
Sudah tiba waktunya bagi Aaron dan Tommy untuk pergi ke - perusahaan milik Elbert.
Sejujurnya dalam hati Aaron saat ini ia merasakan gugup. Karena setelah sekian lama ia akan bertemu lagi dengan pria yang pernah di anggapnya sebagai saingan dalam mendapatkan cinta Felicie.
Ia yang awalnya menganggap Elbert sebelah mata pada saat mereka bertemu pertama kali di hotel tempat ia menginap. Aaron meremehkan keberadaan Elbert yang waktu itu terlihat sebagai pria muda dan tidak memiliki hal yang patut di banggakan. Tapi ia tidak pernah menyangka bahwa ternyata Elbert adalah pemilik dari beberapa perusahaan besar. Bahkan Daddy nya meminta untuk bekerja sama dengan perusahaan Elbert. Pantas saja Elbert tidak pernah terlihat takut atau terintimidasi dengan tatapan tajam yang diberikan Aaron padanya. Ternyata power yang ia miliki melebihi, bahkan jauh lebih besar dari pada perusahaan Aaron dan Daddy nya. Meski perusahaan mereka juga sudah di akui tapi tetap saja belum bisa mengimbangi perusahaan Elbert.
Jika Aaron di bandingkan dengan Elbert, ia bukanlah apa - apa. Ia hanya anak pemilik dari perusahaan. Sementara Elbert dialah pemilik perusahaan besar itu. Andaikan Felicie dan Elbert saling mencintai maka ia tidak akan memiliki kesempatan sama sekali. Elbert terkenal sebagai sesosok pria yang misterius. Selama ini wajahnya tidak pernah terlihat di media manapun. Gosip tentang dirinya dengan wanita pun tidak pernah terdengar. Sekalinya berita keluar pria saingan Aaron itu sudah tunangan dan tidak lama kemudian menikah. Sedangkan dirinya begitu banyak membuat sensasi dalam kehidupan nya. Hampir semua media mengetahui tentang kisah cintanya dengan Giselle. Belum lagi dengan jala** - jala**ng yang ia bayar untuk melayaninya.
Andai ia seorang wanita tentu lebih memilih Elbert dari pada Aaron. Track record nya sangat bagus. Jauh dari skandal buruk.
Pada awalnya Aaron bisa sedikit bernafas dengan lega setelah mengetahui Elbert sudah menikah dan wanita yang dinikahinya bukanlah Felicie. Tapi sekarang setelah ia melihat video pernikahan Elbert, Aaron merasa janggal. Apalagi setelah Aaron melihat video Elbert tunangan kemudian pernikahan mereka , wajah Elbert sama sekali tidak memperlihatkan perasaan bahagia sedikitpun. Jelas sekali Aaron bisa melihat sebagai pria yang sudah berpengalaman dalam hal wanita, ia bisa mengetahui senyum yang di - perlihatkan Elbert pada media terkesan di paksakan. Agar terlihat bahagia di depan publik.
Apalagi sebelum peristiwa itu terjadi, ada beberapa skandal yang terjadi antara Elbert dan wanita bernama Claire itu. Aaron bisa melihat wajah Elbert terlihat penuh amarah ketika wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya itu menyebarkan video ketika di hotel dan apartment yang tertangkap oleh kamera wartawan. Meski semua video itu sudah di hapus dari semua media online tapi dengan kekuasaan Tuan William semua itu bisa ia dapatkan, karena ada beberapa orang yang sudah menyimpan video mereka. Sehingga Aaron bisa melihatnya.
" Apa sebenarnya Elbert terpaksa menikahi wanita itu ?" batin Aaron dengan rasa cemas.
" Bro, apa lagi yang Lo pikirkan ?" tanya Tommy pelan melihat wajah Aaron yang terlihat memikirkan sesuatu.
" Hah ? Tidak, tidak ada apa - apa. Gue hanya gak nyangka aja, jika pria tengil yang kita jumpai di hotel waktu itu adalah pemilik dari perusahaan raksasa !" Aaron berbohong karena ia tidak mungkin mengatakan isi pikirannya saat ini yang belum tentu benar pada Tommy.
" Iya, Lo benar bro. Gue juga awalnya gak menyangka kalau pria menyebalkan yang pernah kita temui itu adalah seorang pengusaha besar. Padahal usianya masih di bawah kita. Hehe ... " kekeh Tommy dengan wajah takjub.
" Hmm ... usianya memang di bawah kita tapi perusahaan yang di jalankannya begitu besar dan mendunia. " ucap Aaron berusaha menutupi perasaan kesalnya, karena ada sedikit rasa iri di hatinya melihat kehebatan Elbert.
" Semoga Elbert tidak dendam atas kejadian waktu itu dan mau menerima kerja sama yang kita tawarkan. Agar perusahan Tuan William semakin kokoh di negara ini." ujar Tommy serius.
" Ya, semoga ia tidak mengingat kejadian itu ! " gumam Aaron.
" Aamiin. Semoga saja. " sahut Tommy.
Suasana kembali hening setelah Aaron dan Tommy selesai mengatakan hal itu. Keduanya terdiam dengan pikiran yang memenuhi di kepala mereka.
Meski kesal pada Elbert tapi Aaron sangat berharap kerja sama yang ia tawarkan bisa di - terima olehnya. Karena ia juga tahu, ini akan membuat perusahaan Daddy nya akan menjadi jauh lebih kuat dan kokoh di negara adikuasa ini.
" Jika memang pernikahan Elbert seperti yang aku pikirkan. Berarti ada kemungkinan pernikahan mereka tidak akan lama. Bagaimana jika Elbert menceraikan istrinya dan mendekati Felicie kembali ? Apakah Felicie akan menerimanya ?" batin Aaron mulai gelisah.
" Tuan, kita sudah sampai. " suara Leon memecahkan keheningan yang ada di dalam mobil.
Aaron pun tersadar dari lamunannya saat mendengar perkataan Leon.
Ia memandang keluar. Perusahaan Elbert terlihat begitu besar. Jauh lebih besar dari miliknya.
" Ron, kita udah sampai. " ujar Tommy lagi karena tidak melihat tanggapan dari Aaron.
" Hmm ... " sahut Aaron singkat.
Setelah Leon membukakan pintu mobil buat mereka, Aaron dan Tommy pun keluar. Aaron melihat bayangan nya di kaca mobil dan merapikan sedikit jas yang ia kenakan. Ia tidak mau terlihat lusuh di depan Elbert. Bagaimanapun Aaron ingin terlihat jauh lebih tampan di mata Elbert yang merupakan saingan cintanya.
" Mari Tuan." Leon membawa jalan buat mereka.
Aaron dan Tommy mengikuti langkah Leon. Mereka tidak ingin kesasar. Bagaimanapun ini baru pertama kali mereka datang dan menginjakkan kaki ke perusahaan ini.
Setelah memberitahu tujuan kedatangan mereka pada karyawan perusahaan Elbert, Aaron dan Tommy di bawa menuju ruangan Elbert yang terletak di lantai paling atas di gedung mewah ini.
Mata karyawan wanita tidak lepas menatap mereka berdua. Wajar saja, Aaron dan Tommy memang memiliki wajah tampan. Mereka juga sudah terbiasa melihat kejadian seperti ini. Mata wanita yang menatap mereka dengan tatapan kagum bukanlah hal baru. Apalagi wajah tampan Aaron yang terkesan angkuh dan dingin. Sedangkan Tommy wajahnya terlihat ramah dengan senyum yang menghias di bibirnya. Jadi wajar saja mereka jadi pusat perhatian buat kaum wanita.
" Gi** ... siapa kedua pria tampan tadi ?" tanya seorang wanita dengan mata berbinar.
" Iya, tangan banget. Aku baru melihat mereka. " sahut wanita lain.
" Kalau setampan mereka, aku rela walau hanya jadi simpanan satu hari ... hehehe."
" Hahaha ... iya, aku juga rela. "
__ADS_1
" Kalian lihat gak yang tampan berwajah dingin tadi. Hatiku langsung meleleh melihat nya. "
" Kalau aku lebih suka sama si tampan yang wajahnya tersenyum itu. Dia terlihat lebih sexy. "
" Gak ah, aku setuju sama dia. Aku lebih penasaran dengan pria tampan berwajah dingin itu. Wajah dinginnya mengesankan. Dia pasti akan jadi pria liar jika kita bisa menaklukannya."
" Hmm ... sudah cukup bermimpinya. Sekarang kalian semua kembali ke tempat masing - masing sebelum kena pecat. Kalian tidak tahu siapa kedua pria tadi yang telah kalian perebutkan."
" Memang nya siapa mereka ?" .
" Pria yang kalian bilang berwajah dingin itu adalah anak dari pemilik perusahaan William. Ia seorang CEO. Tuan itu terkenal arrogant dan sulit di dekati oleh wanita - wanita sekelas kalian. Sedangkan yang tampan satu lagi adalah tangan kanannya sekaligus sahabat dekatnya. Pria seperti mereka tidak akan pernah bisa kalian miliki. Karena mereka pasti sudah memiliki pasangan yang sesuai dengan kedudukan mereka. Jadi sebelum kalian terlalu jauh bermimpi, sebaiknya kembali bekerja. Jangan sampai karena perkataan kalian tadi, pekerjaan kalian melayang !" .
Begitu mendengar ini wajah beberapa wanita yang bergosip tadi langsung berubah pucat. Perlahan mereka bubar dan kembali ke meja nya masing - masing untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda karena kehadiran Aaron dan Tommy.
" Mereka sudah tiba, Tuan !" ujar Jhon memberitahukan kedatangan Aaron dan Tommy pada Elbert.
" Hmm ... suruh mereka masuk. Aku mau lihat wajah Aaron saat berhadapan denganku !" perintah Elbert dengan wajah datar.
" Baik, Tuan !" Jhon berjalan mendekati pintu ruangan Elbert untuk membukakan pintu buat mereka.
Sementara itu Aaron berusaha menenangkan dadanya yang mendadak berdetak lebih kencang begitu mereka tiba di depan pintu ruangan Elbert. Ia bukan takut ataupun cemas karena berhadapan dengan Elbert. Melainkan ia ingin segera melihat reaksi Elbert saat ia nanti menanyakan mengenai Felicie. Ia hanya ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang terus memenuhi kepalanya sejak ia meragukan pernikahan yang di lakukan Elbert.
Jhon segera membuka pintu begitu mendengar suara ketukan di pintu ruangan Elbert.
" Silahkan masuk, Tuan Aaron, Tuan Tommy. " ujar Jhon tetap sopan meski dengan wajah datar.
Aaron tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai gantinya. Aaron dan Tommy melangkah masuk ke - dalam ruangan Elbert yang begitu mewah dan besar. Selama ini Aaron merasa kalau ruangan yang pernah ia tempati di perusahaan Daddy nya sudah cukup besar dan mewah. Tapi itu ternyata tidak ada apa - apanya jika di bandingkan dengan ruangan yang ia masuki sekarang.
Aaron melirik Elbert dengan sudut matanya. Pria itu sama sekali tidak bergeming dengan kehadirannya. Ia masih terlihat serius membaca dokumen yang ada di meja kerjanya.
Hal ini membuat Aaron mendengus kesal.
" Pria ini benar - benar sombong dan tidak menghargai ku !" .
Padahal sebenarnya Elbert juga sedang menutupi perasaan marahnya pada Aaron. Ia juga lagi berusaha agar tidak mencampurkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.
Walau terus - terang saja dalam hatinya Elbert sangat khawatir jikalau Aaron mengetahui keberadaan Felicie. Ia cemas dan merasa cemburu pada Aaron. Ia takut Aaron akan menemui dan mengajak Felicie kembali bersamanya. Sementara saat ini ia belum bisa menyelesaikan masalah yang sedang menimpanya.
Setelah berhasil menetralkan perasaannya, Elbert bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Aaron dan Tommy yang duduk di kursi yang khusus di sediakan untuk tamu perusahaan yang membahas masalah pekerjaan dan semacamnya.
Melihat Elbert menghampiri mereka, terpaksa Aaron bangkit dan diikuti oleh Tommy. Bagaimanapun ia harus bersikap sopan, karena perusahaan mereka yang membutuhkan kerja sama ini bukan Elbert.
" Selamat sore Tuan Elbert. Maaf kami menganggu waktu anda. " ucap Aaron berusaha terlihat sopan meski tetap saja dengan wajah datarnya.
" Hmm ... silahkan duduk. Langsung saja kita bicarakan beberapa point penting yang ingin kalian ajukan dalam kerja sama ini !" kata Elbert dengan wajah gak kalah dingin dari Aaron.
Wajah pecicilan yang dulu pernah Aaron dan Tommy lihat saat mereka di Jakarta tidak terlihat sama sekali. Elbert terlihat begitu dingin dan berwibawa. Tapi Aaron berusaha tidak terintimidasi dengan sikap Elbert. Bagaimanapun ia juga sudah terbiasa menghadapi banyak pengusaha dari berbagai kalangan selama ia menjabat sebagai CEO di perusahaan Daddy nya.
" Terima kasih Tuan Elbert." ucap Aaron singkat lalu menjelaskan dengan rinci semua proposal pengajuan kerja sama yang ingin ia ajukan pada perusahaan Elbert.
Tommy juga membantu dengan menjelaskan melalui layar proyektor agar lebih jelas dan lengkap.
Aaron melirik Elbert dengan sudut matanya. Ia melihat wajah Elbert begitu serius mendengarkan semua yang ia dan Tommy jelaskan. Hal ini membuat Aaron sedikit merasa kagum.
" Begitulah semua hal mengenai pengajuan kerja sama yang kami ajukan pada Tuan Elbert. Semoga apa yang sudah kami presentasikan tadi bisa memenuhi syarat dan ketentuan yang Tuan Elbert inginkan." ucap Aaron menutup presentase yang mereka ajukan dengan wajah serius.
" Hmm ... Terus terang saya suka dengan kerja sama yang kalian tawarkan. Tapi saya masih harus melihat langkah selanjutnya dari kinerja perusahaan anda. Walau saya tahu Tuan William adalah orang yang bisa di andalkan, karena ia selalu serius dalam menjalankan pekerjaannya. Tapi karena anda yang sekarang menjadi wakil dari Tuan William, saya harus menganalisanya kembali. " ucap Elbert tetap dengan wajah dinginnya.
Aaron begitu emosi mendengar perkataan Elbert yang terkesan merendahkan kredibilitasnya sebagai wakil dari Daddy nya.
" Maaf Tuan Elbert, jika saya berkata lancang. Meskipun Tuan William itu adalah Daddy saya, beliau tidak akan pernah mencampur - adukkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi. Beliau memilih saya untuk menjadi wakilnya dalam pekerjaan , karena ia percaya dan yakin dengan hasil kinerja saya selama ini pada perusahaannya. Jadi saya rasa Tuan Elbert tidak berhak meragukan kemampuan saya." ucap Aaron dengan wajah gak kalah dinginnya dengan Elbert.
Elbert menarik sudut bibirnya dan tersenyum smirk ke arah Aaron.
__ADS_1
" Tuan Aaron, apa anda yakin akan mengerjakan hal ini. Karena itu berarti anda harus menetap beberapa waktu di negara A. Bagaimana dengan kedua istri anda yang sedang hamil. Apa anda siap meninggalkan mereka ?" kata Elbert sengaja mengejek Aaron.
Aaron lumayan terkejut mendengar perkataan Elbert. Ia juga tidak menyangka jika mereka berhasil mendapatkan perjanjian kerja sama ini, ia harus menetap selama beberapa hari lagi di negara ini. Ia berpikir mereka akan kembali pulang ke Indonesia setelah berhasil menandatangani kerja sama mereka. Lalu pekerjaan itu akan dilanjutkan oleh wakil Daddy nya yang ada di sini. Leon tidak ada menyampaikan masalah itu padanya.
Aaron tidak sanggup berlama - lama di negara ini karena itu akan membuatnya ingin terus menemui Felicie. Padahal ia hanya di - perbolehkan oleh Daddy untuk melihat wanita yang di cintai nya itu dari kejauhan tanpa bisa mendekati.
Tommy juga hanya bisa diam. Dia tidak ingin menambah keruh masalah kedua pria yang duduk di dekatnya ini. Apalagi ia juga tidak tahu kalau mereka harus tinggal disini jika perjanjian ini di setujui.
Ia tidak masalah sama sekali, karena ia tidak memiliki pasangan ataupun isteri di kehidupannya. Kalaupun ada hanya baru sekedar mendekati. Belum dalam tahap jadian.
" Kenapa, anda terkejut ? Anda yang mengajukan dan mempresentasikan semua hal tadi. Jadi tidak salah kalau saya menginginkan anda untuk tinggal dan mengawasi hingga proyek yang anda ajukan di kerjakan. Baru setelah itu bisa di lanjutkan oleh wakil Tuan William yang ada di perusahaan nya." Elbert kembali menantang Aaron. Ia yakin Aaron tidak ingin meninggalkan kedua wanitanya terlalu lama.
" Hmm ... baiklah ! Kau sudah menantang ku, Elbert. " ucap Aaron gerak dalam hati.
Aaron menarik nafas panjang lalu menghempaskannya dengan kuat.
" Baiklah Tuan Elbert. Saya menerima syarat dari Tuan untuk tinggal selama yang anda butuhkan jika memang perjanjian kerja sama ini Tuan setujui. Lagi pula saya suka tinggal di negara ini. Apalagi setelah saya mengetahui kalau wanita yang saya cintai juga tinggal di negara A, tepatnya di kota B. Mungkin dengan saya menetap disini, saya bisa mendapatkan cintanya dan membawanya kembali bersama saya ke Indonesia begitu proyek ini saya selesaikan." ucap Aaron dengan senyum smirk nya swmabei menatap tajam ke arah Elbert.
Tangan Elbert mengepal dengan erat mendengar perkataan Aaron.
" Apa baji****an ini tahu kalau Felicie ada di kota itu ?" tanya Elbert dalam hati dengan perasaan cemas.
" Apa Tuan Elbert tahu, kalau mantan isteri saya Felicie tinggal di kota B dan kuliah di sana. Sudah beberapa hari ini saya hanya mengawasi nya dari jauh. Mungkin dengan tinggal disini, akan membuat usaha saya untuk mendapatkan Felicie jauh lebih mudah. Saya lebih memiliki waktu untuk bisa menaklukan hatinya." ucap Aaron sembari memperhatikan perubahan yang terjadi di wajah Elbert.
Mendengar perkataan Aaron yang sudah mengetahui keberadaan Felicie dan malah ingin mendapatkan cinta dari gadis kecilnya membuat Elbert hampir tidak bisa menutupi perasaan marah dan cemburu di hatinya.
Hanya saja Jhon yang juga menyadari perubahan itu dengan cepat mengalihkan pembicaraan agar Elbert bisa menguasai amarahnya.
" Tuan Aaron, maaf. Sebaiknya jangan membicarakan masalah pribadi Tuan dalam pekerjaan. Hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan perjanjian kerja sama kedua perusahaan."
Elbert segera tersadar begitu mendengar perkataan Jhon yang mengingatkannya. Kalau tidak semua rencana nya selama ini akan gagal, jika sampai di ketahui Claire. Padahal ia sudah melakukan hingga sejauh ini. Bahkan tega mengorbankan perasaan Felicie demi mendapatkan bukti kejahatan yang di lakukan Claire.
" Oh, maaf kan saya Tuan Jhon. Saya tidak bermaksud lancang. Saya hanya menjelaskan saja pada Tuan Elbert. Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat atas pernikahan Tuan Elbert dan nona Claire. Kalian berdua pasangan yang sangat serasi. Semoga kalian berdua menjadi pasangan untuk selamanya dan selalu di penuhi cinta. " ucap Aaron dengan sarkas.
Elbert yang tahu Aaron sedang berusaha memancing reaksi darinya menekan emosi dengan cara memaksakan senyum meski tipis di bibirnya.
" Terima kasih, atas ucapan dan doanya Tuan Aaron." ucap Elbert singkat.
" Jadi bagaimana kelanjutan kerja sama yang saya ajukan tadi, Tuan Elbert. Apakah bisa di setujui jika saya akan tinggal sesuai waktu yang Tuan Elbert inginkan ?" tanya Aaron sengaja menantang Elbert.
Ia bisa melihat tatapan marah dan cemburu di mata Elbert saat tadi ia mengatakan akan mengejar cinta Felicie dan membawanya kembali pulang bersamanya. Meski Elbert berusaha keras untuk menutupinya.Tapi tetap saja Aaron masih bisa melihatnya.
" Hmm ... melihat anda serius dalam proyek ini saya akan menerima kerja sama ini. Sebaiknya besok Tuan Aaron kembali ke perusahaan saya. Pagi pukul sepuluh, temui saya di - ruangan ini. Kita akan menandatangani perjanjian kerja sama ini. Silahkan bawa pengacara dari pihak anda. " ucap Elbert dengan wajah datar.
" Hmm ...baik Tuan Elbert. Terima kasih. Besok kami akan datang sesuai dengan jam yang telah anda tentukan. Kalau begitu kami permisi." kata Aaron bangkit dari tempat duduknya sembari menjabat tangan Elbert.
" Hmm ... ya !" sahut Elbert singkat.
Setelah merasa urusan mereka sudah selesai, Aaron dan Tommy segara melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Elbert. Ia masih belum bisa bergembira sebelum perjanjian kerja sama itu di tanda tangani Elbert.
" Baji****an ! Sekarang perintahkan mereka untuk terus mengawasi Felicie. Jangan biarkan Aaron mendekati Felicie kembali !" perintah Elbert dengan suara keras begitu melihat Aaron sudah tidak ada di lantai tempat ruangannya berada. Jhon memantau mereka dari cctv yang tersedia.
Ia benar - benar takut kehilangan Felicie kali ini setelah melihat kehadiran Aaron. Elbert tahu, Aaron adalah pria yang gigih. Selain itu ia juga tahu kalau sekarang pria itu benar - benar sudah mencintai Felicie. Bukan seperti awal pernikahan mereka.
" Bagaimana dengan anak buah mu Jhon. Apa mereka sudah mendapatkan apa yang ingin aku ketahui dari jala** sialan itu ! Jangan sampai lengah. Ikuti kemana saja jala** itu pergi begitu ia keluar dari apartment ku ! Aku sudah menyadap handphonenya. Jadi sekarang pekerjaan kita sudah tidak terlalu sulit. Cepat kerjakan, agar aku bisa segera terlepas dari jerat wanita s**lan itu !" Elbert sudah tidak mampu lagi menahan amarahnya begitu ia memikirkan bagaimana jika apa yang di katakan Aaron tadi sampai berhasil dan ia bisa mendapatkan perhatian dari Felicie. Tentu saja Elbert tidak menginginkannya.
Hal ini membuat Elbert semakin membenci Claire. Semua hal yang terjadi pada diri nya sekarang ini karena jebakan yang dibuat oleh wanita licik itu hingga ia harus berada dalam kondisi menjijikkan seperti ini dan tidak bisa menemui Felicie.
" Sebentar lagi mereka akan datang dan memberikan laporan kepada Tuan mengenai kemana dan siapa saja yang di temui oleh Claire. " ujar Jhon dengan tenang. Ia tahu kalau Elbert benar - benar dalam keadaan kacau dan serba salah saat ini. Apalagi sekarang Aaron sudah mengetahui keberadaan Felicie, gadis yang di cintai Elbert. Tentu saja hal itu semakin membuat perasaan Elbert merasa khawatir. Ia pasti takut kehilangan Felicie lagi.
**********************************
Untuk menebus hari - hari mommy yang tidak menulis cerita Felicie dan Elbert. Hari ini mommy sengaja menulis panjang dan sekaligus 2 episode. Semoga kalian menyukainya.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️