
" Aaron setuju segera memproses perceraian kalian ? " tanya Elbert begitu tiba di sanggar, setelah tadi terlebih dulu ke apartment.
" Ya, dia gak punya alasan untuk
menolak. Lagian dia juga udah menikah dengan wanita yang dicintainya. Berarti sudah gak ada alasan buatnya mempertahankan
pernikahan ini." jawab Felicie dengan wajah lega.
" Hmm ... baguslah kalau begitu.
Apa kamu sedih dengan perceraian ini ? " tanya Elbert sambil melihat wajah Felicie.
" Kenapa aku harus sedih ?
Justru ini yang kuinginkan selama ini. " jawab Felicie sedikit heran dengan pertanyaan Elbert.
" Kamu yakin gak punya perasaan pada Aaron ? Bagaimanapun dia suamimu, Feli ... ? " tanya Elbert
mencari perubahan di wajah Felicie.
" Hmm ... kami memang terikat dalam pernikahan walau hanya
sebatas kontrak. Tapi selama kami menikah baru tiga atau empat kali ketemu. Itupun hanya sebentar. Jadi bagaimana mungkin aku bisa memiliki perasaan padanya. Apalagi dari awal aku sudah memutuskan
menjalani pernikahan tanpa memakai perasaan sama sekali.
Waktu memutuskan menerima pernikahan dengannya, aku sudah
berencana untuk membuat dia gak suka denganku agar segera menceraikan aku. Tapi ternyata,
tanpa harus bersusah payah mencari cara supaya dia gak suka , dia malah memberikan surat perjanjian itu sebelum pernikahan.
Jadi bagaimana mungkin, aku bisa punya perasaan padanya ?
Itu sangat gak masuk akal.
Sekarang yang aku inginkan hanya
segera bercerai dan melanjutkan hidup." ujar Felicie panjang dan menarik nafas lega.
" Hmm ... terus terang aku suka melihat kamu yang sekarang, Feli ... tapi bukan berarti aku gak suka lihat kamu yang dulu." ujar Elbert
" Kenapa ? " sahut Feli singkat.
" Sekarang kamu lebih terbuka.
Beda dengan kamu yang kemarin lebih tertutup, dingin dan lebih ketus." kata Elbert terus terang.
" Oh, itu karena aku hanya ingin
membatasi diri dari dunia luar.
Bagaimana mungkin aku bisa percaya dengan orang lain, sementara keluarga terdekatku bisa melakukan hal yang buruk padaku. Apalagi orang lain.
Lagian sifat ku memang aslinya seperti itu pada garis besarnya.
Sejak mama meninggal, aku dididik dengan keras oleh Papa.
Walaupun Papa tetap sayang dan lembut padaku, tapi ia menyuruhku untuk menjadi seorang wanita yang kuat dan tidak mudah ditindas. Makanya aku belajar bela diri. Karena kata Papa, musuhku pasti akan banyak jika suatu hari aku sudah memimpin perusahaan." mata Felicie menerawang ketika mengatakan ini.
Ia teringat kembali akan Papa nya. Dulu ia sempat protes pada Papa, hanya karena waktunya dihabiskan untuk belajar dan latihan. Tapi sekarang ia baru menyadari, semua yang
Papa lakukan untuk kebaikannya sendiri. Jika saat itu ia tidak mau
mengikuti perintah Papa, mungkin saat ini ia akan jadi wanita yang bodoh dan lemah. Pasti dengan mudah ia jadi bulan - bulanan Bagas dan keluarganya.
Elbert sangat tersentuh dengan perkataan Felicie. Seharusnya
di usia ini, Felicie bisa hidup tenang dan nyaman. Karena kalau untuk dirinya sendiri, peninggalan almarhum Papa nya sangat mencukupi buat dirinya. Tapi karena perbuatan Bagas, membuat ia harus menjalani hidup seperti ini. Sebenarnya bisa saja, Elbert menghancurkan atau merebut perusahaan itu dari tangan Bagas, tapi ia tahu Felicie
pasti sudah memiliki rencana sendiri untuk mengambil alih semua yang menjadi hak nya.
Makanya untuk saat ini, El tidak mau terlalu ikut campur. Tapi jika Bagas berani berbuat lebih dari
pada yang ia lakukan sekarang pada Felicie, maka Elbert gak akan segan untuk segera membuatnya jadi seorang gembel.
" Hei, kog kamu malah melamun ?" tegur Felicie.
" Eh, ... aku hanya kagum
dengan gadis kecilku. Sekarang gadis kecil kesayanganku sudah
dewasa." ujar Elbert lembut setelah tadi lumayan terkejut.
" Lebay ... " ucap Felicie kemudian meninggalkan Elbert duduk sendiri. Karena ia sudah harus
mengajar anak muridnya.
Elbert tersenyum mendengar perkataan Felicie. Ia hanya menatap gadis kecilnya dari tempat duduknya, tanpa berniat menganggu sedikitpun. Felicie terlihat begitu semangat saat mengajarkan gerakan ataupun jurus pada anak didiknya.
* * * * *
Tuan William sangat marah ketika mendengar laporan dari Rio, asistennya. Bahwa tidak ada bukti yang didapat saat tadi mereka kerumah sakit. Bahkan cctv rumah sakit itu seperti sengaja
dimatikan pada hari pernikahan Aaron dan Giselle, seperti yang
di laporkan anak buahnya.
Pantas saja pada hari itu, tidak
ada yang di perbolehkan masuk
kerumah sakit kecuali pihak rumah sakit dan keluarga pasien saja. Hal ini, membuat anak buah yang di tugaskan William tidak bisa menyelidiki kedalam.
Tapi kenapa direktur rumah sakit,
sama sekali tidak mengetahui
__ADS_1
peristiwa itu.
" Rio, coba kamu selidiki lagi.
Jika direktur itu tidak terlibat sama sekali, berarti bawahannya atau beberapa dokter yang sengaja menutupi hal itu dari nya.
Karena seperti yang ia katakan tadi, pada hari itu ia sedang berada di luar kota." perintah Tuan William.
" Baik, Tuan ... saya sudah memerintahkan orang untuk tetap berada di rumah sakit tanpa sepengetahuan Tuan Aaron.
Ia juga saya perintahkan untuk bertanya pada para suster." jawab Rio lugas.
" Hmm ... bagus." ucap William singkat, lalu bangkit dari tempat duduk kebesarannya.
" Kamu sudah boleh pergi, saya mau istirahat." perintah William sambil melangkah pergi meninggalkan Rio.
Rio bergegas pergi setelah melihat Tuan William sudah masuk ke kamarnya.
Ia juga ingin merebahkan tubuhnya yang sangat lelah, karena sejak sampai disini, ia dan Tuan William langsung pergi
ke perusahaan dan rumah sakit.
* * * * *
" Ma, kita mau ngapain kerumah sakit ? " protes Vera dengan wajah
gak suka.
" Udah, kamu diam saja dan ikuti Mama. Nanti kamu akan tahu." sahut Sisca tanpa perduli dengan
perkataan anaknya.
" Ih, mama aneh banget. Kirain tadi mau ke mall buat shopping.
Ini malah diajak kerumah sakit.
Tau gini, mendingan aku gak ikut."
omel Vera dengan wajah cemberut.
" Mama bilang kamu diam, jangan banyak protes. Ini juga mama
lakukan karena keinginanmu itu.
Mama capek dengar rengekan kamu tiap hari. Nanti kalau ketemu sama dia pasti kamu bakalan senang dan berterima kasih pada Mama." ujar Sisca marah.
" Mama gak jelas ... ! " ucap Vera.
Sisca hanya menggelengkan kepala melihat sikap anaknya.
Padahal ia sengaja membayar seseorang untuk mencari tahu dimana Aaron dan Tuan William.
Karena Tuan William tidak sedang berada di negara ini, maka Sisca
memutuskan mencari tahu keberadaan Aaron. Setelah tahu Aaron sedang dirawat di rumah sakit, Sisca dengan semangat
menjenguk agar bisa melakukan sesuatu yang sudah direncanakannya. Mungkin dengan melakukan hal ini bisa membuat Aaron menikahi anaknya.
Sisca tidak perduli dengan
larangan Bagas, suaminya. Baginya yang paling penting adalah uang dan kekayaan. Jika
Vera berhasil mendapatkan Aaron, lalu menikah dengannya ... itu berarti hidup mereka akan selalu
bergelimpangan harta, tanpa takut harus jatuh miskin lagi.
Sisca yakin, Vera bisa menjinakkan Aaron.
" Ma, tangan Vera pegal, nih ... gantian dong Mama yang bawa." ujar Vera kesal karena harus memegang keranjang buah.
" Jangan cerewet, kamu itu masih muda jadi pasti lebih kuat staminanya dibandingkan Mama."
ucap Sisca.
Visual Sisca, Cocok gak ... ?
Visual Vera ...
Vera semakin kesal mendengar
omongan mamanya. Ia sengaja
menghentikan langkahnya.
Melihat yang Vera lakukan membuat Sisca geleng kepala. Anaknya ini benar - benar keras kepala.
" Kamu tahu, kita mau menemui siapa dirumah sakit ini ? " akhirnya Sisca mengalah juga.
" Memangnya siapa ? " tanya Vera acuh.
" Aaron, calon suamimu. " sahut Sisca pasti.
" Hah, Aaron ... ? Kenapa Mama gak bilang aja dari tadi. Jadi aku
gak keburu kesal kaya gini." ujar Vera melototkan matanya karena
terkejut mendengar perkataan
Mamanya.
" Mama kan udah bilang tadi, kalau kamu pasti bakalan senang kalau ketemu sama dia. Tapi karena kamu gak dengerin dengan benar jadi nya ngomel melulu." ujar Sisca dengan nada marah.
" Hehehe ... Maaf, Mamaku sayang." ucap Vera mendadak berubah manis begitu tahu kalau
__ADS_1
mereka kemari untuk menjumpai Aaron.
" Iya ... Nanti kamu harus bisa
mengambil hatinya Aaron.
Dari berita yang Mama dapatkan,
Felicie tidak menemaninya dirumah sakit. Itu berarti kamu bisa bebas merayunya."
" Siap Ma, serahkan sama aku.
Aaron akan secepatnya jadi milik
Vera. Biar gadis s****** itu
menderita."
" Bagus, itu baru anak Mama."
" Mama tahu dari mana, kalau Aaron dirawat dirumah sakit ? ".
" Kamu gak perlu tahu, yang penting ini Mama lakukan agar kamu bahagia. Makanya jangan
sampai gagal mendapatkan Aaron."
" Okey, Ma ... ".
" Sepertinya ini kamar Aaron.
Biar Mama buka pintunya." gumam Sisca begitu berada didepan pintu kamar Aaron.
Sisca langsung senang melihat Aaron sedang terbaring sendiri di kamar.
Sedangkan orang yang di perintahkan Rio, asisten Tuan William lagi menemui para suster, demi mencari bukti pernikahan Aaron dan Giselle. Hal ini membuat Sisca dan Vera bisa masuk dengan mudah keruangan Aaron.
" Ayo, masuk ... Ini kesempatan
bagus buat kamu. Jangan sia - siakan. " perintah Sisca pada Vera.
" Iya, Ma ... " sahut Vera cepat.
" Masukan ini kedalam gelas minuman Aaron. Pasti dia akan langsung meminumnya setelah bangun tidur." Sisca memberikan sesuatu pada Vera.
" Baik ... " Vera melakukan seperti apa yang di perintahkan Mamanya. Ia segera memasukkan
sebungkus serbuk kedalam gelas minuman Aaron yang terletak di meja.
Aaron yang sedang tertidur tidak mengetahui kedatangan mereka
berdua. Jadi Sisca dan Vera tidak
mengalami kendala saat melancarkan aksinya.
Setelah selesai, Sisca dan Vera duduk di kursi dekat Aaron.
Menunggu sampai Aaron terbangun sendiri dan pasti akan
merasa gelisah begitu sudah meminum air di gelasnya karena reaksi obat yang diberikan Sisca pada Vera.
Benar saja, tidak butuh waktu lama, Aaron terbangun lalu meraih gelas di sampingnya. Vera sengaja membantu agar Aaron melihatnya. Ia memandang dengan mata penuh harap pada Aaron. Tapi Aaron menepis tangan Vera. Vera langsung duduk kembali dengan wajah kesal.
" Kenapa kalian bisa ada dikamar ku ? " tanya Aaron heran melihat Sisca dan Vera, begitu selesai minum.
" Maaf, Tuan Aaron ... tadi ketika kami datang, Tuan Aaron sedang tertidur. Jadi kami masuk dan menunggu disini." ujar Sisca dibuat sopan.
" Oh, ya ... Kami cuma bisa membawa ini. Semoga Tuan Aaron suka." ujar Vera meletakkan keranjang buah itu kemeja.
" Hmm ... kalian ada perlu apa kesini ? Felicie sedang pulang, jadi sebaiknya kalian jangan berlama -
lama disini. " Aaron mulai gelisah akibat minuman tadi.
Tubuhnya mengeluarkan keringat, dan menginginkan sesuatu.
Aaron berusaha untuk menahan rasa panas yang melanda dirinya dengan kembali meminum air di gelasnya. Tapi ini malah membuat
tubuhnya semakin kepanasan.
Aaron berusaha melepas pakaiannya, agar tidak terlalu panas. Tapi melihat dua orang wanita yang ada di ruangan nya,
membuat Aaron menahannya.
Sedangkan Sisca menahan senyum liciknya melihat reaksi yang diperlihatkan Aaron di depan mereka.
Ia lalu membisikkan sesuatu pada Vera, lalu segera melangkah keluar dari kamar Aaron.
Ia sengaja mencabut kunci kamar Aaron, kemudian menguncinya dari luar agar tidak ada yang masuk.
Vera lalu melakukan seperti yang di katakan Mamanya tadi. Ia sengaja membelai tubuh Aaron dengan lembut. Vera juga membuka kancing kemeja dikenakannya beberapa buah, agar Aaron bisa melihat isi di balik pakaian yang dikenakan Vera.
" Berhenti ! Apa yang coba kamu lakukan. " bentak Aaron berusaha menahan hasrat dirinya yang semakin besar karena perlakuan Vera. Tangannya sengaja menyentuh tubuh dan bagian sensitif Aaron.
Vera tidak menjawab bentakan Aaron, ia malah semakin berani.
Ia kini sengaja naik keatas ranjang
Aaron dan membuka pakaiannya.
Setelah itu, ia mulai membuka satu demi satu pakaian Aaron dan terus membelai tubuh Aaron dengan lembut.
Aaron yang belum bisa terlalu bebas bergerak karena takut kondisinya jadi lama sembuh, akhirnya hanya bisa membiarkan Vera membuka pakaiannya. Vera sengaja mengeluarkan ******* suaranya agar nafsu Aaron tidak bisa ditahan lagi.
**********************************
Maaf, Episode selanjutnya ada
adegan ++ ... ini Mommy lakukan agar Aaron semakin Pusing dengan semua masalah yang menjeratnya ... Mommy jahat, ya ... 😂😂😂
__ADS_1