
Setelah seminggu dari acara pertunangan Elbert, Felicie membuktikan pada dirinya sendiri bahwa sekarang ia sudah bisa kembali berdiri tegak. Meskipun ia tahu di dasar hatinya yang paling dalam masih tersembunyi rasa cinta dan sakit itu masih tetap ada.Tapi ia bertekad untuk membuang semua perasaannya yang gak penting.
Bahkan ia sudah memutuskan tidak ingin memiliki hal apapun yang menyangkut dengan Elbert lagi hingga akhirnya ia mengambil keputusan untuk menghubungi Jhon. Untungnya saat Elbert meneleponnya waktu itu dan menggunakan nomer Jhon, ia sempat menyimpannya.
Felicie melakukan itu agar ia tidak terhubung lagi dengan Elbert. Apalagi ia tidak ingin jika wanita yang jadi tunangannya nanti sampai tahu kalau Elbert membeli dan meninggalkan mobil untuknya. Felicie tidak mau ia sampai dianggap sebagai orang ketiga atau penganggu dari hubungan mereka.
Jhon yang sedang makan siang bersama Elbert di sebuah restoran, sangat terkejut ketika melihat Felicie menghubunginya. Ia bingung harus mengatakan apa pada gadis itu.
“ Siapa yang telepon, kenapa kau tidak mengangkatnya, Jhon ?” tanya Elbert dengan nada gusar karena suara dering itu menganggu nya.
Saat ini Elbert hanya ingin menikmati makan siangnya dengan tenang sebelum ia harus kembali ke perusahaan dan di ganggu oleh Claire.
Sejak mereka tunangan, wanita licik itu sikapnya semakin menjadi - jadi. Setiap hari datang menemui Elbert dengan seribu alasan. Walaupun sudah dibilang kalau Elbert tidak ada di ruangannya, tapi ia tetap
“ Felicie, El ... !” ujar Jhon dengan wajah cemas.
“Apa ... ? Kenapa kau mengabaikannya, angkat teleponnya sekarang dan hidupkan speakernya ! Mungkin dia ingin bicara denganku. “ kata Elbert menatap Jhon dengan tajam.
Ia sudah begitu rindu mendengar suara Felicie, gadis kecilnya. Hanya saja sampai detik ini ia terlalu pengecut untuk menghubungi nya. Tapi itu juga terpaksa ia lakukan agar Claire tidak bisa mencium jejak keberadaan Felicie. Elbert tidak ingin wanita itu menganggu kehidupan Felicie.
"Baik, El ... !" sahut Jhon.
Jhon lalu menggeser tombol jawab di handphone nya dan menghidupkan speaker seperti yang diperintahkan agar Elbert bisa ikut mendengar pembicaraan mereka.
" Halo ... !" ucap Felicie.
" Ya, halo ... !" Jhon merasa gugup ketika mendengar suara Felicie.
" Ini Tuan Jhon, kan ... ?" tanya Felicie untuk lebih memastikan kalau dia tidak salah menghubungi nomer.
" Ya, benar nona Felicie, saya Jhon asistennya Tuan Elbert. Hmm ... apakah nona ingin bicara dengan Tuan ?" tanya Jhon sembari melihat wajah Elbert yang kelihatan begitu berharap Felicie mau bicara dengannya.
" Tidak ... saya hanya mau menanyakan pada anda, kapan Tuan Jhon bisa mengambil mobilnya Tuan Elbert, karena saya tahu tuan anda tidak punya waktu untuk itu, sekarang ! Dan satu lagi, tolong sampaikan pada tuan anda, saya tidak suka ada orang yang mengawasi kegiatan saya sehari - hari. Entah orang itu suruhan tunangannya atau suruhan Tuan Elbert. Jadi, saya minta tolong segera perintahkan orang itu menjauh dari kehidupan saya. Saya bukan orang penting yang harus diawasi !" ucap Felicie panjang dengan nada dingin.
Jhon terdiam mendengar perkataan Felicie. Ternyata gadis itu sangat pintar hingga bisa mengetahui kalau ada orang yang mengawasinya.
Ia lalu melihat wajah Elbert yang berubah pucat saat mendengar omongan Felicie yang tidak ingin bicara dengannya.
__ADS_1
Sementara itu Elbert langsung terhenyak saat mendengar apa yang di katakan Felicie. Ternyata Felicie begitu membencinya. Bahkan Bahkan kini ia sudah tidak ingin lagi bicara dengan Elbert. Hatinya terasa sakit. Ia tahu Felicie pasti sudah tidak bisa percaya dengannya.
Itu memang pantas ia dapatkan karena semua ini merupakan kesalahan Elbert yang tidak berani menjelaskan masalah ini dari awal pada Felicie.
Andaikan saja saat itu Elbert berani berkata jujur dan tidak menganggap masalah yang disebabkan Claire bisa di atasi nya dengan cepat. Semuanya tidak akan jadi serumit sekarang.
" Halo, Tuan Jhon ... Tuan masih disana ?" tanya Felicie karena tidak mendengar tanggapan dari Jhon sembari menghela nafas berat.
" Eh, ya ... Maaf nona Felicie. Saya masih mendengarkan nona, kog ... !" sahut Jhon gugup.
" Hmm ... Saya harap Tuan bisa mengambil mobil itu secepatnya." ucap Felicie.
Jhon menatap Elbert untuk meminta jawaban atas perkataan Felicie. Ia tidak berani mengambil keputusan.
Elbert mengangguk tanpa semangat ke arah Jhon. Ia tidak ingin membuat Felicie semakin membencinya jika ia tetap bersikeras menolak permintaan nya. Padahal ia memang sengaja membeli mobil itu untuk Felicie, agar ia tidak terlalu lelah dan harus berjalan kaki ke kampus.
Elbert tahu, setelah beberapa hari ia pergi meninggalkan Felicie dan beritanya tersebar di media, Felicie tidak lagi memakai mobil itu buat pergi ke kampus. Bahkan ia juga tahu Felicie sekarang menjadi pegawai di butik dan lembur setiap malam.
" Baik, nona ... saya akan menyuruh anak buah saya untuk membawa mobil itu segera !" jawab Jhon.
Elbert kembali terpukul mendengar hal itu. Bahkan untuk memegang kunci mobil saja Felicie sudah enggan. Ia benar - benar tidak ingin mempunyai hubungan apapun dengan Elbert lagi.
" Baiklah, nona ... saya mengerti ! " sahut Jhon menatap Elbert dengan tatapan iba.
Jhon tahu Elbert pasti sangat sakit mendengar hal ini. Felicie benar - benar tidak ingin berurusan lagi dengannya.
" Hmm ... kalau begitu sampaikan terima kasih saya buat Tuan Elbert, karena sudah pernah mengizinkan saya memakai mobil miliknya. Oya, ini adalah terakhir kalinya saya menghubungi anda. Karena setelah ini saya tidak ingin di sangkut - pautkan lagi dengan Tuan Elbert. Juga saya ingin mengucapkan selamat atas pertunangan nya dengan nona Claire. Semoga mereka bahagia. " ucap Felicie berusaha agar tetap tegar.
Elbert menitikkan air mata saat mendengar Felicie mengucapkan salam perpisahan dan selamat buat nya, sekaligus.
" Baik ! Akan saya sampaikan nona. Semoga nona juga selalu bahagia. " ujar Jhon dengan suara tercekat karena melihat Elbert yang menitikkan air mata.
" Hmm ... Kalau begitu saya akan mengakhiri pembicaraan kita.
Terima kasih !" ucap Felicie.
" Ya ... sama - sama nona Felicie." sahut Jhon.
__ADS_1
Tak lama Felicie pun memutuskan hubungan telepon mereka.
Setelah telepon itu berakhir, Felicie berusaha dengan keras menahan air mata yang mendadak ingin berontak keluar.
" Tidak, aku tidak boleh menangis lagi. Aku harus kuat !" ucap Felicie memberi semangat buat dirinya.
Akhirnya Felicie bisa mengatasi hal itu. Sekarang ia harus berjalan maju dan tidak akan melihat ke - belakang lagi. Untuk apa membuang waktu sia - sia memikirkan seseorang yang tidak memikirkan kita.
Sedangkan Elbert begitu Felicie mengakhiri telepon itu langsung kehilangan semangatnya. Tatapannya terlihat kosong. Ia tidak menyangka, jika semuanya akan berakhir seperti ini.
Jhon hanya diam dan tak berani bersuara. Ia tidak ingin menganggu Elbert yang kembali terpuruk. Ia hanya bisa berdoa dalam hati agar semua masalah ini bisa cepat selesai dan Elbert bisa kembali bahagia dengan Felicie.
" Bisakah Felicie memaafkan ku dan mau menerima ku kembali, Jhon ?" tanya Elbert dengan suara serak.
" Itu semua tergantung usahamu, El ... Jika kamu bisa membuktikan pada Felicie dan dunia bahwa kamu tidak pernah punya hubungan dengan Claire, maka aku yakin semua nya akan kembali baik. Aku akan bekerja lebih keras untuk membantumu mendapatkan bukti itu !" ujar Jhon sembari menepuk bahu Elbert dengan hangat.
" Tapi, bagaimana jika kita tidak berhasil menemukan bukti itu, Jhon ! Apakah itu berarti selama nya aku tidak bisa bersama dengan Felicie lagi ?" tanya Elbert terlihat mulai kehilangan kepercayaan dirinya.
Jhon terkejut mendengar omongan Elbert. Ia tidak menyangka kalau Elbert bisa jadi seperti itu. Elbert yang selalu mampu menyelesaikan semua masalah dengan tenang, kini bahkan sudah tidak percaya dengan kemampuannya lagi.
" Kamu tidak boleh bicara seperti itu, El ... ! Kamu harus yakin dan bisa memecahkan masalah ini. Mana Elbert yang tidak pernah takut menghadapi apapun. Mana Elbert, yang selalu optimis dan tidak mau menyerah dalam keadaan apapun. Tahunan kamu mencari Felicie dan tidak menyerah sedikitpun. Walaupun saat itu aku pernah menyuruhmu berhenti mencarinya. Hingga akhirnya keyakinan mu itu terbukti. Kamu bisa menemukan Felicie. " Ujar Jhon berusaha membangkitkan semangat Elbert lagi.
" Entahlah, Jhon ... aku merasa kali ini aku akan gagal. Wanita licik itu punya banyak cara untuk menjebak ku. Kita tidak pernah kesulitan dalam menyelidiki ataupun memecahkan masalah. Kita selalu bisa dengan cepat mengatasinya. Tapi ini sudah sekian lama kita belum juga menemukan bukti. Meski aku sudah tunangan dengan wanita j****g itu, tetap saja sampai detik ini aku belum bisa mendapatkan bukti itu. Aku jijik harus terus bersamanya dan berpura - pura
menerimanya." keluh Elbert dengan wajah lelah.
" Hmm ... bersabarlah ! Kamu harus tetap kuat ! Kamu lihat Felicie, ia tetap berusaha tegar dan baik - baik saja meskipun aku sangat yakin saat ini hatinya juga sedang hancur. Tapi ia tetap bangkit, dan bahkan semangat untuk terus melanjutkan hidupnya.
Kamu juga harus melakukan hal yang sama dengannya. Tetaplah tegar dan semangat. Meskipun nanti kamu mengalami kesulitan yang lebih mengerikan. Kamu harus bisa mengatasinya dengan tenang seperti sikapmu selama ini. Bersabarlah, meski tidak cepat tapi pasti suatu saat kita akan mendapatkan bukti itu ! Sementara ini aku mohon bertahanlah dengan wanita licik itu, meski kamu muak dan lelah." ujar Jhon panjang seraya mencoba menguatkan Elbert.
Elbert terdiam dan mencerna semua kata - kata yang keluar dari mulut Jhon. Ia tahu semua yang dikatakan Jhon itu memang benar.
Tapi yang tetap saja ia tidak bisa terima, ia harus terpisah dengan Felicie yang dicintainya dan harus bersikap pura - pura baik dan menerima Claire, wanita j****g itu sebagai tunangannya dan yang paling membuat ia muak, Claire seakan sengaja memanfaatkan status mereka untuk selalu tampil
mesra di depan umum, bahkan di perusahannya sendiri. Hal inilah yang membuat Elbert semakin lelah.
**********************************
__ADS_1