
" Lepaskan ! Aku mau menemui Elbert ! Ada hal penting yang mau ku bicarakan dengannya !" ujar Claire menepis tangan Jhon yang berusaha menahan tangannya untuk masuk ke ruangan Elbert.
" Maaf, Nona Claire ... Tuan Elbert sedang tidak ada di - perusahaan." kata Jhon masih tetap memegang lengan Claire.
" Kamu gak usah bohong, Jhon. Aku melihat mobil nya di - basement !" Claire menatap Jhon dengan tajam.
" Terserah, kau mau percaya atau tidak ! Tapi kau tidak boleh masuk ke ruangan Tuan Elbert sesuka hatimu. " Jhon sudah mulai tidak bisa menahan emosinya melihat tingkah Claire.
" Hei, kau lupa kalau aku ini calon isterinya ! Jadi aku berhak untuk masuk ke ruangan Elbert. Aku akan menunggu Elbert di dalam sampai dia datang jika dia memang tidak ada di - ruangannya !" ujar Claire tetap bersikeras bahkan sambil melototkan matanya.
" Sebaiknya kau pulang dan temui Tuan Elbert di mansion nya. Disini tempat bekerja. Jadi kau jangan membuat keributan seperti ini ! " kata Jhon berusaha mengalah dan membujuk Claire.
" Tidak, dia tidak mau menemui ku sejak terakhir kami ketemu. Aku ingin memastikan tanggal pernikahan kami secepatnya. Aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku hamil, Jhon ... aku mengandung anak Elbert ! " ujar Claire pura - pura memasang wajah sedih agar Jhon kasihan melihatnya.
Jhon langsung terkejut begitu mendengar perkataan Claire. Hamil ... ? Bagaimana mungkin, sedangkan Elbert tidak merasa sudah menyentuh nya.
Elbert yang sedang berada di - ruangan nya sangat emosi mendengar perkataan Claire. Bagaimana mungkin Claire bisa hamil anaknya. Sedangkan ia tidak ingat sama sekali jika sudah menyentuh Claire. Tapi sebenarnya ia sudah menduganya sejak Claire menjebaknya. Bahwa Claire akan memaksanya untuk segera menikahinya. Makanya Elbert tidak berani menemui Felicie untuk menjelaskan mengenai semua ini. Karena ia takut Felicie semakin kecewa dengannya.
Selagi ia belum memberikan bukti bahwa ia tidak bersalah, Felicie tidak akan bisa percaya padanya.
" Kau dengar El ... aku hamil anakmu ! Aku tahu kau ada di dalam. Keluar ... ! Kalau tidak aku akan memanggil wartawan dan mengatakan kalau kamu tidak mau bertanggung - jawab atas kehamilanku !" Claire sengaja berteriak dengan keras agar Elbert dan semua karyawan yang ada di lantai atas mendengar omongannya.
Wajah sedihnya tadi hilang seketika. Berganti wajah penuh amarah karena Elbert terus menghindarinya belakangan ini.
Padahal ia sudah sangat bahagia ketika mereka bertunangan dan Elbert mau menemaninya dalam berbagai kesempatan. Tapi sejak ia ketahuan memesan gaun pengantin di butik itu, Elbert mulai menjauh darinya dan bahkan mengancamnya untuk membatalkan pertunangan mereka jika Claire berani memakai namanya lagi untuk menutup butik itu.
Padahal Claire sudah merencanakan ini sejak lama. Begitu ia berhasil menjebak Elbert tunangan dengannya, langkah selanjutnya ia akan memaksa Elbert untuk menikahinya dengan alasan ia hamil anak Elbert.
Ya, Claire memang hamil sekarang tapi bukan anaknya Elbert. Claire bahkan merelakan dirinya untuk tidur dengan pria lain yang mencintainya sejak lama demi melancarkan semua rencananya untuk bisa bersama dengan Elbert. Seberapa besar obsesi nya untuk memiliki Elbert, segitu juga besarnya obsesi pria yang mencintai Claire. Ia yang menolong dan melindungi Claire selama ini setelah ia berhasil menjebak Elbert.
Meski awalnya ia menolak keinginan Claire, tapi dengan pintar Claire terus merayunya agar pria itu membantunya dengan janji ia akan menemui dan memenuhi hasrat pria itu untuk tidur dengannya.
Apakah Claire takut akan ketahuan ? Tentu saja tidak ... ! Ia yakin dengan kekuatannya dan kepintaran pria itu memanipulasi keadaan akan membuat Elbert yakin bahwa yang sedang di kandungnya sekarang adalah anak Elbert.
Claire tahu, Elbert pasti menyelidiki kejadian saat penjebakan itu ataupun kejadian yang sebelumnya tapi ia dengan mudah menghilangkan semua jejak dan bukti. Sehingga akhirnya ia berhasil dan Elbert mau tunangan dengannya.
Tinggal satu langkah lagi. Setelah ini ia akan jadi Nyonya Elbert Marshall. Pria yang sangat ia cintai sejak masa kecil. Meski Elbert tidak pernah perduli padanya dan menolak perjodohan mereka tapi Claire tidak pernah menyerah. Ia harus mendapatkan yang ia mau. Sejak kecil, ia selalu mendapatkan semua yang ia inginkan. Tidak akan ada yang bisa menghalangi keinginannya, walaupun itu Elbert. Bahkan orang tuanya tidak bisa apa - apa.
" Honey ... ! Aku tahu kamu ada di dalam. Bukankah semua sudah baik - baik saja. Kenapa sekarang kamu bersikap seperti ini lagi !
Bukankah aku sudah berjanji padamu untuk tidak menganggu butik itu lagi ! Jadi kenapa kamu malah menghindar dari ku ? Please, honey ... kita harus bicara ! Kita harus menikah secepatnya. Aku gak mau kita mengadakan resepsi dengan keadaan perutku yang sudah membesar. " Claire mengubah strateginya. Ia berkata dengan lembut agar Elbert tersentuh. Ia tahu sifat Elbert yang tidak suka di paksa.
Elbert bahkan sanggup tidak bicara begitu lama ketika kakeknya memaksa ia untuk menerima perjodohan dengan Claire yang merupakan cucu sahabatnya.
Elbert yang muak mendengar suara Claire karena telah membuat keonaran di perusahan nya, terpaksa berdiri dan membuka pintu. Ia memang harus menghadapi masalah ini. Cepat atau lambat ia akan berada dalam posisi ini.
Jika dengan melakukan seperti yang di minta Claire ia bisa mendapatkan semua kecurangan yang di lakukan Claire, ia harus melakukannya.
Elbert, Jhon dan semua anak buahnya sudah berusaha dengan keras untuk mencari semua jejak dan bukti penjebakan yang di lakukan Claire tapi entah karena mereka yang terlalu bodoh hingga belum bisa menemukannya atau Claire yang terlalu cerdik, hingga bisa menyimpan dengan rapat kebusukannya.
Ia ingin secepatnya bisa kembali menemui Felicie tanpa ada Claire yang menghalangi langkahnya.
Walaupun ia sendiri gak yakin, Felicie masih mau menunggu dan menerimanya kembali setelah apa yang akan ia lakukan nanti.
Tapi ia harus tetap mencoba jalan terakhir ini.
Elbert sangat sakit, begitu mendengar laporan dari anak buahnya kalau Felicie terlihat sangat kurus dan menderita pada awal ia mengetahui tentang pertunangannya. Ia tahu kalau Felicie sengaja bekerja hingga tengah malam setiap harinya.
__ADS_1
Elbert juga tahu kalau ada Dave yang selalu menemani dan menjaga Felicie. Meski ia sangat cemburu mendengar tentang kedekatan mereka tapi ia juga tidak berhak melarang karena ia yang sudah membuat Felicie menderita.
Elbert bahkan sengaja menghukum dirinya dengan menyibukkan diri di perusahan sampai tengah malam dan melanjutkan pekerjaannya di mansion setiap harinya.
Ia bahkan gak bisa tidur jika mengingat Felicie yang sedang menangis karena perbuatannya.
" Masuklah ! Mari kita bicara !" akhirnya Elbert membuka pintu ruangannya dan membiarkan Claire masuk menemuinya.
Claire tersenyum lebar begitu pintu itu terbuka. Ia melirik Jhon sebelum masuk ke ruangan Elbert dengan tatapan sinis karena berani menghalanginya masuk.
" Honey ... aku kangen !" Claire berucap dengan manja sembari berusaha memeluk Elbert.
" Maaf, aku sedang berkeringat !" Elbert sengaja menghindar dengan menepis tangan Claire dan buru - buru duduk kembali di kursi kebesarannya.
Claire mendesis pelan melihat Elbert menolaknya. Claire tahu, ini hanya alasan Elbert saja. Mana mungkin ruangan yang pakai AC seperti ini Elbert bisa berkeringat. Tapi ia tidak akan pernah menyerah. Minimal ia sudah berhasil membuat Elbert membukakan pintu buatnya.
Pasti Elbert tersentuh karena perkataannya yang lembut tadi.
Claire yakin jika sedikit lebih sabar menghadapi Elbert, ia akan berhasil menaklukan hati nya.
Jhon yang heran Elbert mau membukakan pintu buat Claire, ikut masuk ke dalam ruangan.
" Honey ... aku hanya ingin kita bicara berdua saja. Jadi aku mohon yang tidak ada hubungannya dengan kita sebaiknya tidak usah ikut bergabung !" ujar Claire dengan suara mendayu dan lembut sembari melirik Jhon dengan tatapan sudut bibir terangkat sedikit.
" Hmm ....Jhon, kau bisa keluar ! Jangan lupa tutup pintunya saat kau keluar. " ucap Elbert dengan wajah dinginnya.
Jhon mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat agar bisa mengontrol emosinya terhadap Claire. Jika saja ia bukan wanita mungkin sudah sejak tadi ia memukul wajahnya yang memuakkan itu.
" Baik, Tuan ... !" sahut Jhon lalu berjalan keluar dan menutup pintu ruangan Elbert.
Claire tersenyum kecil melihat Jhon yang keluar dari ruangan ini. Ia tidak perduli meski melihat wajah Jhon yang membencinya. Sekarang hanya tinggal mereka berdua.
" Hmm ... sekarang katakan dengan cepat apa yang ingin kau sampaikan ! Aku tidak punya banyak waktu. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan !" kata Elbert menggeser tangannya agar tidak tersentuh oleh Claire.
Melihat sikap Elbert yang tetap menolak sentuhannya, Claire hanya bisa menggerutu dalam hati. Tapi ia tetap berusaha tersenyum agar Elbert luluh padanya.
" Maaf, honey ... aku terpaksa melakukan hal yang melakukan tadi. Aku hanya kangen dan sangat ingin bertemu denganmu.
Lagi pula aku ingin menyampaikan berita bahagia tentang kehamilanku padamu, makanya aku bersikeras untuk menemui mu." ujar Claire dengan wajah sumringah karena bisa menatap Elbert dari dekat yang selalu saja menggetarkan hatinya.
" Apakah kau merencanakan ini sejak lama, Claire untuk menjebak ku ! Bahkan saat kita belum pernah membicarakan tentang pernikahan kau sudah lebih dulu memesan gaun pengantin !" kata Elbert menghentikan pekerjaan lalu menatap Claire dengan tajam.
" Hah ... ? Kenapa kau selalu saja mengatakan aku menjebak mu, sayang. Ku akui memang aku sangat mencintai kamu meskipun aku juga tahu kamu belum bisa mencintaiku. Aku bahkan gak perduli meski kau pernah membatalkan perjodohan di antara kita. Tapi karena aku mencintaimu dan gak bisa jauh darimu, makanya aku sengaja mengatakan pada media kalau kita sudah bertunangan sejak lama. Waktu itu aku hanya ingin menarik perhatianmu saja, agar kau mau menemuiku. Tapi sungguh aku tidak pernah berniat menjebak mu. Hari itu, memang murni kita melakukannya karena kita berdua yang menginginkannya. Aku bahkan sempat menolak saat kamu mulai membuka pakaianku. Aku juga gak mengerti, kenapa kita bisa berada di kamar itu. Terus masalah gaun pengantin itu, apakah aku salah jika memesannya. Bukankah kita tetap akan menikah, meski kita belum ada membicarakannya. Apalagi sekarang aku hamil anakmu, El ... !" dengan mata berkaca - kaca Claire meski mengatakan kebohongan tapi ia bisa bicara dengan lancar. Ia bahkan tidak terlihat gugup sama sekali.
Di balik meja kerjanya, Elbert mengepalkan kedua tangannya dengan hati yang penuh amarah.
Ia benar - benar semakin jijik melihat wajah Claire.
" Hmm ... jadi, apalagi yang kau inginkan ! " kata Elbert dingin sambil menahan emosinya.
" Menikahlah denganku Minggu ini ! Aku tidak ingin masyarakat tahu kalau aku sudah hamil. Aku ingin menjaga namamu agar tetap bersih di mata pebisnis lainnya. Lagi pula anak kita membutuhkan kehadiran Daddy nya !" ujar Claire dengan percaya diri karena ia yakin Elbert tidak akan bisa menolak.
" Kau yakin itu anakku !" kata Elbert menatap Claire tatapan mengintimidasi.
" Tentu saya, honey ... aku berani bersumpah kalau aku hanya melakukannya denganmu. Bukankah kau tahu, sejak dulu aku selalu menolak jika ada pria yang berusaha mendekatiku. Itu kulakukan karena aku hanya ingin menikah denganmu, El ... !" ujar Claire memandang sendu berusaha meyakinkan Elbert.
Elbert ingin muntah saat ini mendengar perkataan Claire.
__ADS_1
Ingin sekali rasanya Elbert menghabiskan nyawa Claire saat ini agar tidak harus menikahinya.
Memikirkan ia harus berpura - pura menerima bertunangan dengannya saja, Elbert sudah sangat marah, apalagi jika mereka menikah. Itu berarti mereka akan bertemu setiap hari. Tapi jika ia tidak melakukannya, akan semakin sulit buatnya untuk menemukan bukti itu.
" Hmm ... apa aku harus merubah sikapku dengan pura - pura sudah mencintainya agar dia lengah !" gumam Elbert dalam hati.
" Tapi melihat wajah j****g nya saja membuatku jijik ! " bantah Elbert.
" Kau harus bisa menahannya. Bukankah kau ingin kembali bersama Felicie ! Makanya kau harus menikah dengan wanita menjijikkan itu ! Jika tidak kau melakukannya, selamanya kau tidak akan bisa membuktikan pada Felicie, wanita yang kau cintai bahwa sebenarnya kau tidak salah ! Bukankah kau sudah berjanji padanya !" semua perkataan itu berteriak di kepala Elbert.
" Hmm ... tapi aku tidak bisa menikahi mu karena keyakinan kita berbeda. Aku tidak mungkin pindah keyakinan karena harus menikah denganmu !" Elbert masih berusaha untuk menolak pernikahan ini meski ia sadar kalau ini satu - satunya cara untuk mendapatkan bukti itu.
" Jangan khawatir sayang ! Aku yang akan ikut dengan keyakinan yang kamu anut. Bukankah sejak dulu aku sudah bilang akan mengikuti keyakinan mu asalkan kamu bersedia menikah denganku !" ujar Claire dengan sangat yakin. Ia memang rela melakukan apapun asal bisa menikah dengan Elbert. Meskipun harus pindah keyakinan. Toh, selama ini ia juga tidak pernah menjalankan keyakinannya dengan baik. Jadi, tidak masalah sama sekali bagi Claire.
Elbert benar - benar sudah tidak punya alasan lagi untuk bisa menolak Claire. Wanita di depan nya ini memang sudah tidak waras. Demi mewujudkan obsesinya, ia bahkan bisa mengganti keyakinannya sejak lahir.
" Hmm ... besok tunggu aku
di mansion orang tuamu. Kita akan membicarakan nya lebih lanjut. Untuk saat ini sebaiknya kamu pulang. Bukankah kamu sedang hamil. Aku tidak ingin kamu kelelahan. Pulanglah ... !" akhirnya Elbert terpaksa menerima dan berpura - pura bersikap lembut terhadap Claire agar ia tidak curiga.
" Benarkah sayang ? Besok kamu akan datang menemui orang tuaku ? Kamu gak bohong kan ?" tanya Claire dengan mata berbinar .
" Ya, aku akan datang menemui orang tuamu untuk membicarakan pernikahan kita. Aku tidak berbohong. Tunggu kedatanganku besok, Claire !" kata Elbert tersenyum lembut sembari menatap wajah Claire.
" Sayang ... !" Claire bangkit dan langsung memeluk Elbert.
Elbert menahan tangannya agar tidak mencekik Claire yang sedang memeluknya. Agar terlihat lebih meyakinkan dengan sangat terpaksa ia pun membalas pelukan Claire.
Claire yang sudah begitu lama ingin merasakan sentuhan Elbert begitu bahagia karena akhirnya ia mulai bisa meluluhkan hati Elbert.
Ia memuji bayi yang sedang berada di rahimnya. Tidak sia - sia merelakan dirinya di jamah oleh pria itu hingga akhirnya hamil, karena berkat kehamilannya inilah Elbert mau menikahinya.
" My, baby ... terima kasih ! Berkatmu aku bisa menikah dengan pria yang kucintai. " ucap Claire dalam hati.
Senyum tak lepas dari bibirnya karena kebahagiaan yang sedang ia rasakan saat ini.
" Kamu pulang, ya ... istirahat biar anak ini sehat !" kata Elbert sembari melepaskan pelukan diantara mereka.
" Baik honey ! Aku akan pulang.
Aku akan menunggumu datang ke mansion ku !" ujar Claire dengan senyum yang terukir di wajahnya.
Ia begitu tersentuh dengan perhatian yang di perlihatkan Elbert.
" Hmm ... hati - hati di jalan. " ucap Elbert biar Claire semakin terlena dengan perhatian yang ia berikan.
" Ya, bye honey ... !" sahut Claire lalu mencium pipi Elbert sebelum ia melangkah kan kakinya keluar dari ruangan Elbert. Hatinya berbunga - bunga melihat perlakuan Elbert padanya.
" Bye ... !" Elbert tetap tersenyum meskipun rasanya ia ingin segera ke kamar mandi untuk menghapus bekas ci*** n Claire dan tangannya yang tadi sudah memeluk Claire.
Elbert benar - benar jijik melihat dirinya yang sudah di sentuh oleh wanita j****g itu.
Begitu mendengar langkah kaki Claire sudah menjauh dari ruangannya, Elbert buru - buru pergi ke kamar mandi dan segera melepas pakaiannya.
Ia harus mandi agar badannya bersih dan jejak wanita itu tidak tinggal di tubuhnya.
" B**ng**k ... ! Dasar pecundang ! " Elbert memukul tembok kamar mandi karena muak melihat dirinya yang tidak bisa melakukan apa - apa selain melakukan pernikahan itu.
__ADS_1
**********************************