Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 105


__ADS_3

Suasana tempat kerjanya yang begitu menyenangkan membuat Felicie ingin memberikan karya terbaiknya pada nyonya Megan pemilik butik ini, karena beliau telah memberikan kesempatan dan kepercayaan yang sangat berharga ini untuknya. Felicie.


" Felicie, ayo gabung sini, jangan kerja melulu !" ujar Niken salah satu karyawan butik.


" Bentar, kak ... aku selesaikan gambar ku yang satu ini dulu !" jawab Felicie sembari mengulas senyum tipis di bibirnya.


Ia lagi - lagi bersyukur akan hal ini, karena Felicie di berikan teman - teman yang baik dan tidak membedakan dirinya walau statusnya hanya siswi magang saat ini. Hal inilah yang membuat Felicie jadi lebih cepat akrab dengan mereka. Bahkan sikap dinginnya gak berlaku disini. Ia bisa dengan mudah tersenyum dan tertawa bersama mereka.


Felicie berusaha dengan keras untuk menyelesaikan gambar yang sedang ia buat, agar bisa segera bergabung dan ngobrol dengan mereka.


" Gila, ya ... ternyata pemilik perusahaan Marshall Company sangat tampan, ya ... ! " ujar salah - satu teman kerja Felicie.


" Iya, benar - benar sangat tampan. Aku pikir selama ini, pemilik perusahaan besar itu hanya orang tua yang sudah tidak menarik lagi. Tapi ternyata dugaan kita semua salah besar !".


" Tapi sayangnya pria tampan ini sudah punya tunangan ! Andaikan belum, aku rela jadi teman tidur nya, meski hanya semalam ... hahahaha !" .


" Siapa perduli ! Mereka hanya baru tunangan, belum menikah. Lagi pula apa kalian tidak melihat hal yang aneh dari video dan foto - foto yang tersebar ?".


" Maksud kamu ... ?" .


" Aku rasa hanya wanita itu saja yang kecintaan sama Tuan Elbert,


tapi Tuan Elbert nya tidak."


" Hah ... ! Kamu kenapa bisa menyimpulkan seperti itu ?".


" Coba kalian lihat dari semua video - video dan foto yang tersebar ! Tidak sekalipun Tuan Elbert wajahnya terlihat senang ataupun bahagia saat bersama Claire. Malah aku lihat wajahnya terkesan sangat marah dan jijik melihatnya. Bahkan terlihat dengan jelas, saat di apartment, Tuan Elbert dan di kamar hotel."


Mereka terpengaruh dengan perkataannya, lalu kembali melihat semua video yang ada


di handphone.


" Kamu, benar juga ! Dari dua video ini, aku lihat hanya Claire aja yang terlihat bahagia sedangkan Tuan Elbert tidak ! " .


" Tuh, aku benar kan ... belum lagi hingga sekarang belum ada klarifikasi dari Tuan Elbert kalau berita yang tersebar ini adalah benar."


" Iya, bahkan dari Claire yang mengadakan pers conference


di televisi dan mengatakan kalau tunangannya seorang pengusaha terkenal dan akan segera memperlihatkan wajahnya aja, Tuan Elbert tetap tidak melakukannya.


" Aku benarkan ... ! Kalau memang Tuan Elbert itu tunangannya Claire pasti dari awal dia akan memperlihatkan dirinya di depan publik, sesuai apa yang di minta oleh tunangannya. Tapi dia tidak melakukannya. Malah, kemudian tersebar lagi dua video yang di apartment dan hotel. Jadi, aku yakin kalau berita ini Claire yang sengaja membuat dan menyebarkannya agar Tuan Elbert mau menikahinya !".


" Benar ... benar ! Kamu cocok jadi detektif. Aku baru menyadari ada keanehan setelah kamu menjelaskannya."


" Hahaha ... bisa aja kamu !".


Felicie yang sudah menyelesaikan pekerjaannya memutuskan untuk bergabung dengan rekan - rekan kerja yang satu ruangan dengannya.


Ia menghentikan langkah sejenak ketika mendengar nama yang begitu familiar di telinganya


sedang di perbincangkan oleh mereka.


" Ah, mana mungkin Elbert yang sedang di bahas oleh mereka adalah Elbert yang aku kenal." ucap Felicie dalam hati.


" Hei, kalian lagi membahas apa ? Kog, kayanya seru banget !" ucap Felicie sembari duduk di sebelah Niken.


" Ini, Feli ... kamu tahu kan berita mengenai Tuan Elbert dan tunangannya Claire ! Berita mereka berdua lagi heboh, loh ... !" . ujar Niken.


" Tuan Elbert ? aku belum pernah melihat atau mendengarnya ?" ucap Felicie seraya menggelengkan kepalanya.


" Hah ... kamu ngapain aja ? Masa berita besar begini, kamu gak tahu ?" ujar salah satu rekannya yang bernama Sarah dengan mata melotot gak percaya.


" Hehehe ... maaf, kak ... aku sibuk kuliah, kerja ... sekarang di - tambah magang, jadi gak punya waktu buat melihat berita - berita seperti itu ?" ucap Felicie tertawa kecil.


" Oh, jadi kamu belum tahu kalau ada berita yang menggemparkan seantero jagat !" tanya Sarah.


Teman - teman kerjanya tertawa lebar melihat ekspresi Sarah.


" Hah ... kak Sarah ini ada - ada aja ! Memangnya ada berita apa hingga bisa menggemparkan dunia ?" tanya Felicie heran.


" Kamu tahu perusahaan besar Marshall Company ?".


Felicie menggelengkan kepalanya karena ia memang tidak mengetahuinya.


" Apa .... ? Kamu tidak tahu ?" tanya Sarah dan yang lain dengan wajah terkejut.


" Iya, kak ... aku gak tahu ! Aku kan baru menetap disini." ucap Felicie meyakinkan mereka.


Mereka masih menatap tak percaya. Perusahaan sebesar Marshall dan ada di mana - mana, bagaimana mungkin Felicie bisa tidak mengetahuinya.

__ADS_1


" Sungguhan kamu gak tahu ? Perusahaannya bukan cuma ada di A*****a saja tapi ada di negara- negara lain juga !"


" Iya, kak ... aku beneran gak tahu !" ucap Felicie lagi.


" Oh, ... kamu gak pernah melihat berita di televisi atau handphone kamu, Feli ... ?" tanya Niken.


" Sudah beberapa hari ini aku gak punya waktu untuk melihat televisi, karena kalau udah nyampe ke apartment bawaan nya pengen langsung tidur. Kalau handphone paling aku hanya menggunakannya untuk menelepon aja. Aku kurang menyukai media sosial atau yang lainnya. Bukan, kurang menyukai sih, tepatnya ... tapi aku males aja ! " ucap Felicie menjelaskan.


Mereka terperangah mendengar penjelasan Felicie. Ternyata masih ada juga manusia yang tidak menyukai media sosial. Apalagi Felicie ini wanita, masih muda dan cantik.


Felicie berusaha menahan senyumnya melihat ekspresi wajah rekan - rekannya yang terlihat sangat terkejut begitu mendengar perkataannya.


" Baik, baik ... kami percaya ! Tapi rasanya aneh aja, gadis muda kaya kamu gak suka media sosial dan lainnya. " ujar Sarah.


" Hmm ... tapi kita kan gak tahu kedepannya kak, mungkin suatu saat aku bisa saja menyukainya. Tapi untuk sekarang masih males aja." ucap Felicie


" Nih, kamu lihat aja sendiri beritanya ... biar kamu tahu seberapa besar dan terkenalnya perusahaan Marshall itu! Tapi bukan berita itu yang membuat kami dan semua orang heboh, melainkan setelah sekian lama pemilik perusahaan itu tidak pernah mau memperlihatkan wajahnya di media, tapi karena adanya berita ini kita jadi bisa melihat dengan jelas wajah tampannya Tuan Elbert Marshall ! " ujar Sarah sembari memberikan handphonenya yang pada Felicie.


" Tuan Elbert Marshall ?" ucap Felicie dengan lirih mengulang perkataan Sarah.


" Hmm ... siapa nama lengkap Elbert ? Kenapa aku gak pernah bertanya padanya ? Ah, tapi itu pasti bukan dia ! Dia memang cerita kalau punya perusahaan, tapi bukan perusahan besar dan terkenal seperti kata mereka." batin Felicie.


" Ya, nama pengusaha tampan itu Elbert Marshall. Tapi sayangnya menurut berita yang tersebar, dia akan segera menikah dengan tunangannya yang bernama Claire itu ! Udah, kamu lihat aja sendiri beritanya ... !" ujar Sarah setelah menjelaskan sedikit.


Felicie kemudian membuka handphone Sarah dan melihat berita yang di maksudkan oleh Sarah dan yang lain.


Pertama, Felicie melihat berita mengenai seorang wanita yang bernama Claire mengatakan pada media kalau tunangannya adalah Elbert M. dan pemilik dari perusahan terkemuka di negara ini.


Lalu berita kedua, Felicie melihat saat Claire dan tunangannya berada di apartment dan ia seperti mengenali wajah pria yang merupakan tunangan wanita itu. Elbert ... itu wajah Elbert ! Meskipun tidak terlalu jelas, tapi ia yakin kalau itu wajah Elbert.


Lalu saat berita ketiga dibukanya, Felicie langsung melihat dengan tatapan nanar, di sebuah kamar hotel, ia kini bisa melihat dengan jelas wajah Elbert yang dirindukannya bersama seorang wanita. Bahkan wanita itu sempat di wawancarai oleh beberapa wartawan dan yang paling membuat Felicie terkejut adalah saat wanita itu, mengatakan kalau mereka akan segera menikah. Jadi wajar saja kalau dua orang yang sudah bertunangan dan saling mencintai tidur bersama di sebuah hotel.


Seluruh badan Felicie mendadak lemas, serasa ia tidak memiliki tenaga sama sekali. Wajahnya berubah pucat. Hingga hampir saja handphone Sarah yang ada di tangannya terjatuh ke lantai.


Rasanya ingin sekali ia menjerit dan menangis saat ini, tapi pasti akan membuat semua teman - teman kerjanya merasa heran.


" Felicie ... kamu kenapa ? Wajah kamu pucat banget ! " tanya Niken sembari memegang lengan Felicie.


" Iya, kamu kenapa Felicie ? Kenapa kamu jadi pucat kaya begini ? Apa ada yang salah ?" tanya Sarah panik.


Felicie hanya diam dan berusaha menenangkan gemuruh dan rasa sesak di dada nya. Ia sengaja menengadahkan wajahnya agar air matanya tidak sampai jatuh keluar. Ia tidak ingin mereka tahu kalau ia sedang bersedih.


Apalagi mereka pasti tidak akan percaya jika ia mengatakan kalau Felicie sebenarnya kenal dan dekat dengan Elbert.


" Aku gak papa, kak ... kepalaku cuma pusing ! Aku minum obat dulu, ya ... !" ucap Felicie sembari bangkit dari tempat duduknya.


Tapi baru beberapa langkah, kakinya sudah tidak bisa lagi menopang tubuhnya. Felicie jatuh dan pingsan.


Tentu saja, semua jadi panik melihat yang terjadi. Buru - buru mereka membawa Felicie ke ruang perawatan yang tersedia di butik ini.


Jenny yang merupakan asisten dari nyonya Megan Smith segera menghubungi dokter untuk memeriksa kondisi Felicie.


Tak lama setelah dokter memeriksa keadaan Felicie, ia pun tersadar dari pingsannya.


Felicie menatap bingung ke sekelilingnya. Kenapa ia bisa ada di ruangan ini. Bukankah tadi ia masih di ruang kerjanya.


Ia semakin heran melihat wajah cemas dari Sarah, Niken dan lainnya yang menatap ke arahnya.


" Apa yang terjadi, kenapa semua orang melihat ku dengan tatapan khawatir seperti itu ? " ucap Felicie dalam hati.


" Felicie, syukurlah kamu sudah sadar ! Kamu tidak apa - apa kan ?" tanya Niken dan teman - temannya.


" Sadar ? Memangnya aku kenapa, kak ?" tanya Felicie.


" Tadi kamu pingsan, Felicie ... !" ujar Sarah.


" Pingsan ... ?" ucap Felicie lalu mencoba mengingat kembali kejadian tadi.


" Ya, tadi kepala kamu pusing dan saat mau mengambil obat, kamu jatuh dan pingsan." Niken menjelaskan.


Kini Felicie mengingat semua yang telah terjadi. Penyebab ia terjatuh dan tidak sadarkan diri.


Elbert, pria yang mulai dicintainya telah bertunangan dan akan segera menikah. Mengingat akan hal ini, dadanya kembali sesak.


" Felicie, sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Wajah kamu masih pucat banget ! " ujar Jenny.


" Saya udah baik - baik aja, kak ... !Lagi pula saya baru magang hari ini, masa mau izin. " Felicie menolak anjuran yang di berikan Jenny.


" Ini perintah Ibu Megan ! Beliau tidak mau kamu jatuh sakit. Besok kalau kamu sudah sehat , tidak ada yang akan melarang kamu untuk datang dan bekerja !" ujar Jenny dengan wajah serius.

__ADS_1


" Udah, Feli ... kalau Ibu Megan sudah menyuruh kamu pulang , lakukan saja ! Istirahatlah, biar cepat pulih." ujar Niken.


Felicie hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan Jenny dan Niken. Tubuhnya memang sangat lemas. Mungkin benar, ia harus pulang dan beristirahat.


" Baiklah, kak ... aku akan pulang !" ucap Felicie akhirnya.


" Niken, kamu antarkan Felicie pulang ! Baru setelah itu kembali ke sini lagi. " perintah Jenny.


" Baik, Jen ... !" ujar Niken.


" Tolong sampaikan kata maaf dari saya untuk Bu Megan, kak .. !" ucap Felicie dengan wajah menyesal.


" Baik, akan saya sampaikan ! " kata Jenny.


Felicie pun turun dari tempat tidur dengan perlahan, karena ia tidak ingin membuat kehebohan lagi di butik ini.


" Saya permisi pulang, kak ... !" ucap Felicie lirih.


Niken menghampiri Felicie dan memegang lengannya agar tidak terjatuh lagi, lalu secara bersama mereka semua keluar dari ruangan itu.


" Ada yang sedang kamu pikirkan, ya Feli ?" tanya Niken begitu mereka berada di dalam lift, karena ia heran Felicie yang awalnya baik - baik saja kenapa bisa mendadak pusing dan jatuh pingsan setelah selesai melihat berita mengenai Tuan Elbert.


Felicie yang sedang melamun, menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan yang diajukan Niken.


" Apa kamu kenal dengan Tuan Elbert ? Karena begitu melihat berita itu kamu mendadak pusing ?" tanya Niken dengan tatapan penasaran.


" Hee ... kak Niken ada - ada saja ! Bagaimana bisa aku mengenalnya. " ucap Felicie berbohong.


" Benarkah ? Tapi kamu benar juga. Gak mungkin kamu bisa kenal dengan Tuan Elbert ! " ujar Niken sembari tersenyum.


" Kak ... sebenarnya aku bisa pulang sendiri, kog ... ! Aku sudah baik - baik aja sekarang !" ucap Felicie begitu mereka tiba di parkiran.


" Gak ... wajah kamu masih pucat ! Biar aku yang mengantarkan kamu pulang." bantah Niken.


" Tapi aku gak mau merepotkan kak Niken." ucap Felicie lagi.


" Gak papa ! Aku gak merasa kamu repotin." ujar Niken.


" Tapi, kak ... !" belum selesai melanjutkan omongannya langsung di potong oleh Niken.


" Udah, kamu diam dan duduk dengan tenang, biar kita bisa cepat sampai di apartment kamu !" ujar Niken.


Felicie menghela nafas panjang dan menuruti perkataan Niken.


Kenapa ia harus selemah ini hanya karena seorang Elbert.


" Ternyata kamu pergi untuk menemui tunanganmu, El ... ?" gumam Felicie pelan.


" Apa ? Kamu ngomong apa, Feli ... ?" tanya Niken yang sedang menyetir sembari melirik ke arah Felicie.


" Ah ... gak ada ! aku gak ngomong apa - apa kak !" ucap Felicie menyadari kebodohannya.


" Oh, tapi tadi kakak seperti mendengar kamu menyebutkan nama Tuan Elbert." ujar Niken curiga.


" Hehehe ... kak Niken pasti salah dengar. " Felicie memaksakan dirinya untuk tertawa agar Niken gak curiga padanya.


" Hmm ... ya, mungkin aku memang salah dengar tadi ! " ujar Niken.


Felicie merasa lega mendengar omongan Niken.


" Kak Niken ... kakak cukup mengantar aku disini aja. Aku bisa naik sendiri, kog ... biar kakak bisa cepat kembali ke butik." ucap Felicie.


" Hmm ... kamu yakin ? Kamu sudah tidak apa - apa ?" tanya Niken.


" Yakin, kak ... !" sahut Felicie cepat agar Niken percaya.


" Hmm ... baiklah ! Kakak memang harus mengerjakan sebuah design lagi ! " ujar Niken.


" Hmm ... tuh, kan ...! Aku gak mau gara - gara aku, kak Niken gak bisa menyelesaikan pekerjaan kakak." ucap Felicie.


" Ya, sudah ... tapi kamu harus langsung istirahat. Jangan mengerjakan apapun lagi. " ujar Niken.


" Iya, kak ... jangan khawatir." ucap Felicie.


" Okey, kalau begitu kakak pergi sekarang, ya ... sampai jumpa besok !" ujar Niken.


" Bye, kak ... !" ucap Felicie sembari melambaikan tangannya.


Setelah Niken pergi dan meninggalkannya sendiri, Felicie kembali teringat akan apa yang dilihatnya tadi di handphone milik Sarah. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju apartment.

__ADS_1


Ia ingin segera masuk dan meluapkan semua rasa sakit di hatinya yang sudah ditahan sejak tadi.


**********************************


__ADS_2