
Saat sinar mentari mulai menghiasi pagi Felicie yang baru saja terbangun dari tidurnya agak terkejut ketika melihat ia sudah berada di kamarnya.
Ia mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi pada dirinya. Kenapa ia bisa berada di kamar tidurnya. Padahal seingat Felicie ia sedang berada di mobil bersama Dave setelah pulang dari butik dan ia tertidur karena kelelahan yang mendera badan dan hatinya.
" Tapi bagaimana caranya aku bisa sampai kesini. Apa Dave yang membawaku ke apartment ? Jangan - jangan ... !" gumam Felicie.
Memikirkan hal ini membuat Felicie segera bangkit dari tempat tidurnya. Tanpa mencuci muka terlebih dahulu ia beranjak keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tamu dan benar saja seperti perkiraannya kalau Dave tidur
di apartment nya.
Wajah tampannya terlihat begitu nyaman saat tertidur, meskipun hanya tidur di sofa yang tidak begitu besar ukurannya. Melihat ini, ia pun membatalkan niatnya untuk membangunkan Dave. Jadi Felicie hanya duduk sembari memandang Dave dan menunggu hingga ia terbangun.
" Kamu baik, Dave ... ! Kamu sangat perhatian dan perduli denganku. Bahkan saat ini kamu lah yang paling memperhatikan ku. Aku tahu kamu suka padaku tapi maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu." ucap Felicie dengan lirih.
Dave yang sebenarnya sudah terbangun, sejak Felicie mendekat ke arahnya tetap pura - pura tidur dan ia bisa mendengar apa yang dikatakan Felicie.
Dave menarik nafas pelan mendengar omongan Felicie. Ia tidak terkejut ketika mendengarnya, karena Dave tahu Felicie mencintai Elbert. Walaupun Felicie berusaha dengan keras untuk menutupinya dari Dave.
Apakah Dave kecewa ? Ya, ia memang kecewa tapi Dave berusaha untuk tetap berada di - sisi Felicie agar gadis yang duduk di depannya ini tidak terpuruk sendirian.
Dave pura - pura menggeliat lalu mulai membuka matanya perlahan.
" Eh, maaf Feli aku tertidur di - apartment kamu ! " ujar Dave pura - pura terkejut kemudian bangkit dari sofa.
" Hmm ... tidak apa - apa. Aku yakin kamu kelelahan karena harus menggendong ku dari mobil hingga bisa sampai disini." ucap Felicie tersenyum kecil.
" Felicie, Kamu gak marah aku menggendong kamu dan tertidur di sini ?" tanya Dave sambil menatapnya.
" Hmm ... maaf, lagi - lagi aku sudah merepotkan kamu, Dave." ujar Felicie dengan mata menyesal.
" Hei, aku tidak merasa kamu repot kan, Feli ... ! Aku ikhlas melakukannya. Lagi pula aku gak mungkin tega harus membiarkan kamu tidur di mobil. Tapi badan kamu lumayan juga, ya beratnya ... padahal kalau aku lihat kamu sedikit kurusan ... hahaha !" ujar Dave mencoba bercanda.
" Baru tahu kamu aku berat ... !" ucap Felicie ikut tertawa mendengar perkataan Dave.
" Iya, aku gak nyangka. Kirain kamu ringan makanya aku dengan percaya diri menggendong kamu. Tapi ternyata, tanganku sampai pegal, nih ... hahaha." Dave sengaja membuat lelucon agar Felicie merasa terhibur dan bisa melupakan kesedihannya.
Felicie lagi - lagi tertawa mendengar omongan Dave. Perasaannya yang gundah lumayan terhibur dengan keberadaan Dave.
" Udah, sana cuci muka dulu ! ... biar aku buatkan sarapan !" ucap Felicie setelah mereka berhenti tertawa seraya bangkit dari sofa.
" Okey, boss ... !" ujar Dave bergegas bangkit sembari memberi hormat pada Felicie.
Felicie tertawa kecil melihat tingkah Dave yang cukup membuat paginya sedikit lebih menyenangkan. Ia pun berjalan menuju dapur untuk membuatkan sarapan buat mereka berdua.
Setelah selesai membuat sarapan yang simpel, Felicie kemudian meletakkan kopi hangat dan sandwich di meja. Ia lalu duduk di kursi menunggu Dave selesai dari kamar mandi.
" Gimana, Feli ... aku udah ganteng kan ?" ujar Dave sembari menghampiri Felicie setelah ia selesai membasuh wajahnya.
" Mimpi aku semalam sampai bisa punya teman narsis kaya kamu !" ucap Felicie tertawa.
Dave tersenyum ia senang bisa membuat Felicie mulai tertawa lagi. Padahal semalam ia terlihat tidak memiliki semangat sedikitpun.
" Udah, buruan sarapan ! Aku mau bersih - bersih setelah ini." ucap Felicie.
" Okey ! Wow ... ternyata kamu bukan hanya pintar di kampus tapi di dapur juga, ya Feli ... !" ujar Dave begitu ia selesai mengunyah sandwich.
" Kalau cuma sandwich semua orang bisa membuatnya, Dave ... ! " sahut Felicie sembari nyengir.
" Iya, aku tahu .. tapi sandwich kamu lebih enak. Kopinya juga nikmat. " sahut Dave memuji karena betulan memang enak dengan mulut penuh berisi makanan.
" Hee ... ya, udah habisin aja dulu makanan di mulut kamu baru ngomong ." ucap Felicie tersenyum geli.
" Hehehe ... " Dave tertawa.
" Nanti perginya jam berapa, Dave ? " tanya Felicie setelah mereka selesai sarapan.
" Airin bilang pukul sepuluh biar kita puas jalannya !" ujar Dave.
" Apa aku harus ikut ? Aku pengen di apartment aja. Lagi malas kemana - mana !" ucap Felicie.
" Gak bisa ! Kamu harus ikut. Airin bilang dia gak mau tahu, pokoknya kami harus berhasil ngajak kamu pergi buat senang - senang hari ini ! Kalau gak, dia bakalan gangguin kamu seharian." ujar Dave menegaskan.
" Hmm ... baiklah ! Kalau gitu kamu kenapa belum pulang. Ini udah jam tujuh !" kata Felicie.
__ADS_1
" Wah, langsung diusir nih !" ujar Dave sambil memasang wajah memelas.
" Bukan ngusir tapi biar aku masih sempat beberes." ucap Felicie.
" Oke, deh ! Aku juga mau mandi. Tapi nanti aku jemput kamu harus udah siap, ya ... !" ujar Dave kemudian bangkit dari tempat duduknya.
" Hmm ... " sahut Felicie singkat.
Dave kembali mengingatkan Felicie sebelum dia melangkah keluar dari apartment nya.
" Kita akan pergi buat senang - senang, jadi kamu harus semangat ya, Feli ... !" ujar Dave.
" Hmm ... pulang sana !" ucap Felicie seraya mendorong badan Dave keluar dari apartment nya.
" Okey, Okey ... hehehe !" Dave terkekeh sebelum akhirnya dia berjalan pergi meninggalkan Felicie.
Felicie lalu menutup pintu apartment nya setelah melihat Dave menjauh. Sekarang ia kembali sendiri dengan suasana yang begitu hening.
Ia lalu mulai merapikan tempat tidur dan membersihkan ruang tamu dan dapur. Felicie sengaja menyibukkan dirinya agar tidak mengingat Elbert.
Felicie memandang dengan puas setelah melihat apartment nya bersih dan rapi. Lalu ia memutuskan untuk membersihkan dirinya yang sudah mulai terasa gerah akibat bebersih.
Sementara itu, di mansion Elbert menatap foto Felicie yang ada di handphone nya dengan tatapan penuh kerinduan.
" Feli ... setelah apa yang akan terjadi hari ini bisakah kamu tetap percaya dan memaafkan aku ? " ucap Elbert dengan suara serak karena menahan perasaan sedih di - hatinya.
Suara Jhon yang memanggil namanya saat mengetuk pintu kamarnya membuat Elbert mendesis geram. Ia tidak ingin diganggu saat ini. Kalau bisa seharian ia hanya ingin memandangi wajah Felicie, seperti yang selalu ia lakukan beberapa hari ini.
Tidak mendapat jawaban dari Elbert membuat Jhon bergegas masuk ke kamar.
Elbert langsung menatap dengan tajam ke arah Jhon begitu melihatnya.
" Maaf, El ... aku hanya ingin mengingatkan kalau waktunya tinggal setengah jam lagi !" ujar Jhon menatap Elbert dengan tatapan iba.
" Hmm ... aku tahu ! Kau tidak perlu mengingatkan aku !" sahut Elbert dengan wajah dingin, seraya bangkit dari tempat duduknya.
" Maaf ... ! " ucap Jhon singkat.
Ia tidak ingin memancing emosi Elbert saat ini, karena bisa menggagalkan rencana mereka.
" Ada El ... tapi nanti saja aku sampaikan sama kamu. Sekarang kita sudah harus pergi ke hotel. " ujar Jhon berusaha mengalihkan perhatian Elbert.
" Tidak, aku mau tahu sekarang juga !" bentak Elbert.
" Baiklah ... baiklah ! Kamu tenang dulu, ya ... tadi anak buah yang aku kirim mengatakan kalau Felicie sekarang sedang berada di mall bersama teman - temannya. " ujar Jhon.
Ia sengaja tidak menyampaikan kalau ada pria yang menggendong Felicie dan menginap di - apartment nya, karena itu bisa memancing kemarahan Elbert. Meskipun ia tahu kalau pria yang bersama Felicie itu hanyalah teman kampusnya saja.
" Hmm ... jaga dia terus ! Aku tidak mau Feli mendapat kesulitan disana !" kata Elbert.
" Baik ! Sekarang kita sudah bisa berangkat ?" tanya Jhon.
" Hmm ... apa IT kita belum juga bisa menemukan apapun hingga detik ini ! Aku jijik bertunangan dengan wanita mu****n itu !" ucap Elbert dengan mata membara.
" Maaf, El ... mereka belum bisa menemukannya. " ujar Jhon merasa bersalah karena gagal mendapatkan bukti penjebakan itu.
" B******k ! Perempuan itu benar - benar licik ! " umpat Elbert sembari memukul tangannya ke - tembok dengan keras hingga mengeluarkan darah.
" El ... !" Jhon bergegas menghampiri Elbert dan berniat mengobati tangan Elbert.
" Biarkan saja ! Aku tidak apa - apa ! " bentak Elbert tidak memperdulikan tangannya yang masih mengeluarkan darah.
" Elbert, aku tahu hati kamu sangat hancur saat ini. Tapi kamu harus kuat demi bisa membongkar kebusukan wanita itu !" ujar Jhon mencoba memberi semangat pada Elbert.
" Aku takut tidak bisa kembali dengan Felicie, Jhon ! Aku takut dia tidak mau memaafkan atas apa yang akan aku lakukan hari ini ! Aku mencintainya, sangat mencintainya Jhon ! Kamu tahu itukan !" ucap Elbert dengan suara lemah.
" Ya, aku tahu ! Berdoalah, agar Felicie bisa mengerti dan mau menerima kamu kembali. Kamu bisa jelaskan nanti padanya kalau kamu terpaksa melakukan ini demi mendapatkan bukti kejahatan yang sudah dibuat Claire." ujar Jhon sedih, karena Elbert tidak pernah terlihat lemah seperti sekarang.
Sosoknya selalu dingin dan menakutkan buat orang yang pernah berhubungan dengan nya.
" Hmm ... baiklah, kamu benar.
Kita berangkat sekarang !" Kata Elbert kembali semangat lalu mulai melangkah keluar.
__ADS_1
Jhon mengangguk dan mengikuti langkah Elbert keluar dari kamar.
Sementara itu Claire dan keluarganya yang sudah tiba sejak tadi di ballroom hotel menunggu kedatangan Elbert dengan tidak sabar. Tamu - tamu yang diundang keluarga Claire sudah pada hadir.
Orang tua Claire mengundang semua pengusaha yang ada di negara ini. Bahkan mereka sengaja menyiarkan acara pertunangan ini agar semua masyarakat bisa ikut melihat bahwa anaknya Claire memang tunangan dari Elbert, sosok pengusaha muda yang terkenal sukses dan di hormati oleh
pebisnis lainnya.
" Pa, apa sudah menghubungi Elbert lagi ? Bagaimana jika dia tidak jadi datang ?" ujar Claire mulai cemas karena takut Elbert membatalkan acara pertunangan mereka.
Claire pasti akan sangat malu, karena ia sudah mengundang semua teman - teman sosialita nya.
" Tenang, nak ... Elbert pasti akan datang ! Dia dikenal sebagai orang yang selalu menepati janjinya di kalangan pebisnis." ujar Papa Claire berusaha menenangkan putrinya.
Padahal ia sendiri pun sedang menutupi rasa khawatirnya.
Baru saja ia selesai mengatakan itu, Elbert dan Jhon sudah terlihat melangkah masuk ke dalam ballroom. Melihat hal ini, akhirnya Claire dan orang tuanya bisa bernafas dengan lega.
" Tuh, kekasih pujaan mu, sudah datang nak !" mama nya menggoda Claire.
Wajah Claire langsung memerah. Ia tersenyum lebar. Akhirnya hari ia yang tunggu - tunggu selama beberapa tahun ini akan jadi kenyataan. Elbert akan jadi tunangan nya dan tak lama akan jadi suaminya. Ia tidak perduli meskipun harus mengorbankan sesuatu yang berharga miliknya demi mendapatkan Elbert.
Kehadiran Elbert menjadi pusat perhatian dari semua tamu yang sudah hadir. Terutama kaum wanita, yang memang selama ini selalu merasa penasaran ingin melihat secara langsung sosok dari pengusaha terkenal dan sukses itu.
Mereka memandang iri pada Claire karena beruntung bisa mendapatkan Elbert. Bukan saja sangat tampan tapi ia juga begitu kaya raya.
" Maaf, kami datang terlambat ! " ujar Jhon setelah berdiri dekat Claire dan orang tua nya.
Sedangkan Elbert hanya berdiri dan tidak menatap Claire sama sekali. Ia hampir muntah saat berjalan menuju kesini ketika melihat senyum menjijikkan yang di perlihatkan Claire.
" Oh, nak Elbert tidak terlambat. Tamunya aja yang kecepatan datangnya. Mungkin karena mereka sudah sangat tidak sabar ingin melihat sosok misterius dari Nak Elbert." ujar Papa Claire tersenyum sambil menyanjung Elbert.
" Bisa kita mulai acaranya, karena Tuan Elbert tidak ingin membuang waktunya. " ujar Jhon menyudahi basa - basi papa Claire.
" Baiklah ... Tentu saja acaranya akan segera kita mulai. Sepertinya Tuan Elbert sudah tidak sabar untuk bisa berdekatan dengan putri kami Claire." ujar papa Claire dengan tidak tahu malunya.
Mendengar perkataan papa nya Claire, Elbert hampir saja ingin memukul mulut nya agar tidak mengoceh sembarangan. Untung saja Jhon bisa mencegah nya dengan menahan tangan Elbert yang sudah terkepal dengan erat.
Akhirnya setelah MC mengumumkan acara akan segera di mulai, semua yang hadir
mendadak menjadi hening. Mereka ingin melihat menyaksikan pertunangan spektakuler tahun ini.
Claire dengan bahagia menggenggam tangan Elbert saat menuju pentas acara. Ia berjalan dengan senyum yang terus terpasang di bibirnya.
Sementara Elbert rasanya ingin sekali me**m**kan tangan dan wajah Claire yang sangat men****k*n di matanya.
" Kau akan jadi milikku selamanya Elbert !" bisik Claire dengan pelan di telinga Elbert, saat mereka tiba di atas pentas.
Elbert menahan perasaan amarahnya begitu mendengar perkataan Claire yang
sangat memuakkan.
" Baiklah, kita akan memulai acara pertukaran cincin dari Tuan Elbert dan Nona Claire !" ujar MC dengan semangat.
Elbert dengan wajahnya yang tetap dingin memasukkan cincin berlian ke jari manis Claire.
Begitu pula sebaliknya. Claire tersenyum dengan perasaan yang sangat bahagia saat ia juga mulai memasukkan cincin ke jari Elbert.
Orang tua Claire memandang dengan perasaan haru melihat itu. Akhirnya apa yang di idam - idam kan putri mereka selama beberapa tahun ini sudah jadi kenyataan.
Felicie yang sedang berjalan bersama Dave, Airin, dan Devan dan ingin memasuki sebuah sebuah butik pakaian merk terkenal di dalam mall, berdiri dengan mata yang sudah berkaca - kaca saat melihat di sebuah televisi yang ada di butik tersebut acara pertunangan Elbert dengan kekasihnya, yang disiarkan secara langsung sehingga hampir semua pengunjung mall bisa ikut melihat acara itu.
" Wah, Tuan Elbert sangat tampan ! Beruntung sekali yang menjadi tunangannya itu !" gumam beberapa pengunjung mall yang berdiri di belakang Felicie.
Dave, Airin dan Devan tidak menyangka kalau hari ini acara pertunangan Elbert, akan disiarkan secara langsung seperti ini.
Felicie mendadak limbung saat melihat Elbert men***m bibir wanita itu setelah mereka selesai bertukar cincin. Kakinya kini sudah tidak mampu untuk menahan bobot tubuhnya. Matanya mulai gelap dan ia pun terjatuh.
Untung saja Dave dengan cepat bisa menangkap badan Felicie hingga tidak jadi jatuh menyentuh lantai. Felicie pingsan dengan wajah yang sangat pucat.
" Ayo, cepat Dave ... kita bawa Feli ke rumah sakit !" seru Airin dengan wajah panik melihat sahabatnya harus menyaksikan sendiri acara pertunangan Elbert.
" B******k ... ! Elbert benar - benar seorang Ba*****n. " ujar Devan dengan wajah marah.
__ADS_1
**********************************