
Felicie yang kini sudah berada di apartment teringat kembali akan kejadian itu. Ia memandang dengan perasaan marah pada tempat peristiwa menjijikkan itu terjadi.
Kenapa waktu itu, ia terlalu lemah
sehingga bisa di lecehkan Aaron.
Felicie lebih memilih, untuk istirahat di kamar yang pernah di pakai Aaron bersama wanita j***** yang dibayarnya ketika itu dari pada di kamarnya sekarang. Karena melihat kamarnya, membuat Felicie ingin muntah.
Masih jelas terekam di ingatannya
ketika Aaron melucuti pakaiannya
satu persatu. Bahkan Aaron terlihat sangat menikmatinya.
Andai saja waktu itu, Giselle dan Tommy, tidak datang mungkin ia akan kehilangan kesuciannya.
Mungkin saja jika itu benar terjadi,
ia akan hamil dan kehamilannya bisa menghambat kepergian Felicie dari negara ini.
Ia berterima kasih atas kehadiran
Giselle dan Tommy, saat itu.
Makanya ia tidak perduli, melihat Aaron menikahi Giselle.
Hal ini malah memberi keuntungan buat dirinya. Ia bisa
mengancam Aaron agar secepatnya mengurus perceraian
mereka. Ia tidak perlu menunggu waktu lebih lama seperti kontrak
mereka.
Felicie sudah tidak sabar untuk
segera pergi menjauh dari semua
hal yang terjadi.
Tiba - tiba ia ingin menghubungi
bik Sumi dan Tika. Sudah lama mereka tidak berhubungan.
Pasti mereka khawatir karena
Felicie tidak pernah menghubungi
mereka lagi.
Sambil rebahan di kasur, ia menekan nomer ponsel mbak Tika. Ternyata, ponsel mbak Tika
sedang sibuk. Mungkin ia sedang
menelepon seseorang.
Lalu Felicie menghubungi nomer telefon rumah yang ditempati
Bagas dan keluarganya.
Ternyata telepon itu langsung diangkat dan yang mengejutkan
Tante Sisca yang menjawab.
Padahal selama Felicie tinggal di rumah itu, tidak pernah sekalipun ia mau mengangkat telefon.
Pasti menyuruh bik Sumi atau pelayan yang lain.
" Halo ... siapa ini ? " suara Tante Sisca terdengar.
Felicie sengaja tidak menjawab
pertanyaan Sisca. Ia ingin sedikit
bermain - main dengannya.
" Hei, siapa ini ... kog malah diam.
Jangan main - main ya ... " Tante Sisca mulai kesal.
Felicie menahan tawanya yang ingin keluar mendengar suara cempereng Tante Sisca.
" Halo ... Halo ... dasar orang Gilak. Telefon rumah orang, malah diam saja. " ujar Sisca kesal lalu menutup telefon.
__ADS_1
Felicie tertawa lepas begitu mendengar sambungan teleponnya terputus. Ia kembali
menekan nomer telefon rumah, berharap Tante Sisca yang akan
mengangkatnya lagi.
Tapi sayang kali ini, bik Sumi yang
mengangkat.
" Halo, siapa ini ya ... ? " tanya bik Sumi.
Felicie sedikit kecewa sebenarnya. Karena ia masih ingin mengerjai Siska.
" Ini Felicie, buk ... Ibu apa kabar ?
Sehatkan ... mbak Tika kemana, tadi Feli hubungi nomer mbak Tika tapi lagi sibuk. Jadi
terpaksa deh menelfon kemari."
Felicie kembali bersikap seperti biasa jika berhubungan dengan
bik Sumi.
" Alhamdulillah Ibu dan Mbak mu sehat, nak ... kamu sehat jugakan ? " tanya bik Sumi.
" Sehat, buk ... gak usah khawatir." sahut Felicie.
" Tika lagi keluar, tadi mbak mu
bilang sama Ibu, mau mengirim
dagangan onlinenya. Usaha Tika semakin maju, nak ... banyak
yang mesan. Jadi dia agak lebih repot belakangan ini." bik Sumi
menjelaskan pada Felicie.
" Oh, syukurlah kalau begitu, buk ..
bagus dong berarti mbak Tika suatu saat bisa jadi pengusaha
terkenal. "
" Aamiin ... mudah - mudahan perkataan kamu terkabul."
" Itu, buk salah sambung ... " bohong Sumi.
" Salah sambung kog malah di ajak ngomong lama." ujar Sisca gak percaya.
" Ini juga mau di tutup teleponnya."
sahut Bik Sumi.
" Udah buk, kalau gitu Felicie tutup teleponnya, ya. Nanti kalau ada waktu, Feli telefon lagi." ujar Felicie.
" Iya, baik - baik ya nak di sana." bik Sumi berkata dengan suara
pelan agar tidak terdengar Siska.
" Iya, buk ... Ibu juga." Felicie lalu memutuskan pembicaraan mereka.
Siska menatap curiga pada Sumi.
Ia tidak yakin telefon tadi salah sambung.
" Sumi, kamu jangan bohong sama saya. Tadi siapa yang telefon ? " tanya Siska lagi.
" Bener nyonya tadi itu telefon salah sambung." Sumi mempertahankan kebohongannya. Ia malas jika berkata jujur, pasti Siska akan
mengomel panjang. Apalagi jika Siska sampai tahu, Felicie yang telefon.
" Awas kalau kamu bohong. Sudah sana kerja ... " ucap Siska kasar.
" Baik, nyonya ... " Sumi pun lega, lalu kembali menuju dapur.
Setelah selesai teleponan dengan bik Sumi, Felicie kembali teringat akan perbuatan Aaron. Ia mengalihkan pikirannya dengan menonton Drakor di laptop. Mungkin karena tubuh dan pikirannya sangat lelah membuat Felicie tertidur, padahal drama yang di lihatnya belum selesai.
* * * *
Siska yang melihat anaknya Vera dan Vina baru saja pulang, langsung menyuruh mereka berdua duduk di dekatnya.
" Ada apa sih, ma ... kog kaya ada yang penting mau Mama omongin ? " tanya Vera.
__ADS_1
" Tadi itu ada yang telefon kerumah kita, pas Mama angkat
malah gak di jawab. Tapi begitu
Sumi yang angkat, malah ngobrol.
Mama curiga Felicie yang telefon." Siska mengucapkan kecurigaannya.
" Memangnya Mama gak nanya sama Sumi, siapa yang telefon ? " tanya Vera mulai penasaran.
" Sudah, tapi kata Sumi salah sambung. Mama yakin, pasti itu gadis tengil itu. Mau ngapain lagi, dia ya ... ? " Siska terlihat berfikir.
" Alah, ngapain juga Mama mikirin dia. Pasti sekarang dia lagi menderita karena menikah dengan Aaron. Soalnya udah berapa kali, aku ketemu
Aaron dengan seorang wanita. "
ucap Vera sinis.
" Bagus kalau memang dia menderita. Jadi dia gak punya kesempatan untuk buat mengambil kembali semua harta orang tuanya." ujar Siska senang.
" Iyalah ma ... pasti dia gak dianggap sama Aaron. Dia aja masih kerja di toko buku itu.
Berarti diakan cari uang buat membiayai kebutuhannya sendiri." Vera terlihat yakin dengan pemikirannya sendiri atas Felicie.
" Itu memang yang paling Mama harapkan terjadi sama gadis kurang ajar itu. Biar dia terpuruk.
Makanya Mama melarang kamu buat menggoda Aaron. Mama gak ingin kamu menderita." ujar Siska
pada Vera.
" Tapi Aaron memang sangat menarik, mana kaya lagi ... sayang
kalau gak digoda. Mana tahu dia mau sama Vera, Felicie pasti semakin menderita. Karena harus
diceraikan Aaron. " Vera sangat yakin kalau dia bisa menggoda Aaron.
" Terserah kamu sajalah ... yang penting kamu jangan sampai menderita." kata Siska menasehati anaknya.
" Mama gak usah khawatir, Vera gak sebodoh gadis tengil itu.
Cuma masalahnya, susah banget
menemui Aaron. Aku pernah coba
datang ke perusahaannya malah
gak di bolehin masuk sama asistennya." wajah Vera terlihat kesal mengingat hal itu.
" Ya sudah, kamu terus saja usaha. Mudah - mudahan Aaron bisa mencintai kamu. Jadi mama gak khawatir, dia akan menyakiti kamu."
" Iya ma ... doain Vera ya." Vera
senang mendengar dukungan Mamanya.
" Ya sudah ... bersih - bersih sana.
Kalian kan habis dari luar, biar gak
bawa penyakit kerumah."
" Okey, ma ... " Vera dan Vina bangkit meninggalkan Siska
lalu menuju kamar mereka.
Sepeninggal kedua anak gadisnya, Siska berfikir ... memang Aaron sangat tampan dan kaya. Wajar anaknya Vera menyukainya.
Tapi masalahnya, pasti sulit
mendekati Aaron.
Ia berfikir hal apa yang harus dilakukannya agar Vera bisa bertemu dengan Aaron.
Apa ia harus bertamu ke mansion
Tuan William, pura - pura mau menemui Felicie. Karena kalau
bertemu di perusahaan ataupun diluar pasti susah. Karena gak bisa sembarangan menemuinya.
" Hmm ... sepertinya aku harus melakukan hal itu." gumam Siska,
lalu bangkit menuju kamarnya.
Ia harus merencanakan hal ini
__ADS_1
dengan matang agar tidak ketahuan Bagas, suaminya.
**********************************