
Sejak kedatangan Aaron terakhir ke perusahaannya, Elbert semakin gelisah. Ia tidak bisa konsentrasi dalam bekerja.
Perkataan Aaron jelas - jelas sengaja untuk memancing kemarahannya. Aaron mengatakan kalau ia akan kembali mendekati Felicie dan mendapatkan cintanya. Ia ingin memperbaiki hubungan mereka yang sempat rusak.
" B****s*k .... ! " dengan marah Elbert membanting semua yang ada di ruangannya.
" Hey, tolong kendalikan emosimu. Kamu ingin semua orang yang ada di perusahaan ini mendengarnya. Apa kamu mau jika berita ini sampai ke telinga Claire. Lalu dia mencari tahu tentang Felicie. Apa itu yang kamu mau !" ujar Jhon berusaha menenangkan amarah Elbert yang mulai tidak terkendali.
" Aku tidak bisa, Jhon. Sampai kapan aku harus berpura - pura seperti ini. Kenapa begitu sulit menemukan bukti kejahatan yang di lakukan wanita j*la*g itu. Semua cara sudah kita gunakan. Tapi hingga sekarang kita belum juga bisa menemukan bukti kejahatannya. Apa gunanya semua kekuasaan yang aku punya ? Kalau masalah ini tetap tidak bisa kita selesaikan. Masa aku harus kalah dengan wanita i*lis itu !" ucap Aaron dengan wajah penuh amarah. Ia benar - benar merasa frustasi saat ini. Ia begitu takut kehilangan Felicie. Ia tidak ingin Aaron berhasil mendekati wanitanya lalu membawanya pergi.
Elbert akui ia memang sedikit egois. Tanpa memberikan penjelasan apapun pada Felicie, ia pergi meninggalkannya sendiri. Saat itu ia berpikir bisa menyelesaikan masalah yang di - buat Claire dengan cepat lalu ia akan bisa kembali bersama Felicie. Namun ia malah terjebak dengan semua rencananya. Wanita itu berhasil memaksa Elbert untuk menikahinya. Awalnya ia berpikir kalau pernikahan itu bisa cepat ia singkirkan begitu El menemukan bukti penjebakan yang dilakukan Claire. Tapi sampai hari ini, bukti itu belum juga bisa ia temukan.
" El, dia terlalu pintar dan licik. Sejak kalian menikah, belum ada dia melakukan gerakan yang mencurigakan. Makanya kamu harus lebih merayunya agar ia bertambah yakin bahwa kamu memang sudah mencintainya." ujar Jhon.
" Cih ... ! Kau tahu Jhon, memikirkan sekarang aku harus tinggal bersama dengan dia saja aku sudah j***k. Apalagi aku harus terus bersikap berpura - pura mencintainya. Apa kau pikir, aku gak muak melihat wajahnya setiap hari. Belum lagi aku harus memberikan dia obat tidur agar tidak terus menganggu ku dengan keinginannya yang menjijikkan itu ! Aku lelah, Jhon ! Belum lagi aku harus menahan rasa rindu pada Felicie. Kau tahu, Jhon, aku ingin melihat wajahnya, rindu dengan senyumannya, aku merindukan semua yang ada di - dirinya." kata Elbert emosi. Ia sungguh merasa tersiksa dengan keadaan ini.
Jhon menghela nafas berat melihat keadaan Elbert yang terlihat begitu tertekan. Ia mengerti kalau Elbert harus mengorbankan perasaannya demi mendapatkan bukti penjebakan yang di lakukan Claire. Ia juga harus rela menjauh dari Felicie agar Felicie tidak di ganggu oleh wanita g*** itu, jika ia sampai tahu ada wanita lain yang di cintai Elbert. Jhon sendiri merasa bingung hal apa lagi yang harus mereka lakukan agar secepatnya masalah ini bisa di selesaikan.
" Jhon, bagaimana keadaan Felicie ? Apa dia baik - baik saja ?" tanya Elbert lirih.
" Apa Aaron pernah menemuinya selama dia berada di kota B ? Aku sungguh gak rela kalau mereka bersama lagi. Kau tahu, Jhon .. dia itu pria b****sek. Saat dia memaksa Felicie menikah dengannya, dia bahkan berhubungan dengan wanita lain, lalu menikahi kekasihnya itu. Sungguh aku gak rela kalau pria itu sampai berhasil mendekati Felicie lagi. Kau tahu, meski gadis kecilku itu terlihat dingin dan tidak perduli dengan sekitarnya tapi pada kenyataannya dia memiliki hati yang lembut dan gak tega dengan orang lain. Aku takut Felicie akan luluh jika pria itu terus - menerus menemuinya. Apalagi sekarang di mata pria ba****n itu jelas sekali terlihat ia benar - benar mencintai Felicie. Lakukan sesuatu, Jhon ... jauhkan pria itu dari Felicie !" lanjut Elbert dengan suara serak. Ia tidak akan bisa menerima jika hal itu sampai benar terjadi.
Jhon menatap Elbert dengan tatapan iba. Hari ini ia kembali melihat keadaan Aaron yang terpuruk. Selain pada saat ia harus mengambil keputusan untuk bertunangan dengan Claire.
" Baiklah. Aku akan berusaha melakukan apa yang kau minta. Meski aku tidak terlalu yakin. Bagaimanapun dia anaknya William. Kau tahu sendiri pria tua itu seperti apa. Ia juga memiliki kekuatan yang lumayan di - perhitungkan. Dari yang pernah aku dengar dari beberapa orang , mereka bilang Tuan William hanya terlihat tenang di permukaan tapi ia bisa bersikap mengerikan jika ada yang berani mengusiknya. Aku curiga, ia sengaja mengirim Aaron ke negara ini agar bisa membina hubungan kembali dengan Felicie. Bagaimanapun kamu tahu sendiri, kalau William sangat menyukai dan menginginkan Felicie. Baik itu jadi menantunya maupun jadi anak angkatnya. Tapi aku akan tetap mengusahakan agar Aaron tidak bisa mendekati wanitamu. Walau aku tidak bisa berjanji sepenuhnya padamu, El. Tapi aku akan mencobanya. Kamu jangan khawatir dan bertahanlah untuk sementara ini dengan Claire. Walau kamu sangat membencinya. Jangan pernah membuat dia curiga. Bukankah selama ini kamu bisa bersikap tenang dalam menghadapi masalah seberat apapun. Kenapa sekarang berubah ? " ujar Jhon panjang.
__ADS_1
Elbert hanya mendesis geram ketika mendengar perkataan Jhon. Memang benar, dia tidak boleh bersikap gegabah. Terkadang ia malah melupakan hal itu jika sedang teringat Felicie.
" Pergilah ! Aku ingin istirahat sebentar. Kepalaku sakit. Jangan biarkan wanita **lis itu masuk ke - ruanganku. " perintah Elbert. Dia memang butuh tidur saat ini agar tubuhnya yang lelah belakangan ini bisa membaik.
" Baik, istirahatlah ! Semoga setelah kamu selesai istirahat, kamu bisa berpikir lebih jernih. " ujar Jhon lalu melangkah keluar dari ruangan dan meninggalkan Elbert sendiri.
Ia lalu menghubungi anak buahnya yang bertugas untuk mengawasi dan memberikan pengamanan pada Felicie untuk mengetahui keadaan gadis yang sangat di cintai oleh Elbert.
" Hmm ... tetap lakukan tugas kalian seperti biasa. Tapi kali ini tugas tambahan. Jangan biarkan seorang pria bernama Aaron berhasil mendekati nona Felicie. Kalian harus berusaha keras untuk itu, karena ini perintah dari Tuan Elbert." ujar Jhon dengan suara tegas.
" Baik, Tuan. Kami akan melakukannya. " jawab anak buah Jhon.
" Hmm ... hubungi aku segera jika ada hal penting yang ingin kalian sampaikan mengenai nona Felicie." ucap Jhon.
" Baik, Tuan Jhon. " sahut anak buahnya dengan cepat.
Sementara itu, Aaron terpaksa harus tetap berada di kota ini hingga urusan pekerjaannya selesai. Padahal ia saat ini begitu ingin kembali ke kota B untuk melihat Felicie. Beberapa hari berada di sini dan tidak bisa melihat wajahnya membuat Aaron merindukannya.
" Ron, gue masih teringat wajah Elbert yang begitu ingin menelan lo ketika elo bilang mau mengejar cintanya Feli ... hahaha." Tommy tertawa lebar saat mengingat hal itu.
Aaron tersenyum tipis mendengar omongan Tommy. Ia kembali teringat dengan wajah Elbert yang terlihat begitu marah ketika ia sengaja mengatakan itu di - depannya. Ia ingin melihat langsung reaksi yang di - perlihatkan Elbert dan ternyata sesuai dugaannya. Elbert mencintai Felicie.
" Tapi jika memang Elbert mencintai Felicie. Kenapa ia malah menikahi wanita lain ? Apa seperti yang pernah kamu bilang kalau Elbert sebenarnya terpaksa melangsungkan pernikahannya dengan wanita itu ?" ujar Tommy.
" Hmm ... apa sudah Lo lakukan yang gue minta buat menyelidiki masalah itu. Gue yakin Elbert terpaksa menikah dengan wanita itu karena ia di paksa untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan dengan wanita itu saat mereka ketangkap kamera di hotel. Kejadiannya sama persis dengan kejadian yang gue alami dengan Vera. Vera menjebak gue. Gue yakin Elbert juga mengalami hal yang sama. Hanya saja wanita itu tidak semudah yang kita bayangkan. Dia pasti memiliki power hingga bisa mengancam Elbert. Kalau tidak, mana mungkin Elbert bersedia menikah dengannya. " ucap Aaron memberitahu isi pikirannya.
__ADS_1
" Lo, benar bro ! Pasti kejadiannya seperti itu. Tapi kalau menurut gue, sebaiknya kita tidak usah ikut campur. Apalagi sampai harus ikut menyelidikinya. Biarkan itu jadi urusannya Elbert. Bukankah justru jauh lebih baik jika Elbert tidak menemukan bukti yang sedang di carinya. Jadi, ia tidak mungkin bisa kembali bersama Felicie, karena harus meneruskan pernikahannya. Ini akan jadi kesempatan besar buat Lo. Begitu masalah Lo selesai dengan kedua 🦊 itu, maka Lo hanya butuh konsentrasi buat mengejar dan mendapatkan cinta Felicie. Paling saingan terberat lo tinggal Zico, doang. Hahaha " tawa licik Tommy memenuhi ruangan begitu ia selesai mengatakan kalimatnya.
" Hmm ... Udah, sekarang lebih baik Lo teruskan pekerjaan ini. Gue mau meluruskan badan gue di kamar sebentar. " perintah Aaron sembari bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kamar yang memang ada di ruangan kerjanya. Ternyata, Daddy nya sudah mengantisipasi hal ini sejak ia membangun perusahaan di negara A. Begitu pula dengan perusahaan yang ada di kota J, tempat ia pernah bekerja. Meski akhirnya ia terpaksa di keluarkan akibat berani melanggar perintah daddy nya. Jadi, setiap ia butuh istirahat saat pekerjaan terlalu banyak, seperti sekarang maka ia bisa istirahat sejenak dengan tenang di ruangan ini.
" Hey, gak bisa gitu Ron. Kerjaan gue juga masih banyak !" protes Tommy tidak terima.
Aaron tidak perduli. Dia hanya mengibaskan tangan dan kemudian badannya menghilang setelah masuk ke ruangan rahasia di balik lemari buku yang ada.
" Si**an ! Kalau begini, kapan gue bisa istirahat. " umpat Tommy kesal melihat Aaron tidak mau mengatakan perkataanya. Tapi mau gak mau ia tetap mengerjakan perintah yang di - berikan Aaron. Bagaimanapun ia harus menyelesaikan semua berkas ini agar pekerjaan mereka di negara ini cepat selesai agar mereka bisa segera kembali ke - Indonesia. Kemarin tiba - tiba saja ia memimpikan wajah seseorang yang sudah menyita perhatiannya belakangan ini. Ia tidak akan perduli meski Aaron ingin berlama - lama di negara ini demi mengejar Felicie. Lagipula Aaron pasti akan di teror oleh kedua 🦊 itu jika terlalu lama berada di sini. Apalagi keduanya akan segera melahirkan. Makanya ia yakin, mau gak mau mereka harus pulang setelah kerja sama dengan perusahaan Elbert selesai. Ia akan segera menghampiri wanita itu dan mencoba mendekatinya. Walau Tommy tahu hal itu tidak akan mudah, karena setahunya wanita ini sangat sulit di dekati. Sifat dan sikapnya sama dengan Felicie, saat mereka pertama kali bertemu. Angkuh, dingin, acuh dan tidak menganggap pria yang ada di dekatnya.
" Ayo, Tom ... fighting ! Lo pasti bisa. " ujar Tommy menyemangati dirinya agar bisa cepat menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia sudah tidak sabar ingin melihat wajah dingin itu berada di dekatnya.
**********************************
HAPPY NEW YEAR ... 🎊🎊 2023 !!!
Selamat Tahun Baru buat semua.
Semoga di tahun ini semua keinginan dan pencapaian yang ingin kita capai bisa terealisasi.
Aamiin ... 🙏🙏🙏
Jangan lupa Like, koment positif, vote dan hadiahnya.
Maaf kalau masih banyak kesalahan dalam penulisan.🙏🙏
__ADS_1
LOVE YOU ALL ❤️❤️❤️