
" Feli, kita jalan - jalan dulu, yuk !" ajak Airin saat mereka keluar dari kelas.
" Lo sama Devan aja, deh Rin ... gue mau pulang !" ucap Felicie.
" Udah, ikut kami aja ... ngapain juga Lo, sendirian di apartment.
Elbert lagi gak ada !" ujar Airin masih membujuk Felicie untuk ikut.
" Malas gue lihat Lo berdua pacaran ... mending gue pulang, tidur !" tolak Felicie.
" Ngapain juga Lo tidur jam segini ! Bagus elo ikutan, kita cuci mata di mall !" ujar Airin.
" Gue lagi gak minat belanja, Rin ...
emangnya Lo belanja melulu. Dipakai juga nggak, cuma buat penuh lemari doang ! " sindir Feli
" Kalau Lo gak mau ke mall, gimana kalau kita pergi ke pantai aja !" rayu Airin.
" Gak deh, Rin ... beneran gue hari ini cuma pengen pulang. Kalian berdua aja, deh ... ! " ucap Felicie.
" Kenapa ... ? Lo lagi kangen sama Elbert ya ? " goda Airin.
" Ih, apaan ... nggak lah ! " elak Felicie.
" Gak usah bohong, ... ngaku deh, lo ! Pasti lo kangen, kan ! Baru juga pergi, masa udah kangen aja ... hehehe !" Airin semakin menggoda Felicie.
" Gak, Airin ... sumpah, lo nyebelin banget !" ucap Felicie kesal.
" Ye, ngapain marah ... ! Kalau kangen tinggal telefon, susah amat !" ujar Airin.
" Dev, Lo gak pusing punya tunangan kaya gini ... bawel banget !" kata Felicie pada Devan yang hanya diam dan menikmati perdebatan dua wanita di hadapannya.
" Pusing sih, Felicie ... tapi mau gimana lagi, keburu sayang !" ujar Devan tersenyum ke arah Airin.
" Ih, najis gue lihat lo ! Rin, Lo udah benar - benar merubah sahabat gue !" ucap Felicie menatap Airin sebal.
" Ye, jangan iri, dong ... makanya Lo pacaran juga sama Elbert biar gak jealous. Kalau suka jangan gengsi !" ujar Airin lalu sembunyi di belakang badan Devan.
Felicie melotot pada Airin begitu mendengar omongannya dan langsung melangkah pergi meninggalkan Airin dan Devan.
Ia beneran kesal kali ini. Felicie sendiri gak mengerti, kenapa ia harus marah mendengarnya.
" Feli ... tungguin dong ! Pliss, jangan marah. Gue cuma minta, Lo tanya hati kecil Lo ! Gue rasa, Lo itu udah suka sama Elbert." Airin berlari menghampiri Felicie.
Devan hanya menggelengkan kepalanya melihat drama kedua wanita yang memiliki arti khusus
di hatinya.
Belum sempat Felicie menjawab perkataan Airin, tiba - tiba Dave menghampirinya. Ternyata sudah sejak tadi, Dave menunggu Felicie keluar dari kelasnya.
" Felicie ... bisa bicara dengan kamu ?" tanya Dave.
Airin dan Devan melihat dengan seksama pria yang ada di depan mereka. Meski tidak kenal dekat, tapi mereka berdua tahu siapa sosok pria yang menyapa Felicie ini.
Dave, adalah senior mereka di kampus yang terkenal digilai banyak wanita. Bukan hanya wanita dari jurusan mereka saja yang menyukainya tapi bahkan dari fakultas lain.
" Maaf, aku lagi buru - buru ! " tolak Felicie, lalu menoleh pada Airin dan Devan dan berkata,
" Rin, anterin gue ke toko !" ucap Felicie.
" Oh, okey ... !" jawab Airin mengerti sembari maraih tangan Felicie agar menjauh dari Dave.
" Maaf, sebaiknya kamu jangan menganggu Felicie. Dia sudah memiliki kekasih dan akan segera bertunangan !" ujar Devan sengaja mengatakan itu dengan wajah dingin.
" Oh, pria yang bersamanya itu ?" ujar Dave santai saja.
__ADS_1
" Kamu sudah pernah ketemu dengannya ?" Devan lumayan terkejut mendengar jawaban Dave yang terlihat tidak terpengaruh sama sekali.
" Ya, aku melihat Felicie dan pria itu keluar bersama dari apartment bahkan mengantar Felicie ke kampus." ujar Dave.
" Kalau kamu tahu Felicie sudah punya kekasih, sebaiknya kamu jangan mendekati dia lagi.
Masih banyak wanita di kampus ini yang menyukaimu !" ujar Devan.
" Oh, mereka yang menyukaiku bukan aku ! Lagi pula Felicie dan pria itu baru tunangan bukan menikah. Jadi semua pria masih bisa mendekatinya, tidak terkecuali aku ! Tapi, kamu jangan khawatir, saat ini aku hanya ingin berteman dekat dengannya. " jawab Dave tidak memperdulikan peringatan dari Devan.
" Hmm ... sekali lagi aku katakan sama kamu, jangan coba - coba mendekati Felicie. Dia berbeda dengan wanita - wanita yang mengejar dan yang pernah dekat dengan kamu ! " Devan mengancam Dave dengan suara berat.
" Memangnya kamu siapanya Felicie ? Hingga berani melarang aku untuk berteman dengannya !"
ujar Dave dengan wajah datar.
" Aku sahabatnya sekaligus kakak angkatnya. Aku sudah menganggap Felicie seperti adikku sendiri. Jadi, aku tidak mau
dia salah dalam memilih teman.
Lagi pula, aku tidak mau gara - gara kamu, Felicie diserang oleh penggemar - penggemar fanatik mu. Kamu lihat aja sendiri, bagaimana mereka memandangi Felicie sejak kamu menghampirinya ... !" ucap Devan kemudian berjalan meninggalkan Devan lalu menyusul Airin dan Felicie yang sudah menunggunya di dalam mobil.
Walau emosi mendengar perkataan Devan tapi Dave kemudian melihat ke arah yang di maksud oleh Devan.
Ia bisa melihat sejumlah wanita yang ia juga tahu sedang berusaha mencari perhatian dan mendekatinya sedang menatap dengan tatapan sinis ke arah mobil yang di dalamnya ada Felicie.
Melihat hal ini, Dave mendengus kesal. Ia mulai merasa muak dan jengah melihat wanita - wanita tidak tahu malu ini. Meski beberapa dari mereka sudah pernah ditolak oleh Dave tapi tetap saja mereka tidak berhenti berusaha mengejarnya.
Akhirnya Dave berjalan menuju mobilnya tanpa menghiraukan mereka sama sekali, lalu menghidupkan mesin dan meluncur keluar dari kampus.
Ia ingin menyusul Felicie ke apartment. Dave beneran jadi bertambah penasaran setelah mendengar perkataan Devan tadi.
Apa benar pria yang pernah dilihatnya waktu itu adalah tunangan Felicie atau itu hanyalah sebuah kebohongan yang sengaja di katakan Devan agar ia menjauh dari Felicie.
Sementara itu, Felicie yang sudah
ke dalam, bersama Airin dan Devan.
" Siapa pria tadi, Felicie ? Kenapa dia bisa tahu nama kamu ?" tanya Airin begitu mereka duduk, memancing Felicie.
Padahal siapa yang gak mengenal Dave di kampus.
Hampir beberapa dari teman kelas Airin yang mengagumi Dave sering menceritakan tentang dirinya. Mereka mengatakan kalau Dave selain pintar dan tampan, ia juga anak seorang pengusaha kaya.
" Hmm ... dia kakak senior di kampus kita dan yang waktu itu mengantarkan aku pulang saat kalian dan Elbert tidak bisa di hubungi. " ucap Felicie.
" Oh, jadi pria itu yang mengantar kamu pulang !" ujar Airin tak percaya.
" Ya ... kami sempat ngobrol sebentar di cafe sembari menunggu kalian. Tapi karena sudah terlalu lama menunggu, aku memutuskan pulang dengan berjalan kaki. Tapi mungkin karena dia gak tega, jadi dia menawarkan untuk mengantar aku. " jelas Felicie.
" Felicie ... Kamu tahu siapa dia ?" ujar Airin bertanya dengan wajah serius.
" Tahu, kakak senior ! Kenapa ?" ucap Felicie.
" Wah, sebaiknya mulai hari ini kamu jangan mau kalau ia mencoba mendekati kamu. Aku takut kamu nanti memiliki banyak musuh di kampus. Dia punya sejuta fans. Banyak wanita yang sedang mengejarnya. Pria itu juga dikenal playboy, mantan pacarnya banyak. " ujar Airin dengan penuh semangat.
" Hmm ... kamu gak perlu khawatir
akan hal itu ! Ya sudah, kalian gak jadi jalan ! Aku mau pulang, nih ... !" ucap Felicie sembari bangkit dari duduknya.
" Sayang, kita jadi pergi gak ?" tanya Airin pada Devan.
" Terserah kamu, kalau tetap ingin pergi, ayo ... tapi kalau mau pulang lebih bagus. " jawab Devan.
" Feli, kamu beneran gak mau ikut dengan kami ?" tanya Airin memastikan.
__ADS_1
" Gak, Rin ....aku mau pulang. Kalian saja yang pergi. " jawab Felicie.
" Oh, baiklah ... kalau gitu kami pergi ya ... ! Nanti aku bawakan pizza kesukaan kamu ." ujar Airin.
" Okey ... !" sahut Felicie.
Mereka bertiga pun keluar dari toko dan Felicie lalu menguncinya.
Airin dan Devan masuk ke mobil mereka sedangkan Felicie masuk kedalam mobil yang dibelikan oleh Elbert.
Setelah itu mereka kemudian berpisah. Airin dan Devan belok ke arah kanan menuju mall sedangkan Felicie berjalan lurus menuju apartemennya.
Dave yang lebih dulu tiba di depan gedung apartment Felicie menunggunya di dalam mobil.
Ia segera keluar dari dalam mobil dan segera mengejar begitu melihat Felicie yang baru saja sampai dan hendak berjalan menuju lobby apartment.
Dave menepuk bahu Felicie pelan.
" Hai, Felicie ... ?" ujar Dave.
" Hah ... kamu kog bisa disini ?" tanya Felicie terkejut karena tidak menyangka kalau Dave menyusul
ke apartment.
" Hehehe ... abis kamu tadi ninggalin aku gitu aja. Jadi aku susul kemari deh ... ! Aku pengen ngobrol sama kamu." ujar Dave tertawa ringan.
" Dave, maaf ... aku beneran lagi gak pengen ngobrol saat ini. Aku lelah, pengen istirahat. Jadi, tolong ... kamu pulang saja !" ucap Felicie gak semangat.
" Kamu kenapa, Felicie ... ? Apa pria itu pergi meninggalkan kamu dan belum menghubungi ?" tebak Dave.
Tentu saja Felicie terkejut dan gak menyangka kalau Dave bisa menebak dengan benar. Ya, sebenarnya Felicie lagi kepikiran Elbert. Karena sejak pagi tadi, ia belum ada menghubunginya.
" Tebakan aku benar kan ? Kamu bisa cerita dengan aku. Mulai sekarang, anggap saja aku ini teman baik kamu. Jadi kamu bisa
cerita apa saja denganku. Begitu juga denganku, aku akan menceritakan apapun sama kamu. Siapa tahu, dengan kita ngobrol ... perasaan kamu lebih
ringan. Gimana, kamu setuju gak, dengan usul ku ?" tanya Dave dengan senyum di wajahnya.
Felicie terdiam, ia merasa apa yang di katakan Dave mungkin ada benarnya juga. Felicie gak bisa cerita dengan Airin dan Devan karena ia sendiri belum tahu, apa yang ia rasakan saat ini pada Elbert.
Ia bisa melihat kalau Dave tidak berniat buruk padanya. Dari awal mereka bertemu, ia juga bersikap sopan dan tidak berbuat hal yang aneh.
Meskipun Elbert tidak suka ia dekat - dekat dengan Dave. Tapi tidak ada salahnya juga kalau Felicie berteman dengannya.
Akhirnya setelah berpikir panjang, Felicie memutuskan untuk menerima pertemanan yang
di usulkan oleh Dave.
" Baiklah ... aku akan menerima kamu sebagai teman." ucap Felicie.
" Benarkah ? Terima kasih Felicie ... aku akan berusaha jadi teman yang baik buat kamu. " ujar Dave senang.
" Tapi karena aku tinggal sendiri
di apartment, tidak mungkin kita ngobrol di dalam. Bagaimana kalau kita ngobrol di cafe kemarin saja, tapi tidak sekarang. Bagaimana kalau sore, karena aku beneran pengen istirahat sekarang." ucap Felicie.
" Oh, Okey ... aku mengerti ! Kalau begitu aku pulang dan sampai jumpa nanti sore !" ujar Dave semangat.
" Ya ... sampai jumpa nanti sore !" ucap Felicie.
" Bye, Feli ... !" ujar Dave sebelum pergi.
" Bye ... !" sahut Felicie.
Dave pun kemudian pergi meninggalkan Felicie dan berjalan menuju mobilnya.
__ADS_1
Setelah melihat Dave pergi, Felicie pun melangkah masuk ke apartmentnya.
**********************************