
ia hanya bisa tersenyum kecil.
" Sudah, sebaiknya kita semua naik. Sebentar lagi rapat akan
di mulai." uajr William berusaha mengalihkan suasana karena ia tahu Felicie pasti merasa serba salah karena ucapannya tadi.
" Baik, dad ... " jawab Felicie lega.
Mereka menaiki lift yang khusus
di peruntukkan para petinggi
di perusahaan ini.
Aaron berusaha agar bisa berdiri
dekat dengan Felicie, tapi Elbert
langsung mencegahnya. El yang berdiri tepat di samping Aaron.
Aaron hanya bisa mendesis dalam hati melihat sikap Elbert.
" Ini siapa nak ? " tanya William pada Felicie menunjuk ke arah Tika dan Elbert, sembari memecahkan suasana yang hening di dalam lift.
William pura - pura belum tahu
siapa mereka berdua.
" Oh, ya ... maaf Dad, Felicie sampai lupa mengenalkan mereka. Ini mbak Tika, saudara Felicie. Kalau yang ini Elbert,
teman Feli, dad ... sedangkan yang ini Daddy pasti udah tahu
karena Pak Pengacara ini kemarin sudah pernah datang menemani Felicie ke perusahaan saat penandatanganan serah terima saham dan yang lain."
Felicie memperkenalkan Tika dan Elbert.
__ADS_1
Tika dan Elbert menjulurkan tangan mereka untuk menyalami Tuan William.
William pun menerima uluran tangan keduanya dengan wajah
serius. Ia menganggukkan kepala
saat Tika dan Elbert menyebutkan
nama mereka.
Setelah itu mereka tiba di lantai
tempat di adakan nya rapat para
pemegang saham. Felicie harus menghadirinya sembari ingin
memperkenalkan Tika sebagai
wakilnya jika ia suatu saat tidak bisa ikut hadir di rapat.
" Aku akan menunggu kamu di sini." kata Elbert ketika melihat Felicie harus masuk ke ruangan rapat.
" Ya ... " sahut Felicie singkat.
Mendengar obrolan singkat mereka sangat membuat Aaron
cemburu dan sedih. Cemburu, karena ia tidak bisa sedekat itu
dengan Felicie. Sedih karena ia sudah tidak memiliki harapan lagi.
Elbert duduk di sofa yang ada
di ruang yang khusus di sediakan
untuk tamu perusahaan.
Dalam ruangan rapat, Felicie
di perkenalkan oleh Tuan William
sebagai salah satu pemilik saham
terbesar selain dirinya, pada semua yang hadir.
Tommy dan Zico yang sudah lebih dulu berada di ruang rapat karena menyiapkan semua berkas yang
di perlukan untuk rapat ini, melihat
Felicie dengan takjub.
Mata Tommy juga tak sengaja melihat ke arah Tika yang menemani Felicie.
" Hmm ... ternyata wanita jutek ini,
manis juga jika diam seperti ini."
gumam Tommy dalam hati.
Tika yang tahu kalau Tommy sedang memperhatikannya langsung mendelikkan matanya.
" Huh, baru juga di puji ... udah keluar juteknya." rutuk Tommy.
Hal ini tentu saja membuat pertanyaan di benak mereka. Kenapa Tuan William bisa menyerahkan sahamnya pada seorang wanita. Apalagi saham sebanyak itu di miliki seorang wanita muda.
Siapa wanita muda ini ? Apakah dia simpanan Tuan William ? Tapi tidak mungkin, karena selama ini
Tuan William di kenal setia.
Sejak isterinya meninggal tidak ada berita yang terdengar jika ia
dekat atau berhubungan dengan
para wanita di luar sana.
Tapi pertanyaan ini hanya berani mereka simpan dalam hati saja.
Karena mereka tahu bagaimana
sikap Tuan William, jika ada yang
berani menyinggung atau menentangnya.
" Tenang ... saya tahu apa yang
sedang kalian pikirkan saat ini.
Felicie adalah isterinya Aaron,
anak saya. Pernikahan mereka
hanya di adakan untuk keluarga
terdekat saja. Tidak di publikasikan sama sekali.
Ini dilakukan atas permintaan
keduanya. Karena baik Felicie
maupun Aaron ingin pernikahan
masih ingin meneruskan kuliahnya. Lagi pula, saya sudah menganggapnya sebagai anak saya sendiri. " Tuan William sengaja mengatakan hal ini agar para para pemegang saham
tidak lagi banyak bertanya dan
ingin melihat sikap Felicie.
Perkataan Tuan William ini tentu saja membuat Felicie dan Tika sangat terkejut. Felicie merasa
di jebak dengan penjelasan ini.
Beda dengan Aaron, ia sangat
senang mendengar perkataan
Daddy nya. Di depan semua pemegang saham, status Felicie
masih tetap isterinya.
Perkataan Tuan William membuat Zico merasa kesal dalam hati.
" Apaan udah mantan isteri juga."
batin Zico.
" Maaf, Tuan - tuan , saya ingin menyampaikan hal yang penting untuk kalian ketahui." ujar Felicie berdiri.
Ia ingin meluruskan masalah ini.
Ia tidak ingin di kemudian hari,
ia mendapatkan masalah karena
perkataan Tuan William tadi.
Ia memang pernah jadi isterinya
Aaron tapi sekarang mereka sudah bercerai.
Semua mata pemegang saham
mengarah pada Tuan William untuk menunggu keputusannya,
apakan Felicie bisa berbicara atau
tidak.
" Silahkan lanjutkan apa yang ingin kamu sampaikan. Kami semua akan mendengarkan."
Tuan William mengijinkan keinginan Felicie. Karena memang
ini yang ia tunggu, ketegasan atas sikap Felicie.
" Terima kasih, sebelumnya saya ingin mengoreksi perkataan
Tuan William, memang benar saya
pernah jadi isterinya Aaron tapi itu beberapa waktu yang lalu. Tapi kami sudah berpisah dengan
cara baik - baik. Jadi saat ini,
status saya bukan lagi isteri Aaron. Mengenai saham saya sudah menolaknya pada Tuan William, tetapi beliau memaksa saya untuk menerimanya karena suatu alasan. Jika anda tidak
bisa menyetujui hal ini, saya
akan mengembalikan saham ini kembali pada Tuan William.
Terima kasih." ujar Felicie dengan
tegas.
Ia tidak perduli jika Tuan William akan marah padanya setelah ini.
Felicie hanya ingin bicara jujur,
agar tidak menimbulkan masalah
di belakang hari.
Ia tidak tahu apa yang terjadi
ke depannya dalam kehidupannya.
Apakah ia tetap sendiri, atau malah bersama Elbert.
Bukannya marah dengan apa yang
di sampaikan Felicie, ia malah tertawa sembari bertepuk - tangan dengan keras.
Sikap Tuan William ini membuat
semua yang ada di ruangan rapat ini heran dan tak berani untuk bicara. Baru kali ini mereka bisa
melihat Tuan William tertawa.
Biasanya sikap yang ia perlihatkan hanya dingin dan serius. Bahkan terkadang kesannya menyeramkan, karena
__ADS_1
sorot matanya akan menjadi sangat tajam jika ada yang melakukan kesalahan.
Tidak terkecuali Tommy dan Zico.
Mereka deg - deg an sekarang.
Gadis kecil ini terlalu berani menentang perkataan Tuan William. Meski pun Zico juga senang dengan bantahan yang
di katakan Felicie.
Aaron juga bingung melihat sikap Daddy nya. Kenapa bisa tertawa
setelah Felicie membongkar kebohongannya.
Felicie dan Tika hanya bisa menghela nafas dengan berat karena hal ini. Meski khawatir, tapi ia sudah lega karena sudah mengatakan hal yang sebenarnya.
" Bagus nak ... Daddy tidak salah
memilihmu untuk menyerahkan
saham ini padamu. Kamu meski
masih sangat muda, tapi bisa bersikap tegas dan jujur. Sikap ini
adalah sikap seorang pemimpin.
Ini adalah hal yang paling benar
Daddy lakukan dalam hidup ini.
Bahkan anak kandungku sendiri,
melakukan hal yang bodoh dan tidak jujur. Jadi, karena kalian semua sudah mendengar bantahan yang di katakan Felicie
anak saya, saya tidak ingin mendengar lagi ada yang berani
bicara atau protes, di belakang hari. Memang benar, Felicie adalah mantan isterinya Aaron tapi saya sudah menganggapnya sebagai anak kandung saya sendiri. Jadi, tidak ada satupun orang yang berhak mengajukan
keberatan atas keputusan saya."
kata William panjang dengan tegas.
Sebelum melanjutkan perkataan
nya, William melihat ke arah
semua yang hadir dengan sorot mata tajam.
" Satu hal lagi, ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada semua yang hadir di ruangan ini,
mulai hari ini Aaron tidak lagi
memimpin dan memiliki kekuasaan atas perusahaan William. Semua hak atas dirinya
untuk menjalankan perusahaan
sudah saya ambil kembali.
Jadi, segera buatkan surat
pemecatan dirinya." perintah Aaron dengan wajah serius dan tegas pada pengacara pribadinya.
Semua yang hadir terlihat sangat terkejut dengan keputusan yang di katakan oleh Tuan William.
Mereka tidak menyangka jika
Aaron di berhentikan oleh Tuan
William.
Begitu juga dengan Felicie, mendadak ia merasa kasihan melihat nasib Aaron. Walau ia tahu masalah ini akan terjadi jika Aaron ketahuan Tuan William menikahi Giselle.
Bagaimana nasib Aaron selanjutnya jika ia tidak memimpin perusahaan ini lagi ?
Pertanyaan ini memenuhi kepala
Felicie.
Kecuali Tommy dan Zico,
mereka sudah bisa menduga hal ini bakal terjadi pada Aaron, karena ia berani menentang perintah Daddy nya untuk menjauhi Giselle. Mereka tidak
bisa berbuat apapun kali ini.
Tapi saat mereka melihat wajah
Aaron, tidak terlihat keberatan
sama sekali, bahkan ia terlihat
biasa saja, Tommy dan Zico merasa heran.
Ya, karena Aaron mendengar perkataan Daddy nya kali ini.
Ia tidak ingin kembali salah dalam
mengambil keputusan dalam hidupnya hingga harus sampai
kehilangan Felicie.
Setelah semua di sah kan, di tanda tangani oleh semua pihak
yang berkaitan dengan perusahaan. Termasuk juga Felicie yang menunjukkan surat
kuasa darinya buat Tika, sebagai
pihak yang mewakilinya jika tidak
bisa hadir di perusahaan.
Akhirnya rapat ini pun selesai.
Tuan William pun bangkit dari tempat duduknya di ikuti asisten dan Aaron. Lalu Felicie dan yang lainnya juga.
Satu - persatu peserta rapat mulai
keluar dari ruangan, setelah
Tuan William keluar terlebih dulu.
Elbert yang melihat ini, segera bangkit dan menunggu Felicie keluar.
Tuan William melihat Elbert yang begitu sabar menunggu Felicie,
menghampirinya.
" Anak muda, jika kau benar - benar mencintai anakku Felicie, tolong jaga Felicie dengan baik. Jangan sakiti dia seperti Aaron menyakitinya. Bisakah kau berjanji untuk membuatnya selalu bahagia?" ucap William menatap mata Elbert.
" Jangan khawatir, Tuan ... aku akan menjaganya dengan seluruh
jiwa dan ragaku. Itu karena aku
sangat mencintainya. Jadi, tanpa
Tuan meminta tolong, aku akan
selalu membuatnya bahagia." kata Elbert dengan wajah serius.
" Terima kasih ... " ucapnya sembari menepuk bahu Elbert, lalu William beranjak pergi.
Elbert melihat William yang menjauh dengan mata kagum. Pantas saja William di hormati,
dan di takuti di dunia bisnis,
karena sikapnya yang sangat tegas dan bisa mendominasi lawan bicaranya.
Tidak lama kemudian Felicie keluar bersama Tika dan pengacaranya. Di belakangnya ada Aaron dan teman - temannya.
Elbert segera menghampiri Felicie, agar ia tidak usah
berlama - lama di dekat Aaron.
" Feli, sudah selesaikan, ayo kita pergi." ajak Elbert sengaja menggenggam tangan Felicie
di depan Aaron.
" Ya, sudah selesai. Baiklah."
jawab Felicie lirih, karena ia masih
terpikir dengan nasib Aaron setelah tidak menjadi pemimpin di perusahaan ini.
Melihat hal ini membuat dahi
Elbert berkerut. Kenapa wajah
Felicie seperti lagi memikirkan sesuatu.
Felicie dan Elbert bersama Tika dan pengacaranya segera melangkahkan kaki untuk meninggalkan perusahaan
Tuan William.
Sedangkan Aaron hanya bisa melihat tubuh Felicie yang semakin menjauh darinya dan tak mungkin lagi bisa di raihnya.
Memikirkan ini membuat hatinya begitu sakit.
" Udah, bro ... kita juga pergi
ke ruangan Lo. Banyak yang ingin kami tanyakan sama Lo." ujar Tommy mengalihkan perhatian
Aaron dari Felicie.
" Hmm ... " sahut Aaron singkat dan mengikuti langkah Tommy dan Zico ke ruangan yang sebentar lagi tidak bisa ia tempati.
**********************************
Selamat membaca ... ππ
dan sampai jumpa di episode selanjutnya.
Jangan lupa like, koment postifnya ... πππ, Favorit β€οΈkan juga ya ... π
Buat yang sudah mendukung cerita Mommy, Terima kasih ... πππ
Love You All ... β€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1