
" Sayang ... aku duduk bareng Feli kali ini. Kita pisah bentar ya ... " ujar Airin manja.
" Ya ... !" sahut Devan singkat sembari tersenyum tipis.
" Lebay, Lo ... masih semobil juga, pake permisi segala." ejek Felicie.
" Oh, ya Tuan Elbert ... pinjam Felicie nya, ya ...." ujar Airin pada Elbert.
" Okey ... tapi gak boleh lama ... "
ucap Elbert dengan wajah dibuat serius.
" Gak ... bentar doang, kog ... nanti nyampe di apartment aku kembalikan ... hehehe. " canda Airin.
" Apaan sih,Lo ... ! " ujar Felicie malu karena perkataan Airin.
" Iya, dong ... gue harus permisi dulu sama pacar Lo ... ya kan
sayang ... ?" ucap Airin serasa gak bersalah.
" Iya ... kamu benar, honey. " jawab
Devan mendukung Airin.
" Dev, Lo jadi ketularan sifat gak waras Airin, ya ... !" ujar Felicie
cemberut.
Elbert tertawa kecil melihat perdebatan kecil Felicie dengan kedua temannya. Ia senang melihat wajah Felicie yang tersipu karena malu.
" El, kamu gak usah dengerin omongan pasangan gak jelas ini.
Mereka berdua memang aneh ... !" ucap Felicie berusaha menutupi rasa malunya.
" Hmm ... justru aku senang karena sahabatmu menganggap aku pacar kamu. Berarti aku udah
mendapat dukungan dari mereka. Jadi, kita pacaran, nih sekarang ... atau sekalian aja menikah ?" ujar Elbert sengaja menggoda Felicie sembari menoleh ke tempat Felicie duduk.
"Cie ... Cie ... setuju !" sahut Airin tertawa lepas.
" Kalian ini ... !" ucap Felicie gak bisa meneruskan perkataannya dengan wajah semakin memerah.
Devan melihat Felicie dari kaca spion mobilnya. Ia juga merasa
sangat senang jika Felicie akhirnya bisa memiliki pasangan yang sesungguhnya.
Bukan seperti yang kemarin. Punya suami karena terpaksa. Devan ingin, sahabatnya ini bisa merasakan kebahagiaan seperti yang ia rasakan bersama Airin.
Ia sudah menganggap Felicie layaknya saudara kandung bukan hanya sekedar teman.
" Aku harap kali ini kamu beneran bahagia, Felicie ... " Devan mendoakan dalam hati.
Felicie berusaha menenangkan
hatinya yang terasa berdebar karena mendengar perkataan Elbert. Ia tahu Elbert tidak bercanda dengan omongannya tadi. Felicie juga tahu, kalau Elbert beneran mencintainya. Bukan hanya sekedar di mulut saja. Karena perlakuannya pada Felicie sangat jelas sekali.
" Udah, Feli ... kalau gue jadi Lo, pasti gue terima lamaran Tuan Elbert. " ucap Airin.
" Lo, apaan sih ... kenapa gak elo aja yang nikah dengan Devan !"
ujar Felicie melototkan matanya.
" Kalau gue, sih ... udah gak sabar jadi isterinya Devan. Tapi sayangnya orang tua kami baru ngasi izin kalau udah selesai kuliah. Kalau gak, sekarang pun gue udah siap jadi isterinya. " ujar
Airin menatap penuh cinta ke arah Devan yang sedang menyetir mobil.
" Lo nya aja yang kegenitan. Gue
yakin Devan belum siap nikah sekarang ! Ya, kan Van .. " ucap
Felicie mengejek Airin.
" Enak aja. Sayang ... kamu siapkan nikahi aku sekarang ?" tanya Airin manja pada Devan.
" Ya ... tentu saja !" sahut Devan singkat.
" Tuh, Lo dengar sendirikan ... Devan pasti maulah nikah dengan gue ... " ucap Airin senang.
Felicie mendengus kesal karena
__ADS_1
Devan mendukung perkataan
Airin. Ia kembali diam sembari
melihat ke arah luar dan memperhatikan jalan yang mereka lewati.
" Jangan marah dong, honey ...
gue cuma pengen Lo dapat pria yang tepat dan beneran mencintai elo. Gue yakin seribu persen, kalau Tuan Elbert sangat serius
dengan Lo. Sebagai sahabat elo,
gue dan Devan ingin Lo bahagia."
ucap Airin serius sembari memegang tangan Felicie.
Felicie mencoba merenungkan setiap kata yang di ucapkan Airin. Ia tahu, sahabatnya ini maksudnya baik. Airin ingin dia bahagia. Tapi, Felicie masih ragu dan belum yakin dengan perasaannya.
Felicie juga mengetahui kalau bik Sumi dan Tika juga menyukai Elbert dan berharap Felicie bersamanya. Tapi ia tidak ingin menerima Elbert karena paksaan ataupun dorongan dari siapapun.
Felicie ingin saat hatinya sudah siap dan bisa memberikan perasaan yang sama seperti yang di berikan Elbert padanya baru ia menerima Elbert. Biarlah semua
mengalir seperti air.
" Udah, sayang ... kamu jangan
mendesak Feli. Dia baru aja sampai, pasti masih lelah. Biarkan Felicie tenang dulu. " ujar Devan pada Airin, karena ia tahu saat ini Felicie pasti sedang memikirkan
nya.
" Ya, baiklah. Maaf, Feli ... " ujar Airin yang menyadari kesalahannya.
" Udah, gue gak papa." sahut Felicie tersenyum.
" Honey ... I love you." ujar Airin
memeluk Felicie dengan senang sembari menciumi pipi Feli.
" Iya, iya ... udah. Sana Lo ... " ujar
Felicie risih.
Devan tahu, meski dari luar Felicie kesannya dingin dan sok cuek tapi sebenarnya dia adalah seorang gadis dan teman yang baik dan sangat perhatian. Ia tahu Felicie
juga sayang pada Airin seperti Airin yang menyayanginya.
Elbert semakin gemas melihat wajah Felicie yang cemberut.
Rasanya ingin sekali ia juga ikut menciumi Felicie seperti yang
di lakukan Airin.
" Gak mau ... gue senang karena sekarang kita bisa bersama setiap hari. Akhirnya kita bisa berkumpul kaya dulu lagi. " ucap Airin mengeratkan pelukannya pada Felicie.
" Van ... Lo gak pusing punya tunangan kaya gini ? Kasihan gue lihat Lo ... " ujar Felicie.
" Gak mungkin ... yang ada Devan makin cinta lihat gue, karena gue cewek paling imut di matanya." bantah Airin dengan wajah lucu.
Mereka bertiga tertawa begitu mendengar perkataan Airin.
Tidak terasa karena asyik ngobrol dan bercanda, perjalanan yang lumayan memakan waktu membuat Felicie tidak menyadari jika mereka sudah sampai
di apartment yang di carikan oleh Devan dan Airin untuknya.
Devan segera memarkirkan mobil,
di tempat yang sudah tersedia
buat penghuni apartment.
Mereka berempat keluar dari mobil setelah mengeluarkan koper dan perlengkapan Felicie dan Elbert.
Felicie berjalan di sisi Airin, sedangkan Elbert dan Devan
di belakang mereka.
" Kamu nanti tinggal di mana ? " tanya Devan pada Elbert.
" Hmm ... gampang. Sementara aku tinggal di hotel. Nanti baru cari apartment dekat Felicie." jawab Elbert.
__ADS_1
" Oh, kebetulan di apartment Felicie masih ada yang kosong.
Kenapa gak sekalian aja kamu tinggal di dekatnya. " ujar Devan pada Elbert.
" Okey ... nanti temani aku buat
membelinya. " jawab Elbert serius.
" Baik ... ! " sahut Devan singkat tapi dalam hatinya ia berpikir, sepertinya Elbert bukan pria sembarangan.
" Sayang, cepetan dong jalannya.
Biar abis Felicie naruh barangnya
di apartment, kita langsung bawa
jalan - jalan. " ujar Airin pada Devan.
" Ya ... " jawab Devan.
" Kalian tinggal di dekat apartment Felicie juga ? " tanya
Elbert.
" Apartment kami yang
di seberang jalan tadi. Waktu kami kemari, apartment ini belum selesai di bangun. Baru sebulan yang lalu launchingnya."
jelas Devan.
" Hmm ... begitu. " ujar Elbert.
" Maaf, aku mau menanyakan
sesuatu hal sama kamu. Tapi aku harap kamu tidak tersinggung."
ucap Devan.
" Apa yang ingin kamu tanyakan ?"
tanya Elbert.
" Hmm ... kamu bekerja di mana ?
Kenapa kamu bisa ikut bersama Felicie kesini ? " tanya Devan serius.
" Masalah itu sebaiknya nanti kita
bicarakan saat kita berdua saja.
Untuk saat ini biar kita mengurus
Felicie dulu. " jawab Elbert juga serius.
" Baiklah ... kalau begitu aku akan
menunggu. " ujar Devan.
" Kamu suka kan, Feli ? " tanya Airin saat mereka sudah berada
di dalam apartment.
" Ya, gue suka, Rin ... Lo berdua tahu yang gue inginkan." jawab Felicie senang begitu melihat apartment nya.
" Ayo kita lihat kamarnya .. !" ajak Airin semangat.
" Yuk ....! " ujar Felicie sembari berjalan menuju kamar yang ingin
di perlihatkan Airin.
Mata Felicie berbinar begitu melihat kamar yang akan ia tempati selama berada di sini.
Semua yang ia inginkan sudah
di carikan oleh kedua sahabatnya. Jadi ia tidak perlu bersusah - payah lagi untuk mengisi apartment nya.
Interior apartment nya juga sangat bagus. Felicie menyukainya, sesuai yang ia inginkan. Meski apartment nya hanya memiliki dua kamar saja.
Tapi ia sudah sangat puas.
__ADS_1
**********************************