Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Arrogant
Episode 95


__ADS_3

Sebelum pergi, Elbert sengaja mengganti baju dengan pakaian yang tidak terlalu menarik perhatian orang lain. Layaknya orang yang bepergian pada umumnya, ia hanya menggunakan celana dan kaos hitam beserta jaket. Tidak lupa ia memakai topi dan kaca mata agar tidak ada yang mengenali wajahnya saat keluar dari bandara.


Meskipun tidak banyak orang yang pernah melihat wajahnya selama ini. Tapi ia yakin, Claire memerintahkan anak buahnya untuk memantau bandara.


Claire pasti tahu, Elbert akan segera pulang karena berita pernikahan mereka yang memang sengaja ia publikasikan untuk memancing Elbert pulang.


Tapi agar Claire terkecoh dan tidak menyadari kedatangannya, El menyuruh John agar tidak datang menjemputnya di bandara.


Ia dengan tenang keluar dari bandara tanpa ada yang mengenalinya. Begitu keluar, Elbert segera masuk ke dalam taksi yang akan membawanya kesebuah hotel, karena disana Jhon sudah menunggunya.


" Nanti, berhenti di parkiran aja, pak !" kata Elbert pada supir taksi.


" Baik, Tuan ... !" jawab supir taksi dengan sopan.


Tidak lama kemudian taksi yang membawa Elbert memasuki pelataran parkir hotel.


" Berhenti disini aja, pak ... !" ucap El setelah melihat mobil John yang terparkir.


" Ya, Tuan ... !" supir taksi pun segera menghentikan mobilnya begitu mendengar perkataan Elbert.


" Ini, pak ... kembaliannya buat bapak saja !" Elbert lalu keluar dari dalam taksi setelah membayarnya terlebih dulu.


" Terima kasih, Tuan ... !" ujar supir taksi dengan ekspresi wajah bahagia karena Elbert melebihkan uang yang lumayan untuknya.


" Hmm ... sama - sama, pak !" ucap Elbert.


Elbert bergegas berjalan menuju mobil John di parkir.


John yang belum mengetahui kedatangan Elbert, dengan serius melihat handphone yang ada di tangannya. Ia sedang menunggu panggilan masuk dari Elbert, karena tadi sebelum berangkat El berkata akan menghubunginya jika sudah sampai di bandara.


Tapi yang membuat ia sedikit resah, karena sampai sekarang Elbert belum juga menelfonnya.


Sedangkan kalau melihat dari jam keberangkatannya, harusnya Elbert sudah tiba di hotel, tempat yang telah mereka sepakati sebelumnya.


Elbert dengan senyum smirk di wajahnya sengaja menggedor kaca mobil bagian belakang dengan keras.


Tentu saja mendengar kaca mobilnya digedor orang, membuat John marah. Ia langsung keluar dari dalam mobil dan ingin memberikan pelajaran pada orang yang berani melakukan hal ini pada mobil kesayangannya.


Tapi begitu ia melihat Elbert yang melakukannya, John cuma bisa nyengir doang.


" Apa ... mau marah !" ucap Elbert dengan wajah datarnya.


" Kalau orang lain, pasti aku marahlah ! " ujar John.


" Lama ... !" ujar Elbert kesal tidak menggubris omongan John sembari membuka pintu mobil lalu duduk di kursi belakang.


Meskipun mereka dekat layaknya saudara tapi Elbert dan John tetap bersikap profesional jika sedang berada di luar. Berbeda jika sedang berada di mansion, John bisa ngomong sesukanya.


Meski pun terkadang ditanggapi dengan wajah dinginnya Elbert.


John kemudian ikut masuk kedalam mobil melihat hal ini.


" Kenapa gak ngabari kalau kamu udah nyampe ?" tanya John sembari melihat Elbert dari kaca spion mobilnya.


" Gak sempat !" sahut Elbert datar.


" Kamu sendiri loh yang bilang mau ngabari ke aku kalau udah nyampe di bandara !" ujar John kesal.


" Hmm ... ini baju ganti buatku ?" ucap Elbert tanpa memperdulikan omongan John.

__ADS_1


" Elbert ... bocah nakal ! " umpat John.


Elbert menarik sudut bibirnya mendengar umpatan yang keluar dari mulut John. Sebenarnya ia juga rindu dengan John. Sudah beberapa lama mereka tidak ketemu, sejak Elbert memutuskan untuk tinggal dimana Felicie berada. Tapi ia sengaja menahannya.


Elbert terlalu gengsi untuk memperlihatkan rasa sayangnya pada John yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.


"Iya, itu baju yang kamu pesan kemarin !" ujar John karena tak di tanggapi oleh Elbert.


Tanpa banyak bicara, El segera membuka bajunya dan mengganti dengan pakaian yang sudah tersedia.


" Tutup mata, kamu ... !" ucap Elbert saat hendak mengganti celananya.


" Okey, sabar boss ... jangan ngegas gitu !" ujar John kekeh sembari menutup matanya.


" Dia tidak tahu aku datang kan ?" tanya Elbert datar setelah selesai memakai celananya.


" Ya, Claire tidak tahu." ujar John kembali membuka mata.


" Jangan sampai Claire tahu aku datang sebelum rapat selesai !" ucap Elbert dengan wajah datar.


" Baik, aku sudah mengusahakannya asal jangan ada yang melapor pada Claire. Karena dari yang aku lihat sepertinya dia punya mata - mata di perusahaan." ujar John.


" Hmm ... biarkan saja. Tapi aku harap jangan sampai dia mendadak masuk dan menganggu !" ucap Elbert menahan marah saat mengingat Claire.


Gara - gara ulahnya membuat Elbert harus meninggalkan Felicie sendirian di sana. Walaupun ia tahu Felicie adalah gadis yang mandiri dan tangguh tapi ia gak


mau kehilangan kesempatan untuk bersamanya setiap hari.


Apalagi sejak kejadian tadi sebelum ia berangkat ke bandara.


Felicie tidak menolak Elbert saat ia menciumnya, membuat El jadi ingin selalu di dekatnya. Karena ia yakin Felicie sudah mulai mencintainya juga. Memikirkan hal ini, senyum bahagia pun tercetak di wajahnya.


" Okey, boss ... !" sahut John sembari memperhatikan perubahan yang terjadi di wajah Elbert.


" Kita berangkat sekarang !" perintah Elbert.


Tanpa menunggu lama, John segera menghidupkan mesin mobil dan kemudian meluncur di jalanan.


Elbert melihat jalanan sembari membayangkan apa yang sedang


di lakukan oleh Felicie sekarang.


Sebentar lagi ia akan keluar dari kampus. Karena hari ini jadwal


kuliahnya tidak terlalu banyak.


Memikirkan hal ini membuat Elbert jadi semakin merindukannya dan ingin mendengar suara Felicie segera.


Ia langsung menghubungi nomor Felicie.


" Halo, El ... " terdengar suara Felicie yang terdengar merdu di telinga Elbert.


" Halo juga, Feli ... kamu udah selesai kuliahnya ?" tanya Elbert lembut.


Suara Elbert yang lembut ketika menjawab sapaan dari Felicie membuat John mengulum senyum.


Ternyata Elbert yang terkenal dingin dan sedikit bicara pada orang di sekitarnya sangat berbeda sikapnya jika sedang berbicara dengan Felicie, wanita yang dicintainya.


" Ini baru keluar dari kelas. Kamu baru aja sampai ?" tanya Felicie yang masih malu jika mengingat hal yang terjadi di antara mereka berdua di dalam mobil tadi.

__ADS_1


" Sudah setengah jam. Ini lagi di jalan mau ke perusahaan. " ujar Elbert menjelaskan.


" Oh, kamu masih di mobil ? Siapa yang jemput kamu ?" tanya Felicie.


" Ya ... John yang jemput. Kamu langsung pulang atau masih tetap di kampus ?" suara Elbert terdengar cemburu ketika menanyakan ini, karena ia gak ingin kalau Felicie berdekatan dengan Dave. Apalagi saat ini ia tidak sedang berada disana.


" Aku masih mau ke perpustakaan, ada buku yang mau aku cari dengan Airin dan Devan buat refrensi ngerjain tugas, kenapa ?" tanya Felicie setelah menjelaskan kegiatannya.


" Oh, gak papa ... aku hanya gak mau kamu kelelahan." ujar Elbert dengan penuh perhatian.


Lagi - lagi John tersenyum mendengar perkataan Elbert.


Saudaranya ini ternyata begitu perhatian pada Felicie.


" Kamu juga jangan sampai kelelahan ya disana ... " ucap Felicie malu karena ia gak biasa


bicara begini pada pria.


" Iya ... begitu aku selesai di perusahaan, aku langsung istirahat. " ujar Elbert bahagia karena Felicie sudah mulai memperhatikannya.


" Hmm ... El, aku udah di tunggu sama Airin, nih ... aku tutup ya telefonnya. " ucap Felicie dengan perasaan enggan.


" Baiklah ... kamu baik - baik, ya .. selama aku tidak bisa ada disana.


Jangan biarkan kakak senior kamu itu datang ke apartment ! " ujar Elbert tidak lagi berusaha menutupi rasa cemburunya.


" Hahaha ... kamu juga ! " sahut Felicie tertawa.


" Ya, tentu saja ... kamu gak perlu khawatir. Kamu tahu kan, aku selalu mencintai kamu. " ucap Elbert dengan penuh perasaan.


" Hmm ... El, aku tutup ya. Airin udah teriak - teriak, nih ... bye !"


wajah Felicie langsung memerah saat mendengar ucapan cinta dari Elbert. Meskipun sudah sering ia mendengarnya tapi kali ini artinya sangat berbeda di hari Felicie.


" Okey, bye ... love you !" jawab Elbert kemudian menunggu hingga Felicie memutus sambungan teleponnya.


Setelah terputus Elbert memandang handphonenya dengan perasaan bahagia. Hatinya merasa tenang setelah mendengar suara Felicie.


Elbert tidak perduli meski ia tahu John mendengar pembicaraannya sejak tadi.


John yang melihat wajah El, yang begitu bahagia ikut merasa kebahagiannya.


Selama ini ia sering berdoa agar Elbert segera berubah dan


bersikap layaknya manusia yang


bisa mengekspresikan setiap hal yang di alaminya.


Bukan hanya menampilkan ekspresi dingin dan marah saja tapi juga bisa tersenyum dan tertawa lepas. John sekarang yakin kalau hanya Felicie yang bisa melakukan itu pada Elbert.


**********************************


Maaf, semua ... baru bisa malam nge-share episode ini.


Semoga kalian menyukainya, ya ...😍😍


Jangan lupa like, vote dan koment positifnya ya sayangku ...😍😍😍


Love You All ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2