
" Feli, aku dan Devan keluar sebentar ya ... ada yang mau aku cari. " ujar Elbert pada Felicie yang sedang ngobrol dengan Airin.
" Memangnya mau cari apa, sih ...
kami ikut, dong ... ! " ucap Airin.
" Kalian tunggu disini aja bentar.
Elbert cuma minta di temani
ke supermarket di dekat sini.
Lagi pula kasihan Feli, dia pasti masih lelah. " kata Devan.
" Iya, Rin ... kita di apartment aja.
Aku mau mengeluarkan isi koperku biar cepat beres. " ujar
Felicie menyetujui perkataan Devan.
" Iya, deh ... tapi jangan lama, ya sayang. Aku lapar, nih ... tadi belum sempat sarapan karena takut telat jemput Feli. " jawab Airin manja.
" Ya, udah ... nanti biar sekalian aku belikan makanan aja. Kita
sarapan di sini bareng Felicie dan Elbert. " ujar Devan tersenyum pada kekasihnya Airin.
" Okey, deh ... !" jawab Airin senang.
" Nanti selesai gue beres - beres,
temani gue jalan, biar gue tahu
di mana letak swalayan atau tempat - tempat lainnya. Jadi kalau gue butuh beli sesuatu bisa pergi membelinya sendiri. " ujar
Felicie pada Devan dan Airin.
" Okey, nanti kami tunjukkan tempat - tempat bagus sama Lo.
Oh, ya ... Lo gak sekalian
ke kampus aja, biar bisa sekalian
ngurus berkas - berkas elo, Feli ...
jadi elo bisa cepat masuk kuliahnya." ucap Airin.
" Hmm ... besok aja, Rin ... pergi ke kampusnya. Biar hari ini gue berbenah dulu. Berkas - berkas
penting gue masih di dalam koper
semua. " jawab Felicie.
" Oh, oke deh ... ! " ujar Airin.
" Hmm ... kalau begitu kami pergi, ya ... !" ujar Elbert.
" Iya ... hati - hati . " jawab Felicie.
" Feli, koperku gak papakan disini
dulu. Nanti setelah aku dapat
penginapan, baru aku bawa. " ujar
Elbert.
" Eh, kenapa gak tinggal disini aja
bareng Felicie. Kamarnya kan masih ada yang kosong satu." ucap Airin memotong ucapan Felicie dengan santai.
Felicie melotot ke arah Airin yang
pura - pura tidak melihatnya.
" Felicie pasti tidak mengizinkan.
Lagi pula, gak baik tinggal satu rumah kalau bukan pasangan
suami isteri. Kecuali Felicie mau aku nikahi sekarang. " ujar Elbert
memancing reaksi Felicie.
Felicie hanya menarik sudut bibirnya saat mendengar perkataan Elbert.
" Feli, gue lumayan kagum sama
pacar Lo ini. Meski bule tapi gak
asal seruduk aja. Lagi pula pasti mereka yang tinggal di apartment ini gak akan mengira elo orang Indo****, secara tampang elo bule banget, Feli. Jadi pasti mereka menganggap hal yang wajar kalau melihat kalian tinggal
__ADS_1
di apartment yang sama. " ucap Airin dengan tampang gak bersalah.
" El, gak usah dengarin omongan Airin. Dia memang suka ngaco kalau ngomong. " ujar Felicie gugup karena melihat sikap Elbert yang santai.
" Enak aja ... Gue ngomong yang benar. Coba pria lain, pasti gak akan mau menyia - nyiakan kesempatan untuk tinggal bareng dengan pacarnya. Lagian, memangnya kalau tinggal serumah terus berbuat yang gak benar, gitu ... ya, gaklah.
Itu semua tergantung orangnya.
Buktinya gue dan Devan, meski kami tinggal di apartment yang sama gak pernah buat yang
aneh - aneh. Karena kami tahu,
itu dosa. Jadi, itu tergantung Lo dan Elbert. Lagian elo gak kasihan dengan Elbert. Dia udah nemani
sampai kesini. Masa Lo tega, sih ... dia tidur di hotel." ujar Airin panjang.
" Masalahnya bukan itu, Rin ...
gue bukan pacarnya Elbert. Kami cuma teman biasa.
Lagi pula status gue saat ini masih dalam masa Iddah. Gak baik, kalau gue yang baru bercerai
tinggal serumah dengan pria yang
bukan muhrim gue. " ujar Felicie menjelaskan alasan dari keberatannya.
Selain ia takut jika Elbert tinggal bersamanya, Felicie tidak bisa
menahan lebih lama perasaannya. Sementara ia benar - benar tidak ingin salah dalam mengambil keputusan nantinya saat hatinya sudah siap menerima cinta Elbert.
" Apa yang di katakan Feli benar.
Gue bukan siapa - siapanya Feli.
Hanya teman dekatnya, sama seperti kalian berdua. Jadi, jangan
memaksa nya lagi. " ujar Elbert
menutupi perasaan kecewanya,
karena ia merasa Felicie belum
juga membuka hatinya pada Elbert.
Felicie merasa bersalah begitu mendengar ucapan Elbert. Entah kenapa, hatinya jadi gak enak saat melihat wajah Elbert yang terlihat
menutupi rasa kecewa atas perkataan Felicie tadi.
" Iya, deh ... Gue minta maaf.
Gue gak mengerti mengenai masalah masa Iddah. " ujar Airin
mengerti maksud Devan.
" Okey, kalau begitu kami pergi."
ujar Devan.
Elbert memandang wajah Felicie
dengan tatapan lembut tanpa mengatakan apapun lagi.
Sedangkan Felicie membalas tatapan Elbert dengan rasa bersalah.
Felicie mendesah pelan saat melihat Elbert keluar dari apartmentnya.
" Feli, gue kasihan lihat Elbert.
Kelihatan banget kalau dia sangat mencintai elo. Kalau elo mau dengar saran dari gue, sebaiknya elo terima cintanya. Karena gue yakin, gak akan ada pria lain yang
mencintai elo setulus Elbert.
Jangan sampai elo nyesal nantinya. Di luar sana pasti banyak yang suka dengan Elbert." . ujar Airin berusaha menyentuh hati Felicie.
" Gue tahu, salah satu alasan elo belum mau menerimanya karena elo masih ingin menenangkan hati karena perceraian yang terjadi dan semua masalah yang menimpa elo beberapa bulan ini.
Juga karena elo sudah pernah berjanji buat fokus kuliah. Tapi itu bukan berarti harus membuat Elo
takut menerima cinta Elbert.
Memangnya kalau elo pacaran dengan Elbert, kuliah Lo bakal hancur. Lo, lihat gue, Feli ... gue yang dulu malas belajar begitu ketemu Devan jadi semangat dan
bisa lulus dengan nilai yang baik.
Bahkan kami bisa kuliah bareng
disini. Mungkin kalau dulu gue gak ketemu dengan Devan, gue gak akan kuliah. Jadi, tolong pikirkan saran dari gue. Lo sekarang udah bebas dari tekanan siapapun.
Lo berhak menentukan apa yang
__ADS_1
elo inginkan, tanpa harus terbebani karena hal lain. " ujar Airin menasehati Felicie agar bisa lebih berani mengekspresikan
dirinya.
Airin mengerti selama ini Felicie selalu ingin menjadi orang yang tidak tergantung dengan orang lain. Bahkan pada Airin dan Devan, ia tidak pernah mau
memperlihatkan kesedihan yang
sedang di alaminya. Meski ia harus bekerja di dua tempat yang berbeda demi membayar uang sekolahnya. Harus menggunakan angkutan umum setiap harinya. Sementara ia harusnya bisa menikmati peninggalan orang tuanya.
Mereka akhirnya tahu karena Devan menyelidiki latar belakang Felicie tanpa ia ketahui.
Hingga akhirnya mereka memancing pelan - pelan agar Felicie mau cerita. Meski tetap saja ia tidak menceritakan semuanya.
Bahkan Felicie mau cerita mengenai pernikahan nya dengan Aaron saat sudah mendekati hari pernikahannya. Itupun Felicie cerita karena ia awalnya udah berjanji untuk pergi dan kuliah bareng dengan Airin dan Devan
ke A*****a.
Felicie mencerna semua yang
di katakan Airin. Ia tahu Airin dan Devan bersikap seperti ini karena
mereka sayang padanya.
Ia juga tahu, maksud Airin baik.
Semua yang dikatakan Airin benar. Ia sudah tidak terbebani
masalah apapun lagi. Semuanya sudah selesai.
" Felicie ... Lo dengar kan omongan gue ? " tanya Airin karena melihat Felicie hanya diam sejak tadi.
" Dengar ... gue belum budeg. " sahut Felicie.
" Terus apa keputusan elo ? ". Airin menatap Felicie penasaran.
" Keputusan apa ?" Felicie balik bertanya.
" Mengenai Elbert ... apa Lo mau
menerima cintanya atau minimal elo membuka hati Lo deh ... jangan terlalu lama membuat dia
menunggu kepastian dari Lo. "
" Gue heran lihat Elo Rin ... kog, kayanya Lo yang ngebet banget pengen lihat gue jadian dengan
Elbert. Jangan bilang kalau elo naksir dia ... ?" Felicie sengaja
menggoda Airin agar jangan terus mendesaknya.
Ia butuh waktu memikirkannya saat ia sendiri.
" Enak aja Lo, ya ... gue udah gak
mungkin suka sama cowok lain. Cinta gue udah mentok ke Devan.
Gue itu ingin Lo juga merasakan bahagia seperti yang gue rasakan." ujar Airin melototkan matanya ke arah Felicie.
" Hahaha ... udah, gue mau beresin barang - barang dulu.
Kalau nurutin elo, ntar gak kelar -
kelar. " ujar Felicie mulai mengeluarkan barang - barangnya
dari koper.
Airin hanya menghela nafas dengan berat setelah mendengar
perkataan Felicie. Ia kemudian ikut membantu Felicie menata
pakaiannya di dalam lemari. Ia sudah merasa senang bisa melihat Felicie tertawa lepas seperti ini.
**********************************
Hai, semuanya ...
Maaf, Mommy kemaleman Up nya. Mommy lagi repot banget,
jadi baru bisa malam hari mengetik lanjutan ceritanya.
Mohon di maklumi, ya ....
Semoga kerepotan ini cepat
terselesaikan ....🙏🙏😘
Jangan lupa like, koment yang positif.
Buat yang sudah mendukung Mommy, Mommy makasih banget. Semoga kalian selalu sehat, diberikan rezeki yang melimpah dan penuh dengan berkah .... Aamiin.
__ADS_1
Love You All ❤️❤️❤️