Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 12


__ADS_3

" Kog gue bisa ketiduran ? Ini pasti gara - gara bandot mesum tadi. Jadinya gue kepikiran terus ketiduran, deh ... " ucap Felicie ketika terbangun.


" Gue mandi dulu aja, biar fresh otak gue. " ucap Felicie lagi sambil melangkah ke kamar mandi.


Felicie segera merendam tubuhnya di bath up dengan air hangat. Ia memejamkan matanya menikmati kesunyian ini. Setelah ia merasa cukup rileks, Felicie segera membasuh tubuhnya.


" Apa si mesum itu udah pulang apa belum, ya .. ? Gue pengen ke cafe di hotel ini tapi malas banget kalau harus ketemu dia lagi." gumam nya.


" Ah, tapi pasti dia udah pergilah.


Orang angkuh kaya dia, mana pernah ngerasa bersalah."


Sementara itu Aaron yang masih merasa kesal karena melihat sikap Felicie memutuskan pulang ke apartment. Dia harus menyuruh


orang untuk membuang semua barang yang ada di kamar Felicie dan menggantinya dengan yang baru, walaupun nanti Felicie pulang dan tetap tidak mau menempatinya karena jijik, minimal ia tidak melihat lagi barang - barang yang di gunakan Aaron bersama ****** itu, pikir Aaron.


Aaron juga sekalian membenahi kamar yang akan di tempati Felicie nanti. Kali ini kamar yang akan di tempati nya, tepat di sebelah kamar Aaron. Karena kamar yang satu lagi lebih kecil ukurannya di banding tiga kamar lainnya yang tersedia di atas.


Ia memandang puas setelah melihat hasil kerja yang di lakukan, oleh orang yang di bayarnya dari sebuah kantor desaign khusus.


Setelah semua selesai, Aaron pun berniat membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Ia ingin saat gadis tengil itu pulang, Aaron sudah bersih dan wangi.


" Ngapain juga gue peduli sama dia ? " tanyanya pada diri sendiri dengan heran.


" Ah, tapi gak papa ... gue harus menahan emosi selama dua bulan ini. Kalau gak, Daddy bisa batal menyerahkan semuanya pada gue." sahutnya lagi.


Baru saja ia selesai memakai pakaiannya setelah selesai mandi, suara ponselnya berdering.


Ia melihat sebuah nomer tanpa nama. Karena merasa tidak mengenal nomer itu, Aaron pun membiarkan hingga bunyi dari ponsel berhenti sendiri.


Tapi tak lama, terdengar suara menandakan ada pesan masuk di ponselnya. Saat Aaron membacanya ia menatapnya tak percaya.


" Hai, honey ... Ini aku, Giselle." isi pesan yang tertulis di ponsel Aaron.


Aaron melihatnya dengan tatapan nanar. Wanita yang selama ini di cintai nya dan menghilang karena lebih memilih kariernya sebagai penyanyi. Ia pergi setelah Aaron memintanya untuk menikah. Giselle masih ingin melanjutkan kariernya di luar negeri. Karena saat itu, ia tidak ingin kehilangan kesempatan buat dirinya setelah di hubungi sebuah perusahaan musik terkenal di negara A******


Hampir dua tahun ini, Aaron mencari kabar mengenai Giselle sejak dia pergi meninggalkan Aaron. Tapi sangat sulit menemukannya, hingga akhirnya Aaron mendapatkan berita Giselle akan kembali kesini dalam waktu tiga bulan ini. Maka saat, daddynya memutuskan menyuruhnya menikahi Felicie, Aaron membuat kontrak pernikahan hanya dalam waktu tiga bulan saja. Agar setelah ia menceraikan Felicie, ia bisa bersama Giselle lagi.


" Honey ... aku merindukanmu. Aku ingin kembali bersama kamu.


Kamu masih mencintaiku, kan .. ?" tanya Felicie dalam pesan yang di kirimkannya pada Aaron.


Saat Aaron masih bingung dan terkejut untuk membalas apa pada pesan yang di kirim Giselle, ponsel Aaron kembali berbunyi.


Melihat kalau Giselle yang menelponnya kembali, Aaron pun segera menjawab panggilan itu.


" Halo, Honey ... kenapa pesanku gak di balas, kamu masih marah ya, karena kepergian ku ... ? Kamu sudah tidak mencintai aku lagi ? "


Giselle langsung memberondong Aaron dengan pertanyaan begitu Aaron menjawab panggilan darinya.


" Bukan, aku tidak akan pernah bisa marah dengan kamu. Aku hanya terkejut, kamu yang sudah menghilang begitu lama dan tidak ada kabar sama sekali, tiba - tiba sekarang menghubungi aku." jawab Aaron gugup karena masih terkejut.


" Oh, benarkah ... ? Kamu tidak marah dengan kepergian ku. Maafkan aku, honey ... saat itu aku masih sangat egois, lebih memilih karier dibanding rasa cintaku yang sangat besar pada kamu. Tapi sekarang aku sadar dan sudah kembali ke negara ini agar kita bisa selalu bersama dan menikah secepatnya seperti yang kamu katakan dulu padaku." ucap Giselle panjang dengan suara manja.


" Apa ? Kamu sekarang sudah berada di sini ? " tanya Aaron terkejut.


" Ya, honey ... aku baru saja tiba dan sekarang sedang berada di hotel , Giselle menyebutkan nama hotel tempatnya menginap dan sialnya di hotel itu juga Felicie menginap.


Aaron langsung merasa pusing memikirkannya. Baru saja ia menyuruh Tommy agar membujuk Felicie untuk pulang, sekarang malah ada Giselle yang berada di hotel yang sama.


Tommy dan Zico tidak pernah menyukai Giselle. Selama ini mereka menganggap jika Giselle hanya memanfaatkan ketenaran dan kekayaan Aaron saja. Bisa berantakan kalau Tommy sampai melihat keberadaan Giselle di sana.


Apalagi jika sampai Daddy nya tahu, semua benar - benar hancur.


Daddy pasti tidak akan memberikan perusahaan dan sepeserpun dari asetnya pada Aaron jikalau ia mengetahui mengkhianati Felicie.


" Kamu sebaiknya pindah saja dari hotel itu, cari hotel yang lebih bagus." ucap Aaron akhirnya.


" Gak bisa dong, honey ... aku sudah membooking nya buat tiga hari ke depan sebelum aku menemukan apartment yang akan aku tempati dan aku juga sangat suka dengan hotel ini. " jawab Giselle gak setuju.


" Aku akan mencarikan apartment buat kamu, sekarang sebaiknya kamu keluar dari hotel itu." perintah Aaron dengan gugup.


" Hmm ... besok aja ya, honey aku keluar dari hotel ini. Aku mau bersih - bersih dan istirahat sebentar. Baru setelah itu aku ingin ketemu sama kamu. Kamu datang kemari, ya ... " Giselle dengan suara lembut dan menggoda mencoba merayu Aaron.


Aaron benar - benar bingung harus melakukan apa sekarang. Di satu sisi ia sangat merindukan Giselle dan ingin segera menemuinya. Tapi di sisi lain ia takut ketahuan Tommy ataupun Daddy nya.


" Please, honey ... kamu pasti datangkan ke sini. Aku sangat merindukanmu. Biar, aku gak usah jadi istirahat deh demi ketemu sama kamu." ucap Giselle memohon.


" Baiklah, aku akan segera kesana menemui kamu. Aku juga merindukanmu." akhirnya akal sehat Aaron dikalahkan dengan rasa rindunya pada Giselle.


" Thanks, honey ... aku menunggumu. I love you." ucap Giselle sebelum akhirnya menutup telepon.


Aaron segera mengganti pakaiannya dengan pakaian casual. Ia bercermin dan tersenyum melihat bayangan dirinya yang sudah terlihat sangat tampan. Setelah menyemprot parfum, ia pun bergegas keluar dari apartment nya.

__ADS_1


Sementara itu Tommy sudah berada di hotel untuk menemui Felicie yang ia tahu sedang duduk di cafe hotel. Zico yang ingin mendekati Felicie juga ikut bersama Tommy.


Zico dan Tommy tersenyum begitu melihat Felicie yang sedang asyik menikmati makanannya sendirian. Ia terlihat sangat cantik dan lebih seksi, dengan pakaian yang di kenakan nya.



Felicie.



Giselle


Seorang pria yang berada di cafe, yang sejak Felicie masuk ke cafe terus memperhatikannya berjalan menghampiri meja Felicie.


Ia mengenalkan dirinya pada Felicie. Felicie yang memang orangnya tidak terlalu bisa mempercayai orang yang baru di kenalnya menunjukkan sifat dinginnya pada pria itu.


Ia tidak mengacuhkan tangan yang terulur saat pria itu menyebutkan namanya. Tetapi pria itu tidak perduli, malah ikutan duduk di kursi yang ada di depan Felicie.


Melihat seorang pria yang berani mendekati dan duduk di dekat Felicie, membuat Zico merasa kesal. Ia lalu menghampiri Felicie dengan langkah lebar, meninggalkan Tommy.


" Anda siapa ? Kenapa berani menganggu teman saya ? " tanya Zico dengan wajah dingin.


" Oh, hanya teman kan ? Saya juga teman baru nona ini." jawab pria itu cuek.


" Anda jangan bohong. Tadi saya melihat, teman saya tidak ingin berkenalan dengan anda. Jadi saya minta anda segera pergi dari sini." ucap Zico dengan suara penuh tekanan.


Tommy yang melihat Zico mulai emosi, langsung mencoba menenangkan suasana agar tidak lebih memanas.


" Maaf, Anda sebaiknya pergi.


Ini adik saya dan kami ingin menjemputnya pulang." ucap Tommy berusaha bersikap wajar.


" Oh, gadis cantik ini adik kamu, kog gak mirip sama sekali." bantah pria itu menatap tak percaya pada Tommy.


" Ya, memang kami tidak mirip. Adik saya mengambil wajah Ibu kami yang keturunan bule, sedangkan saya lebih condong ke ayah, orang Asia." Tommy sangat pintar memberikan alasannya.


Pria itu masih belum percaya dengan perkataan Tommy. Ia masih tetap keras - kepala dengan keinginannya untuk mendekati Felicie.


" Kalau kamu benar kakak dari gadis cantik ini, coba sebutkan nama, umurnya dan tempat tinggal kalian. " pria itu berusaha menjebak Tommy dengan pertanyaannya.


" Itu bukan urusan anda dan saya tidak sebodoh seperti yang anda pikirkan. " jawab Tommy masih berusaha sabar.


" Oh, berarti benar dugaan saya, anda bukan saudara gadis ini.


Felicie yang hanya diam memperhatikan perdebatan yang terjadi di depannya, akhirnya bangkit dan ingin segera pergi meninggalkan mereka. Tapi begitu ia mulai berjalan, pria itu malah mendekati dan menahan tangannya. Felicie yang tidak suka jika tubuhnya di sentuh oleh orang asing apalagi seorang pria, langsung memelintir tangan pria itu hingga ia menjerit kesakitan.


" Berani banget Lo nyentuh tangan gue, mau gue patahin tangan lo yang kurang ajar ini, hah ... " ucap Felicie marah.


Zico dan Tommy yang melihat hal ini hanya bisa menahan tawa, karena akhirnya pria menyebalkan ini merasakan juga apa yang di alami Aaron sahabat mereka.


Pria yang hanya ingin berkenalan dengan Felicie ini lalu mengatakan " Maaf, gue bukan mau bersikap kurang ajar sama elo. Gue cuma pengen tahu nama Lo doang, itu aja ..." ucapnya dengan wajah memelas menahan sakit di pergelangan tangannya.


" Benar, gue gak ada maksud jelek sama sekali sama Lo. Cuma mau kenalan aja. Gue udah lihat Lo sejak masuk ke hotel ini, kolam renang dan akhirnya ketemu lagi di cafe. Sumpah, gue gak bohong ... please, lepaskan tangan gue." ucap pria itu lagi dengan wajah yang terlihat jujur.


Felicie yang melihat gak ada kebohongan di mata pria di depannya ini, akhirnya melepaskan tangan pria itu.


" Please, gue boleh tahu kan nama Lo .... " tanya pria itu dengan mata penuh harap agar Felicie mau menyebut kan nama nya.


" Hmm ... Felicie." akhirnya Felicie menjawab pertanyaan pria itu, lalu melangkah pergi.


" Yes ... Yes ... " teriak pria itu senang karena berhasil mengetahui nama gadis yang di incar nya.


Sejak pertama kali ia melihat kehadiran Felicie di hotel ini bertepatan dengannya yang juga baru ingin menginap di sini, ia sudah merasa tertarik. Apalagi setelah itu mereka bertemu lagi di kolam renang dan cafe. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berkenalan dengan Felicie.


Tommy dan Zico hanya bisa mendengus kasar melihat tingkah yang di lakukan pria ini. Mereka pun berniat menyusul Felicie yang sudah tidak kelihatan sama sekali.


Tanpa mereka sadari, ternyata Aaron juga sudah hadir di sana bersama dengan Giselle. Karena saat ia tiba, Giselle langsung mengajaknya ke cafe karena perutnya mulai merasa lapar. Ia sengaja bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke toilet saat Felicie dan kedua sahabatnya lewat di depan meja Aaron dan Giselle.


Aaron melihat semua apa yang di lakukan pria itu pada Felicie, dengan perasaan yang sulit di artikan.


" Kamu kenapa, honey ? Kog kayak gelisah gitu ? " tanya Giselle sambil menyentuh tangan Aaron.


" Gak ada, aku biasa aja. Kamu kenapa gak beritahu aku kalau hari ini pulang , jadi aku bisa jemput ke bandara." jawab Aaron lalu mengalihkan pembicaraan.


" Aku ingin kasi kejutan buat kamu, honey ... Lagian aku takut kamu masih marah sama aku, karena begitu saja pergi meninggalkan kamu. Sementara waktu itu kamu mengajak aku buat menikah. Jadi aku gak berani menghubungi kamu. Tapi sekarang aku sudah memutuskan untuk tetap bersama kamu buat selamanya, jika kamu masih mencintai aku sama seperti aku yang selalu mencintaimu. "ucap Giselle terlihat menyesal dengan mata berkaca - kaca.


" Sudah, jangan menangis sayang.


Kamu jangan khawatir, aku tidak pernah marah sama kamu. Aku masih mencintai kamu sama seperti dulu. Jangan nangis, ya ..." jawab Aaron sambil mengelus rambut Giselle.


Giselle yang melihat usahanya berhasil untuk mendapatkan Aaron kembali langsung mengembangkan senyumnya. Gak sia - sia ternyata ia memutuskan kembali kemari. Ia tahu kalau Aaron sangat mencintainya, dan kali ini Giselle tidak akan melepaskannya lagi. Ia akan melakukan semua cara agar Aaron bisa cepat menikahinya.


Vera yang merupakan sepupunya Felicie yang sedang menghampiri temannya di hotel ini, terlihat senang begitu melihat keberadaan Aaron. Selama ini ia masih bingung harus memakai cara apa untuk mendekatinya. Ternyata tidak perlu bersusah - payah, malah ketemu di cafe hotel ini. Walau Vera melihat Aaron bersama seorang wanita dan itu bukan Felicie ... ia tidak perduli.

__ADS_1


Dengan rasa percaya diri, ia mendekati meja Aaron dan Giselle.


" Hai, Aaron ... apa kabar ? Masih ingatkan sama aku, Vera. Sejak kemarin, aku kangen banget loh sama kamu. " ucap Vera dengan suara manja.


Aaron dan Giselle yang sedang menikmati makanan yang di sajikan langsung menghentikan kegiatan mereka.


Giselle menatap tajam kearah Vera. Ia tidak suka karena sekarang ia memiliki saingan dalam mengambil hati Aaron. Walaupun ia yakin Aaron masih mencintainya, tapi bisa saja selama ia pergi Aaron juga mencintai wanita lain.


" Siapa kamu ? " tanya Giselle dengan wajah kesal.


" Kamu yang siapa ? Aku calon kekasihnya Aaron ...." ucap Vera dengan yakin.


" Hah, masih calon aja sudah sombong. Gak usah kepedean Lo ... Aaron gak akan mungkin milih cewek norak, kaya Lo ...." hina Giselle.


" Lo itu yang norak dan murahan. Ngapain Lo nempel kaya ulat bulu gitu sama Aaron." ucap Vera marah melihat Giselle kini malah mendekatkan badannya ke badan Aaron.


" Hahaha ... suka - suka gue, dong.


Gue calon istrinya Aaron, jadi terserah gue mau lakuin apa sama calon suami gue." jawab Giselle sengaja membuat panas Vera.


Vera langsung terkejut mendengar yang dikatakan Giselle.


" Calon istri ... Suami ? " tanya Vera gak yakin.


Aaron yang sejak kemunculan Vera sudah merasa khawatir semakin gelisah begitu mendengar Giselle mengatakan mengenai statusnya sebagai calon istri dari Aaron. Padahal saat ini status Aaron masih suami Felicie, adik Vera.


" Maaf, ... sepertinya kami harus pergi sekarang. " Aaron buru - buru bangkit dan mengajak Giselle untuk pergi.


" Tunggu, apa maksud perempuan gatel ini dengan calon istri ? " tanya Vera penasaran.


" Ah, itu kamu hanya salah dengar aja. Bukan seperti itu maksudnya.


Okey, kami pergi, masih ada urusan penting yang harus kami kerjakan." jawab Aaron lalu menarik tangan Giselle agar segera pergi dengannya.


Aaron tidak ingin semuanya jadi berantakan kalau Vera dan Giselle terus berdebat. Bisa saja Vera akan mengatakan pada Giselle, kalau Aaron adalah suami dari Felicie, sepupunya Vera.


Vera yang masih penasaran terus melihat kearah Aaron dan Giselle yang semakin menjauh.


" Hmm ... siapa sebenarnya wanita itu ? Wajahnya seperti tidak asing ... " gumam Vera sambil memikirkan sesuatu.


Sementara itu, Giselle yang tangannya di genggam dengan sangat erat oleh Aaron akhirnya menghempaskan tangan Aaron dengan kuat.


" Apa - apaan sih, honey. Tanganku jadi sakit karena kamu genggamnya kuat banget. Siapa, sih emangnya cewek tadi. Kenapa kita harus pergi dari sana, aku kan belum menyelesaikan makananku tadi." ucap Giselle dengan wajah kesal.


" Maaf, sayang ... aku gak mau kamu ribut dengan cewek gak jelas kaya gitu. " jawab Aaron cepat.


" Gak jelas ? Tapi dia tahu nama kamu loh, honey ... pasti kamu kenalkan sama dia ? " tanya Giselle khawatir.


" Kalau gak salah, dia itu saudara teman aku. Aku pernah ketemu sekali sama dia waktu main kerumah teman aku itu. " jawab Aaron berbohong.


" Teman kamu yang mana ? Aku tahu Tommy dan Zico gak akan mungkin punya saudara yang bentuknya kaya cewek tadi, norak, ... " bantah Giselle curiga.


" Bukan mereka, sayang ... aku punya beberapa teman baru sejak kamu pergi meninggalkan aku.


Nah, cewek gak jelas tadi itu saudara dari salah - satu temanku itu. Aku juga gak pernah ngobrol, sama dia. Makanya aku juga aneh ngeliat dia tadi sok akrab sama aku kaya tadi." bantah Aaron menambah kebohongannya.


" Hmm ... kamu gak bohong kan, sama aku, honey ? " tanya Giselle ragu.


" Ya, gak mungkinlah , sayang ...


gak mungkin aku bohongi kamu." jawab Aaron memasang wajah serius.


" Benar, nih ... kamu gak bohong ?"


tanya Giselle lagi.


" Kamu gak percaya sama aku ? Ya, sudah kalau kamu gak percaya, sebaiknya aku pergi sekarang." ucap Aaron mengancam Giselle, lalu bergerak seakan - akan mau pergi meninggalkan Giselle.


" Honey, jangan marah dong. Aku minta maaf sama kamu. Aku percaya kog. Tadi aku cemburu karena aku takut kamu gak cinta lagi sama aku. Jangan pergi, ya .."


Giselle mulai merayu Aaron dengan manja, karena ia mulai takut begitu melihat Aaron mau pergi meninggalkannya.


" Hmm ... baiklah. Tapi aku gak mau kamu melakukan seperti ini lagi." ucap Aaron serius.


" Baiklah, honey ... aku akan selalu percaya sama cinta kamu buat aku." kata Giselle dengan menatap lembut ke mata Aaron.


" Ya, sudah ... sebaiknya kita pergi dari sini. Kamu mau kemana ? " akhirnya Aaron pun luluh begitu melihat tatapan Giselle.


" Kalau pergi ke mall, boleh honey ... aku ingin membeli tas dan sepatu, aku kelupaan memasukkannya ke koper, karena buru - buru ingin segera ketemu sama kamu. " jawab Giselle dengan menampilkan wajah manjanya.


" Okey, kita pergi sekarang." ucap Aaron.


Giselle langsung tersenyum bahagia karena Aaron setuju dengan perkataannya. Giselle lalu meraih tangan Aaron lalu menggenggamnya dengan lembut. Mereka berdua saling melemparkan senyum, lalu perlahan berjalan meninggalkan hotel.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2