
Beberapa tamu hotel yang kebetulan saja lewat, ikut menyaksikan keributan yang terjadi. Mereka mengenal wajah Claire karena belakangan ini sering muncul di media, dengan berita - berita mengenai dirinya dan tunangannya, pengusaha terkenal itu, sedang berdiri sembari menjawab pertanyaan wartawan.
Sementara itu, ada seorang pria tampan yang berdiri di dekat Claire, yang keberadaannya begitu dicari semua orang, sejak kejadian terakhir di apartment. Hal ini membuat mereka tidak membuang kesempatan untuk mengambil beberapa foto.
" Siapapun dari kalian yang berani menyebarkan berita dan foto - foto tadi. Kalian akan tahu sendiri akibatnya. Hapus semua sekarang juga dan kalian pergi !" perintah Elbert dengan mata memerah karena ia begitu emosi melihat semakin banyak orang yang datang dan mengambil foto mereka. Ia merasa dirinya seperti tontonan saja layaknya.
Mendengar ancaman Elbert membuat mereka takut dan segera menghapus foto - foto yang mereka ambil.
Tapi sayangnya ada sebagian yang sudah sempat mengirimkan foto itu pada teman - teman dekatnya.
Mereka pun akhirnya lebih memilih bubar dan menjauh agar tidak mendapat masalah dari Elbert.
Sedangkan para wartawan yang sebenarnya sudah dibayar oleh Claire, bersikap tidak perduli dengan ancaman yang diberikan Elbert. Mereka malah semakin banyak mengambil foto - foto kebersamaan Claire dan Elbert.
" Sayang, aku pergi, ya. Aku harus menjelaskan pada orang tuaku tentang peristiwa ini agar mereka tidak salah paham. Nanti kalau kamu masih kangen, kita ketemuan di rumah ku aja." ujar Claire sengaja dengan nada manja mengatakan hal ini di depan orang banyak.
Claire benar - benar sudah merencanakannya dengan matang. Setelah berhasil menjebak Elbert dan disaksikan oleh banyak wartawan dan pengunjung hotel, ia pun bergegas pergi. Ia takut, jika masih berlama - lama disini, Elbert akan menghabisinya.
Melihat hal ini, Elbert dan John juga ingin keluar dari kamar buat menyusul Claire. Tapi sayangnya mereka di halangi para wartawan yang sengaja berdiri di depan pintu, agar Claire bisa berhasil keluar dari hotel ini.
Hingga membuat Elbert dan Jhon tidak dapat menahan emosi nya lagi. Mereka pun memukul beberapa wartawan dan membanting mereka ke lantai.
Bahkan ada yang kameranya sampai pecah, karena ikut terjatuh.
Mark yang hendak memanggil Elbert, karena acara sudah hampir selesai dan harus di tutup oleh Elbert, berjalan menuju ruang private.
Ia sengaja mengulur hingga acara hampir selesai agar Elbert bisa kembali ke ruangan dan mengatakan sepatah kata untuk penutupan acara.
Mark sama sekali tidak mengetahui sudah terjadi hal yang begitu menggemparkan dan ini bersangkutan juga dengannya.
Karena pelayan yang dibayar oleh Claire menggunakan namanya saat mengantarkan makanan dan minuman untuk Elbert.
Mark heran karena tidak menemukan Elbert dan Jhon di ruangan ini. Bahkan ia melihat ruangan ini sedikit berantakan. Karena ada gelas bekas minuman yang tergeletak di lantai.
Melihat hal ini, bergegas Mark pergi menuju lobby hotel.
Ia mengira Elbert sudah pergi karena Mark datang terlambat dari waktu yang ia janjikan. Tapi saat ia bertanya pada mereka, tidak ada yang melihat pria bertopeng keluar dari hotel ini.
" Maaf, Tuan ... tapi tadi ada beberapa tamu hotel yang baru keluar dan saya sempat mendengar kalau mereka membicarakan ada seorang pengusaha terkenal yang ketahuan sama wartawan berada di sebuah kamar hotel ini bersama seorang wanita. Saya tidak tahu apakah ini ada sangkut pautnya dengan orang yang sedang Tuan cari." ujar karyawan ini menjelaskan dengan wajah takut.
" Apa ? kamarnya di lantai berapa ? " tanya Mark dengan ekspresi terkejut.
" Lantai dua, Tuan ... nomer kamarnya, 108." jawab karyawan hotel dengan gugup.
" Kenapa kamu bisa tahu nomer kamarnya !" tanya Mark dengan menatap tajam.
" Tadi mereka sempat menyebutkan nomer kamarnya, Tuan. Saya juga mendengar kalau mereka sudah mengambil foto dari orang yang berada di kamar itu. Tapi sayangnya orang tersebut mengancam mereka untuk menghapus semua foto yang mereka ambil. " jawab karyawan hotel ini mulai merasa cemas, karena ia yakin orang yang sedang dicari ini pasti sangatlah penting, karena wajah pria tampan yang sedang bertanya padanya terlihat begitu marah setelah mendengar penjelasannya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Mark langsung pergi dan bergegas naik ke lantai dua dengan menggunakan lift hotel.
Ia beneran takut dengan apa yang terlintas di pikirannya. Jika yang sedang ia pikirkan ini benar, Mark yakin Elbert pasti akan marah besar padanya.
Kaki Mark mendadak lemas begitu ia tiba di kamar yang di katakan karyawan hotel tadi. Ia melihat beberapa wartawan berlari menjauh dari kamar itu.
Ia pun melihat ke dalam kamar dan ternyata apa yang ia pikirkan tadi ternyata benar.
Mark mendadak susah untuk bernafas ketika melihat, seseorang yang berada di kamar itu adalah Elbert dan Jhon yang sedang memukuli empat orang wartawan yang tergeletak di lantai.
Begitu melihat wajah Mark, Elbert langsung menghentikan pukulannya pada wartawan yang sudah tergeletak lemas.
__ADS_1
Ia kemudian menghampiri Mark, dan tanpa basa - basi Elbert langsung melayangkan p**u**n nya ke arah Mark.
Mark yang masih tertegun, tidak bisa mengelak sama sekali. Ia menerima beberapa p**u**n di wajah dan perutnya.
" Bajingan kau, Mark ! Kau bekerja sama dengan Claire untuk menjebak ku !" umpat Elbert sembari memukuli Mark.
" Perusahaan mu akan aku hancurkan jika kau tidak membawa Claire ke hadapanku sekarang juga !" ujar Elbert dengan penuh kemarahan di wajahnya.
" El, stop ... hentikan ! kamu bisa mem**n*h nya jika terus memukulinya seperti ini !" ucap Jhon yang melihat wajah Mark sudah mengeluarkan d***h, sembari menarik badan Elbert menjauh dari Mark.
" Tidak ! Lepaskan aku Jhon ! Aku memang akan mem**n*h bajingan ini ! Gara - gara dia dan j****g itu, aku akan kehilangan Felicie !" ujar Elbert berusaha melepaskan tangan Jhon yang menahan badannya untuk mendekati Mark.
" Tidak ! Kau mau masuk penjara karena mem**n*h orang ! Yang ada kamu akan semakin kehilangan kesempatan untuk mencari bukti atas kejadian ini.
Kamu harus menahan emosimu.
Kita tanyakan pada Mark, apa benar dia terlibat dengan semua
ini ! Jika kita bisa mendapatkan bukti akan kejadian yang sebenarnya ... maka kamu masih memiliki kesempatan untuk menjelaskan pada Felicie. Kamu tidak akan kehilangan dia. " Jhon berusaha menyadarkan Elbert yang sudah kesetanan.
Kemarahan Elbert lumayan mereda setelah mendengar perkataan Jhon. Jhon benar, ia harus lebih tenang agar bisa mendapatkan bukti secepatnya. Supaya Felicie tidak salah paham padanya.
Sementara itu, Mark terduduk lemas di lantai sambil memegang perut dan wajahnya yang sakit akibat pukulan Elbert.
Ia berusaha mencerna semua yang dikatakan Jhon pada Elbert.
" Apa maksud kalian aku terlibat
dengan masalah ini ?" tanya Mark memberanikan diri.
" Hmm ... duduklah, Mark ! Sebelum itu, tolong kau panggilkan anak buah mu untuk menahan mereka !" ujar Jhon.
Mark pun mengerti dan segera menghubungi anak buahnya.
Setelah anak buah Mark datang dan membawa keempat orang tersebut, baru Jhon memulai pembicaraan mereka.
" Mark, apa kau terlibat dengan kejadian ini ?" tanya Jhon.
" Apa maksud kau, Jhon ? Aku terlibat dalam hal apa ? " tanya Mark bingung dengan menahan kesakitan akibat pukulan Elbert.
" Kau gak usah berbohong ! Tadi pelayan yang mengantarkan minuman untukku jelas - jelas menyebut namamu !" bentak Elbert keras.
" Pelayan ? Pelayan yang mana ?
Aku memang ada menyuruh pelayan untuk mengantarkan makanan untuk kalian tapi ia tak jadi datang ke ruangan itu karena aku membatalkannya. Aku ingin menjamu kalian untuk makan bersama di restoran Marine setelah acara ini selesai, karena aku tahu kamu gak mau menyentuh makanan dan minuman di acara tadi !" ujar Mark
dengan wajah kebingungan.
Elbert dan Jhon pun saling bertatapan. Mereka belum bisa percaya sepenuhnya dengan apa yang dikatakan Mark.
" Mark, aku minta kamu bicara jujur saja ! Kau tahu kan bagaimana kalau Elbert sudah menggila. Ia tidak akan segan - segan untuk menghancurkan orang - orang yang sudah berusaha menjebaknya. Apa kau mau perusahaan dan nyawamu,
hilang !" ujar Jhon dengan tatapan mengintimidasi.
Sedangkan Elbert menatap dengan tatapan tajam yang begitu menakutkan dan bisa membuat orang merinding jika melihatnya.
" Sumpah ! Aku tidak akan berani berbohong pada Elbert. Apa yang kukatakan tadi itu memang benar dan sungguh aku tidak mengerti maksud kalian. " ujar Mark dengan wajah cemas.
" Kau yakin tidak sedang berbohong pada kami ?" tanya Jhon lagi buat memastikan.
__ADS_1
" Ya, aku sudah bersumpah. Aku tidak mungkin berani bicara bohong. Aku tidak gila hingga berani mencari masalah dengan Elbert !" jawab Mark berusaha meyakinkan John dan Elbert yang terus menatapnya dengan tajam.
" Hmm .... baiklah ! kami akan berusaha mempercayai omonganmu ini. Tapi jika kamu terbukti terlibat dengan kejadian ini, maka aku tidak akan segan untuk turun tangan langsung padamu. Bukan Elbert, karena jika ia yang menangani maka kau tidak akan bisa menghirup udara ini lagi ! Kau paham ... !" kata Jhon dengan suara berat.
" Ya, baiklah ... aku paham ! Tapi apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa kalian mencurigaiku ? " tanya Mark penasaran.
" Hmm ... begini ceritanya ... " Jhon kemudian menceritakan apa yang terjadi pada Elbert.
" Apa ... ? Gila ... ! Aku tidak mungkin akan melakukan hal itu ! Lagi pula untuk apa aku membantu Claire ! Aku juga tahu kalau Elbert tidak suka dengannya !" ujar Mark dengan wajah terkejut setelah mendengar cerita Jhon.
" Hmm ... kau yakin tidak ada sangkut pautnya dengan j****g itu !" ucap Elbert akhirnya berbicara.
" Tentu saja aku yakin, El ... ! Masa kau tidak bisa menilaiku. Aku juga tidak suka dengan wanita yang demi mendapatkan keinginannya, melakukan segala cara. Bahkan dengan cara licik seperti ini !" ujar Mark menatap Elbert.
Elbert menghela nafas dengan kasar setelah mendengar perkataan Mark. Ia juga bisa melihat kalau Mark berkata jujur.
" El, sumpah ! aku tidak bohong !
Sebaiknya sekarang kita melihat cctv hotel ini. Pasti kita bisa melihat bagaimana cara Claire membawa mu ke kamar ini dan aku yakin ada orang lain yang membantunya. " ujar Mark.
" Mark benar, El ... !" ucap Jhon.
" Hmm ... kalian saja yang pergi melihatnya. Aku yakin semua yang terjadi ini tidak akan ada di cctv. Jika Claire berani dengan liciknya melakukan hal ini padaku, pasti dia sudah melakukan cara untuk menghapusnya ?" ucap Elbert dengan tangan yang mengepal menahan amarahnya.
" Ya, kamu benar, El ... tapi tidak ada salahnya kita melihatnya.
Ya, sudah ... biar aku dan Mark yang melihat cctv nya. Kamu tunggu di kamar hingga kami kembali. " ujar Jhon kemudian bangkit dari sofa.
" Tapi El, apa kamu sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi sebelumnya ?" tanya Mark penasaran.
" Hmm ... aku hanya ingat setelah aku selesai minum, kepalaku mulai pusing dan mataku mengantuk. Setelah itu aku tertidur dan tidak mengingat apapun lagi. " ucap Elbert.
" Oh, apa kamu tidak ingat jika sudah melakukan sesuatu dengan Claire ?" tanya Mark lagi.
" Hmm ... aku tidak tahu. Tapi seingatku, jika aku tertidur dengan lelapnya bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu dengan wanita sialan itu ! Lagi pula aku tidak merasakan apapun. Tapi, yang membuatku heran bagaimana bisa saat aku bangun sudah tidak memakai pakaian sama sekali ! Hah, Entahlah ... !" ujar Elbert berusaha mengingat dengan keras kejadian yang ia alami.
" Baiklah, berarti Claire yang sudah membuka semua pakaianmu. " ujar Mark yakin.
" Aku gak tahu Mark. Aku beneran gak sadar ... !" ucap Elbert.
" Ya, sudah ... ayo, Jhon kita pergi melihat cctvnya. " ajak Mark.
" Hmm ... Jika kita tidak mendapatkan bukti dari cctv, kamu bisa menekan orang - orang tadi untuk menemukan jawabannya." ujar Jhon.
Elbert hanya menganggukkan kepalanya sembari memikirkan kembali apa yang sudah menimpanya.
Sementara itu, selagi Elbert dan kedua temannya masih sibuk dengan mencari jawaban dari peristiwa ini.
Claire sudah menyebarkan kejadian tadi ke media massa, bahkan di internet.
Anak buah yang sudah di bayarnya menyebarkan foto - foto nya dan Elbert saat berada di kamar hotel.
Tentu saja hal ini menimbulkan kehebohan di masyarakat. Kini mereka dapat dengan jelas melihat wajah Elbert, pengusaha tampan yang selama ini terkenal misterius, karena tidak pernah mau memperlihatkan wajahnya di depan publik.
Tapi kini mereka dapat dengan jelas melihatnya sedang bermesraan dengan Claire di kamar hotel.
Bahkan Claire sampai melakukan wawancara dengan beberapa wartawan televisi untuk menjawab pertanyaan mereka mengenai kejadian yang menggegerkan ini.
"Saya minta pada kalian semua untuk tidak terlalu membesar - besarkan kejadian ini. Wajar saja, aku dan Elbert melakukannya karena kami sudah tunangan. Jadi, saya harap, kalian jangan berpikir kejadian ini sebuah skandal. Toh, kami melakukannya karena kami saling mencintai. Jadi tidak ada yang salah kan dengan apa yang kami lakukan. Saya tidak mau kejadian ini menjatuhkan reputasi Elbert calon suami saya. Apalagi setelah ini kami akan segera menikah ! " ujar Claire dengan wajah sumringah, tanpa rasa malu sedikitpun.
__ADS_1
Perkataan Claire dan kejadian di kamar hotel itu langsung menjadi trending topik pencarian di internet dan media.
**********************************