
Elbert terbangun dan melihat kalau Devan juga tertidur seperti dirinya.
" Sial ... kenapa aku malah tidur ?
Pasti Felicie kelamaan menungguku. Dia kan tadi mengajak kami keluar. " Elbert mendengus kesal.
Buru - buru ia membangunkan Devan yang masih begitu nyenyak tidurnya.
" Dev ... bangun, udah siang ini ! " Elbert menggoyang badan Devan dengan keras.
Devan membuka matanya perlahan. Ia memang kurang tidur kemarin, karena mengerjakan banyak tugas dari dosen. Makanya ia bisa langsung tertidur ketika sedang menunggu Elbert mandi.
" Sorry, aku ketiduran. " ucap Devan.
" Sama, aku juga baru kebangun.
Pasti Felicie nungguin kita. " ujar Elbert dengan raut wajah menyesal.
" Udah, gak papa. Ada Airin yang nemani Felicie. Mereka pasti sedang ngobrol. " kata Devan menenangkan Elbert.
" Ayo, kita lihat mereka. Bentar lagi udah jam makan siang, biar kita makan di luar sekalian." ujar Elbert.
Devan dan Elbert segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar. Tapi mereka tidak menemukan dan mendengar suara dari Felicie dan Airin.
" Kemana mereka ? Apa karena kelamaan nungguin kita, mereka pergi duluan ?" ujar Elbert cemas.
" Gak papa, kalaupun mereka pergi, Airin gak akan mungkin kesasar. " ucap Devan dengan santai.
" Kita susul mereka sekarang !" kata Elbert.
" Bentar, kita belum lihat ke kamar
Felicie. Siapa tahu mereka juga sama kaya kita, ketiduran. " ujar Devan.
" Ya, coba kita lihat ... !" ucap Elbert semangat sembari berjalan menuju kamar Felicie bersama Devan.
Devan membuka pintu Felicie dengan pelan. Ia langsung tersenyum lebar saat melihat Felicie dan Airin kekasihnya tertidur dengan nyenyak. Bahkan
mereka tidur sambil berpelukan.
" Bagaimana ... mereka ada di kamar ?" tanya Elbert.
" Tuh lihat sendiri ... !" Devan kemudian membuka pintu kamar Felicie dengan lebar agar Elbert bisa melihatnya.
Elbert menarik nafas lega setelah melihat Felicie tidur dengan nyamannya bersama dengan Airin. Ia tersenyum kecil saat melihat wajah Felicie yang menggemaskan dalam posisi berpelukan.
" Biarkan dia tidur ... Felicie pasti masih lelah. Kita tunggu aja mereka sampai bangun sendiri. " ucap Elbert.
Devan menganggukkan kepalanya
setuju karena Airin juga butuh istirahat. Ia menutup pintu kamar Felicie kembali.
Namun saat pintu hampir tertutup,
Felicie menggeliat dan terbangun.
" Dev, Lo ngapain ?" tanya Felicie dengan suara serak.
" Gak, tadi gue dan Elbert pikir elo dan Airin, udah pergi keluar. " jawab Devan.
" Tau, nih ... tadi niatnya gue sama Airin cuma mau ngobrol doang, sambil nungguin kalian bangun.
Eh, gak taunya malah ketiduran. "
ujar Felicie sembari bangkit dari tempat tidur.
" Iya, sorry ... kami juga ketiduran." ucap Devan.
" Udah, elo bangunin tuh si Airin.
Gue mau cuci muka dulu." Felicie berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
" Felicie bangun ?" tanya Elbert.
" Iya, bentar aku mau bangunin Airin dulu. Felicie lagi ke kamar
mandi." sahut Devan.
" Okey, aku nunggu kalian di ruang tamu." ujar Elbert.
Devan membangunkan Airin dengan lembut. Sebenarnya ia gak tega, karena Airin terlihat kelelahan. Tapi mereka harus pergi menemani Felicie.
" Airin ... bangun sayang. " Devan mengelus pipi Airin lembut, tapi Airin masih tetap terlelap.
" Kasihan banget kamu sayang ... pasti capek, ya ... !" ucap Devan lagi.
__ADS_1
Felicie yang baru keluar dari kamar mandi, hanya bisa meringis mendengar Devan yang biasanya dingin bisa bersikap lembut seperti ini pada Airin. Ternyata cinta memang bisa merubah seseorang.
" Kalau elo bangunin kaya gitu, kapan bangunnya ! Sini biar gue aja yang bangunkan Airin." ujar
Felicie.
" Rin, bangun ... kami mau pergi nih. Lo mau ditinggalin sendirian !" ucap Felicie dengan keras sambil mengguncang badan Airin dengan kencang.
Airin langsung terbangun karena terkejut mendengar suara Felicie,
di tambah badannya yang terguncang karena ulah Felicie.
" Woi, gimana kalau jantung gue copot gara - gara Lo !" ujar Airin langsung duduk dan melotot ke arah Felicie.
" Udah, gak usah lebay ... !" sahut Felicie menahan tawa lalu berjalan keluar dari kamarnya meninggalkan Devan dan Airin.
" Sayang ... lihat teman kamu itu."
Airin mengadu Devan dengan manja.
" Teman kamu juga, sayang ... udah, bersihin dulu wajah kamu biar kita keluar makan siang. " ujar Elbert.
" Iya ... tapi tungguin ya." ucap Airin.
" Iya, aku tunggu !" sahut Devan.
Felicie menghampiri Elbert yang sedang duduk menunggu mereka.
" Maaf, kamu lama ya nunggunya ?" ucap Felicie.
" Gak papa ... aku juga baru bangun."
" El ... !" panggil Felicie pelan.
" Hmm ... ada apa ?" tanya Elbert
menatap lembut Felicie.
" Kamu udah dapat buat tempat tinggal kamu, besok ?" .
" Hmm ... belum. Tapi itu bukan masalah besar. Aku bisa nginap
di hotel."
" Tapi kamu gak mungkin seterusnya tinggal di hotel."
Jadi sementara apartmentnya
diberesin, aku nginap di hotel."
ujar Elbert jujur.
Felicie menghela nafas mendengar perkataan Elbert. Entah kenapa, hati Felicie mendadak sedih mendengar omongan Elbert. Begitu besar pengorbanan Elbert buatnya tapi kenapa ia masih belum bisa menerimanya juga. Felicie jadi merasa bersalah. Apa yang sebenarnya ia inginkan.
Benar seperti kata Airin, mbak Tika bahkan bik Sumi, Elbert adalah pria yang paling tepat untuknya.
Selama ini, Elbert selalu mendukungnya bahkan meskipun Felicie belum menerima perasaan El, tapi sikapnya tetap tidak berubah. Ia tetap perhatian dengan Feli.
Jadi apa yang sebenarnya membuat Feli masih menunggu untuk memberikan kepastian pada El.
Apa benar karena ia ingin fokus pada kuliahnya atau karena takut
kecewa, karena Felicie tidak ingin
merasa kehilangan dan ditinggalkan lagi seperti yang terjadi pada kedua orang tuanya.
" Berapa lama apartment kamu beresnya ? " tanya Felicie lirih.
" Bisa seminggu atau mungkin juga lebih. " jawab Elbert.
" Jadi selama seminggu kamu bakalan nginap di hotel ? " tanya Felicie lagi.
" Iya, abis mau numpang nginap
disini kamu gak bolehin ... hehe !" gurau Elbert.
Felicie semakin merasa bersalah mendengar omongan Elbert.
Sebenarnya bukan masalah buat Elbert mau menginap berapa lama di hotel. Ia sudah biasa nginap di beberapa hotel, jika sedang ada urusan bisinis.
Bahkan saat El merasa bosan
di mansion, ia memilih untuk tinggal di hotel seperti saat bertemu dengan Felicie.
" Hmm ... kalau aku bolehin kamu
__ADS_1
tinggal sementara disini sampai apartment kamu selesai, apa kamu bisa janji gak akan buat yang aneh - aneh ? " ujar Felicie menatap Elbert.
" Kamu serius ... ? Aku boleh tinggal disini ? " tanya Elbert gak
percaya dengan pendengarannya.
" Ya ... tapi hanya sementara dan kamu bisa janji, gak berbuat yang aneh . " jawab Felicie.
" Baik, aku janji ... aku gak akan
melakukan sesuatu yang tidak kamu suka. " ujar Elbert semangat.
" Hmm ... baiklah. Aku pegang janji kamu. Kamu bisa tinggal
di apartment ini dengan catatan
hanya untuk sementara." ucap
Felicie.
" Makasih, Feli ... " karena bahagia tanpa sadar Elbert memeluk Felicie.
Jantung Felicie berdetak kencang karena pelukan yang dilakukan
Elbert. Ia merasa sulit untuk bernafas. Namun kenapa kali ini ia menikmati pelukan Elbert.
" Cie ... cie ... asik banget yang lagi pacaran ... mesra banget, sih ... !" goda Airin yang datang bersama Devan.
Felicie langsung tersadar dan segera melepaskan pelukan Elbert
dengan wajah memerah.
" Sembarangan Lo, siapa juga yang lagi pacaran !" bantah Felicie untuk menutupi rasa malunya.
" Iya, deh ... kalau belum, gue doain secepatnya kalian jadian
biar kita bisa bareng nikahnya ... hahaha. " Airin semakin menggoda Felicie.
" Elo yang ngapain sama Devan
di kamar sampai baru
keluar sekarang ?" ujar Felicie dengan wajah kesal.
" Ye, kami memang sengaja biar kalian bisa berduaan supaya ada waktu buat bermesraan. " ejek Airin.
" Rin ... bisa diam gak ! Kalau gak
mulut Lo gue bungkam dengan ini !" ancam Felicie sembari mengepalkan tangan.
" Eit .. kalau Lo berani lawan ayang gue. " ujar Airin gak mau kalah.
" Sudah ... Sudah ... kalian berdua ini, dari tadi ribut terus. Jadi pergi, gak .... ? " Devan berusaha
mendamaikan keduanya.
" Jadi dong, sayang ... udah lapar,
nih .. lagian sahabat kamu yang
biasanya dingin kaya es ini
ngapain sih harus malu ketahuan pelukan sama kita. Kita yang sering pelukan biasa aja. " ucap Airin manja.
" Airin ... ! " ujar Felicie geram.
" Wek ... " ejek Airin sembari sembunyi di belakang badan Devan.
" Yuk, Fel ... ntar keburu sore. Kamu kan ingin tahu daerah sekitar apartment dan kampus." ujar Elbert mengalihkan suasana
supaya Felicie gak merasa malu.
" Iya, Feli ... kita gerak sekarang aja. " ajak Devan.
" Hmm ... " ujar Felicie singkat
sembari menghilangkan perasaan
malu di hatinya.
Devan sengaja keluar lebih dulu dengan Airin agar Felicie tidak
malu lagi pada mereka.
Kemudian Elbert menyusul bersama Felicie di belakangnya.
__ADS_1
**********************************